Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: POLA YANG MULAI TERLIHAT
Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Dr. Marlina, Bang Tua sempat mengobrol dengan beberapa dosen lain di ruang dosen, mencoba mengorek informasi lebih jauh soal beban kerja dosen pembimbing skripsi secara umum, berpura pura sekadar obrolan santai sambil ngopi sore, taktik yang sudah cukup sering dia pakai belakangan ini sampai sampai dia sendiri mulai merasa seperti detektif partikelir yang menyamar jadi dosen biasa.
"Emang beban bimbingan sekarang berat ya, Pak?" tanyanya ke salah satu dosen senior yang kebetulan duduk semeja dengannya saat istirahat siang, seorang dosen yang biasa dipanggil Pak Hasan, dikenal cukup vokal soal isu isu birokrasi kampus meski jarang benar benar bertindak lebih jauh dari sekadar mengeluh di meja makan.
Pak Hasan mengangguk sambil menghela napas, meletakkan sendoknya sejenak seolah topik itu cukup penting untuk dibahas serius. "Berat kali, Pak Sahat. Apalagi kalau lagi musim akreditasi kayak sekarang, kita disuruh kejar publikasi, kejar sertifikasi, sambil tetap harus bimbing belasan mahasiswa. Belum lagi kalau ada tuntutan tambahan dari pimpinan buat tingkatkan angka kelulusan tepat waktu, padahal sumber dayanya ya segini segini aja."
"Angka kelulusan tepat waktu itu maksudnya gimana, Pak?" tanya Bang Tua lagi, penasaran dengan istilah yang baru pertama kali benar benar dia perhatikan maknanya, meski istilah itu sering muncul di rapat rapat rutin tanpa pernah benar benar dia telusuri lebih jauh.
"Itu lho, salah satu indikator penilaian akreditasi, berapa persen mahasiswa yang lulus tepat delapan semester. Semakin tinggi persentasenya, semakin bagus nilainya buat prodi. Makanya pimpinan suka tekan tekan kita biar percepat proses bimbingan, walaupun kenyataannya ya kayak gini, kita kewalahan sendiri," jelas Pak Hasan, sambil melirik ke kanan kiri seolah memastikan tidak ada pimpinan yang kebetulan lewat dan mendengar keluhannya.
Bang Tua mengangguk, mencatat detail itu dalam ingatannya, mulai menyusun gambaran yang lebih besar. Dalam hati dia berkomentar, "jadi bukan cuma Bu Marlina doang yang kewalahan, rupanya ini penyakit menular satu kampus, kayak flu musiman tapi versi akademik, dan kayaknya belum ada vaksinnya sampai sekarang".
Sore harinya, dia sempat singgah ke perpustakaan kampus, mencari data terbuka soal rasio dosen dan mahasiswa di jurusannya, sesuatu yang sebenarnya bisa diakses publik lewat laporan akreditasi program studi yang dipajang di papan pengumuman dekat ruang baca. Dari situ dia menemukan fakta yang cukup mengejutkan, rasio dosen pembimbing terhadap jumlah mahasiswa bimbingan di jurusannya jauh melebihi standar ideal yang biasa direkomendasikan, satu dosen bisa membimbing lebih dari dua puluh mahasiswa sekaligus dalam satu semester, jumlah yang menurutnya, "mustahil dikerjain manusia biasa, kecuali dosennya beneran punya kekuatan gandain diri kayak di film film, atau minimal punya asisten pribadi yang kerjanya nggak digaji".
Dia duduk sebentar di sudut perpustakaan yang sepi, membolak balik laporan itu sambil sesekali mencatat angka angka penting di buku kecilnya. Petugas perpustakaan yang mengenalnya sebagai pengunjung rutin, sempat menyapa dan bertanya apakah dia sedang mencari bahan untuk penelitian baru, dan Bang Tua hanya menjawab singkat sambil tersenyum, "penelitian pribadi aja, Bu, soal misteri kenapa dosen dosen di sini kayak kurang piknik semua", jawaban yang membuat petugas itu tertawa kecil tanpa benar benar paham maksud sebenarnya.
Sebelum benar benar meninggalkan perpustakaan, dia sempat mengambil beberapa lembar fotokopi dari laporan itu untuk dia simpan sebagai bukti tambahan, memasukkannya ke dalam map biru yang selalu dia bawa, map yang sama yang dulu pernah dia gunakan untuk menyimpan bukti bukti penyelewengan dana himpunan mahasiswa waktu masih kuliah S1, sebuah kebiasaan lama yang entah kenapa terasa relevan lagi sekarang, seolah pola hidupnya berputar kembali ke titik yang mirip, hanya dengan taruhan yang jauh lebih besar.
Dia mulai menyadari, masalah Riko bukan sekadar soal Dr. Marlina yang kebetulan sibuk, tapi bagian dari masalah struktural yang lebih besar, beban kerja yang tidak proporsional, dibebankan ke pundak dosen dosen yang sebenarnya juga berjuang dengan tuntutan lain yang sama beratnya. Tapi di sisi lain, dia juga menyadari satu hal penting, betapapun beratnya beban itu, seharusnya tetap ada cara untuk memastikan mahasiswa tidak jadi korban dari ketimpangan sistem, entah lewat pembagian beban yang lebih adil, atau mekanisme lain yang selama ini sepertinya tidak pernah benar benar dipikirkan serius oleh pihak kampus.
Sebelum pulang, dia sempat menyapa Pak Hasan sekali lagi di lorong, sekadar berterima kasih atas obrolan siang tadi, dan Pak Hasan hanya membalas sambil tertawa kecil, "sama sama, Pak Sahat, tapi jangan sampai ketauan pimpinan kalau kita ngomongin beginian ya, nanti malah kita yang kena semprot duluan", candaan yang disambut Bang Tua dengan tawa singkat sebelum akhirnya mereka berpisah menuju arah yang berbeda.
Malam itu, di kos, dia menuliskan catatan baru di buku kecilnya, kali ini bukan cuma nama tiga mahasiswa, tapi juga poin poin soal rasio bimbingan, beban kerja dosen, dan tuntutan akreditasi yang saling berkelindan. Dia menggambar semacam diagram sederhana, kotak kotak kecil yang menghubungkan "sistem akreditasi" dengan "beban dosen" dan "nasib mahasiswa", mencoba memvisualisasikan pola yang mulai terbentuk di kepalanya. Dalam hati dia bergumam, setengah bercanda setengah serius, "kalau nanti bapak beneran pakai kekuatan buat benerin sistem ini, jangan jangan efeknya bukan cuma satu dua orang kena batunya, tapi separuh birokrasi kampus langsung kelabakan, wah bisa runtuh instansi kalau gitu caranya, mending hati hati dulu lah, jangan asal gerutu sembarangan".
Keesokan paginya, sebelum mengajar, dia sempat singgah lagi ke ruang tata usaha, kali ini bertanya lebih jauh ke salah satu staf yang sudah cukup lama bekerja di sana, mencoba memahami bagaimana sebenarnya proses penentuan beban bimbingan dosen ditetapkan setiap semester. Staf itu, seorang ibu paruh baya yang cukup terbuka bercerita, menjelaskan bahwa penentuan beban itu sebenarnya diatur oleh ketua program studi, dan belakangan ini beban memang cenderung ditumpuk ke beberapa dosen tertentu, sementara yang lain relatif lebih ringan, sesuatu yang menurutnya "biasa aja sih Pak, mungkin pertimbangan kesesuaian bidang", tapi nada suaranya terdengar kurang yakin dengan penjelasannya sendiri, seolah dia juga menyimpan pertanyaan yang sama tanpa berani menyuarakannya.
Bang Tua mengangguk, menyimpan informasi itu sebagai kepingan puzzle baru, mulai curiga jangan jangan penentuan beban bimbingan yang timpang itu juga bukan sekadar kebetulan administratif biasa, melainkan bagian dari pola yang lebih besar, entah untuk menekan dosen dosen tertentu, atau untuk alasan lain yang belum sepenuhnya dia pahami. Dalam hati dia menggerutu pelan, "ini kampus apa arena gulat, kok rasanya semua yang keliatan biasa biasa aja, begitu digali dikit, ada aja yang janggal".