Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Rafael bangkit perlahan dari tempat berbaringnya. Napasnya masih sedikit teratur, namun wajahnya kini tampak datar, tanpa ekspresi kelembutan yang tadi sempat ada. Ia memungut pakaiannya yang berserakan di lantai satu per satu, lalu memakaikannya dengan gerakan cepat dan teratur, seakan ingin segera menutupi jejak apa pun yang baru saja terjadi di ruangan itu.
"Tentang apa yang terjadi tadi... itu hanyalah kesalahan," ucapnya pelan sambil mengancingkan kemejanya. Punggungnya masih membelakangi Amara yang masih terbaring menatapnya. "Kita terbawa suasana. Aku tidak seharusnya melakukannya, dan kamu juga tidak seharusnya membiarkannya terjadi. Tolong... lupakan saja semuanya. Anggap ini tidak pernah terjadi."
Amara yang tadi masih terlihat tenang dan puas, perlahan duduk di tepi tempat tidur dan menarik selimut menutupi tubuhnya dengan rapi. Wajahnya berubah pucat, matanya membelalak tak percaya mendengar kata-kata itu.
"Kesalahan?" ulangnya pelan, suaranya bergetar antara marah dan sakit hati. "Kamu bilang semua itu hanya kesalahan, Raf?"
Rafael tidak menoleh, tidak pula menatap matanya. Ia meraih jas yang tergantung di sandaran kursi, lalu menyelipkannya ke lengan dengan cepat.
"Maaf, Amara. Aku tidak bermaksud menyakitimu, tapi aku sudah beristri. Aku punya tanggung jawab di rumah."
Tanpa menunggu jawaban wanita itu, ia keluar dari kamar, meninggalkan ruangan apartemen dan berjalan menuju lift.
Pintu lift terbuka, lalu tertutup rapat setelah ia masuk. Rafael menekan tombol lobi, bersandar pada dinding lift dan memejamkan mata rapat, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berpacu liar karena rasa bersalah yang kini mulai merayap tajam.
Sesampainya di parkiran, ia masuk ke dalam mobil dan membanting pintu dengan bunyi cukup keras yang memecah keheningan lorong. Ia menjatuhkan tubuhnya di kursi pengemudi, kedua tangannya mencengkeram setir dengan kuat. Napasnya memburu, matanya terpejam rapat seakan berusaha membuang bayang-bayang wajah Amara yang penuh kekecewaan tadi.
"Kesalahan... itu memang hanya kesalahan..." gumamnya pelan pada dirinya sendiri, seakan meyakinkan diri sendiri agar tidak terlalu terhantam rasa bersalah.
Rafael meraih ponsel yang tergeletak di dasbor, layarnya menyala terang saat ia menekan tombol samping. Deretan notifikasi langsung muncul di layar, ada belasan panggilan tak terjawab dan pesan singkat dari Alina, yang dikirim beruntun sejak pukul sembilan malam tadi.
Matanya melirik jam yang tertera di sudut layar — pukul dua belas lewat tiga puluh menit. Dadanya tiba‑tiba terasa sesak. Ia teringat janji ulang tahun pernikahan mereka yang sudah ia lupakan begitu saja, dan Alina yang menunggu sendirian di kafe hingga larut malam.
"Ya Tuhan…" gumamnya pelan, jari‑jemarinya gemetar saat menggulir pesan‑pesan itu.
Ia segera menekan tombol panggil balik, tapi hanya terdengar nada tunggu yang panjang sebelum terputus. Alina tidak mengangkat.
Rafael menatap kotak beludru berisi kalung permata yang masih tergeletak di jok samping, hadiah yang seharusnya ia berikan malam ini. Rasa bersalah yang sempat ia coba tolak tadi, kini meluap memenuhi dadanya. Ia menekan pedal gas dengan kuat, mobil melaju cepat menuju rumah besarnya, berharap masih sempat meminta maaf pada istrinya.
-
-
-
Uap hangat masih menyelimuti bahu Alina saat ia keluar dari kamar mandi. Ia mengenakan set piyama tidur berwarna putih, gaun dalam dengan renda lembut di bagian leher dan simpul besar di dada, dilengkapi jubah luar tipis ber‑lengan panjang dengan hiasan renda di ujung lengan. Rambutnya yang basah digerai longgar di bahu, meneteskan air kecil‑kecil ke bahu jubahnya.
Ia berjalan perlahan menuju lemari pakaian besar di sudut kamar, lalu membuka pintunya lebar. Di antara deretan gaun‑gaunnya yang berwarna lembut, tergantung jas hitam milik Revan yang dipinjamkan padanya saat di restoran tempo hari. Alina mengangkat tangan, menyentuh permukaan jas yang halus itu dengan ujung jari.
Ia berbalik menghadap cermin rias besar, menatap pantulan dirinya yang tampak rapuh. Bayangan‑bayangan muncul satu per satu di benaknya, saat Revan mencium paksa dirinya malam itu, saat pria memeluknya tadi, dan saat Revan tampak berusaha melindunginya dari kesepian pernikahan yang hampa. Ingatan itu bercampur dengan perasaan bingung dan bersalah.
"Padahal aku membencinya…" bisiknya pelan pada pantulan wajahnya sendiri. "Tapi kenapa tubuhku berkhianat setiap kali dia menyentuhku."
Alina melirik jam dinding yang berkilau samar di sudut kamar, jarum pendek sudah melewati angka dua belas, sudah pukul dua belas lewat sepuluh menit malam. Keheningan rumah semakin terasa pekat, kecuali dirinya yang pikirannya masih berputar tak menentu.
Ia mengangkat tangan perlahan, menurunkan jas hitam milik Revan dari gantungan pakaian itu. Samar‑samar aroma parfum khas pria itu masuk ke indera penciumannya. Ia memeluk jas itu erat di dada, lalu berjalan menuju pintu kamar dan menuruni tangga marmer dengan langkah yang ragu‑ragu.
Cahaya lampu lorong yang temaram membelai jubah tidur putihnya, bayangannya memanjang di lantai berkilau. Di sepanjang jalan menuju kamar tamu, pikirannya terus berputar antara rasa bersalah dan kerinduan yang tak ingin ia akui. Setiap langkah terasa berat, seolah ada sesuatu yang menariknya kembali ke kamar tidur, tapi kakinya terus melangkah maju menuju lorong tempat kamar tamu itu berada.
Alina berhenti tepat di depan pintu kayu kamar tamu yang tertutup rapat. Ia menarik napas panjang, menahan getaran di dadanya sejenak, lalu mengangkat tangan yang gemetar untuk mengetuk pintu.
Tok… tok… tok…
Suara ketukan itu bergaung pelan di lorong yang sunyi. Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki dari dalam kamar, lalu bunyi gagang pintu yang diputar perlahan.
Pintu terbuka lebar. Revan berdiri di ambang pintu, rambut hitamnya sedikit berantakan seolah baru terbangun dari tidur yang tidak nyenyak. Cahaya lampu kamar yang hangat menyinari wajahnya yang tampak lelah, tatapannya tertuju pada jas miliknya yang di peluk Alina, lalu beralih menatap wajah wanita itu.
"Kamu datang untuk mengembalikan ini?" tanyanya pelan, suara rendah dan serak.
Alina mengangguk pelan, ia mengulurkan tangan untuk menyerahkannya.
"Iya," jawabnya dengan suara yang bergetar halus. "Aku tidak bisa tidur."
Revan mengambil jas itu dari genggaman Alina, matanya tidak beralih dari wajah wanita itu.
"Kamu lapar?" tanyanya pelan, ia tahu Alina belum memakan apapun tadi saat di kafe.
Alina menggeleng perlahan.
"Bukan itu," bisiknya, napasnya terasa sesak. "Hanya… pikiranku tidak mau tenang."
Revan menatap lorong kosong di belakang Alina. Lalu menatap Alina lagi.
"Malam ini dingin," katanya pelan. "Aku akan buatkan makanan dan minuman hangat untukmu."
Alina mengangguk pelan, matanya masih tertunduk lemah. Belum sempat keduanya bergerak, suara deru mesin mobil tiba‑tiba terdengar dari halaman rumah.
Alina tersentak, kepalanya berbalik cepat ke arah jendela besar yang tertutup tirai tebal.
Tanpa berpikir panjang, Revan meraih pergelangan tangan Alina dan menariknya masuk ke dalam kamar tamu. Pintu kayu itu tertutup rapat dengan bunyi klik yang pelan, lalu ia mendorong tubuh Alina perlahan hingga punggungnya menempel ke dinding batu yang dingin.
Jarak mereka menjadi sangat dekat. Revan menjatuhkan jas ditangannya hingga benda itu jatuh tergeletak di lantai. Tatapannya kini tidak lagi lunak, ada ketegangan yang tajam di sana.
"Jangan menangis lagi untuknya, Alina." bisiknya hampir tanpa suara.
Revan mendekatkan wajahnya perlahan, napasnya hangat menyentuh wajah wanita itu. Alina memejamkan mata rapat, napasnya terhenti sejenak saat bibir Revan menyentuh bibirnya dengan lembut. Namun tiba‑tiba terdengar suara ketukan keras di pintu kamar tamu yang membuat keduanya tersentak terkejut.
"Revan? Kamu sudah tidur?" suara Rafael terdengar dari luar, nada bicaranya lelah namun jelas.
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰