Lusia Irene seorang dokter yang sedang sekolah spesialis onkologi di salah satu rumah sakit polisi. Karena dokter pembinanya adalah seorang polisi. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun Lusia belum perna membuka hatinya buat hadirnya seorang laki - laki. Karena traumanya atas rumah tangga orangtuanya yang berpisah karena adanya orang ketiga. Papanya berselingkuh di usianya sudah enam belas tahun. Apakah Lusia Irene bisa merasakan cinta hadir di kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gio Sabar Merawat
Lusi mengidap autoimun yang berbahaya bagi dirinya dan juga janinnya. Dari hasil pemeriksaan darah lengkap di temukan penyakit itu. Makanya tadi Axelo konsultasi dengan dokter Hany mertua Lusi dan juga direktur mereka pada rumah sakit ini.
Gio begitu menyesal melihat istrinya pingsan. Dia terus memeluk istrinya. Dia tidur disamping istrinya. Yang masih belum sadar. Dokter Roland dan kak Rahel sudah ada diruangan ini. Juga papi Samuel yang baru tiba dari eropa.
"Lusi auto imun sayang."
"Bisa sembuhkan mami."
"Bisa sayang. Lusi hanya perlu di kontrol oleh dokter spesialis. Dan sekarang Lusi sudah ada dalam pengawasan itu. Mami dan dokter Axelo juga kak Roland yang akan mengobati Lusi. Kamu harus percaya sama kami. Terutama dokter Axelo Herman. Bisa sayang."
"Kalau mami dan kakak aku percaya sangat. Kalau dokter Axel......."
"Lusi bukan perempuan setia. Mama tahu itu. Mama jatuh cinta kepadanya saat pertama kali kita bertemu. Mama yakin dia sangat cocok buat kamu sayang."
"Iya lihat Lusi itu sama seperti lihat mami. Sebelas dua belas." Mendengar kata - kata dari kakaknya dia melihat istrinya yang masih belum sadar. Saat itu air matanya jatuh. Papinya melihat sendiri bagaimana rasa cinta anaknya kepada istri yang dia cintai. Papi Samuel merasa malu atas perbuatannya selama ini, yang juga menyakiti hati istrinya, mami dari Rahel dan Gio.
"Kita berjuang bersama ya boy, kamu, mami, papi dan juga kakak untuk perempuan yang kamu cintai itu, yang melahirkan cucu - cucu hebat buat keluarga kita." Gio merasa senang mendengar kata - kata papinya. Karena tiga dua puluh tahun papinya itu seperti orang asing buat Gio dan Rahel kakaknya.
Lusi sudah sadar. Dia melihat suaminya sedang ada disampingnya menatap dia.
"Lama amat sadarnya sayang." Gio langsung mencium istrinya. Sementara maminya mulai memeriksa organ - organ vital menantunya.
"Maafkan ade mas."
"Mas yang mohon maaf."
Akhirnya dokter Lusia Irene Pong kembali di rawat sehari lagi di rumah sakit. Padahal Gio sedang menjalankan operasi militer mereka. Berat hatinya meninggalkan istrinya dalam keadaan tubuh yang lemas, dan sedang berbadan dua.
"Mi, aku harus menjalankan tugasku. Aku titip istriku ya."
"Iya sayang. Nanti papi juga akan datang temani mami dan Lusi."
"Ngak boleh berantam di depan istriku ya mami. Dia lagi sakit."
"Iya bawel. Ingat kamu pergi bertugas sehat, harus kembali sehat ya."
"Siap cintaku."
Mami Hany memberi tanda salib sebagai doa berkat dari sang ibu buat anak yang akan pergi bertugas biar aman dalam lindungan Tuhan. Gio langsung mencium kening dan bibir istrinya yang sedang di beri obat yang membuat dia harus tidur.
"Sudah pergi, biar bisa pulang cepat." Gio langsung membisikkan kata cinta di telinga istrinya dan memberi ciuman di bibir sekali lagi.
Tugas Gio dengan tim hanya di kota Jakarta namun di kota Jakarta pinggiran. Yang banyak pemungkiman.Titik koordinat penjahat sudah di terima polisi. Pasukan tim khusus turun dengan tali dari atas helikopter tepat di lokasi kejadian. Aksi tembak menembak pun terjadi, aksi ini tidak bisa di hindari. Pengamanan lokasi kejadian sudah dilakukan. Masih terdengar suara tembakan dari kejauhan. Ketika penjahat sudah di lumpuhkan, kaki - kaki mereka terlihat pincang karena terkena tembakan pada penyergapan. Satu bandar narkoba internasional, tertangkap bersamaan denga tiga kaki tangannya dan bukti - bukti dokumen siap dibawah.
Gio kembali ke rumah sakit setelah tugasnya selesai dilaksanakan. Sudah jam dua dini hari. Di ruangan istrinya ada mami dan papinya yang menjaga menantu mereka. Mami tidur di tempat tidur khusus penjaga pasien sedangkan papi di sofa. Gio langsung mandi, karena dia sudah rindu dengan istri tercintanya.
"Sudah selesai dek tugasnya."
"Mami, sori ya kebangun. Sudah mi."
"Badanmu ada yang luka tidak."
"Hanya lecet mi."
"Sini mami obati." Mami Hany langsung mengobati luka - luka lecet anak laki - lakinya. Sebenarnya kekayaan papinya cukup bahkan berlebihan buat dia. Namun anak ini memilih untuk mengikuti keinginannya.
Dia sendiri yang mau selesai sekolah kuliah di akademi polisi. Padahal jika dia sekolah bisnis diluar negeri papi dan maminya sanggup. Namun inilah jalan hidup yang dia mau. Katanya dia mau mengabdi buat negara, dan mau menjadi pelindung buat mami dan kakaknya. Namun walaupun demikian jabatan COO (Chief Operating Officer) Menjadi orang kedua atau tangan kanan CEO dalam urusan internal yang dijabat oleh kakaknya sendiri Rahel Abraham. Mereka berdua bersama - sama membangun perusahaan Adiguna yang di dirikan oleh papi mereka. Meskipun sibuk dalam tugas negara urusan internal Adiguna Grup tetap di kontrol oleh Gio Abraham, makanya dia mempunyai asisten Dion yang membantunya.
"Terima kasih mami. Gio sayang mami."
"Kamu tetap menjadi kesayangan mami nak, meskipun mami tahu istrimu sangat memanjakanmu."
"Istri adek baik - baik kan. Gio takut penyakitnya. Gio ngak mau kehilangan dia mi." Gio memeluk maminya ingin memastikan bahwa maminya sebagai dokter menjawab bahwa istrinya baik - baik saja. Bahkan Gio sampai meneteskan air mata. Papinya terbangun melihat anaknya sedang menangis dalam pelukan maminya.
"Jika kondisi Lusi sudah baik - baik bersam janinnya. Kita akan bawa Lusi berobat nak."
"Iya pi, Gio mau dia tetap ada disamping ku. Gio sangat mencintai dia."
Sebelum terang, Gio masih sempat tidur disamping istrinya sambil memeluknya. Pagi ini, Lusi akan periksa darah lengkap lagi sebagai prosedur. Gio sudah menyiapkan istrinya di kamar mandi.
"Mas... terima kasih sudah mau merawat istrimu yang tak berdaya ini."
"Ini tanggung jawab mas kan merawat kamu sayang. Karena mas ngak mau orang lain memegang tubuh kamu tanpa seijin mas."
"I love you Gio Abraham suamiku."
"I love you more Lusia Irene Pong istriku yang manis."