Devan itu biang kerok kampus. Baju berantakan, muka dingin, dan selalu ditakuti orang-orang. Tapi tak ada yang tahu kalau si cowok urakan ini punya rahasia besar: dia jatuh cinta setengah mati sama Aura, cewek baik-baik yang hidupnya lurus banget.
Devan sadar diri. Dia merasa terlalu "kotor" buat masuk ke dunia Aura yang terang. Makanya, Devan cuma berani memandangi Aura dari jauh—mengambil ribuan foto Aura secara diam-diam dan menjaganya dari balik layar.
Sampai suatu hari, rahasia itu terbongkar. Semua orang di kampus akhirnya tahu siapa sosok di balik foto-foto itu. Sekarang Devan cuma punya dua pilihan: mundur dan pura-pura lupa, atau nekat ngejar Aura terang-terangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sial atau takdir?
Jam di dinding perpustakaan lantai dua menunjukkan pukul empat sore lewat lima belas menit.
Suasana di sudut ruangan yang sepi itu terasa sangat kaku dan mencekam.
AC yang merembeskan udara dingin seolah tak mampu mendinginkan ketegangan yang membakar di antara empat orang yang duduk melingkar di meja kayu panjang.
Sial atau takdir? Pertanyaan itu terus berputar-putar di dalam kepala Aura sejak Pak Surya mengumumkan pembagian kelompok tadi pagi.
Dari sekian banyak mahasiswa di kampus ini, kenapa harus Devan yang dipasangkan bersamanya, ditambah Reno yang sejak tadi tak henti-hentinya membuang muka dengan senyuman sinis?
Aura mendesah pelan, merapikan tumpukan kertas dokumen proposal di depannya. Di sebelah kirinya, Siska—mahasiswi berambut ikal yang satu kelompok dengan mereka—tampak canggung dan gelisah, terus-terusan memainkan pulpennya tanpa berani membuka suara.
Sementara itu, di depan Aura, Devan duduk bersandar santai di kursi kayu. Jaket kulit hitamnya yang tebal disampirkan di sandaran kursi.
Ia mengenakan kaos polos warna abu-abu, lengannya yang tegap memperlihatkan bekas perban tipis di pergelangan tangannya.
Devan memasang wajah datar seolah tidak peduli pada dunia, namun tatapan matanya beberapa kali ketahuan mencuri pandang ke arah Aura yang sedang sibuk menyusun catatan.
Di samping Devan, Reno menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu sengaja mengetukkan jemarinya ke meja dengan nyaring.
"Jadi, gimana nih?" Reno membuka suara dengan nada menyindir yang sangat kental.
"Katanya mau diskusi jam empat tepat, tapi dari tadi cuma diam-diaman doang. Kita mau ngerjain tugas pameran seni kampus ini atau mau meratapi nasib?"
Aura menatap Reno lurus-lurus. "Kita lagi menunggu kamu siap, Ren. Dari tadi kamu cuma main HP dan bolak-balik mendesah."
"Lah, kok jadi aku yang disalahkan?" Reno terkekeh mengejek, memajukan tubuhnya ke depan meja.
"Harusnya kamu tanya sama si biang kerok di sebelah aku ini. Dia paham apa soal pameran seni? Mengatur konsep visual pameran itu butuh otak dan kepekaan estetika, Ra. Bukan cuma modal otot sama hobi cari keributan di jalanan."
Siska yang duduk di sebelah Aura makin mengkerut ketakutan, sementara Devan hanya melirik Reno sekilas dari balik bulu matanya yang tebal.
"Reno, tolong... bisakah kamu fokus?" potong Aura dengan nada tegas. "Kalau kamu terus-terusan menyindir Devan, tugas ini nggak bakal selesai sampai besok pagi!"
"Aku cuma realistis, Aura," sahut Reno tanpa rasa bersalah.
"Pak Surya minta proposal awal lengkap dengan pembagian tugas tim. Aku rasa biar lengkap, kamu sama Siska yang pegang bagian penyusunan materi dan strategi pemasaran. Aku yang urus presentasi dan koordinasi sama panitia pameran."
Reno lalu berpaling menatap Devan dengan pandangan meremehkan. "Nah, buat Devan... karena dia kan sukanya kerja kasar, mending dia bagian angkut-angkut barang dekorasi pameran aja pas hari H. Gimana? Cocok kan buat kapasitas otaknya?"
Siska meringis mendengar sindiran frontal itu, sementara Aura sudah tidak tahan lagi. Wajahnya memerah menahan marah.
"Reno! Kamu nggak bisa seenaknya menentukan pembagian tugas kayak gitu!" bentak Aura setengah berbisik, mengingat mereka sedang berada di dalam perpustakaan.
"Tugas ini butuh dokumentasi visual yang kuat. Kita butuh fotografer yang paham sudut pengambilan gambar dan konsep pameran!"
"Ya terus siapa?" tantang Reno sambil tertawa kecil. "Kamu mau nunjuk Devan? Halah, paling hasil fotonya cuma buram atau cuma foto-foto nggak jelas. Lu pernah megang kamera beneran nggak sih, Dev?"
Devan yang sejak tadi membisu akhirnya perlahan memajukan tubuhnya. Ia meletakkan kedua lengannya di atas meja kayu.
Tatapan matanya yang tajam dan dingin menusuk tepat ke dalam manik mata Reno, membuat tawa mengejek di wajah Reno mendadak surut seketika.
"Kamera gue harganya lebih mahal dari harga diri lu, Reno," kata Devan dengan suara rendah dan tenang, namun tiap katanya mengandung penekanan yang membuat suasana makin tegang.
Reno membelalak tak terima, rahangnya mengetat. "Lu bilang apa?!"
"Mau bukti?" Devan merogoh tas kain di bawah kursinya, mengeluarkannya, lalu meletakkan sebuah buku portofolio bersampul tebal berwarna hitam di atas meja tepat di depan Reno.
Brak!
Suara hantaman buku itu memecah keheningan sudut perpustakaan.
"Itu sampel konsep dokumentasi visual yang udah gue bikin semalam buat pameran seni kampus," ujar Devan datar. "Buka kalau lu punya mata."
Reno mendengus sinis, pura-pura tidak terkesan. Namun dengan tangan yang agak ragu, ia membuka halaman pertama buku portofolio tersebut. Aura dan Siska ikut condong ke depan untuk melihatnya.
Mata Reno seketika melebar, sementara Aura menahan napasnya.
Di dalam buku portofolio itu, terurai sketsa tata letak pencahayaan pameran yang sangat mendetail, sudut-sudut pengambilan foto yang luar biasa artistik, hingga konsep warna untuk brosur pameran yang dipikirkan dengan amat matang. Itu adalah hasil karya seorang profesional, bukan kerjaan asal-asalan dari seorang "biang kerok" kampus.
Siska sampai bergumam kagum tanpa sadar. "Ya ampun... ini bagus banget! Konsep lighting-nya estetik parah!"
Wajah Reno seketika memerah padam karena malu dan terpojok. Ia menggeledah isi buku itu untuk mencari celah kekuarangan, namun semuanya tertata dengan sangat sempurna.
"Lu... lu pasti nyuri konsep ini dari internet kan?!" tuduh Reno panik, mencoba menyelamatkan harga dirinya yang jatuh.
"Nggak mungkin cowok urakan kayak lu bisa bikin susunan visual serapi ini!"
Devan tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sangat menyebalkan bagi Reno. "Gue nggak kayak lu yang cuma modal omong besar tapi nggak punya karya."
"Ban*sat!" amuk Reno. Ia berdiri dari kursinya hingga kursi kayu itu terdorong ke belakang dan berdecit keras di atas lantai.
"Reno, Devan, hentikan!" jerit Aura panik, berdiri memisahkan mereka berdua.
"Pilihan lu cuma dua, Reno," lanjut Devan tanpa rasa takut sedikit pun, tetap duduk tenang sambil menatap Reno yang emosi.
"Lu ikut konsep visual yang udah gue bikin ini, atau lu keluar dari kelompok dan tanggung sendiri nilainya di depan Pak Surya."
Reno mengepalkan tangannya rapat-rapat. Mukanya merah padam menahan malu di depan Aura dan Siska.
Ia sadar, kalau sampai ia keluar dari kelompok ini atau melaporkan keributan lagi ke Pak Surya, posisi jabatan senatnya yang sedang dipertaruhkan bisa hancur total.
"Oke!" tukas Reno dengan suara bergetar menahan emosi.
"Gue ikut konsep ini! Tapi ingat ya, Dev, pas presentasi besok di depan Pak Surya, kalau sampai ada satu kesalahan aja dari bagian dokumentasi lu... gue sendiri yang bakal memastikan lu ditendang keluar dari kampus ini!"
Reno menyambar tasnya dengan kasar, lalu berjalan pergi meninggalkan sudut perpustakaan dengan langkah melebar penuh kekesalan.
Siska yang merasa tidak nyaman dengan situasi itu buru-buru pamit mengekor di belakang Reno, meninggalkan Devan dan Aura berdua saja di meja panjang tersebut.
Suasana sudut perpustakaan kembali hening. Hanya ada deru mesin AC yang samar-samar.
Aura menghela napas panjang yang terasa sangat berat, lalu perlahan duduk kembali di kursinya.
Pandangannya beralih menatap Devan yang sedang merapikan kembali buku portofolio hitamnya ke dalam tas.
"Kamu begadang semalaman cuma buat bikin konsep portofolio ini, Dev?" tanya Aura dengan suara lembut.
Devan menghentikan pergerakannya sejenak, namun tidak mendongak menatap Aura. "Gue cuma nggak mau kamu kena masalah gara-gara satu kelompok sama gue."
Hati Aura mendadak terasa begitu hangat mendengarnya. Cowok ini selalu saja bertindak sebagai pelindungnya dari balik layar, meskipun orang-orang terus menyudutkannya.
"Sial atau takdir ya..." gumam Aura pelan sambil tersenyum tipis.
Devan mendongak, mengerutkan dahinya bingung. "Maksud kamu?"
"Kita sekelompok," jawab Aura, menatap lurus mata Devan yang kelam.
"Awalnya aku pikir ini kesialan terbesar karena ada Reno juga. Tapi sekarang aku sadar... mungkin ini kesempatan buat semua orang melihat siapa Devan yang sebenarnya."
Devan tertegun. Tatapan mata Aura yang penuh penerimaan membuat pertahanan dingin di dadanya kembali meleleh.
Devan baru saja hendak membalas ucapan Aura, ketika tiba-tiba ponsel milik Devan yang tergeletak di meja bergetar hebat. Di layarnya, memanggil nama 'Bimo'.
Devan mengangkat panggilan itu dan menempelkannya ke telinga. "Kenapa, Bim?"
Suara Bimo dari seberang telepon terdengar sangat panik dan terengah-engah, cukup keras hingga bisa terdengar oleh Aura yang duduk di depannya.
"Dev! Lu ada di mana sekarang?! bahaya, Dev! Tempat penyimpanan kamera sama file-file foto rahasia lu di rumah... ada orang yang baru saja membobol masuk!"
Devan seketika berdiri tegak dari kursinya, matanya membelalak sempurna dan rahangnya mengeras seketika. "Apa lu bilang?!"
"Pintu rumah lu didobrak orang! Gue sama Rian baru sampai di sini, dan semua foto-foto Aura yang lu simpan di kamar gelap... dikuras habis!"
Bersambung...