**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**
Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.
Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.
Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.
Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.
"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap yang Berubah
Keiran masih berada di balkon ketika bel pulang berbunyi. Suara langkah beberapa siswa mulai terdengar dari koridor, menandakan kegiatan belajar hari itu telah selesai. Namun, dia belum beranjak dari tempatnya.
Pikirannya masih tertuju pada perkataan Fio. Dia tahu gadis itu marah karena tidak terima melihat Hikari diperlakukan seperti tadi. Dan Keiran tidak bisa menyalahkannya.
Setelah beberapa menit, Keiran akhirnya keluar dari balkon. Saat melewati koridor, dia sempat melihat Hikari sedang berbicara dengan Neta di depan kelas. Gadis itu tampak biasa saja, bahkan sesekali tersenyum menanggapi perkataan temannya.
Keiran memperlambat langkah.
Namun, ketika Hikari mengangkat wajah dan pandangan mereka hampir bertemu, dia justru memilih berbalik menuju tangga lain.
Dia belum siap menghadapi gadis itu.
***
Keesokan paginya, Keiran datang lebih awal dari biasanya. Setelah meletakkan tas di kelas, dia pergi menuju lapangan basket. Suasana masih cukup sepi. Hanya ada beberapa siswa yang sedang berolahraga dan petugas kebersihan yang menyapu halaman.
Keiran duduk di bangku panjang di pinggir lapangan. Dia membungkukkan badan untuk mengikat tali sepatunya yang sedikit longgar.
Tidak lama kemudian, Rian datang dan langsung duduk di sampingnya.
"Lo udah sarapan belum?" tanyanya.
"Udah."
"Serius?"
Keiran tidak menjawab. Dia masih sibuk merapikan ikatan sepatunya.
Rian mulai bercerita tentang kejadian lucu yang dialaminya kemarin. Ceritanya berpindah-pindah, mulai dari teman sekelasnya yang salah membawa buku hingga pertandingan basket yang hampir membuatnya terlambat pulang.
Keiran hanya mendengarkan sesekali.
Di tengah cerita, Rian mengambil ponselnya. Dia memeriksa sebuah pesan, lalu tersenyum kecil sebelum mengetik balasan.
Keiran meliriknya.
"Lo kenapa?"
"Enggak kenapa-kenapa."
"Terus senyum sendiri?"
"Memangnya enggak boleh?"
Keiran kembali menunduk, menyelesaikan ikatan sepatunya. Rian tertawa kecil dan memasukkan ponselnya ke saku.
Beberapa detik kemudian, dia kembali melanjutkan ceritanya.
Keiran sudah terbiasa dengan kebiasaan Rian yang banyak bicara. Berbeda dengan dirinya yang lebih sering diam, Rian selalu punya sesuatu untuk dibicarakan. Karena itu, berada di dekat Rian terasa jauh lebih mudah daripada harus menjelaskan isi pikirannya kepada orang lain.
"Eh, nanti pulang sekolah lo ikut gue, ya," kata Rian.
"Mau ke mana?"
"Belum tahu. Cari makan mungkin."
"Malas."
"Belum juga gue ajak ke tempatnya."
"Jawabannya tetap sama."
Rian menggeleng sambil tertawa. "Susah banget ngajak lo."
Di kelas, Hikari sedang menyalin catatan ketika Neta datang dan duduk di sampingnya. Gadis itu meletakkan tas, kemudian mengeluarkan ponsel dari saku.
"Lo udah ngerjain tugas bahasa Indonesia?" tanya Neta.
"Udah. Nanti aku kasih lihat."
"Untung ada lo."
Hikari tersenyum kecil. Mereka kemudian mulai membicarakan tugas dan beberapa kegiatan sekolah yang akan datang.
Tidak lama kemudian, Arsen muncul di depan kelas. Dia langsung menghampiri meja Hikari dengan membawa sebuah minuman.
"Hikari."
Hikari mengangkat wajah. "Kenapa?"
"Nih."
Arsen meletakkan minuman itu di atas meja.
Hikari menatapnya bingung. "Buat aku lagi?"
"Iya. Kemarin gue belum sempat beliin."
"Kamu enggak perlu sering-sering membelikan sesuatu."
"Kenapa? Enggak boleh?"
"Bukan begitu."
Arsen tersenyum puas. Dia memang senang melihat Hikari kebingungan menghadapi tingkahnya. Semakin gadis itu berusaha menjaga jarak, semakin banyak pula alasan yang dibuatnya untuk mendekat.
Neta yang menyaksikan kejadian itu hanya tertawa pelan.
"Arsen, lo enggak punya kerjaan lain?" tanyanya.
"Ada. Tapi mampir ke sini sebentar enggak masalah, kan?"
Hikari menggeleng kecil, kemudian kembali memperhatikan bukunya.
Saat istirahat, Hikari dan Neta pergi ke kantin. Mereka baru saja mendapatkan tempat duduk ketika Rian datang dari arah pintu bersama Keiran.
Rian lebih dulu melihat Neta.
"Net!"
Neta menoleh. "Apa?"
"Lo udah makan?"
"Belum."
"Ya udah, makan dulu."
Rian kemudian berjalan menuju tempat pemesanan makanan. Neta memperhatikannya sebentar sebelum kembali menghadap Hikari.
Keiran yang berada di belakang Rian sempat melihat Hikari. Namun, gadis itu tidak menyapanya. Dia hanya melanjutkan makan sambil berbicara dengan Neta.
Keiran akhirnya duduk di meja lain bersama Rian.
"Lo mau makan apa?" tanya Rian.
"Terserah."
"Jawaban lo selalu begitu."
Rian memesan makanan untuk mereka berdua. Setelah itu, dia kembali memeriksa ponselnya sambil menunggu pesanan.
Keiran memperhatikan sekeliling kantin. Tanpa sengaja, pandangannya kembali tertuju pada Hikari.
Saat itu Arsen baru saja datang menghampiri meja mereka. Cowok itu membawa makanan dan ikut duduk bersama Hikari serta Neta.
Arsen mengatakan sesuatu yang membuat Hikari tertawa kecil.
Keiran segera mengalihkan pandangan.
Rian yang duduk di hadapannya tidak menyadari perubahan ekspresi tersebut. Dia masih sibuk membaca pesan di ponselnya.
"Kei, lo dengerin gue enggak?"
"Apa?"
"Ya ampun. Dari tadi gue ngomong."
"Terus?"
Rian menggeleng pasrah. "Enggak jadi."
Setelah istirahat, Hikari kembali menjalani pelajaran seperti biasa. Dia tidak lagi berusaha mencari kesempatan untuk bertemu Keiran. Bahkan ketika berpapasan dengannya di koridor, Hikari hanya berjalan melewatinya.
Bukan karena dia membenci Keiran.
Dia hanya tidak ingin memaksakan kehadirannya.
Sementara itu, Fio sedang menghabiskan waktu bersama beberapa teman lain di kelasnya. Dia tidak menghampiri Keiran seperti biasanya. Bukan berarti mereka tidak lagi berteman, tetapi Fio masih merasa kecewa dengan sikap Keiran terhadap Hikari.
Dia membutuhkan waktu untuk meredakan kekesalannya sendiri.
Menjelang pulang sekolah, Keiran kembali duduk di pinggir lapangan. Dia sedang membuka tali sepatunya ketika Rian datang menghampiri sambil membawa dua botol minuman.
Satu botol dilemparkannya ke arah Keiran.
"Minum."
Keiran menangkapnya. "Makasih."
Rian duduk di sebelahnya, kemudian kembali mengambil ponsel. Ada pesan masuk yang membuatnya tersenyum tipis.
Keiran melirik sekilas, tetapi kali ini tidak bertanya.
"Lo pulang sekarang?" tanya Rian.
"Nanti."
"Kenapa?"
"Masih malas."
Rian tertawa kecil. "Dasar."
Keduanya kembali terdiam. Rian sibuk dengan ponselnya, sedangkan Keiran menatap lapangan yang mulai sepi.
Tidak jauh dari sana, Hikari sedang berjalan keluar bersama Neta. Arsen menyusul mereka dan kembali mengajak Hikari berbicara.
Keiran melihatnya sebentar.
Dulu, Hikari mungkin akan menghampirinya jika melihatnya duduk di sana. Gadis itu akan menyapanya, menanyakan apa yang sedang dilakukannya, atau sekadar duduk sebentar meskipun Keiran tidak banyak bicara.
Sekarang, Hikari berjalan melewatinya tanpa menoleh.
Keiran menunduk, memainkan tutup botol minumannya.
Dia sendiri yang meminta Hikari menjaga jarak. Namun, ketika gadis itu benar-benar melakukannya, ada bagian dalam dirinya yang justru merasa kehilangan.
"Kei."
Rian memanggilnya.
"Hm?"
"Lo kenapa? Dari tadi diam."
"Enggak apa-apa."
Rian memperhatikannya sebentar, tetapi tidak memaksa. Dia kembali memasukkan ponsel ke saku dan berdiri.
"Udah, ayo pulang."
Keiran mengangguk lalu ikut berdiri.
Di perjalanan menuju gerbang, pikirannya kembali tertuju pada Hikari. Dia ingin meminta maaf, tetapi belum tahu bagaimana harus memulainya. Ada terlalu banyak hal yang sedang memenuhi kepalanya, dan dia sendiri belum mampu memahami semuanya.
Sementara itu, Hikari sudah berada di dalam mobil bersama Pak Damar. Dia melihat keluar jendela, memperhatikan jalanan yang mulai ramai.
Hari itu berjalan seperti biasanya.
Namun, tanpa disadari keduanya, jarak yang terbentuk di antara mereka mulai terasa semakin nyata.