Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 11
Rinda tidur dengan nyenyak di kamarnya yang kosong. Dia lebih suka seperti itu dari pada melihat barang-barang yang penuh namun tidak ada sama sekali miliknya.
Sedangkan di venue, suasana menjadi sangat sepi. Satu per satu tamu pulang, dan hanya menyisakan anggota keluarga saja.
Keluarga Gani pun akhirnya memilih untuk pulang. Mereka bingung dan dengan apa yang terjadi. Terlebih kedua orang tua Gani.
"Kamu selesaikan semuanya dengan baik, Gani. Bagaimana bisa kacau seperti ini," ucap sang ayah.
Gani hanya menunduk dalam diam. Kemunculan Rinda sungguh mengejutkan. Membuatnya kehilangan kata dan bahkan mungkin sejenak kehilangan akalnya.
Kini hanya tinggal Gani bersama dengan Teani dan Nania. Teani duduk di pelaminan dengan terus meremass kesepuluh jarinya. Dia juga mengigit bibirnya sendiri hingga tak sadar mengeluarkan darah.
"Kita pulang," ucap Gani memecah keheningan.
Grap!
Teani memegang tangan Gani, mencengkeramnya dengan erat. Kepalanya lalu menggeleng pelan.
"Tidak, j-jangan pulang?" ucapnya. Suara Teani terdengar bergetar. Ketakutan itu nampak nyata
"Rinda pulang, kita harus lihat kondisi nya," tukas Gani. Wajahnya sedikit gusar tapi suaranya terdengar lebih tenang ketimbang Teani.
"Tapi Gan, i-ini malam pernikahan kita," balas Teani. Matanya sendu, berkaca-kaca dan hampir menangis.
"Tea, adikmu pulang dengan selamat. Dia kembali dari kematian, dan kamu masih berkata demikian. Tea, sepertinya kita harus kembali memikirkan tentang pernikahan kita ini."
Degh!
Tangan Teani seketika lemas, pegangannya terhadap Gani terlepas, dan tangan itu jatuh lunglai begitu saja.
Bagaimana bisa pria itu berkata demikian?
Teani merasa asing dengan tatapan mata Gani yang sekarang. Pria yang beberapa waktu ini menatapnya dengan lembut dan penuh cinta, itu sekarang menatapnya dengan tanpa ekspresi.
"Kenapa semudah itu, Gani? kita, kita sudah sering bersama. K-kenapa kamu begini. Kalau, kalau aku hamil bagaimana?"
Teani menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan ucapan yang terlontar dari mulut Gani. Pria itu berkata akan mengkaji ulang pernikahan mereka. Gani mungkin saja akan mengajukan pembatalan pernikahan, tidak bisa. Teani jelas tidak ingin hal itu.
"Aku mencintai kamu, Gan. Aku sangat cinta sama kamu. Aku tidak mau kita pisah," ucap Teani lagi.
Gani membuang nafasnya kasar. Dia juga mengusap wajahnya berkali-kali.
Dia berada di sebuah kebingungan yang luar biasa diantara Teani dan Rinda.
Teani, wanita yang baru dinikahinya. Sedangkan Rinda, istrinya yang katanya sudah meninggal kini kembali tepat pada pesta pernikahannya.
"Aku tidak tahu, aku sangat bingung. Sekarang kita pulang dulu. Aku harus bertemu dengan Rinda."
"Tidak, kalian berdua tinggallah di hotel yang sudah disiapkan. Mama yang akan pulang untuk menjaga Rinda."
Ucapan Nania membuat suasana kembali sunyi. Gani diam dan tengah berpikir. Sedangkan Teani, dalam hatinya berharap bahwa Gani akan tinggal.
Teani berpikir bahwa malam ini, dia tak boleh melepaskan Gani.
Sungguh aneh wanita satu ini. Adiknya selamat dari kecelakaan maut. Adiknya kembali dari kematian, tapi yang dipikirkan hanya dirinya sendiri.
Sedari tadi, tak ada sedikit pun terbesit dalam pikiran Teani tentang Rinda.
"Apakah dia baik-baik saja? Apa Rinda masih sakit? Dimana dia selama ini?"
Pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya Teani tanyakan sebagai keluarga. Tapi Teani tidak sama sekali terpikirkan tentang Rinda. Dia sepenuhnya ketakutan terhadap apa yang akan terjadi pada dirinya sendiri.
"Tidak, kita semua pulang," ucap Gani tegas.
"T-tapi Gan~"
"Rinda istriku Teani. Aku ingin tahu tentang keadaannya!"
Gani berjalan keluar venue lebih dulu. Baru Teani dan Nania menyusul kemudian. Mereka bertiga akhirnya pulang. Namun saat sampai di halaman rumah, Gani melihat sebuah mobil yang belum pernah dilihatnya.
Dia tak peduli dengan hal itu, dan terus bergegas masuk untuk menemui istrinya.
"Jangan ganggu dia, dia sedang tidur."
Suara yang tenang tapi terdengar sangat tegas dan juga penuh penekanan.
Gani, Teani dan Nania langsung menghentikan langkah mereka.
"Kamu, kenapa kamu ada di sini?" tanya Gani dengan kening yang berkerut. Pria muda itu, Gani juga tahu bahwa dia adalah asisten pribadi Rinda.
"Jexen, kamu ada keperluan apa di sini?" imbuh Teani. Dia tak kalah penasarannya juga.
Selama ini pria itu sangat sulit ditemuinya. Berkali-kali Teani minta pertemuan, namun Jexen selalu menolak. Tawaran untuk menjadi asistennya juga ditolak mentah-mentah meski gaji yang ditawarkan cukup besar.
Aneh memang, Jexen yang amat sulit dijangkau itu tengah tiduran di sofa ruang keluarga kediaman Nadisyah dengan mata yang terpejam.
"Aku? kenapa di sini? Ya jelas untuk menjaga nona ku. Aku kan asistennya, jadi aku harus menjaga keselamatan nona ku di rumahnya yang penuh dengan rubah."
Mata Jexen tetap terpejam saat berkata demikian. Seolah enggan melihat mereka.
"Jangan kurang ajar kamu ya. Ini rumah kami, dan kamu hanya orang asing. Pergi dari sini!" pekik Gani. Kakinya melangkah ke tempat Jexen berada. Tangannya siap untuk menarik tubuh Jexen dan ingin segera melemparkannya ke luar.
"Cih, rumah kami kamu bilang. Bukan ya, ini rumah Rinda. Kalian itu hanya numpang. Dan yang berhak mengusir aku dari sini hanya Rinda, karena Rinda lah yang memberiku izin untuk tinggal."
Jexen bangkit dari posisi tidurnya. Kakinya disilangkan dan jari tangan kanannya mengusap kening dengan perlahan.
Jexen tak tampak sepeti asisten pribadi biasa, aura yang dipancarkan malah terasa seorang penguasa.
"Jangan berani-beraninya kamu ya. Jangan sok. PERGI DARI SINI!"
Suara Gani menggelegar. Di rumah yang senyap malam itu, suara apapun akan terdengar jelas.
Ceklek!
"Siapa yang berani mengusir orangku!"
Degh
"R-rinda."
TBC