NovelToon NovelToon
Isteri Sah Di Balik Bayangan

Isteri Sah Di Balik Bayangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: christinsenia seranica

**Isteri Sah di Balik Bayangan**

Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.

Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.

Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Nama yang Ditunggu Tiga Puluh Tahun

Nama itu jatuh pelan di halaman rumah kecil itu, seperti daun tembakau yang baru saja terlepas dari pangkuan Inaq Sumi.

"Bayu".

Raka tidak bergerak. Aina melihat bahu suaminya menegang, lalu gemetar. Gelang perak di genggamannya berkilau ditimpa cahaya matahari pagi. Bibirnya terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar.

Inaq Sumi melepaskan pegangannya dari tiang berugak. Dengan kaki yang goyah, ia turun ke tanah tanpa alas kaki. Satu langkah, Dua langkah, Tubuhnya yang bungkuk terhuyung, Aina refleks maju hendak menahannya. Tetapi Raka lebih cepat.

Lelaki itu berlari melintasi halaman dan menangkap tubuh renta itu sebelum jatuh.

Untuk beberapa saat, mereka hanya berdiri seperti itu. Raka memegangi kedua lengan perempuan tua itu, Kemudian Inaq Sumi mendongak menatap wajah di atasnya. Tangannya yang kurus terangkat perlahan, menyentuh pipi Raka, lalu alisnya, lalu lesung pipi kecil di sisi kiri.

"Ini kamu," bisiknya. "Ya Allah, ini benar-benar kamu."

Raka mengangkat tangannya yang menggenggam gelang perak. Ia membuka jemarinya pelan-pelan, memperlihatkan benda kecil itu di telapak tangannya.

Inaq Sumi menatap gelang itu. Lalu ia menangis.

Bukan tangis yang keras. Tangis yang sudah terlalu lama ditahan, hingga ketika akhirnya keluar, yang tersisa hanya isak pelan dan bahu yang berguncang. Ia meraih gelang itu dengan jari-jari gemetar, mengusapnya, lalu menempelkannya di dadanya.

"Aku yang memakaikan ini," ucapnya terbata. "Waktu kamu baru lahir,Tanganmu kecil sekali. Aku takut kalau mereka membawamu pergi, aku tidak akan bisa mengenalimu lagi. Jadi aku ukir namamu di dalamnya. Supaya kamu tahu, ada yang memberimu nama sebelum mereka."

Raka berlutut di tanah, di depan perempuan yang melahirkannya. Ia memeluk pinggang Inaq Sumi dan membenamkan wajahnya di sarung tenun pudar perempuan itu.

"Ibu," isaknya. Kata itu terdengar asing dan baru dari mulutnya, seolah baru pertama kali ia mengucapkannya dengan benar. "Ibu…"

Aina berdiri di dekat mobil, ditopang lengan ibunya. Air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Di sampingnya, Ibu Aina terisak sambil menyebut nama Tuhan berulang kali. Hamdan berdiri di belakang mereka, memalingkan wajah ke arah sawah tembakau, pura-pura sibuk mengusap matanya yang kelilipan.

Beberapa tetangga mulai berdatangan, mengintip dari balik pagar bambu. Seorang perempuan paruh baya menutup mulutnya dengan tangan. Bocah pemain layangan tadi berdiri bengong, gulungan benangnya terlepas dari tangan.

Lalu di dekat sedan hitam, Lale Rukmini berdiri sendirian.

Aina menoleh ke arahnya. Perempuan itu tidak menangis lagi. Wajahnya pucat dan diam, seperti seseorang yang sedang menyaksikan hukuman dijatuhkan atas dirinya sendiri. Ia melihat anak yang ia besarkan selama tiga puluh tahun berlutut di depan perempuan lain dan memanggilnya Ibu. Panggilan yang selama ini hanya miliknya.

Perlahan, Lale Rukmini melangkah maju.

Setiap langkahnya terlihat berat. Ia berhenti beberapa meter dari Raka dan Inaq Sumi. Lalu, di depan seluruh tetangga yang menonton, perempuan bangsawan itu melakukan sesuatu yang tidak pernah Aina bayangkan akan ia lihat.

Lale Rukmini berlutut di tanah berdebu.

"Sumiati," ucapnya. Suaranya parau, tetapi cukup keras untuk didengar semua orang. "Aku datang untuk mengembalikan apa yang tiga puluh tahun lalu kuambil darimu. Aku tahu tidak ada yang bisa membayar waktu yang hilang. Aku tidak meminta kau memaafkanku. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku menyesal. Setiap hari, selama tiga puluh tahun, aku menyesal."

Halaman itu hening. Hanya terdengar angin yang menggoyang daun-daun tembakau di sawah dan kokok ayam di kejauhan.

Inaq Sumi menatap perempuan yang berlutut di depannya lama sekali. Aina menahan napas. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Kemarahan yang dipendam selama tiga puluh tahun bisa meledak dalam bentuk apa saja.

Tetapi yang keluar dari mulut perempuan tua itu justru sebuah pertanyaan.

"Dia tumbuh sehat, Lale?"

Lale Rukmini mengangkat wajahnya, terkejut.

"Bayuku," ulang Inaq Sumi. "Dia tumbuh sehat? Dia sekolah? Dia pernah sakit parah? Dia makan dengan baik?"

Lale Rukmini mengangguk, air matanya kembali jatuh. "Sehat. Dia sekolah sampai SMA. Waktu kecil dia pernah demam tinggi seminggu, aku tidak tidur menjaganya. Dia suka sate rembiga. Dia takut gelap sampai umur sepuluh tahun."

Inaq Sumi memejamkan mata dan tersenyum di sela tangisnya, seolah setiap kalimat itu adalah potongan kehidupan anaknya yang selama ini hilang dan kini dikembalikan satu per satu.

"Kalau begitu," katanya pelan, "terima kasih sudah menjaganya."

Lale Rukmini terisak keras. Ia menunduk sampai dahinya hampir menyentuh tanah.

Inaq Sumi mengulurkan tangannya yang keriput dan menyentuh bahu perempuan itu.

"Aku tidak bilang aku sudah memaafkanmu Lale, Mungkin butuh waktu lama. Mungkin sampai umurku habis." Ia menarik napas. "Tapi aku sudah terlalu tua untuk membenci. Sisa umurku cuma cukup untuk satu hal yaitu mengenal anakku."

Mereka semua akhirnya duduk di berugak tua itu. Tetangga-tetangga yang tadi menonton pelan-pelan bubar setelah seorang lelaki tua, kepala dusun, menyuruh mereka pulang dengan halus. Seorang perempuan tetangga datang membawa teko kopi dan sepiring jaje tujak khas sasak, lalu pergi lagi tanpa banyak bertanya.

Inaq Sumi duduk di tengah, tangannya tidak pernah lepas dari tangan Raka. Ia terus menatap wajah anaknya, seolah takut kalau berkedip, semua ini akan hilang seperti mimpi.

Lalu pandangannya beralih kepada Aina.

"Kamu," katanya lembut. "Ibu dari kantor camat. Kenapa kamu yang membawanya ke sini?"

Aina tersenyum, matanya masih basah. Ia melirik Raka, ragu harus menjawab apa. Raka menggenggam tangan ibunya lebih erat.

"Dia istriku, Ibu," jawab Raka pelan. "Istri yang paling banyak kusakiti. Dia sedang mengandung cucumu."

Inaq Sumi menatap Aina, lalu menatap perutnya. Matanya membesar.

Perempuan tua itu bergeser mendekat dan mengulurkan tangannya yang kurus. "Boleh?"

Aina mengangguk. Telapak tangan Inaq Sumi yang kasar dan hangat menyentuh perutnya dengan sangat hati-hati, seperti menyentuh sesuatu yang paling rapuh di dunia.

"Pagi itu," bisik Inaq Sumi, "waktu aku datang ke loketmu, kamu senyum terus. Aku sampai heran. Jarang ada pegawai kantor yang seramah itu." Ia tertawa kecil di sela tangis. "Ternyata kamu sedang membawa cucuku dan aku tidak tahu."

Aina tertawa juga, sambil menangis. Di sampingnya, Lale Rukmini menunduk diam. Ibu Aina juga terlihat mengusap punggung putrinya pelan-pelan.

Untuk pertama kalinya sejak kejutan di warung bambu Kuta itu, Aina merasa sesuatu dalam hidupnya sedang dipulihkan, bukan dihancurkan.

Ponsel di tas Aina bergetar.

Ia hampir mengabaikannya. Tetapi ketika melihat nama di layar, ia segera mengangkatnya. Pak Camat.

"Assalamualaikum, Pak."

"Waalaikumsalam, Bu Aina. Maaf mengganggu masa istirahat Ibu." Suara Pak Mahsun terdengar berat, tidak seperti biasanya. "Saya baru menerima surat dari kabupaten. Ibu dijadwalkan untuk pemeriksaan hari Senin depan."

Aina menarik napas. Ia sudah menduga hari ini akan datang. "Baik, Pak. Saya siap."

"Bukan hanya itu, Bu." Pak Mahsun terdiam sejenak, seolah sedang memilih kata. "Bersama surat itu, ada tembusan satu laporan lain tentang Ibu. Laporan yang masuk kemarin sore."

Jantung Aina berdegup lebih cepat. "Dari Lale Rukmini?"

Ia melirik perempuan tua yang duduk di ujung berugak. Tetapi Pak Mahsun langsung membantah.

"Bukan, Bu. Pelapornya Lalu Mustiadi."

Aina mengerutkan dahi. Nama itu asing di telinganya.

"Dia ayah dari Baiq Sekar Ayu," lanjut Pak Mahsun pelan. "Dalam laporannya, dia menuduh Ibu dengan sengaja merusak rumah tangga putrinya dan meminta Ibu diberhentikan dengan tidak hormat."

Ponsel itu terasa dingin di telinga Aina. Ia menoleh ke arah Raka, yang sedang tertawa kecil mendengar Inaq Sumi bercerita tentang masa kecilnya di Kawo.

Badai yang ia kira sudah berlalu ternyata baru saja berganti arah.

1
falea sezi
si aina di jadikan ban serep saat istri. pertama gugat cerai🤣 najis amat bloon
niaww
semngat kak mampir cerita aku juga ya🥰
falea sezi
pake pengacara lah bodoh
falea sezi
🤣🤣🤣 goblok si aina suami berbagi aja dia mau
Emily: kesel ya klo ada istri oon
total 1 replies
falea sezi
cerai aina bloon🤣
falea sezi
cerai aina enak y berbagi batangan satu itu🤣🤣 cari batangan yg gk usah di bagi😒 begooo🤭
falea sezi
aina tololl menye menye
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!