Gavin Dewantara adalah pewaris tunggal Dewantara Group, salah satu keluarga old money terpandang di negeri ini. Bosan dengan kepalsuan kelas atas dan kekangan keluarganya, Gavin memilih kuliah di universitas negeri di luar kota, tinggal di kosan sederhana, dan menyembunyikan identitas aslinya. Di kampus, ia dikenal sebagai mahasiswa teknik yang slengean, ugal-ugalan, hobi naik motor tua, dan sering terlibat perkelahian jalanan menggunakan teknik bela diri praktis yang ia pelajari dari jalanan. Meski terlihat berandalan, Gavin memiliki prinsip hidup yang kokoh dan kesetiaan tanpa batas kepada teman-temannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 Pesta yang Salah Alamat
Jika ada satu hal yang paling dihindari oleh Gavin Dewantara di dunia ini setelah formalitas makan malam keluarga besar di Menteng, hal itu adalah kata "Malam Keakraban". Sialnya, Fakultas Teknik tampaknya memiliki tradisi purba untuk mengadakan acara tersebut bagi mahasiswa baru dan senior di setiap pertengahan semester.
Dan yang membuat Gavin ingin mendadak pura-pura kena usus buntu adalah lokasi acaranya: Grand Dewantara Ballroom, aula utama di hotel bintang lima termewah di kota ini. Hotel yang, tentu saja, memiliki plang raksasa dengan logo keluarga besarnya di bagian fasad gedung.
"Gav, lu mau berangkat pake baju begitu? Lu mau ke makrab teknik apa mau narik angkot?" tanya Rian dengan nada prihatin yang amat sangat. Cowok berkacamata itu sedang sibuk merapikan kemeja batiknya yang sedikit kekecilan di bagian bahu hingga ketiaknya terlihat tegang.
Gavin melirik penampilannya sendiri di cermin lemari kosan yang retak. Ia mengenakan kaos oblong hitam polos favoritnya, celana jins robek di lutut, dan sandal jepit karet. Di pundaknya, jaket denim lusuhnya bertengger manis. "Lah, emangnya kenapa, Yan? Ini namanya gaya grunge-casual. Di warkop Cak Min, setelan kayak gini udah level VIP."
"VIP matamu, Gav! Itu hotel bintang lima!" seru Rian frustrasi. Tanpa permisi, Rian langsung mengorek tumpukan baju di lemari Dono yang sedang kosong dan mengeluarkan selembar kemeja batik sutra bermotif mega mendung yang ukurannya tiga kali lebih besar dari badan Gavin. "Nih, pake baju Bang Dono. Daripada lu diusir sama satpam hotel gara-gara dikira mau minta sumbangan."
Gavin terpaksa mengalah. Ketika ia memakai kemeja batik pinjaman tersebut, tubuh tegapnya langsung tenggelam. Bahu kemejanya melorot sampai ke siku, dan panjangnya hampir menyentuh lutut, membuatnya terlihat seperti dukun cilik yang salah kostum atau rapper yang mendadak tobat.
"Gimana? Keren kan?" tanya Gavin sambil berpose slengean, melebarkan tangannya hingga kain batiknya berkibar seperti sayap kelelawar.
Rian menepuk dahinya pasrah. "Terserah lu lah, Gav. Yang penting tertutup."
Malamnya, mereka tiba di pelataran Grand Dewantara Hotel dengan menaiki Astrea Grand milik Gavin. Suara knalpot bebek tuanya yang cempreng dan meledak-ledak—BREEEEM! POP! POP!—langsung memotong keheningan lobi hotel yang megah. Beberapa mahasiswa yang datang menaiki taksi atau mobil pribadi langsung menoleh canggung. Dua petugas valet parking berpakaian ala pangeran keraton langsung berjalan mendekat dengan wajah yang berkerut masam melihat motor rongsokan Gavin yang berasap tipis.
"Selamat malam, Mas. Mohon maaf, untuk kendaraan roda dua parkirnya di basement tiga lewat jalur belakang ya," ucap petugas valet dengan senyum formal yang dipaksakan, seolah-olah menyentuh stang motor Gavin bisa menurunkan kasta sosial mereka.
"Siap, Mas Kapten! Jagain motor gue ya, kalau baret dikit, saya gak tanggung jawab sama kesehatan mental Masnya," balas Gavin ugal-ugalan sambil memberikan uang logam lima ratus rupiah sebagai tip—yang tentu saja ditolak dengan halus namun penuh kebingungan oleh petugas tersebut.
Gavin dan Rian berjalan memasuki lobi utama. Lantainya terbuat dari marmer Italia pilihan yang mengilat seperti cermin, memantulkan bayangan Gavin yang memakai batik kedodoran dan sandal kulit murah—Rian akhirnya berhasil memaksa Gavin melepas sandal jepitnya. Di langit-langit, lampu kristal raksasa menggantung megah, memancarkan cahaya keemasan yang mahal.
Gavin merasa merinding. Bukan karena takjub, melainkan karena ia tahu persis bahwa potret kakek buyutnya berukuran dua meter dipajang di koridor kanan menuju ruang administrasi.
"Gila, Gav. Tempatnya mewah banget," bisik Rian dengan mata berbinar-binar. "Gue berasa jadi rakyat jelata yang nyasar ke istana keraton."
"Biasa aja, Yan. Lantainya terlalu licin, kalau kepeleset di sini encoknya bisa mahal," sahut Gavin berbisik di balik kerah batiknya yang longgar. Ia sengaja berjalan agak membungkuk dan menarik topi pet kanvasnya rendah-rendah agar tidak ada CCTV atau staf senior hotel yang mengenali struktur wajahnya.
Saat memasuki pintu gerbang Grand Dewantara Ballroom, Kirana sudah berdiri di dekat meja registrasi panitia. Gadis itu mengenakan gaun batik modern yang sangat pas di tubuhnya, rambutnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai di samping wajah. Ia terlihat sangat cantik dan anggun, membuat beberapa mahasiswa tingkat atas sengaja bolak-balik lewat di depannya hanya untuk menyapa.
Namun, begitu mata Kirana menangkap sosok Gavin yang berjalan dengan gaya ugal-ugalan memakai batik kedodoran seperti jubah perang, dahi Kirana langsung berkerut dalam. Ia menyerahkan pulpen registrasi ke panitia lain dan berjalan cepat menghampiri Gavin.
"Gavin! Kamu ini niat datang gak sih?" bisik Kirana dengan suara tertahan antara gemas dan ingin tertawa melihat penampilan konyol cowok itu. "Itu kemeja siapa yang kamu pakai? Kamu kelihatan kayak orang yang mau pergi kondangan tapi bajunya hasil nyolong di jemuran orang!"
Gavin langsung melebarkan kedua lengannya, membuat kemeja batiknya berkibar lambat di bawah hembusan AC hotel yang dingin. "Ini namanya oversized fashion, Bos Kirana. Tren anak muda Jakarta masa kini. Lagian, longgar gini enak, ventilasi udaranya bagus, gak bikin gerah kalau ntar gue kudu berantem sama piring prasmanan."
Kirana menahan senyumnya mati-matian, memukul lengan Gavin pelan dengan map kertas di tangannya. "Dasar stres. Ya sudah, cepat masuk. Dan tolong, jangan bikin malu kelompok kita dengan kelakuan ugal-ugalan kamu di dalam."
Di dalam ballroom, acara makrab berlangsung dengan sangat formal. Ada sambutan dari dekan, penampilan band akustik senior yang membosankan, dan pembacaan nominasi mahasiswa terbaik. Gavin sama sekali tidak tertarik pada panggung. Target utamanya sejak awal melangkah masuk ke sarang keluarganya ini adalah satu: meja katering makanan gratis.
Gavin menarik Rian menuju sudut paling gelap di ujung ruangan, tepat di samping dekorasi pohon imitasi raksasa dan meja katering buah potong. Posisi ini sangat strategis karena minim pencahayaan dan dekat dengan akses keluar darurat.
"Yan, fokus. Ini misi penyelamatan logistik," kata Gavin dengan wajah super serius seolah sedang merencanakan penyergapan preman terminal. Ia mengambil sebuah piring porselen besar. "Lu ambil bagian puding sama kambing guling. Gue bagian buah sama jajan pasar. Kita harus balikin modal patungan uang kas fakultas kemarin."
"Siap, Kapten!" sahut Rian yang mendadak ketularan sifat ugal-ugalan Gavin jika menyangkut makanan gratis.
Gavin mulai beraksi. Dengan kecepatan tangan yang biasa ia gunakan untuk membanting musuh, ia memindahkan belasan potong melon, semangka, dan pepaya ke atas piringnya hingga menumpuk membentuk piramida kecil. Ia berdiri di sudut gelap tersebut, mengunyah melon potong dengan ritme yang konstan, sambil sesekali melirik cemas ke arah pintu VIP di lantai atas.
Komedi situasi yang sesungguhnya dimulai ketika Gavin mencoba mengambil kue sus di meja sebelah. Karena kemeja batik Dono yang ia pakai terlalu longgar dan lengannya melorot panjang, ujung lengan kemejanya yang melambai tanpa sengaja masuk ke dalam mangkuk besar saus cokelat chocolate fountain.
PLOP.
"Waduh, jubah perang gue kemasukan kuah cokelat," gumam Gavin panik. Ia buru-buru menarik lengannya, namun kibasan kain batik yang berlumuran cokelat kental itu malah mengenai jas putih milik seorang mahasiswa senior di sebelahnya yang sedang asyik mengobrol.
"Heh! Siapa nih yang jorok?!" teriak senior itu sambil berbalik dengan wajah marah, menatap noda cokelat besar di jasnya.
Gavin langsung memasang wajah melas paling konyol yang bisa ia buat. Ia mengambil selembar tisu meja, lalu dengan ugal-ugalan mulai menggosok jas senior itu dengan kasar hingga nodanya justru semakin melebar dan merata. "Aduh, maaf banget, Bang! Ini kemeja saya emang agak kurang ajar, suka haus kalau lihat cokelat. Sini saya bersihin pake air liur biar ilang..."
"Gak usah! Menjauh dari gue, dasar gembel!" bentak senior itu dengan wajah jijik, buru-buru pergi menuju toilet sambil mengumpat gila-gilaan.
Rian yang melihat kejadian itu dari kejauhan langsung pura-pura tidak mengenal Gavin dan berjalan memutar ke meja siomay. Sementara Kirana, yang mengawasi Gavin dari meja panitia, hanya bisa menepuk dahinya berkali-kali di balik dekorasi bunga. Penyamaran Tuan Muda Gavin sebagai mahasiswa berandalan yang ugal-ugalan malam itu berjalan dengan sangat sukses lewat jalur komedi pakaian kedodoran dan sabotase saus cokelat, membuktikan bahwa seketat apa pun protokol hotel bintang lima milik keluarganya, Gavin selalu punya cara yang konyol untuk mengacaukan formalitas mereka