Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 Kangen
Nadira menatap sikap suaminya dari jendela rumah. Naya yang berdiri di sampingnya ikut memperhatikan Arhan yang masih berusaha berbicara dengan satpam di depan gerbang.
"Ma, kenapa Papa ke sini?" tanya Naya.
Nadira mengalihkan pandangannya kepada putrinya. "Mungkin Papa ingin bertemu dengan Naya dan mama."
Naya terdiam sesaat. Gadis kecil itu kembali menatap ke arah gerbang, memperhatikan papanya yang tampak bersikeras ingin masuk ke dalam rumah.
"Papa mau mengajak Mama pulang lagi?"
Pertanyaan itu membuat Nadira terdiam. "Mama tidak tahu, Sayang."
Naya mengerucutkan bibirnya. Wajahnya yang semula tampak penasaran perlahan berubah murung.
"Kemarin Naya sudah bilang sama Mama supaya cerai saja sama Papa."
Nadira menunduk, menatap wajah putrinya dengan perasaan campur aduk.
"Iya, Mama ingat."
"Soalnya Naya nggak mau Mama sedih terus." Naya memainkan jemarinya sendiri. "Papa selalu pergi kalau Nenek memanggil. Padahal Mama sudah menunggu Papa di rumah. Naya juga sering melihat Mama menangis sendirian."
Dada Nadira terasa sesak mendengar penuturan putrinya. Ternyata, selama ini Naya memperhatikan semuanya. Anak itu mungkin tidak memahami persoalan orang dewasa secara utuh, tetapi ia cukup mengerti bahwa ibunya sering terluka karena sikap ayahnya.
"Mama tidak ingin Naya memikirkan masalah seperti ini. Seharusnya Naya bisa bermain dan belajar tanpa harus memikirkan urusan Mama dan Papa," ucap Nadira lembut.
"Tapi Naya nggak mau Mama disakiti lagi."
Nadira mengusap kepala putrinya. "Mama mengerti, Sayang."
Naya kembali menatap Arhan dari balik jendela. Kali ini, tidak ada senyum di wajahnya. Ia hanya memperhatikan papanya yang berdiri di depan gerbang dengan kepala tertunduk.
"Ma, kalau nanti Papa masuk, Mama jangan mau diajak pulang, ya."
Nadira terdiam mendengar permintaan itu.
"Kenapa, Sayang?"
"Soalnya nanti Mama sedih lagi." Naya menundukkan kepala. "Naya nggak mau melihat Mama menangis lagi."
Nadira menarik napas panjang, berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa permasalahan rumah tangganya telah meninggalkan luka yang begitu dalam bagi putri kecilnya. Belum sempat Nadira menjawab, terdengar suara Arhan dari luar gerbang.
"Pak, tolong sampaikan kepada Nadira bahwa saya hanya ingin berbicara dengannya sebentar!"
Naya mengangkat kepalanya. Untuk sesaat, gadis kecil itu tampak ragu. Ada bagian dari dirinya yang masih merindukan sosok ayahnya, tetapi ia juga tidak melupakan bagaimana ibunya berkali-kali menangis karena pria tersebut.
"Papa masih di luar, Ma?" tanyanya pelan.
Nadira segera menundukkan dirinya agar sejajar dengan putrinya itu. "Naya, kamu mau menemui papa? Kayaknya papa ingin sekali bertemu dengan kamu," ujar Nadira, lembut.
Naya terdiam sejenak, ia menatap ayahnya dari jendela. Ia akhirnya mengangguk, mau bagaimana juga ia rindu dengan pelukan ayahnya. Naya akhirnya menatap ibunya.
" Apa Naya boleh ketemu papa? Naya janji nanti akan bilang bahwa mama tidak akan bersama papa lagi," ujarnya, polos.
Nadira terdiam mendengar ucapan putrinya. Ia menatap wajah Naya yang terlihat begitu polos, seolah-olah gadis kecil itu benar-benar yakin bahwa dirinya bisa menyelesaikan permasalahan rumah tangga kedua orang tuanya hanya dengan berbicara kepada sang ayah. Nadira mengusap kedua pipi putrinya dengan lembut.
"Sayang, kalau Naya bertemu Papa, Naya tidak perlu mengatakan hal seperti itu, ya. Biarkan Mama yang berbicara dengan Papa nanti."
"Tapi Naya mau Papa tahu kalau Mama sudah capek menangis," jawab Naya cepat. "Papa harus tahu kalau Mama sedih karena Papa."
Nadira menggigit bibir bawahnya. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan, tetapi tidak satu pun terasa cukup untuk menjelaskan betapa rumitnya persoalan yang sedang mereka hadapi.
"Kalau Naya bertemu Papa, Naya boleh memeluk Papa kalau Naya memang merindukannya. Naya boleh mengatakan apa pun yang Naya rasakan. Tapi soal Mama dan Papa, biar kami yang menyelesaikannya, ya?"
Naya mengangguk kecil. "Mama nggak akan marah kalau Naya masih sayang sama Papa?"
Pertanyaan itu membuat hati Nadira mencelos. Ia segera menggeleng, lalu menarik tubuh mungil putrinya ke dalam pelukan.
"Tentu saja tidak, Sayang. Papa tetap Papa Naya. Mama tidak akan pernah melarang Naya menyayangi Papa."
"Tapi kalau Mama sama Papa cerai, Naya masih boleh ketemu Papa, kan?"
Nadira memejamkan mata sejenak. Bahkan sebelum keputusan mengenai rumah tangganya benar-benar diambil, putrinya sudah memikirkan kemungkinan kehilangan salah satu dari mereka.
"Masih, Sayang. Apa pun yang terjadi nanti, Mama akan berusaha supaya Naya tetap bisa bertemu Papa."
Naya akhirnya tersenyum tipis. Ia membalas pelukan ibunya sebelum melepaskan diri.
"Kalau begitu, Naya mau ketemu Papa sekarang."
Nadira mengangguk. Ia menggenggam tangan putrinya, lalu mengajaknya berjalan menuju ruang tamu. Sebelum meminta seseorang membukakan pintu, ia sempat menatap wajah Naya sekali lagi.
"Kalau nanti Naya merasa tidak nyaman, bilang sama Mama, ya?"
"Iya, Ma."
Nadira kemudian meminta salah seorang pelayan menyampaikan kepada satpam agar membiarkan Arhan masuk. Tidak lama kemudian, pintu utama rumah itu terbuka.
Arhan yang sejak tadi berdiri di depan gerbang segera melangkah masuk. Wajahnya tampak lelah, sementara kemeja yang dikenakannya sudah sedikit kusut. Begitu tiba di ruang tamu, pandangannya langsung tertuju kepada Nadira yang berdiri di dekat sofa. Namun, sebelum sempat mengatakan sesuatu kepada istrinya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di samping wanita itu.
"Naya!"
Wajah Arhan seketika berubah. Ia segera berlutut, membuka kedua tangannya ketika melihat putrinya berlari menghampirinya.
"Sayang, sini sama Papa."
Naya berlari ke dalam pelukan ayahnya. Kedua tangannya melingkari leher Arhan erat-erat, sementara wajah mungilnya disembunyikan di bahu pria itu.
"Papa!"
Arhan memejamkan mata. Ia membalas pelukan putrinya dengan erat, mengusap punggung kecil itu berkali-kali seolah ingin menebus waktu yang telah ia lewatkan.
"Papa kangen sekali sama Naya," bisiknya. "Naya apa kabar, Sayang? Kenapa tidak ikut Mama mengangkat telepon Papa kemarin?"
Naya tidak langsung menjawab. Ia justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Papa juga kangen sama Naya?"
Arhan mengangguk, lalu mengecup pipi putrinya.
"Tentu saja. Papa kangen sekali. Setiap hari Papa memikirkan Naya."
"Kalau kangen, kenapa Papa nggak datang ke rumah Kakek dari kemarin?"
Pertanyaan polos itu membuat Arhan terdiam.. Ia menatap wajah putrinya yang kini menjauh sedikit dari pelukannya. Mata Naya tampak berkaca-kaca, tetapi gadis kecil itu berusaha menahan tangisnya.
"Papa ada pekerjaan, Sayang. Papa juga harus mengurus beberapa hal."
"Tapi Papa bisa datang ke rumah Nenek waktu Nenek memanggil, kan?"
Arhan tertegun. Naya menunduk, memainkan ujung lengan bajunya sebelum kembali berbicara.
"Kalau Nenek telepon, Papa langsung pergi. Tapi kalau Mama menunggu Papa pulang, Papa sering nggak datang."
"Naya ...." tegur Nadira.
"Terus Mama menangis sendirian di kamar."
Arhan seketika kehilangan kata-kata.. Ia menatap putrinya dengan mata yang mulai memerah. Selama ini, ia mengira Naya masih terlalu kecil untuk memahami persoalan rumah tangganya. Ia tidak pernah menyangka bahwa gadis kecil itu diam-diam memperhatikan setiap pertengkaran, setiap kepergiannya, dan setiap air mata yang ditumpahkan istrinya.
"Papa minta maaf, Sayang," ucapnya lirih.
Naya menggeleng kecil. "Papa jangan minta maaf sama Naya."
"Lalu Papa harus minta maaf kepada siapa?"
Naya mengangkat wajahnya. Ia menunjuk Nadira yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari
mereka.
"Sama Mama."
ga tau malu,ga tau diri....rsanya pgn..
hhkkkkk....
orng2 ga tau diri ky mreka,emng pnts jd gmbel.....drpd bkin repot orng trs.....🙄🙄🙄
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡