Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Udara sore di dalam ruang kerja Aldebaran yang bernuansa gotik dan maskulin itu terasa pekat oleh aroma cerutu Kuba, kertas perkamen, dan aroma kopi hitam. Sang penguasa The Iron Crown tengah duduk di kursi kebesarannya, mendengarkan laporan Dante mengenai rute penyelundupan senjata terbaru, ketika pintu ganda mahoni itu tiba-tiba berderit terbuka.
Bagi siapa pun di dunia bawah tanah, masuk ke ruangan Aldebaran tanpa mengetuk adalah sebuah undangan terbuka menuju kematian. Dante bahkan sudah bersiap merogoh senjatanya. Namun, gerakan mematikan itu terhenti seketika saat melihat siapa yang melangkah masuk.
Amanda.
Wanita itu mengenakan sweter cashmere putih kebesaran milik Aldebaran yang ujung lengannya menenggelamkan jari-jari mungilnya. Rambutnya digelung asal ke atas, menyisakan beberapa anak rambut yang membingkai wajahnya yang kini perlahan kembali merona.
Tanpa mempedulikan eksistensi Dante yang langsung menunduk hormat, Amanda berjalan lurus membelah ruangan raksasa itu. Langkahnya ringan, namun ada binar manja yang tak biasa di matanya saat menatap sang Raja Iblis.
"Al..." panggil Amanda. Suaranya terdengar begitu lembut, merdu, dan sedikit merengek—sangat kontras dengan nada dingin nan sarkas yang dulu selalu ia gunakan sebagai senjata.
Aldebaran seketika mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat mutlak pada Dante. Sang asisten pribadi yang tahu diri itu langsung membungkuk dan menghilang dari ruangan dalam hitungan detik, menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan mereka berdua dalam privasi absolut.
Begitu pintu tertutup, Amanda sama sekali tidak ragu untuk mengikis jarak. Ia berjalan ke sisi kursi kulit Aldebaran, lalu dengan gerakan alami yang menggemaskan, wanita itu menyurukkan tubuhnya, memanjat naik untuk duduk menyamping di atas pangkuan suaminya. Kedua lengan mungil Amanda melingkar posesif di leher tegap Aldebaran, sementara wajahnya ia sembunyikan di ceruk leher pria itu, menghirup aroma maskulin yang kini menjadi candu baginya.
"Ada apa, Moya Tsaritza (Ratuku)?" bisik Aldebaran.
Suara bariton sang mafia melembut seketika. Tangan besarnya yang dipenuhi bekas luka dan tato secara otomatis melingkar di pinggang ramping Amanda, merengkuhnya dengan penuh kehati-hatian layaknya memegang porselen paling rapuh di dunia. Ibu jari Aldebaran mengusap punggung Amanda dari balik bahan cashmere yang lembut.
"Al... aku mau makan seafood," rengek Amanda manja, mendongak untuk menatap sepasang mata kelam suaminya dengan bibir mengerucut lucu. "Tiba-tiba aku ingin makan kepiting dan kerang yang sangat banyak. Boleh, ya?"
Mendengar permintaan sederhana yang diucapkan dengan nada merengek itu, dada Aldebaran bergemuruh hebat. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Amanda, mencari sisa-sisa kegelapan di sana, namun yang ia temukan hanyalah binar jernih dari seorang wanita yang sedang dimabuk kepayang.
Entah bagaimana, proses pemulihan dari jurang duka itu telah mengubah Amanda.
Wanita yang dulu begitu independen, dingin, dan selalu membangun tembok baja di sekeliling hatinya itu, kini telah sepenuhnya meruntuhkan pertahanannya. Ia berubah menjadi sosok yang luar biasa manja, selalu haus akan sentuhan, dan menuntut perhatian Aldebaran setiap detik—persis seperti remaja perempuan yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta. Amanda seolah menempatkan Aldebaran sebagai satu-satunya pusat gravitasinya, jangkar kewarasannya, dan dunia barunya.
Dan bagi Aldebaran? Perubahan ini adalah surga.
Sang iblis berdarah dingin itu menyeringai. Sebuah senyum yang begitu tulus, hangat, dan memuja terukir di wajah tampannya yang tegas. Ia merasa menjadi pria paling beruntung di seluruh semesta. Jika Amanda menginginkan bulan, Aldebaran akan merobek langit untuk menjatuhkannya ke pangkuan wanita ini.
"Kau ingin seafood, Sayang?" Aldebaran terkekeh rendah, suara tawanya menggetarkan dada bidang tempat Amanda bersandar. Ia menunduk, mengecup ujung hidung istrinya dengan gemas. "Tentu saja. Apa pun untukmu."
Tangan kiri Aldebaran meraih gagang telepon di atas meja, menekan satu tombol yang langsung terhubung ke saluran luar Dante.
"Dante," titah Aldebaran santai, matanya sama sekali tak lepas dari wajah cantik istrinya. "Kosongkan L'Océan malam ini. Seluruh restorannya. Terbangkan King Crab Alaska terbaik dan Kaviar Almas malam ini juga menggunakan jet pribadi. Pastikan koki utamanya siap melayani istriku dalam dua jam."
"Baik, Tuan," sahut Dante dari seberang sana tanpa banyak bertanya, meski ia tahu instruksi impulsif itu akan membakar puluhan ribu dolar hanya dalam hitungan jam.
Bagi Aldebaran, menghamburkan uang jutaan dolar demi sebuah makan malam impulsif sama sekali tidak ada artinya. Uang, kekuasaan, dan darah—semua itu hanyalah alat untuk mempertahankan senyum yang kini menghiasi wajah istrinya.
Amanda tertawa kecil, suara derainya terdengar seperti denting lonceng yang mengusir hantu-hantu masa lalu di mansion itu. Ia mengalungkan tangannya semakin erat, mengecup rahang tegas Aldebaran berkali-kali dengan penuh cinta. "Kau berlebihan, Al. Aku cuma mau makan kepiting biasa, bukan merampok restoran bintang Michelin."
"Tidak ada yang biasa untuk Ratu dari klan Hendrick," balas Aldebaran posesif. Tangannya membelai lembut rahang Amanda, menyusuri lekuk bibir wanita itu dengan ibu jarinya. "Kau pantas mendapatkan seluruh dunia ini, Amanda. Termasuk semua yang ada di dalamnya."
Aldebaran menunduk, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang lambat, manis, dan memabukkan. Di dalam dekapan sang monster yang ditakuti dunia, Amanda menemukan perlindungan paling aman, sementara Aldebaran menemukan sisa-sisa kemanusiaannya pada rengekan manja wanita di pangkuannya. Di tengah kejamnya dunia mafia, cinta mereka mekar dengan cara yang gelap, posesif, namun luar biasa indah.
Bulan demi bulan berganti, dan transformasi Amanda di dalam sangkar emas The Iron Crown semakin menjadi rahasia umum—setidaknya bagi para penghuni internal Mansion. Duka yang dulu merantai jiwanya perlahan terkikis, menyisakan sebuah anomali yang membuat Flop dan Dante sering kali harus berpaling menyembunyikan senyum geli.
Amanda yang dingin dan penuh perhitungan telah lenyap, digantikan oleh versi dirinya yang tak terduga: seorang istri manja, moody, dan luar biasa menuntut. Dan yang paling mengejutkan dari semua ini adalah, sang Raja Iblis, Aldebaran Hendrick yang tersohor kejam, dengan sukarela menanggalkan jubah tiraninya untuk menjadi budak cinta yang paling sabar.
Malam itu, hawa musim dingin mulai merayap di balik jendela kaca raksasa kamar utama mereka.
Aldebaran baru saja menyelesaikan rapat berdarah dengan dewan mafia Rusia secara virtual. Pria itu masuk ke kamar, masih mengenakan kemeja hitam yang ujungnya dikeluarkan dari celana bahan, mengendurkan dasinya dengan lelah. Otaknya masih dipenuhi strategi invasi pelabuhan, namun semua itu seketika menguap begitu matanya menangkap siluet sang istri.
Di atas ranjang king size yang berantakan, Amanda duduk bersila dengan punggung membelakangi pintu. Ia mengenakan kemeja sutra kebesaran milik Aldebaran. Sebuah guling berbulu putih didekap erat di dadanya, dan bahunya bergerak naik-turun dalam ritme kekesalan yang sangat kentara.
Seketika, insting mafia Aldebaran mati, digantikan oleh alarm 'Suami Siaga'.
Pria itu melangkah mendekat dengan sangat pelan, seolah sedang mendekati singa betina yang bersiap menerkam. "Sayang...?" panggilnya lembut, suaranya sengaja diturunkan setengah oktaf agar terdengar semenenangkan mungkin.
Tidak ada jawaban. Hanya dengusan pelan dan pergeseran bahu yang membuang muka.
Aldebaran menghela napas geli, menahan senyum di sudut bibirnya. Ia naik ke atas kasur, bergerak merangkak dari belakang dan memeluk pinggang Amanda, menyandarkan dagunya di bahu ramping istrinya. Aroma vanila dan cherry manis seketika memenuhi penciumannya.
"Ada apa dengan Ratu-ku malam ini, hm?" bisik Aldebaran merayu, bibirnya menyapu lembut perpotongan leher Amanda. "Kenapa membelakangiku? Aku bahkan belum sempat melepas sepatu saat naik ke atas, dan kau sudah menyambutku dengan aura membunuh yang lebih mengerikan daripada geng Bratva."
Amanda menghentakkan bahunya pelan, berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya, meski tenaga yang ia keluarkan hanya formalitas belaka.
"Lepas. Jangan peluk-peluk," ketus Amanda. Bibirnya mengerucut ke depan hingga hampir bisa diikat, persis seperti anak kecil yang baru saja dilarang membeli permen.
Aldebaran justru mempererat pelukannya, memutar tubuh istrinya dengan lembut hingga Amanda terpaksa menghadapnya. Sang monster yang ditakuti dunia itu kini menatap istrinya dengan tatapan memuja yang nyaris konyol.
"Mana bisa aku melepaskanmu? Aku bisa mati kedinginan," bujuk Aldebaran dengan wajah tanpa dosa. Tangan besarnya menangkup wajah Amanda yang merengut. "Ayo, katakan pada suamimu ini, siapa yang berani membuatmu kesal? Flop? Koki dapur? Atau... aku?"
Mata Amanda yang jernih menatap Aldebaran dengan kilat protes. "Kau."
"Aku?" Aldebaran mengangkat sebelah alisnya dramatis, meletakkan tangan di dada seolah tertusuk panah maya. "Apa dosa besar yang telah kulakukan, Yang Mulia?"
"Kau bilang rapatmu hanya satu jam!" sungut Amanda, dadanya kembang-kempis menahan kesal. Ia memukulkan kepalan tangan mungilnya ke dada bidang Aldebaran. "Aku menunggumu di sini untuk membacakan buku cerita sebelum tidur. Aku tidak bisa tidur kalau kau tidak mendongeng, Al! Dan sekarang... sekarang sudah lewat dua jam! Kau lebih peduli pada pelabuhan sialanmu itu daripada istrimu sendiri!"
Aldebaran tertegun sejenak. Ya Tuhan. Istrinya, wanita dewasa yang dulunya membesarkan anak sendirian di dunia yang kejam, kini merajuk hanya karena... ia terlambat membacakan dongeng pengantar tidur.
Sebuah getaran hangat menjalar di dada Aldebaran. Tawa rendah yang sangat maskulin akhirnya bergemuruh di tenggorokannya. Ia tidak marah, ia tidak merasa direndahkan. Sebaliknya, kemanjaan Amanda yang tak masuk akal ini adalah bukti nyata bahwa wanita itu merasa sepenuhnya aman di sisinya. Bahwa tembok baja itu telah benar-benar runtuh, menyisakan jiwa rapuh yang memercayakan seluruh perlindungannya pada Aldebaran.
"Astaga, istriku sayang..." Aldebaran terkekeh pelan, menangkup kedua tangan mungil yang memukulinya lalu mengecupinya satu per satu dengan penuh pemujaan. "Maafkan aku, hm? Para tikus Rusia itu terlalu banyak bicara, jadi aku harus menembak kepala salah satu dari mereka agar rapatnya cepat selesai demi kembali padamu."
Mata Amanda membulat. "Kau membunuh orang lagi saat video call?!"
"Hanya memberinya pelajaran, Sayang. Jangan alihkan pembicaraan," kekeh Aldebaran. Ia menjatuhkan dirinya ke punggung, menarik tubuh Amanda hingga wanita itu berakhir menindih dada bidangnya.
Tangan besar Aldebaran membelai punggung istrinya dari atas ke bawah, memanjakannya dengan sentuhan memabukkan. "Sebagai hukumannya... aku akan membacakan tiga buku cerita malam ini. Dan besok pagi, aku akan membatalkan semua agendaku, kita akan berendam air hangat, dan aku akan menyuapimu sarapan di tempat tidur. Bagaimana? Masih mau membuang muka padaku?"
Amanda menatap wajah tampan suaminya yang tersenyum menggoda dari bawah. Kesal yang tadi mengubun perlahan menguap, tergantikan oleh sengatan hangat yang membuatnya mabuk kepayang. Ia tak bisa menahan senyumnya lebih lama lagi.
"Tiga buku cerita. Tidak boleh dilewati satu halaman pun," ancam Amanda manja, memosisikan kepalanya nyaman di ceruk leher Aldebaran, menyurukkan hidungnya di sana.
"Sesuai perintahmu, Ratuku," bisik Aldebaran penuh kemenangan.
Ia meraih buku bersampul kulit tua dari atas nakas, membuka halamannya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain terus memeluk istrinya erat. Di bawah temaram lampu tidur, suara bariton sang Raja Iblis mengalun rendah, membacakan dongeng klasik untuk menidurkan wanita yang telah berhasil menjinakkan seluruh kegelapan di dalam hatinya.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭