kecelakan tragis itu merenggut nyawa Kiara, setelah mengetahui fakta bahwa dia dikhianati suaminya.
Tetapi Tuhan selalu memberi plot twist yang tidak pernah bisa kita tebak. Kiara mendadak terbangun kembali ke lima tahun lalu tepat di hari pertama pernikahan kontrak mereka dimulai.
Menyadari bahwa dia kembali mengulang waktu, kali ini Kiara bertekad untuk mengumpulkan uang lalu kabur demi menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi, Kiara justru dibuat syok oleh perubahan drastis Dante, sang mafia kejam yang tiba-tiba berubah menjadi super bucin, posesif, dan memanjakan Kiara dengan uangnya yang tidak akan pernah habis itu. Kiara tidak pernah tahu bahwa suaminya yang kejam itu ternyata juga ikut bereinkarnasi dari masa depan, membawa rasa bersalah dan sejuta penyesalan yang siap melakukan apa saja agar sang istri tidak pernah pergi lagi dari pelukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laksmi Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Lalita senyumanmu yang indah mulai menggetarkan seluruh rasa di dalam jiwa. Anjali hormat ku pada rasa cinta yang tumbuh tulus, membawa Damai. Maitri persahabatan ini kini menjelma menjadi kasih yang abadi.
...----------------...
Klek!
Pintu kamar kembali tertutup dan terkunci dari luar, meninggalkan Kiara sendirian di dalam kamar mewah yang sunyi. Kiara menghela napas panjang, menjatuhkan tubuhnya kembali ke atas kasur empuk yang berantakan. Ia menyentuh bibirnya yang masih terasa hangat oleh ciuman Dante tadi.
Pria itu benar-benar penuh teka-teki. Namun, satu hal yang pasti di kehidupan kedua ini: Dante Belmont tidak akan pernah membiarkannya pergi, dan Kiara pun menyadari bahwa perlahan tapi pasti, hatinya mulai terikat pada sang mafia dingin yang begitu tidak tahu malu itu.
Sementara itu, di lantai bawah mansion, Dante melangkah keluar menuju mobil jip militer hitam yang sudah menunggunya di halaman. Leon berdiri di samping pintu mobil dengan tablet digital di tangannya.
"Semua jalur pelarian distrik timur telah diblokir, Tuan. Pasukan inti kita sudah berada di posisi masing-masing," lapor Marcus dengan tegas.
Dante masuk ke dalam kursi kemudi, matanya berkilat memancarkan aura haus darah yang mengerikan di bawah kegelapan malam. "Bagus. Malam ini, kita akan meratakan seluruh distrik timur dengan tanah. Tidak ada tawanan, Marcus. Siapa pun yang terlibat dalam penyerangan terhadap istriku... pastikan mereka mati dengan cara yang paling menyakitkan."
Mobil jip hitam itu melesat membelah kegelapan malam, menuju sebuah operasi pembersihan besar-besaran yang akan mengubah peta kekuasaan dunia bawah tanah kota itu selamanya.
...----------------...
Kali ini, Kiara memutuskan untuk mengikuti perintah Dante. Dia tidak ingin mencari tahu lebih lanjut tentang rahasia apa yang di sembunyikan suaminya itu tentang mendiang ibunya. Lagipula, bibinya tidak pernah bercerita apapun atau bertindak mencurigakan terkait kehidupan mereka selama ini.
Kiara menatap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi "Aku hanya perlu melanjutkan rencana yang sudah aku susun, apapun tentang masalalu dan latar belakang ibu... itu semua tidak akan merubah apapun yang telah terjadi bukan? Baik Kairo, Sora, Dante dan semua orang di dunia ini bukankah memang memiliki tujuan hidup masing-masing. Jadi cukup sampai di sini rasa penasaranmu Kiara, jangan terpengaruh dengan ucapan pria tua itu. Dia hanya penyumbang benih, bukan sosok orang tua yang patut kamu hormati apalagi kamu percayai"
...----------------...
Dor!!
Dor!!
Dor!!
Distrik timur malam itu benar-benar di jadikan lautan darah oleh Dante. Banyak tubuh tergeletak tak bernyawa, suara teriakan, letusan, dan tembakan terdengar dimana-mana. Pria itu membuktikan ucapannya jika akan membunuh siapapun yang berani mengusik istrinya. Wajah tampannya terlihat bengis dan mengerikan.
"Hubungi yang lain untuk mengirim banyak pasukan. Kita sudah di kepung!" Ucap salah satu tangan kanan musuh Dante.
Dante tersenyum miring mendengar teriakan pria yang berdiri tidak jauh darinya
"Ini hanya salam pembuka. Sampaikan kepada tuanmu, jika aku akan menemuinya secara langsung untuk mengambil jantungnya!"
"Kau akan menyesal setelah ini Dante! Tuan kami akan menuntut balas atas semua ini!" Balas pria itu dengan sisa tenaga yang dia punya.
Dante tak menanggapi, sebaliknya dia menoleh kearah Marcus "Marcus! selesaikan sisanya. Hubungi Leo, hancurkan semua bisnis keluarga Abraham! Aku ingin nama itu terhapus dari jajaran keluarga berpengaruh di kota ini. Jangan berikan celah sedikitpun untuk mereka bernafas lega."
"Sesuai perintah anda tuan" Ucap Marcus patuh.
Dante melangkah maju menuju mobilnya. Malam ini sudah cukup, dia akan pulang dan tidur memeluk sang istri.
...----------------...
Jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari saat mobil yang membawa Dante memasuki halaman mansion. Langkah kaki tegapnya begitu mendominasi, mansion yang tampak sunyi itu semakin terasa dingin begitu sang tuan melangkah masuk.
Ceklek!
Pintu kamar utama terbuka, Dante melangkah masuk. Tatapan matanya berhenti pada sosok wanita yang tertidur pulas dengan gaun tidur belahan satin yang membungkus tubuh moleknya. Semakin terlihat panas di mata Dante saat selimut yang menutupi kaki sang istri tersingkap, memperlihatkan kaki jenjang dan paha yang putih mulus bak porselen.
"Bahkan saat tertidur pun dia tahu cara menggodaku" Suara Dante mendadak serak, pria itu menelan saliva untuk membasahi tenggorokannya yang mendadak kering. Dan... ada bagian dari dirinya yang memberontak begitu menyesakkan.
"Sial!" Umpatnya berlalu pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang berbau anyir.
Tak butuh waktu lama bagi Dante untuk membersihkan tubuhnya. Pria itu kini memakai kimono, melangkah pasti menuju tempat tidur dimana sang istri yang sejak tadi begitu menggoda dimatanya.
cup
Cup
Cup
Dante menciumi setiap inci tubuh Kiara yang bisa bibirnya jangkau.
"Sayang... Bisakah kau tidak menggodaku di jam menjelang pagi seperti ini?"
Tindakan Dante sukses mengusik tidur nyenyak Kiara.
"Dante, tidurlah. Tolong biarkan malam ini aku beristirahat dengan tenang." Gumam Kiara yang matanya setengah terpejam.
"bisakah satu ronde saja? Aku janji hanya satu ronde" Balas Dante, dia tidak mengindahkan ucapan Kiara. Tangan dan bibirnya bergerak aktif menggoda setiap sisi tubuh istrinya.
"Ahhh!" Desah Kiara.
"Satu kali saja sayang."
Dan apa Kiara mampu menolak? Tentu saja tidak! Dante tahu dan begitu mahir mencari titik lemahnya.
Sepasang suami istri itu kembali menyatu, menyalurkan hasrat yang tidak akan pernah habis.
Kegiatan yang justru akan semakin mengikat erat hubungan mereka.
...----------------...
Sinar matahari pagi mengintip di sela-sela tirai jendela kamar mewah bernuansa monokrom.
"Tsk! Tubuhku rasanya seperti pulang dari berperang melawan seribu pasukan berkuda." Gerutu Kiara yang masih bergelung dengan selimut dengan mata setengah terpejam.
Di sampingnya masih ada Dante yang tidur tengkurap menampakkan tatto bergambar naga yang melingkar dari dada, perut, hingga punggung. Nafasnya begitu teratur, sungguh pagi yang indah bagi Kiara. Wajah tampan, punggung lebar dan berotot.
"Tuhan begitu tidak adil. Bagaimana bisa dia menciptakan manusia dengan ketampanan dan fisik yang begitu sempurna seperti ini"
"Selain tampan dan perkasa, aku juga pria yang setia" Jawab Dante tiba-tiba.
"Ka-kau! Sepertinya tidurmu tidak nyenyak. Pagi-pagi sudah ngelantur!"
"Tidurku cukup dan sangat nyenyak nyonya, asupan gizi ku terpenuhi menjelang pagi tadi, akan bertambah sehat jika nyonya memberikan gizi tambahan di pagi yang indah ini" Jawab Dante yang saat ini sudah berada diatas tubuh Kiara, mengungkung tubuh polos sang istri.
"Dante... turun please, tubuhku masih sangat lelah" Pinta Kiara memohon. Karena dia tahu, Dante tidak mungkin hanya cukup sekali jika menyangkut kebutuhan biologisnya.
"Mulutmu menolak, tapi tubuhmu berkhianat sayang. Lihat lah, begitu basah" Balas telak Dante.
"Aahhh! Dante... Faster!!"
"AS your wish babe"