NovelToon NovelToon
TINI SUKETI

TINI SUKETI

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Tamat
Popularitas:13.8M
Nilai: 5
Nama Author: juskelapa

Tidak cantik, tidak menarik, tidak berdandan apik, tidak dalam keadaan ekonomi yang cukup baik. Namun, hidupnya penuh polemik. Lantas, apa yang membuat kisah hidupnya cukup menarik untuk diulik?

Tini Suketi, seorang wanita yang dijuluki sebagai legenda Desa Cokro yang melarikan diri. Kabur setelah mengacaukan pesta pernikahan kekasih dan sahabatnya.

Didorong oleh rasa sakit hati, Tini berjanji tak akan menginjak kampungnya lagi sampai ia dipersunting oleh pria yang bisa memberinya sebuah bukit. Nyaris mirip legenda, tapi sayangnya bukan.

Bisakah Tini memenuhi janjinya setelah terlena dengan ritme kehidupan kota dan menemukan keluarga barunya?

Ikuti perjalanan Tini Suketi meraih mimpi.

***

Sebuah spin off dari Novel PENGAKUAN DIJAH. Yang kembali mengangkat tentang perjuangan seorang perempuan dalam menjalani hidup dengan cara pandang dan tingkah yang tidak biasa.

***

Originally Story by juskelapa
Instagram : @juskelapa_
Facebook : Anda Juskelapa
Contact : uwicuwi@gmail.com

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon juskelapa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Tentang Agus Soang

“Atau Mas Bara menyingkir dulu sana. Ngerjain apa, kek. Keliling jalan-jalan Gelora Bung Karno atau beli jajan ke Bekasi. Aku mau ngobrol dulu sama Dijah,” ujar Tini mengusir Bara.

“Enak aja,” kata Dijah. “Jangan. Mas-ku di sini aja. Nanti dia pergi bawa anakku. Kamu lanjut ngomong aja. Mumpung aku di sini. Aku juga penasaran kepingin denger review kamu soal Mas Agus angsa dan Mister Jono.” Dijah mengibaskan tangannya meminta Tini melanjutkan bicaranya.

“Oke, aku lanjut,” ujar Tini.

“Eh, tunggu, Tin. Mini market dari sini jauh nggak?” tanya Bara.

“Ya, ada. Di simpang jalan sana. Lumayan kalau jalan. Memangnya mau beli apa?” tanya Tini menatap Bara.

“Mau beli air mineral. Tenggorokanku kering,” jawab Bara, mengusap-usap tenggorokannya.

“Asem! Bilang aja minta minum,” tukas Tini, berdiri dari duduknya dan berjalan masuk ke kamar.

“Disusuin dulu, Bu. Liat ini dari tadi mau masukin tangannya terus ke mulut,” ucap Bara, menarik tangan Mima yang terkepal dan terus-menerus digigiti bayi itu.

“Ya, udah. Sini Mima minum dulu,” kata Dijah, mengangkat bayi perempuannya kemudian mulai membuka kancing kemeja yang ia kenakan.

Bara berdiri dari duduknya, lalu menepuk pelan lengan Dijah. “Kamu berdiri sebentar. Kursinya geser ke arah dinding aja. Nyusuin bayinya ngadep dinding,” pinta Bara.

Dijah menuruti perkataan suaminya untuk bangkit. Setelah Bara mengatur letak kursinya Dijah kembali duduk. Ia menyusui Mima menghadap jendela Tini. Sedangkan kursi Bara sendiri berada di belakang kursi Dijah.

“Ini posisi kursinya mau ngapain? Mesti duduk di belakang Dijah kayak gitu? Mengawasi jangan sampai ada yang ngeliat susunya Dijah?” tanya Tini, menyerahkan wadah botol plastik berisi air putih dan dua buah gelas kepada Bara. “Aku tau Mas Bara sukanya air putih. Aku seneng kalau ada tamu begini,” ujar Tini.

“Makasi, Budhe Tini ...,” ucap Bara mengambil benda yang disodorkan Tini padanya. “Ceritanya nggak dilanjut lagi, Tin?” tanya Bara.

“Ternyata penasaran juga,” gumam Tini kembali duduk di kursinya.

“Lanjut, Tin,” pinta Dijah menoleh ke arah Tini. Mima sudah berdecak-decak dengan lahapnya. Ternyata bayi perempuan itu benar-benar haus.

Tini mengulurkan tangannya menjawil pipi Mima. “Doain Budhe punya kayak kamu gini, ya. Susu Budhe udah lama bebas tugas. Jadi kepingin ngerasain yang nyusu nggak ada giginya. Piye rasanya, Jah?” tanya Tini.

“Ya, ampun. Tini ....” Bara menyandarkan punggungnya ke kursi plastik. Ia seketika lemas mendengar perkataan Tini. Sedikit malu, tapi juga penasaran dengan jawaban Dijah.

“Tiap abis menyusui, rasa puasnya beda Tin.” Dijah terkikik-kikik.

“Dijah ...,” panggil Bara, mencubit pelan pipi istrinya dengan gemas.

“Jadi udah pacaran sama Pak Agus?” tanya Dijah yang penasaran. Ia kembali mengalihkan topik pembicaraan kepada Tini.

“Embuh. Kami berdua cuma pergi ke sana kemari sama-sama. Dia nggak pernah mau ngapa-ngapain sama aku. Ngomongin perasaan juga enggak. Kayaknya kami berdua bukan pacaran, tapi cuma membentuk yayasan.” Tini menghela napas panjang.

Kali ini Bara yang terkikik. Ia selalu takjub mendengar Tini menemukan perumpamaan. “Mungkin Mas Agus masih perlu waktu,” ujar Bara ikut menimpali.

“Nunggu waktu apa? Keburu aku menopause!” sergah Tini. Wajahnya benar-benar terlihat kesal.

Bara mengusap dadanya berkali-kali. “Ya, ampun ... Budhe Tini kayaknya memang udah lama nggak curhat,” gumam Bara.

Tini tak peduli perkataan Bara, ia kembali melanjutkan. “Aku nggak suka yang abu-abu. Hitam ya hitam, putih ya putih. Laki-laki, kok, kayak gitu. Enggak ada pendiriannya. Membuat perempuan jatuh hati itu mudah. Makanya laki-laki harus hati-hati. Kalau nggak ada maksud serius, jangan berani-berani deketi. Apa aku harus nanya langsung ke orangnya?” Tini menatap Bara dan Dijah bergantian. Sepasang suami istri itu menggeleng bersamaan.

“Muka kalian, kok, kayak terpaksa gitu?” tanya Tini dengan wajah sebal.

“Ini muka mode menyimak, Tini ...,” jawab Bara.

“Oh,” sahut Tini.

“Udah? Itu aja?” tanya Dijah.

“Belum,” sahut Tini. “Jadi, lama-kelamaan aku nggak semangat lagi sama Pak Angsa. Awalnya dulu, kalau dia ngomel, rasanya gemesin. Sekarang, kalau dia ngomel di kantor, bawaanku mau nabok aja, Jah!” sergah Tini.

“Tunggu, Tin. Tahan emosi kamu. Aku beresin baju dulu.” Dijah menunduk mengancing kemejanya.

“Sini, Mima biar Mas yang pangku. Benerin dulu bajunya,” pinta Bara, bangkit dari duduknya dan mengambil bayi perempuan yang tertidur setengah menganga dengan pipi memerah dan dahi dipenuhi keringat.

Dijah membenarkan pakaiannya lalu kembali menoleh ke arah Tini. “Terus?” tanya Dijah.

“Terus aku lupa ngomong sampe mana,” jawab Tini.

“Sampai mau nabok,” sahut Bara.

“Nah, itu. Aku jadi bingung. Enggak ada ngomong yang gimana-gimana, tapi aku diajak makan terus dari restoran satu ke yang lainnya. Udah kayak petugas BPOM aja,” kesal Tini.

“Enggak usah mau diajak keluar lagi, Tin.” Dijah mulai mengeluarkan suaranya. “Kalau laki-laki serius, usahanya nggak gitu!” seru Dijah.

“Jadi, kayak gimana?” tanya Tini.

“Kayak Mas-ku ini,” sahut Dijah terkekeh. Ia mengalungkan tangannya di lengan Bara dan menghirup aroma kemeja suaminya.

“Halah!” omel Tini.

“Jangan kesel—jangan kesel,” kata Bara, menunduk lalu mencium puncak kepala Dijah yang sedang bersandar padanya.

Dijah tertawa melihat raut sebal Tini memandang mereka. Tapi, sahabatnya itu kemudian kembali terlihat santai. Tini pasti mengerti kalau Dijah mengatakan hal itu agar membuat Bara nyaman dan tak merasa dilupakan saat berada di sana.

“Agus itu ... dikit-dikit suka nanya ibunya. Bukan maksudku ngelarang laki-laki deket ke ibunya. Tapi, kalau semua-semua tanya ibu .... Ya, modhar, Jah!” omel Tini. “Bisa-bisa aku kehilangan fungsiku. Dan aku nggak suka cara dia cari perhatian dengan marah-marah ke aku. Aku pernah berdebat dengan Agus sepulang makan malam.” Tini sedikit terengah berbicara.

“Nangis kamu?” tanya Dijah.

“Aku nangis? In your dreams! (Ngimpi kamu!) Mana mungkin,” oceh Tini dengan jumawa. “Aku omelin dia lagi. Terus dia ngomong, ‘Aku nggak nyaman. Harusnya kamu bisa bikin adem.’ Dia kira aku AC ruangan. Harus bisa bikin dia nyaman dan adem.” Tini menoleh pada Bara yang menatapnya serius.

“Aku bawa Mima keliling halaman. Dia mulai gerak-gerak,” ucap Bara saat Tini menatapnya. Ia segera bangkit dan kembali meninabobokan putrinya.

Tini mengikuti Bara dengan pandangannya. Sore tadi, Bara datang dengan pakaiannya seperti biasa. Kemeja, dengan kaus di dalamnya. Serta blue jeans dan sepasang sneakers yang menjadi ciri khasnya.

“Ya, udah. Tinggalin aja kalo nggak suka,” pinta Dijah.

“Pak Agus ini sebenarnya baik. Tapi, banyak kebimbangan dalam dirinya. Kayak bocah yang belum selesai masa bermainnya. Padahal, kalau dia niat serius, dia tinggal bilang mau diriku itu versi yang gimana,” pungkas Tini.

“Memangnya kamu bisa apa? Pak Agus, kan, orang kaya. Semua-semua dia bisa beli,” ujar Dijah.

“Banyak! Kalau dia perlu kucing, aku bisa ngeong. Jilat-jilat juga bisa,” omel Tini pada sahabatnya. Ia menendang kaki Dijah yang tersilang anggun dikursinya.

“Ya, ampun, Nak .... Kita baru muterin satu halaman, Budhe kamu udah mau jadi kucing aja,” gumam Bara.

To Be Continued

1
Myue89
Ngakak ambyar baca bab ini. Emang kalo lagi penat ama kehidupan, obatnya baca Tini Suketi!
Myue89
Kangen sama Tini Suketi. Lagi ngikutin ceritanya SatShe di GN. Baru nyadar kalo setelah Istri Nakal Mas Petani novelnya kak Njus serius banget kayaknya. Perlu tokoh2 absurd yg bikin ketawa macam Tini Suketi kak wkwkwk
Jang_Uk
padahal ngulang baca ini,tapi kog y tetep nangis kalau ingat perjuangan Dijah
Rpkh Future
tin selama perjalanan kamu berdiri trus hadap depan🤣
Rpkh Future
udah baca berkali2 v tetep ngakak🤣
Assiva Lestari
Biar pun udah baca ber kali kali tetep ajh ngakak klu tini dah bertindak mau begal hajatan sitikus ama coki
DIAMku
wkwkwkwwkwk baca lagi,lagi dan lagi,,,masih lucu aja Kl baca ini
Sri Haryati
untuk kesekian kalinya aku baca tini suketi si legenda dr desa cokro
ynt_
keren
stephani
aku kalau mau jujur lebih suka liat nicholas saputra alias bara daripada song jung ki. ya selera org beda2 kan
juskelapa: Iya, betul banget Mba. Selera orang beda-beda. Tapi di sini nggak ada yang nyeritain soal Nicholas Saputra atau Song Joong Ki tapi Bara dan Dean. Saya juga heran kok pembaca NovelToon bisa terpengaruh banget sama visual. Novel itu kan aslinya nggak ada gambar 😄 Mana pembaca sering banget mencampurkan kehidupan pribadi visual artisnya dengan cerita di novel. Saya juga bingung.
total 1 replies
stephani
🤣🤣🤣🤣
Ardiansyah Gg
Tini udah jinak🤣🤣🤣
Alyanceyoumee: Assalamualaikum. Thor permisi, ikut promo ya.🙏

Hai Kak, Baca juga di novel ku yang berjudul "TABIR SEORANG ISTRI"_on going, atau "PARTING SMILE"_The End, atau klik profil ku ya, Terimakasih 🙏
total 1 replies
Ardiansyah Gg
gini nihh perempuan🤣
Ardiansyah Gg
assseermmm🤣🤣🤣
stephani
Alhamdulillah
Ardiansyah Gg
Laki-laki ganteng pakai motor merah🥰
stephani
aku ikut bahagia buat tini. tini yang kuat dan selalu memandang kedepan dengan candaan yg membuat langkahnya semakin optimis.
stephani
waduh 🤣🤣🤣🤣
Ardiansyah Gg
ini kelemahan kamu Tin... lemah sama senyum laki"🤣
stephani
😄😄🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!