Zinnia Arunika terlahir tanpa suara. Tapi malam itu, di tepi pantai saat perpisahan kampus, bahkan jika ia bisa berteriak sekalipun, mungkin tak akan ada yang mendengar.
Niatnya menolong seorang pria yang diduganya hendak mengakhiri hidup justru berakhir menjadi malam paling kelam dalam hidupnya.
Pria itu, Arvid Danendra, berada di bawah pengaruh obat dan kehilangan kendali. Ia merenggut kesucian Zinnia.
Sebelum pergi karena keadaan darurat, ia meninggalkan sebuah cincin dan janji tanggung jawab.
Siapa sangka, Zinnia malah mengandung anak dari malam yang ingin ia lupakan. Ia memilih diam, tak menuntut haknya karena dunia pria itu berbeda darinya. Arvid pewaris keluarga konglomerat dan keluarganya tak pernah dirancang untuk menerima gadis sepertinya.
Zinnia yang bisu memilih membisu. Namun bagaimana saat takdir memaksa mereka kembali bertemu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Rahasia yang Terungkap
Bu Rina segera menekan nomor tersebut. Panggilan tersambung setelah beberapa kali nada sambung.
“Halo, selamat siang. Apa benar ini nomor keluarga dari Zinnia Arunika?” tanya Bu Rina dengan hati-hati.
“Iya, benar," sahut suara dari seberang. "Saya ibunya. Ada apa, ya?”
“Saya Rina, supervisor tempat Zinnia bekerja di Aurelle. Saya ingin memberi tau bahwa Zinnia mengalami kecelakaan saat bekerja dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit.”
Di seberang telepon, terdengar keheningan sesaat.
“Apa?” Suara ibu Zinnia berubah panik. “Zinnia kenapa? Dia kecelakaan apa? Sekarang dia di rumah sakit mana?”
Bu Rina menyebutkan nama rumah sakit dan menjelaskan sebatas informasi yang diketahuinya.
“Zinnia sedang diperiksa dokter, Bu. Soal kapan Zinnia bisa pulang, saya belum tau. Sebaiknya Ibu datang agar bisa mendampinginya.”
“Iya. Iya, saya akan ke sana.”
Sambungan telepon terputus setelah ibu Zinnia mengucapkan terima kasih dengan suara gemetar.
Di rumah, Riri berdiri terpaku selama beberapa detik setelah menurunkan ponselnya.
Zinnia masuk rumah sakit?
Pikiran itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia tidak tahu seberapa parah keadaan putrinya, tetapi membayangkan Zinnia terbaring kesakitan tanpa dirinya di sisi tempat tidur saja sudah membuatnya gelisah.
Ia segera masuk ke kamar untuk mengambil tas dan pakaian ganti. Beberapa barang dimasukkannya dengan terburu-buru, sementara pikirannya terus tertuju pada putrinya.
“Zinnia ... kamu kenapa sampai begini?” gumamnya lirih.
Ia menghubungi rumah sakit sekali lagi untuk memastikan alamat dan menanyakan apakah Zinnia sudah bisa ditemui. Setelah mendapatkan petunjuk mengenai tempat yang harus dituju, ia bergegas bersiap berangkat ke kota.
Sepanjang perjalanan menuju pintu rumah, ia terus menggenggam ponselnya.
Ia hanya ingin segera sampai dan melihat sendiri keadaan putrinya.
Apa pun yang terjadi, ia tidak ingin Zinnia merasa harus menghadapi semuanya sendirian.
***
Dua jam perjalanan terasa jauh lebih lama bagi Riri.
Sejak menerima telepon dari supervisor tempat kerja putrinya, ia tidak bisa duduk tenang. Berkali-kali ia memeriksa ponselnya, berharap mendapat kabar tambahan tentang kondisi Zinnia. Namun, tidak ada panggilan masuk.
Begitu tiba di rumah sakit, ia segera menuju meja informasi untuk menanyakan keberadaan putrinya.
Setelah mendapat petunjuk, Riri bergegas menyusuri lorong menuju ruang rawat yang disebutkan petugas.
Di depan salah satu kamar, ia melihat seorang perempuan berseragam kerja sedang duduk sambil memegang ponsel. Perempuan itu langsung berdiri ketika Riri menghampirinya.
“Permisi, apa Anda Ibu Riri?” tanyanya.
“Iya. Saya ibunya Zinnia.” Riri menggenggam tali tasnya erat-erat. “Zinnia di dalam, ya? Gimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja?”
Perempuan itu mengangguk. “Iya, Bu. Saya Rina, supervisor Zinnia di Aurelle. Saya yang tadi menghubungi Ibu.”
“Terima kasih sudah memberi tau saya.” Suara Riri terdengar bergetar. “Tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Saya hanya diberi tau Zinnia mengalami kecelakaan.”
Bu Rina mempersilakannya duduk sebentar.
“Tadi Zinnia sedang bekerja di area restoran. Ada insiden dengan salah satu pelayan yang membawa nampan. Zinnia terjatuh, lalu mengeluh sakit di bagian perut. Kami segera membawanya ke rumah sakit.”
Riri menutup mulutnya dengan satu tangan. “Ya Tuhan ...”
“Maaf, Bu," ucap Bu Rina. "Saya gak bermaksud bikin Ibu khawatir. Saya cuma mau memastikan Ibu segera datang karena Zinnia perlu didampingi keluarganya.”
"Iya, saya ngerti," kata Riri. “Sekarang dia bagaimana? Sudah sadar?”
“Setelah menjalani pemeriksaan, dia dipindahkan ke ruang rawat. Dokter masih memantau kondisinya.”
Riri beranjak berdiri. “Saya mau melihatnya."
“Tentu, Bu. Kamarnya di sana.”
Sebelum beranjak, Riri sempat menoleh kepada Bu Rina. “Sejak tadi, Ibu sendirian yang mengurus semuanya?”
Bu Rina menggeleng. “Nggak semuanya, Bu. Ada seorang pria yang ngantar Zinnia ke rumah sakit. Beliau juga menawarkan diri untuk menanggung biaya pengobatannya.”
Riri mengernyit. “Seorang pria?”
“Iya. Saya gak sempat nanya terlalu banyak karena beliau harus kembali ke kantor. Tapi beliau memastikan pihak rumah sakit mencatat kesediaannya menanggung biaya perawatan.”
Riri tampak bingung, tetapi saat itu ia belum ingin memikirkan hal lain selain putrinya.
“Nanti saya tanyakan lagi. Sekarang saya mau melihat Zinnia dulu.”
Bu Rina mengangguk. “Silakan, Bu. Saya tunggu di sini sebentar. Kalo ada yang perlu ditanyakan, Ibu bisa manggil saya.”
Riri membuka pintu kamar dengan hati-hati. Pandangan pertamanya langsung tertuju pada sosok yang terbaring di atas ranjang.
“Zinnia ...”
Putrinya tampak pucat. Sebuah selimut menutupi tubuhnya hingga pinggang, sementara infus terpasang di salah satu tangannya.
Riri segera menghampiri ranjang dan duduk di kursi di sampingnya. Ia menggenggam tangan Zinnia dengan hati-hati, takut menyakiti bagian yang masih terasa nyeri.
“Zin, Ibu datang.”
Zinnia membuka mata perlahan. Begitu melihat ibunya, matanya langsung berkaca-kaca. Ia berusaha mengangkat tangan yang bebas dari infus untuk berbicara melalui bahasa isyarat, tetapi Riri buru-buru menggeleng.
“Jangan banyak gerak dulu. Kamu istirahat aja.”
Zinnia menggeleng kecil. Tangannya tetap bergerak, meskipun lambat.
Ibu datang sendiri?
“Iya, Ibu datang sendiri. Perjalanan tadi sekitar dua jam.” Riri mengusap rambut putrinya. “Sekarang Ibu udah di sini. Kamu gak perlu mikir apa-apa dulu.”
Zinnia menunduk. Air mata mengalir dari sudut matanya.
Riri mengusap pipinya dengan ibu jari. “Kenapa gak bilang sama Ibu kalo kamu lagi kesulitan, Zin?”
Zinnia tidak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan ibunya lebih erat.
Riri ingin bertanya banyak hal. Mengapa putrinya sampai mengalami kecelakaan? Mengapa ia terlihat begitu lemah? Apa yang sebenarnya terjadi selama Zinnia tinggal di kota?
Namun, ia menahan semua pertanyaan itu. Putrinya masih kesakitan, dan ia tidak ingin membuatnya semakin tertekan.
“Sudah, istirahat dulu. Ibu bakal temenin kamu.”
Riri mengecup kening Zinnia, kemudian berdiri untuk menemui dokter yang menangani putrinya.
Dokter yang bertugas sedang memeriksa catatan pasien ketika Riri menghampirinya.
“Permisi, Dok. Dokter yang menangani Zinnia?"
"Benar," jawab wanita paruh baya yang mengenakan jas putih itu.
"Saya baru tiba dan ingin tau kondisi Zinnia," ujar Riri.
Dokter mempersilakannya duduk.
“Baik, Bu. Sebelumnya, saya ingin memastikan bahwa Ibu adalah keluarga pasien. Boleh saya tau nama lengkap pasien dan hubungan Ibu dengannya?”
Riri menjawab pertanyaan tersebut dan menunjukkan identitasnya ketika diminta.
Setelah memastikan identitasnya, dokter mulai menjelaskan kondisi Zinnia.
“Pasien mengalami nyeri perut setelah terjatuh. Kami sudah melakukan pemeriksaan awal dan memutuskan untuk memindahkannya ke ruang rawat agar kondisinya dapat dipantau lebih lanjut.”
“Apakah ada luka serius, Dok?” Riri bertanya cepat. “Gimana keadaan putri saya?”
“Untuk saat ini, kondisi yang kami periksa cukup meyakinkan. Namun, karena ia mengalami nyeri setelah jatuh, kami tetap perlu mengawasi perkembangannya. Pasien harus beristirahat dan mengikuti anjuran dokter selama masa pemulihan.”
Riri mengembuskan napas lega, meskipun kecemasan belum sepenuhnya hilang.
“Syukurlah. Saya takut terjadi sesuatu yang buruk padanya.”
Dokter mengangguk sebelum melanjutkan. “Ada satu hal lagi yang perlu Ibu tau. Berdasarkan pemeriksaan, Zinnia sedang hamil.”
Riri terdiam.
...🔸🔸🔸...
...“Ada kabar yang datang hanya dalam beberapa kata, tetapi sanggup mengubah cara kita memandang masa depan. Kita mungkin tidak siap menerimanya, tetapi kita tetap dapat memilih untuk menghadapinya dengan kasih sayang dan keberanian.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued