NovelToon NovelToon
Di Antara Dua Bayangan

Di Antara Dua Bayangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Teen / Bad Boy / Tamat
Popularitas:387
Nilai: 5
Nama Author: Rhea Vey

DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28: Batas Kesabaran Vino

Atmosfer di rumah besar Pradipta malam itu tidak lagi sesekadar tegang, melainkan sudah berada di ambang ledakan.

Sejak insiden konfrontasi di perpustakaan sekolah tadi siang, Vino sama sekali tidak melepaskan pandangannya dari Aira. Begitu mereka tiba di rumah, Vino secara terang-terangan menyuruh Aira untuk tetap berada di area ruang tamu utama atau kamarnya sendiri, melarang cewek itu melangkah ke area yang berpotensi memicu interaksi dengan Darel.

Malam merambat makin larut. Aira baru saja keluar dari dapur membawa segelas air hangat saat ia mendapati Darel sedang berdiri di dekat tangga lantai dua, menunggunya dengan senyuman halus khasnya.

"Aira," panggil Darel pelan, suaranya mengalun lembut membelah sunyinya rumah. "Soal penawaran pameran seni tadi siang di sekolah... saya serius. Kamu gak perlu takut sama gertakan Vino—"

"Dia udah bilang gak mau, Darel. Lu pekak apa gimana?"

Suara berat Vino memotong tajam dari arah pintu masuk. Vino melangkah masuk dengan jaket hitam yang masih melekat di badannya. Tatapan matanya yang membara mengunci sosok Darel tanpa ampun.

Darel menghela napas pendek, memutar badannya santai seraya bersedekap dada. "Vino... ini rumah keluarga kita, bukan area kekuasaan kamu di sekolah. Kamu gak punya hak buat mengatur dengan siapa Aira boleh bicara."

"Di rumah ini, di sekolah, atau di mana pun... selama itu menyangkut Aira, itu jadi urusan gue!" geram Vino. Langkah kakinya yang lebar mendatangi Darel hingga jarak mereka hanya tersisa setengah meter. Vino membusungkan dadanya, mengintimidasi Darel dengan tingginya.

Aira menahan napas, memeluk gelas di tangannya rapat-rapat. "Vin... Kak Darel... udah, jangan bertengkar..."

"Diem di situ, Aira!" potong Vino tegas tanpa mengalihkan pandangannya dari Darel.

Vino mencengkeram kerah kemeja Darel secara mendadak, menarik pria itu hingga wajah mereka berhadapan rapat. "Gue udah muak lihat akting sok pahlawan dan cara-cara manipulatif lu yang picik, Darel. Lu pikir gue gak tahu apa yang selama ini lu rencanakan?"

Darel tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Sebaliknya, senyuman tipis yang amat dingin dan pekat perlahan terbit di sudut bibirnya—topeng anak baik-baik yang selama ini ia pakai mulai tanggal sepenuhnya.

"Kamu mau tahu apa yang saya rencanakan, Vin?" bisik Darel sangat pelan, hanya bisa didengar oleh Vino. "Saya cuma mau mengambil apa yang seharusnya jadi milik saya. Dan kamu... cuma sampah penghalang yang lambat laun bakal saya singkirkan."

Brak!

Vino menghempaskan Darel ke dinding hingga bingkai foto di dekatnya bergetar keras.

"Cobain kalau lu berani, bangsat!" geram Vino, suaranya memenuhi seluruh sudut ruangan. "Batas kesabaran gue udah habis malam ini. Jangan pernah impikan lu bisa menyentuh Aira lagi, karena mulai detik ini... gue bakal hancurin lu sampai akar-akarnya!"

Darel merapikan kerah kemejanya yang kusut dengan tenang, menyunggingkan seringai misterius sebelum melangkah naik ke lantai atas tanpa mengcapkan sepatah kata pun lagi.

Vino berdiri mematung dengan napas memburu hebat. Kepalan tangannya gemetaran oleh amarah yang tertahan. Ia lalu memutar badannya menatap Aira yang berdiri membeku ketakutan.

"Aira," panggil Vino, nadanya mendadak melunak meski masih tersisa sisa emosi yang pekat. Vino melangkah mendekati Aira, menatap mata cewek itu dalam-dalam. "Mulai besok... lu harus janji sama gue. Jangan pernah percaya sepatah kata pun yang keluar dari mulut Darel. Apapun yang terjadi."

Aira menatap binar mata Vino yang memancarkan rasa protektif luar biasa. Rasa takutnya pada Darel perlahan terkikis, digantikan oleh rasa percaya yang mutlak pada sosok cowok di hadapannya ini.

"Iya, Vin... aku janji," bisik Aira pelan.

Vino menghela napas panjang, meremas pelan puncak kepala Aira dengan canggung sebelum berpaling muka. "Yaudah. Masuk kamar sekarang, kunci pintunya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!