NovelToon NovelToon
Benalu Di Dalam Rumah Tanggaku

Benalu Di Dalam Rumah Tanggaku

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:28.6k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.

Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.

Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.

Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.

Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

Drtt…..

Drtt…

Drttt….

Ponsel Rian terus berdering tanpa henti di atas meja meeting. Getarannya terasa sampai ke permukaan kayu, dan nada dering yang sama berulang-ulang memenuhi ruangan yang seharusnya sunyi. Beberapa rekan kerjanya sudah melirik ke arahnya.

Rian cepat-cepat menekan tombol silent, tapi tidak lama kemudian layar kembali menyala. Nama ibunya muncul secara berulang kali, disusul panggilan dari Lukman, lalu Sonya yang tak pernah henti.

Ia sedang berada di tengah rapat penting dengan klien besar. Presentasi hampir selesai ketika ponselnya kembali bergetar hebat di dalam sakunya.

Atasannya, yang duduk di ujung meja akhirnya tidak tahan. Ia menatap Rian tajam sambil mengetuk pena ke meja.

“Rian, matikan dulu HP-nya. Atau keluar sebentar. Kamu mengganggu konsentrasi semua orang di sini.” tegurnya.

Rian segera berdiri, wajahnya memerah karena malu. “Maaf, Pak. Saya keluar dulu.” pamit Rian.

Ia buru-buru meninggalkan ruang meeting, menutup pintu pelan di belakangnya, lalu berjalan ke koridor kosong. Begitu aman, ia mengangkat telepon.

“Bu, ada apa? aku sedang meeting—”

Teriakan Rukmini langsung memotong kalimatnya.

“Rian! Pulang sekarang! Rumah kita didatangi orang asing! Mereka bilang mau survey karena rumah ini sudah dijual! Dijual oleh Mia! Kau tahu tidak anak itu menjual rumah diam-diam?!”

Rian membeku di tempat. “Hah? Dijual? Bu, tenang dulu—” kaget Rian.

“Tenang bagaimana?! Mereka sudah bawa meteran, bawa dokumen, bilang atas nama Mia! Lukman dan Sonya panik! Janu menangis! Kau harus pulang sekarang juga!”

Telepon terputus. Rian berdiri kaku di koridor, napasnya memburu. Ia mencoba menelepon Mia, tapi tidak diangkat. Ia menelepon lagi. Masih tidak diangkat.

Di balik pintu ruang meeting, suara atasannya memanggil, “Rian! Cepat masuk, kita lanjut!”

Tapi Rian sudah tidak bisa fokus. Kepalanya penuh dengan teriakan ibunya, bayangan orang asing di rumahnya, dan kenyataan bahwa istrinya mungkin benar-benar sudah menjual rumah tanpa sepengetahuannya.

Dengan tangan gemetar, ia mengetik pesan singkat ke atasannya: “Pak, mohon izin. Ada urusan keluarga mendesak.”

Tanpa menunggu balasan, Rian mengambil tasnya, buru-buru keluar dari kantor, dan memesan ojek online. Di perjalanan, ponselnya terus berdering, ibunya, adiknya, bahkan Sonya. Setiap panggilan hanya menambah kepanikan.

*

*

Mia pulang ke rumah dengan diikuti sebuah mobil box di belakangnya.

Mobil itu berhenti tepat di depan pagar. Beberapa pekerja turun sambil membawa kardus kosong dan alat angkut. Mia mematikan mesin mobilnya, lalu turun dengan tenang. Ia menoleh ke arah para pekerja.

“Tunggu sebentar, saya akan mengeluarkan barang-barangnya terlebih dahulu,” ucapnya jelas.

“Baik, Bu,” jawab salah satu pekerja sambil mengangguk.

Tanpa ragu, Mia melangkah masuk ke halaman, lalu membuka pintu rumah. Ia tidak mengetuk. Ini rumahnya, setidaknya sampai proses serah terima selesai.

Begitu pintu terbuka dan langkahnya terdengar di ruang tamu, Rukmini yang sedang duduk di sofa langsung berdiri. Mata wanita itu menyala penuh amarah. Wajahnya memerah, napasnya memburu.

“DASAR WANITA JALANG! MALING KAU SIALAN!” teriak Rukmini sambil menghampiri Mia dengan cepat. Kedua tangannya langsung mencengkeram bahu menantunya dan mengguncang tubuh Mia dengan kasar. “RUMAH INI PUNYA ANAKKU! KENAPA KAMU MENJUALNYA?! KAU PIKIR BISA SEENAKNYA JUAL RUMAH KAMI?!”

Mia terdorong sedikit ke belakang karena guncangan itu, tapi ia tidak jatuh. Ia menatap ibu mertuanya dengan tatapan dingin, tidak takut, tidak panik.

“Lepaskan tangan Anda, Bu,” kata Mia tegas, suaranya rendah tapi tajam. “Ini rumah saya. Saya yang beli. Saya yang punya sertifikat. Saya berhak menjualnya.”

Rukmini semakin histeris. Ia mengguncang Mia lebih keras. “Tidak tahu diri! Sudah kami terima di keluarga ini, malah mengkhianati! Mengusir kami! Mengusir anak dan cucu saya! Kau perempuan tidak tahu diuntung!”

Dari dalam kamar, Sonya muncul sambil menggendong Janu yang menangis kaget. Lukman juga keluar dengan wajah panik. Sementara di luar, para pekerja mobil box berdiri canggung, tidak berani masuk karena melihat keributan.

Mia mendorong tangan Rukmini pelan tapi tegas hingga lepas dari bahunya. Ia merapikan bajunya, lalu berdiri tegak.

“Saya bukan maling,” katanya datar. “Saya pemilik sah rumah ini. Kalau Anda merasa dirugikan, silakan tempuh jalur hukum. Tapi jangan sentuh saya lagi.” tegasnya.

Rukmini masih berdiri gemetar, napasnya tersengal-sengal karena marah. Ia menunjuk-nunjuk ke arah Mia dengan jari gemetar.

“Kau akan menyesal! Rian pasti membela kami! Kau tunggu saja!”

Mia tidak menjawab. Ia hanya berbalik, berjalan menuju kamar, dan mulai mengeluarkan koper serta kotak-kotak berisi barang pribadinya dan milik Kayla. Gerakannya tenang, seolah teriakan mertuanya tidak lagi berarti.

Di luar, mesin mobil box masih menyala, siap mengangkut apa pun yang akan Mia bawa pergi.

Dan di dalam rumah, amarah Rukmini terus membara, ia benar-benar tidak berdaya.

Lukman tidak tahan lagi. Melihat ibunya yang histeris dan Mia yang tetap tenang seolah tidak peduli, amarahnya meledak. Ia mendorong pintu kamar utama dengan kasar hingga berdentum keras ke dinding.

Brak....

“Kau pikir bisa seenaknya mengusir kami?!” teriaknya.

Mia yang sedang memasukkan pakaian ke dalam koper menoleh.

Belum sempat ia berbicara, Lukman sudah melangkah cepat ke arahnya. Tanpa basabasi, tinjunya menghantam pipi Mia hingga wanita itu terhuyung ke samping dan terjatuh duduk di tepi ranjang.

Plak....

Plak...

Bunyi tamparan dan pukulan itu menggema di dalam kamar.

“Berani sekali jual rumah ini! Berani mengusir kami!” bentak Lukman.

Mia memegang pipinya yang perih. Rasa sakit menjalar, tapi matanya tetap menatap tajam ke arah adik iparnya. Tidak ada air mata. Hanya kemarahan yang dingin.

“Kau, berani memukul aku di rumahku sendiri?” suaranya serak, tapi penuh tekanan.

Dari luar kamar, Rukmini berteriak setuju, “Itu dia! hajar dia biar jera!” Sementara Sonya hanya berdiri di ambang pintu dengan wajah pucat, menggendong Janu yang semakin menangis.

Mia bangkit perlahan. Ia menyeka sudut bibirnya yang sedikit berdarah, lalu berdiri tegak di hadapan Lukman. Tubuhnya gemetar bukan karena takut, melainkan karena marah yang sudah mencapai puncak.

“Kau akan menyesal,” katanya pelan, setiap kata terasa seperti ancaman.

Lukman masih berdiri dengan tinju terkepal, tapi ada sedikit keraguan di matanya ketika melihat tatapan Mia yang tidak lagi takut. Di luar, suara pekerja mobil box terdengar samar, menunggu instruksi.

Mia mengambil ponselnya yang tergeletak di atas kasur. Tangannya masih gemetar, tapi ia berhasil membuka layar dan menekan nomor penting.

Keributan di rumah itu semakin menjadi. Dan pukulan Lukman baru saja mengubah segalanya menjadi lebih serius.

Mia membawa barang-barangnya dan membawanya keluar. "Tolong masukkan kedalam mobil" perintahnya.

Satu persatu barang milik Mia di masukkan kedalam mobil. Tiba-tiba seseorang...

"Mia"

1
Sayekti 0519
kekantor polisi lah,kok seneng ya d tabok orang.udah 3 kali lo
Sayekti 0519
jangan terlalu lengah dan pengertian,aman kan surat rumah.klw mereka g mau pergi jual saja
sunaryati jarum
Kirain Lukman , Rukmini ,dan Sonya, sadar ,taubat dan bekerja ternyata lebih parah.Untuk Mia akhirnya mendapat kebahagiaan
Oma Gavin
akhirnya happy ending untuk rian dan mia dan keluarga neraka' buat lukman dan sonya orang malas kerja pengen hidup enak dunia mimpi pun ngga ada 🤣
Putri Wulandari
lakol cuman gitu ceritanya
sunaryati jarum
Semoga mertua sadar jadi endingnya bahagia
Agus Tina
Bagus ceritanya
gesya garneta
othor jgn bikin rian berubah lah, jgn bikin cerita kyk di novel2 lain, endingnya pisah gara2 keluarga suami, justru bikin keluarga suami jadi baik sama mia
Agus Tina: Iya, betul ... bikin yg agak beda
total 1 replies
sunaryati jarum
Semoga Rian tidak goyah, apapun yang terjadi pada ibunya dan keluarganya.Kamu walau dihujat tetap berbakti dan mengirimkan uang.Seharusnya Bu Rukmini sadar,selama ini yang menopang hidupnya Rian padahal sudah punya keluarga,dan Mia istrinya tidak melarang ,ee malah dibenci.Sedangkan Lukman dan Sonya juga memiliki keluarga tapi hidupnya bergantung pada dirinya,malah disayang dan dimanjakan, renungkan Bu Rukmini apa perilaku pada kedua putra dan menantumu sudah benar dan adil
🎃
kok dera?
sunaryati jarum
Nah setelah kalian merasakan pahitnya hidup tanpa banyak uang dari Rian dan Mikha,jadi kebingungan sendiri.Itulah akibat memanjakan anak tapi membebani anak yang lain.Sonya terbiasa bergantung ini diminta cari nafkah.Semoga kalian sadar jika Mia dan Rian sangat berjasa pada hidup kalian.Sekarang Sonya harus belajar bisa menghidupi diri dan Janu.
dyah EkaPratiwi
enak dikota tapi numpang heyyy usaha makanya jangan suka ongkang2
Agus Tina
Apa Sonya tidak punya orang tua? Kan bisa sementara dia tinggal sama orang tuanya. Dan untuk Mia dan Rian memang lebih baik tinggal bersama orang tua dari Mia, agar para benalu itu tidak kembali lagi merongrong kehidupan mereka.
Jade Meamoure
bagus lah yg penting jangan ada drama kluarga lagi
Jade Meamoure
tk apa sih kalo rujuk hanya saja jauhkan dari keluarga toxic n harus bisa bertindak tegas sebagai kepala keluarga
gesya garneta
thor, jangan bikin rian berubah ya, biarkan mereka hidup bahagia🙏
Agus Tina
Sekoga Rian tidak berubah ...
sunaryati jarum
Semoga sumpah kamu kamu jalankan dan tidak goyah serta Bu Rukmini sadar akan semua kesalahannya pada Mia.Dan Sonya mau bekerja
falea sezi
🤣 Mia oon bego
falea sezi
perempuan oon 🤣 gbs nyari batangan kayak. punya Riyan kayaknya makanya batal cerai🤣🤣 bloooooooon
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!