Mereka menyebutnya monster—Capo dei capi Camorra yang paling ditakuti, pria berdarah dingin yang katanya kehilangan hatinya bertahun-tahun lalu dan hanya hidup untuk kekuasaan, darah, dan balas dendam. Gabriele Saviano tak pernah menginginkan seorang anak. Tapi ketika istri yang tak pernah ia cintai meninggal saat melahirkan, ia terjebak dengan satu hal yang tak pernah ia rencanakan: seorang bayi perempuan mungil berambut pirang.
Sofia Palermo baru sembilan belas tahun, yatim-piatu, dan tak pernah mengasuh siapa pun. Yang ia punya hanyalah kehangatan seorang gadis yang tumbuh dicintai—dan keberanian nekat untuk melawan siapa pun, bahkan pria paling berbahaya di dunia mafia. Ia datang ke rumah besar sang Capo untuk merawat seorang bayi terlantar. Ia tak menyangka akan menemukan dirinya bermain api dengan sang iblis itu sendiri.
Satu sinar matahari yang keras kepala. Satu monster yang bersumpah tak akan pernah jatuh cinta lagi. Di antara mereka: gairah yang membakar, pertengkaran yang memancing badai, dan seorang gadis kecil yang perlahan menyatukan dua jiwa yang sama-sama hancur.
Tapi mencintai seorang Capo berarti masuk ke medan perang. Musuh lama mengintai dari bayang-bayang, pengkhianat bersembunyi di dalam rumah, dan sebuah dendam berdarah siap merenggut segala yang mulai berharga bagi Gabriele. Ketika mereka yang paling ia sayangi menjadi sasaran, sang Bestia harus memilih: tetap menjadi monster tanpa hati—atau membakar dunia demi melindungi keluarganya.
Dari kesepakatan dingin menjadi obsesi yang mematikan. Dari sekadar pengasuh menjadi ratu yang bersemayam di jantung kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yesenia Stefany Bello González, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan yang Buruk
Gabriele
"Kau yang minta, si liar kecil," peringatku. Aku muak merasa seperti bocah empat belas tahun di sisinya.
Ia menggodaku sampai ke titik yang mustahil. Tak ada yang bisa menghakimiku karena ini, bahkan Tuhan sekalipun.
"Kau punya mata terindah yang pernah kulihat seumur hidupku, seperti mata Mia," bisiknya sambil mengerjap perlahan.
Sebelum aku sempat menciumnya, wajahnya jatuh ke depan dan membentur daguku.
"Jangan sekarang," gumamku geram.
Sekali lagi ia meninggalkanku terbakar dan tegang.
Kugoyangkan tubuhnya sedikit, tapi ia tertidur pulas. Wanita ini pasti berada di bawah perintah ayahku. Sudah pasti tugasnya adalah memancing gairahku sampai aku benar-benar tak sanggup lagi menahannya.
Tapi aku tak akan membiarkannya menang. Belum ada pria atau wanita yang terlahir mampu mengalahkanku. Dan jelas ia tak akan jadi yang pertama.
Kuangkat ia ke dalam gendonganku. Kuumpat ketika wajahnya jatuh di leherku dan aku bisa merasakan napas hangatnya menerpa kulitku. Bahkan dalam tidur pun ia mampu membakar gairahku.
"Terkutuklah kau, Sofia Palermo," desisku geram.
Aku tak tahu di mana ia biasa tidur, jadi kubaringkan ia di salah satu sofa yang ada di kamar Mia.
Sialan, bahkan aku pun mulai memanggil putriku dengan nama yang ia pilih.
Ini harus diakhiri. Aku sudah tahu apa yang akan kulakukan.
"Memecatnya?" tanya Anna tak mengerti. "Memecat Sofia?"
"Kau dengar sendiri. Aku ingin dia keluar dari rumahku hari ini."
"Tapi, Tuan, si kecil sangat cocok dengannya..."
Kuangkat tanganku. "Aku tak peduli. Aku tak mau melihatnya lagi. Bayar semua yang menjadi haknya dan bonus yang banyak, tapi aku tak mau melihatnya lagi."
"Tak perlu," kata Sofia sambil masuk ke dapur, mengejutkan Anna dan aku. "Aku tak butuh bonus bodohmu," tambahnya, dan aku tak bisa menahan diri untuk melihat matanya yang berkaca-kaca oleh air mata.
"Tuan, mungkin kita bisa memperbaiki ini," Anna memulai.
"Tidak," ucap Sofia dan aku bersamaan.
Ia melihat monitor yang ada di tangannya. "Aku akan berpamitan dengan si kecil lalu pergi."
"Nona Sofia..." Anna kembali menyela, menghabiskan kesabaranku.
"Anna, keluarlah," perintahku. "Sekarang," tambahku ketika kulihat ia hendak membuka mulut.
"Jaga Mia, per favore. Carilah orang yang baik, yang menyayanginya," pinta Sofia dengan suara bergetar begitu kami tinggal berdua.
"Akan kulakukan. Dia bukan lagi urusanmu. Tidakkah kau mau meminta maaf padaku soal kemarin?" tanyaku dengan marah.
Ia mengernyitkan dahi. "Kalau maksudmu apa yang terjadi di dapur, kaulah yang seharusnya minta maaf, bukan aku."
"Bukan itu maksudku dan kau tahu itu."
"Dante?"
Aku bangkit dan mencengkeram kedua lengannya. "Bukan. Kau tahu betul apa yang kubicarakan. Berapa ayahku membayarmu?"
"Ayahmu? Kukira yang membayar gajiku adalah kau."
Aku tertawa tanpa humor. "Kau suka berpura-pura polos, ya? Yah, taktikmu tak akan mempan padaku. Aku ingin kau keluar hari ini."
"Ya, sudah kudengar, kau menjelaskannya dengan sangat gamblang," katanya sambil menyeka air mata, berusaha memanipulasiku sekali lagi. Si tua itu pasti membayarnya sangat mahal.
"Aku akan berpamitan dengan Mia."
"Berhenti memanggilnya begitu!" bentakku sambil mengguncangnya. "Dan tidak, aku tak mau kau mendekati putriku."
"Aku harus berpamitan."
"Tidak, temui Anna supaya dia membayar gajimu lalu ambil barang-barangmu dari rumahku."
Ia mulai menangis, berusaha meyakinkanku, tapi aku lebih kuat dari itu.
"Aku harus menemuinya, aku harus menjelaskan bahwa aku pergi..."
"Tidak."
"Dia masih sangat kecil, dia tak akan mengerti kenapa aku pergi."
"KELUAR DARI RUMAHKU!" teriakku hingga membuatnya mundur.
Akhirnya aku bisa melihat di matanya rasa takut yang sama seperti yang kulihat pada musuh-musuhku. Dan aku tak tahu apakah aku menyukainya.
Ia mundur sambil menatapku seolah aku ini monster. Sebelum aku sempat mengatakan apa pun, ia berbalik dan berlari keluar dari dapur.
Akhirnya. Satu masalah berkurang.
Nanti akan kupikirkan apa yang harus kulakukan dengan si kecil dan ayahku. Aku punya urusan yang lebih penting hari ini.
Aku mencoba makan sementara pengasuh baru itu mondar-mandir menggendong si kecil, yang tak berhenti menangis sejak Sofia pergi. Sudah seminggu penuh ia tak berhenti menangis, hanya berhenti saat tidur, itu pun cuma beberapa menit.
"Bawa dia keluar," perintahku.
"Sedang hujan," jawab si pengasuh.
"Aku tak peduli, bawa dia keluar dari sini sekarang juga."
Kepalaku serasa mau pecah.
Anna masuk ke ruang makan dan membanting peralatan makan dengan kekuatan tak biasa di sampingku, menambah rasa pening di kepalaku.
"Kau punya sesuatu yang ingin kau katakan?" tanyaku.
"Tidak, Tuan," katanya sambil meletakkan segelas wiski di depanku, kembali membanting meja. "Kalkunnya siap dalam lima menit."
"Kalkun? Kau tahu aku benci kalkun."
"Maaf, Tuan, saya lupa," katanya sambil keluar dari ruang makan.
Aku bisa saja memecatnya dan mengatakan apa yang pantas ia dengar, tapi aku sama sekali tak bisa. Anna-lah yang merawatku sejak Mama meninggal. Bahkan ketika Mama masih hidup, ia selalu ada, membelaku dari ayahku saat ada sesuatu yang kulakukan tak menyenangkan hatinya.
Si tua itu punya sisi sadis, yang selalu ia gunakan padaku dan Mama.
Dasar tua bangka terkutuk.
Aku menuduhnya menyewa Sofia untuk mengacaukan hidupku, tapi ia menyangkal semuanya. Katanya ia bahkan tak tahu aku sudah punya pengasuh. Ia pembohong yang tak mau mengakui bahwa ia kalah.
Aku teringat Sofia menangis, dan aku tak yakin apakah dia yang kalah atau aku. Ketika tangisan putriku terus terdengar, kurasa aku sudah tahu jawabannya.
Aku melangkah ke arah pintu dan melihat si pengasuh menggendong si kecil, yang tak berhenti menangis. Kulitnya memerah dan air matanya membasahi seluruh wajahnya.
"Serahkan anak itu padaku," perintahku. "Kau dipecat."
Kugendong Mia. Wajah mungilnya mengingatkanku pada Sofia yang menangis sambil memohon agar kubiarkan ia berpamitan, tapi tak kulakukan.
Dan kini keduanya menderita.
Kami semua menderita.
Aku menyerah dan mengambil teleponku. Kutelepon paman Sofia, karena tentu saja aku tak punya nomornya.
"Capo," jawabnya. "Ada gerangan apa saya mendapat kehormatan ini?"
"Sambungkan Sofia ke telepon."
"Sofia?"
"Kau tuli atau bagaimana?"
"Tidak, Capo, maaf, hanya saja... Saya pikir Sofia ada di rumahnya."
Sial.
"Dia belum kembali ke rumahmu?"
"Belum, Capo. Kalau saya dapat kabar tentangnya, akan saya beri tahu."
Kututup teleponnya.
Bajingan tolol.
Ia bahkan tak tahu di mana keponakannya berada.
Kupandang putriku. "Akan kubawa dia kembali untukmu, Mia. Aku bersumpah."