NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Berita di Televisi Warung

Udara siang terasa menyengat ketika Dirga melangkah keluar dari rumah tuanya. Latihan pernapasan dan pemusatan fokus yang dilakukannya sejak fajar tadi terbukti membuahkan hasil. Denyut tajam di dahinya tidak lagi menghantam dengan kejam, melainkan menyusut menjadi pusaran energi yang dapat ia kendalikan. Rasa sakit kepala hebat yang biasa menyertai kilatan penglihatan masa depan kini mereda, menyisakan ketenangan batin yang jauh lebih kokoh dari sebelumnya.

Dengan napas yang teratur dan pikiran yang jernih, Dirga mengendarai sepeda motor pinjaman bengkel menuju sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan utama. Perutnya yang kosong menuntut haknya setelah berjam-jam menguras energi jiwa.

"Hi, Dirga. Mau makan apa hari ini?" sapa Mbak Asih, pemilik warung makan, dari balik etalase kaca yang berisi aneka lauk-pauk.

"Siang, Mbak Asih. Nasi setengah porsi, tempe orek, dan sayur tahu saja," jawab Dirga santai seraya menarik bangku kayu panjang di sudut ruangan.

"Cuma itu saja, Ga? Tidak pakai ayam atau telur? Kamu kan baru sembuh dari musibah," tutur Mbak Asih dengan raut wajah iba seraya mengambilkan piring.

"Cukup itu saja, Mbak. Terima kasih," balas Dirga singkat dan formal, menolak halus simpati yang tak diperlukannya.

Warung makan itu tidak terlalu ramai. Hanya ada dua orang pengemudi truk yang sedang menyantap hidangan di meja tengah, serta sebuah televis berukuran dua puluh satu inci yang tergantung di sudut atas ruangan, memutar tayangan berita hiburan dan gosip korporat dengan volume sedang.

Dirga duduk membelakangi pintu masuk, mulai menyuap nasinya perlahan. Di depannya, layar televisi menampilkan presenter berita wanita berpenampilan rapi dengan raut wajah serius.

"...Berita mengejutkan datang dari dunia korporat dan konglomerasi tanah air hari ini," suara presenter televisi itu memecah keheningan warung. "Skandal perselingkuhan berskala besar mengguncang jajaran eksekutif Larasati Group serta calon mitra bisnis utamanya..."

Gerakan tangan Dirga yang hendak menyuapkan nasi mendadak terhenti di udara. Pandangannya perlahan terangkat, menatap lurus ke arah layar televisi tabung tersebut.

"Awalnya, hubungan asmara antara Lisa Larasati, Director of Corporate Strategy dari Larasati Group, dengan pengusaha muda berinisial R dikenal sangat harmonis dan digadang-gadang akan berlanjut ke jenjang pernikahan beromset triliunan rupiah," lanjut berita tersebut seraya menampilkan foto wajah Lisa Larasati yang anggun, berwibawa, namun kini tampak dingin di layar.

Dua pengemudi truk di meja tengah menghentikan kunyahannya, tertarik oleh berita hangat itu.

"Wah, anak konglomerat kaya raya begitu masih saja diselingkuhi," cetus salah satu pengemudi truk seraya menggelengkan kepala.

"Pria jaman sekarang, makin kaya makin tidak karuan kelakuannya," timpal rekannya seraya menyeruput es teh manis.

Mbak Asih yang berdiri di balik etalase ikut menengadah menatap layar televisi. "Kasihan ya, Mbak Lisa itu. Sudah cantik, kaya, pimpin perusahaan besar, tapi dikhianati begitu."

Suara presenter berita televisi berlanjut dengan detail yang makin tajam, membuat suasana warung kian hening.

"...Skandal ini terbongkar secara dramatis tadi malam. Pihak media dan keamanan mendapatkan laporan atas insiden keributan di Hotel Grand Paramita. Lisa Larasati secara langsung mendatangi lokasi dan mempergok kekasihnya sedang berada di Kamar 808 bersama seorang wanita lain..."

Deg!

Dada Dirga berdesir halus, namun bukan karena terkejut. Sebuah ukiran senyum tipis yang amat dingin mengembang di bibirnya. Hotel Grand Paramita. Kamar 808. Tenggat waktu dua hari. Semuanya presisi tanpa meleset satu inci pun.

"Dampak dari penggerebekan di Kamar 808 Hotel Grand Paramita tersebut, Lisa Larasati secara resmi mengumumkan pembatalan seluruh kerja sama investasi serta memutuskan hubungan secara sepihak," seru presenter TV itu menutup segmen berita. "Reputasi pengusaha muda tersebut kini hancur lebur di mata publik dan pasar saham..."

Mbak Asih menepuk tangannya pelan. "Luar biasa tegas ya wanita itu. Langsung diputus dan dihancurkan usahanya saat itu juga!"

"Tapi pasti malu dan sakit hati sekali itu, Mbak," sahut pengemudi truk. "Diberondong media di tempat umum begitu."

Dirga meletakkan sendoknya di atas piring yang telah bersih. Ia tidak bersuara sepatah kata pun. Penglihatan yang didapatkannya saat kecelakaan dua hari lalu, tebakan yang dihina oleh Lisa sebagai bualan gila dan tuduhan lancang, kini terbukti 100% tepat dan menjadi kenyataan nasional.

Mbak Asih menghampiri meja Dirga untuk mengangkut piring kotor. "Eh, Dirga, kamu kok malah tersenyum sendiri melihat berita tragis begitu?"

Dirga menoleh perlahan, menatap Mbak Asih dengan mata yang memancarkan ketenangan yang mencekam. "Saya tidak tersenyum karena musibah orang lain, Mbak Asih."

"Lalu kenapa? Wajahmu tampak puas sekali melihat berita tentang wanita kaya itu," tanya Mbak Asih heran.

"Saya hanya merasa kagum," ujar Dirga dengan suara rendah namun sangat mantap. "Kagum bagaimana kebenaran selalu menemukan jalannya, tidak peduli seberapa keras seseorang mencoba menolaknya."

Mbak Asih mengernyitkan dahi, tidak memahami makna mendalam dari ucapan Dirga. "Kamu ini bicaranya tinggi sekali sekarang, Ga. Ya sudahlah, totalnya dua belas ribu rupiah."

Dirga mengeluarkan uang pas dari kantongnya dan menyerahkannya kepada Mbak Asih. "Terima kasih, Mbak."

Dirga berdiri dari bangkunya, merapikan jaket ojol kusam yang membalut tubuhnya. Saat ia melangkah keluar dari warung makan menembus teriknya matahari siang, pikirannya melayang pada sosok wanita di layar televisi tadi.

Di dalam benaknya, Dirga bisa membayangkan betapa hancurnya perasaan Lisa Larasati saat berdiri di depan pintu Kamar 808 Hotel Grand Paramita malam itu. Rasa bangga, harga diri yang tinggi, serta kepercayaan buta yang diagung-agungankannya runtuh berkeping-keping di tanah.

"Kamu menyebutku gila, Lisa," bisik Dirga pada angin siang seraya menghentikan langkahnya di samping sepeda motor. "Kamu menganggap peringatanku sebagai penghinaan, lalu menyodorkan uang ganti rugi puluhan juta untuk membungkam harga diriku."

Dirga merogoh saku celana jeans kusamnya. Jemarinya menyentuh sebuah benda persegi tipis bertekstur keras. Ia menariknya keluar dan mengamatinya di bawah terik sinar matahari.

Kartu nama bersepuh emas milik Lisa Larasati.

Kini, kartu nama yang dulunya berkilau megah itu tampak sedikit lusuh, terlipat di bagian sudutnya, dan ternoda oleh bekas keringat serta debu jalanan setelah berhari-hari tersimpan di saku celana seorang bekas tukang bersih-bersih. Namun, tulisan grafir nama Lisa Larasati – Director of Corporate Strategy masih terpampang jelas.

Dirga memandangi kartu nama emas yang lusuh itu dengan tatapan mata yang penuh perhitungan dan keberanian yang tak tergoyahkan.

"Penglihatanku telah terbukti sempurna," gumam Dirga dingin, jarinya mengusap permukaan kartu nama yang bernoda tersebut. "Amplop uang puluhan juta milikmu masih utuh di rumahku, tidak tersentuh sebagai ganti rugi atas kesombonganmu."

Dirga tahu betul, roda takdir baru saja berputar satu putaran penuh. Pembuktian di Kamar 808 Hotel Grand Paramita bukanlah akhir dari hubungan mereka, melainkan pintu gerbang utama yang akan memaksa Lisa Larasati untuk mencari sosok pria yang pernah dianggapnya gila ini.

dengan perlahan, Dirga memasukkan kembali kartu nama emas yang makin lusuh itu ke dalam saku celananya, lalu menyalakan mesin sepeda motornya dan melaju membelah keramaian kota.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!