Damar Priambodo Wibisono, 32 tahun lelaki tampan berlesung pipi, CEO dingin sebuah perusahaan multinasional harus berhadapan dengan wanita masa lalunya yang selalu menganggu aktifitas sehari-harinya.
Diandra Paramitha Maheswari Sadewa, 28 tahun, gadis cantik berlesung pipi, seorang manager marketing sebuah perusahaan automotif dan juga seorang penulis novel menjalani hari-hari hidupnya jauh dari keluarganya.
Pertemuan antara Damar dan Diandra yang tidak di sengaja membuat keduanya jadi sama-sama saling terpesona tanpa keduanya sadari pertemuan-pertemuan selanjutnya merupakan takdir yang membuat keduanya semakin dekat dan saling memikirkan satu dengan yang lainnya, tanpa pernah ada yang memulai untuk melanjutkan ke hubungan dengan status seperti layaknya pasangan pria dan wanita inginkan.
Bagaimanakah kisah perjalanan falling in love keduanya, konflik apakah yang akan mereka lalui nantinya, yuk ikuti kisah baru karyaku yang selalu saja bikin geregetan dengan ke-uwuan dua sejoli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ariista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tes Drive Kah?
Tiba di rumah besar berlantai 4 dengan cat berwarna krem, Damar melajukan mobilnya pelan masuk ke halaman luas rumahnya.
Wajah Diandra masih tampak datar. Pandangannya lurus ke depan tanpa menoleh ke pria tampan di sampingnya. Damar melirik sekilas ke gadis cantik yang tidak ada senyumnya ini ke dirinya.
Damar memberhentikan mobilnya di halaman luas rumahnya. Diandra sekilas melihat mobil yang kemarin berada di show room di kantornya.
Mobil sport hitam mengkilat limited edition pilihan Damar memang sangat cool, di dalamnya hanya ada 2 seat tempat duduk untuk pengemudi dan penumpang di sampingnya.
Dalam hati Diandra mengakui selera laki-laki yang sudah mencium pipinya ini. Mengingat hal tersebut Diandra merasakan aliran darahnya berpacu cepat menuju ke wajahnya.
Damar sudah melepaskan seat belt -nya, dirinya tiba-tiba saja mendekati Diandra. Diandra yang sedang melamun kaget begitu lelaki di sampingnya sudah berada di depan wajahnya.
Wajah Diandra semakin tampak merah.
"Ma.. mau a.. a.. pa Kamu, hei! Jangan macam-macam Pak Damar!" teriak Diandra membuat Damar mengerutkan alisnya. Tetapi dirinya semakin mendekati Diandra.
"Pak, Pak, katanya mau test drive, awas aja Bapak jangan mesum di mobil Pak," Diandra menarik napas dalam-dalam.
Damar yang merasakan kegugupan Diandra hanya tersenyum dalam hati. Dirinya tau jika Diandra mengira dirinya akan mencium lagi wanita cantik nan galak tersebut.
Diandra sudah pasang ancang-ancang jika Damar akan berbuat macam-macam di mobil tangannya sudah siap untuk menggetok kepala lelaki tampan di sampingnya ini.
Tiba-tiba saja berbunyi.. Klik..seat belt yang di kenakan Diandra terlepas.
Damar tersenyum tipis ia menarik ujung bibirnya, menarik tubuhnya di depan tubuh Diandra yang sangat harum lembut.
Diandra memanyunkan bibirnya. Damar melihat sekilas wajah cantik wanita di sampingnya ini.
"Kenapa manyun hmm? Mau di kiss lagi?" usil Damar.
Diandra merotasikan kedua matanya.
"Sudah semakin sore sebaiknya antar Saya kembali ke kantor, test drive sekalian pakai mobil Baru Bapak,"
Damar mengerutkan alisnya.
"Di sini Aku yang mengatur okey, bukan Kamu, ikuti saja yang Aku perintahkan," protes Damar tidak ingin dirinya di atur oleh wanita di sampingnya ini.
"Baik kalau begitu, biarkan Saya pulang naik taxy saja," Diandra akan membuka pintu mobil tetapi masih posisi terkunci.
"Jangan keras kepala okey, santai saja, tidak ada yang akan mengantarkan Kamu pulang selain Aku, tetap duduk di situ biar Aku bukakan pintunya," Damar membuka pintu mobilnya dan beranjak keluar mobil.
Bukan Diandra jika tidak keras kepala, dirinya juga ikut membuka pintu mobil dan keluar dari mobil.
Damar yang tadinya mau membukakan pintu mobil Diandra hanya menghela napas saja. Dirinya geleng-geleng kepala dengan sikap keras wanita kembaran sahabatnya ini.
Diandra berjalan mendekati mobil baru Damar, sedangkan Damar berjalan mendekati pintu rumah. Damar berhenti melihat Diandra yang tidak mengikuti langkahnya dan menoleh ke Diandra.
"Kita ke dalam rumah dulu,"
"What!" teriak Diandra.
"No..no..no.. jangan membuang waktu Saya Pak Damar yang terhormat, tidak ada acara masuk ke rumah Bapak dulu atau Saya pulang saja," Diandra merasa geram dengan sikap Damar yang semaunya saja.
"Coba saja kalau mau pulang sendiri," jawab Damar santai.
"Ayo, kita masuk ke rumah dulu, Aku mau ganti pakaian dulu,"
"Apa? Ganti pakaian, Pak anda sudah membuang waktu mahal Saya," Diandra mengetatkan wajahnya.
"Akan Aku bayar waktu mahal Kamu, Nona, santai saja, jangan marah-marah," Damar terus berjalan menuju ke pintu utama rumahnya.
Diandra hanya berdiri saja di tempatnya tidak mengikuti langkah Damar.
Damar kembali menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang dilihatnya wanita cantik itu masih tegak berdiri di posisinya.
"Mau digendong ya?" Damar bicara sambil berjalan mendekati Diandra.
"No..no..no.., jangan macam-macam Pak Damar, biarkan Saya tetap di sini," Diandra tidak juga beranjak dari tempatnya berdiri.
"Jangan menguji kesabaranku, Nona, Kamu tamu Saya, jangan membuat pelayan di sini berpikir Aku tidak melayani tamuku dengan baik," Damar terus berjalan mendekati Diandra.
Diandra ketar ketir juga jika sampai laki-laki yang mendekatinya akan menggendongnya.
"Stop! sampai disitu, baiklah Saya akan ikut masuk, jangan mendekati Saya, Pak biar Saya jalan sendiri, Saya akan menunggu di dalam tapi dengan syarat tidak pakai lama," Diandra segera berjalan mendekati pintu rumah dan berjalan dengan jarak yang lumayan jauh dari Damar.
Damar geleng-geleng kepala melihat tingkah wanita cantik kembaran sahabatnya yang ternyata sangat keras kepala dan susah di dekati.
Diandra sudah berdiri di depan pintu besar rumah Damar. Damar juga sudah di depan pintu dan membuka pintu rumahnya.
Wangi semerbak terhidu di hidung Diandra dan hawa dingin AC terasa di kulit wajahnya begitu pintu dibuka.
"Silahkan masuk Nona," Damar mempersilahkan tamunya masuk ke rumah.
Diandra masuk ke rumah dengan melepaskan sepatu yang dikenakannya.
"Duduk dulu, Aku ke atas ganti pakaian,"
Diandra duduk di sofa besar ruang tamu yang tampak maskulin disainnya.
Seorang wanita paruh baya mendatangi Diandra.
"Selamat sore Nona, mau minum apa?"
"Oh, gak usah repot-repot Bu, cuma sebentar saja kok,"
"Panggil saja Bibi, Nona, Saya pelayan Tuan Damar di sini, Saya buatkan teh hangat Nona,"
"Tidak usah Bi, Saya cuma sebentar saja,"
"Maaf Nona, nanti Saya di tegur Tuan kalau tidak suguhkan minum ke Nona, sebentar Saya buatkan teh ya," Bibi segera berjalan kembali ke belakang.
Diandra mengamati kembali ruang tamu yang tidak banyak isinya ini.
Di dinding tampak foto besar kedua orang tua Damar. Tidak ada foto Damar di dinding ruangan itu.
Bibi datang kembali dengan membawa baki yang isinya secangkir teh hangat dan sepiring kecil cemilan sore.
"Silahkan Nona di minum tehnya cemilannya juga di makan," Bibi sangat sopan dengan tamu tuannya ini.
"Terimakasih Bi," Diandra tersenyum ke Bibi yang menurutnya sangat sopan dan lemah lembut.
Diandra membuka tasnya dan mengambil ponselnya, ada telpon masuk.
Mama is calling..
Diandra mengklik tombol hijau.
"Assalamu'alaikum Ma, iya Ma, Diandra baik kok Ma, Papa Mama jangan khawatir, Diandra bisa jaga diri kok, iya Ma, tadi sudah ketemu juga dengan Ganendra Ma ada Amara juga, iya Ma, salam buat Papa Ma, nanti kalau Diandra pulang Diandra kabari Ma, baik Ma, Waalaikumsalam,"
Tanpa Diandra sadari Damar sudah duduk di sofa di depannya.
"Sudah telponnya,"
Diandra kaget, dirinya reflek menganggukkan kepalanya.
"Di minum dulu tehnya, kasihan Bibi sudah capek bikinnya, rasain juga pisang goreng buatan Bibi," Damar meminta Diandra untuk minum dan memakan cemilan buatan Bibi.
Diandra akhirnya menurut di minumnya teh buatan Bibi dan memakan cemilan pisang goreng.
Damar tersenyum sangat tipis, bisa menurut juga ternyata, batin Damar.
Selesai minum dan nyemil sore, Damar akhirnya mengajak Diandra untuk test drive mobil barunya.
Keduanya sudah berada di dalam mobil, Damar sudah di posisinya duduk tenang di kursi pengemudi, Diandra juga sudah duduk di posisinya.
"Langsung antar Saya ke kantor saja Pak, hari semakin sore," ucap Diandra sambil memasang seat belt-nya dia tidak mau sampai Damar yang akan memasang seat belt-nya.
"Ingat peraturannya Nona, di sini Aku yang punya kendali, bukannya tadi sudah aku sampaikan hmm?" Damar menoleh ke samping bersamaan dengan Diandra yang juga menoleh, tatapan mereka kembali bertautan.
Diandra mendapatkan tatapan teduh dari sepasang iris mata coklat. Diandra segera mengalihkan pandangannya.
Diandra tidak bisa berkata-kata lagi dirinya membiarkan saja kliennya ini bicara dan memintanya untuk mengikuti kemauannya yang katanya mau tes drive tapi dari tadi tidak di mulai-mulai waktu sudah menunjukkan pukul 17. 30 sudah mulai senja.
Perlahan mobil melaju keluar dari halaman besar rumah Damar. Diandra di samping Damar duduk tenang dirinya merasakan kenyamanan di dalam mobil mewah milik Damar.
Damar memasang musik bertempo slow, Damar sangat menikmati sore bersama wanita yang baru di kenalnya ini.
Mobil mulai melaju di jalan raya, langit senja mulai merona jingga, sore senja yang menyejukkan mata memandang.
"Aku akan membawamu ke suatu tempat untuk makan malam," ujar Damar tenang.
"A..a.. pa Pak? Makan malam? Pak katanya tes drive kok malah jadi kencan sih, tidak, tidak, antar Saya ke kantor Saya mau pulang," Diandra kembali memanyunkan bibirnya.
"Kita makan malam dulu, baru nanti Aku antar pulang, tenang saja Aku sudah minta izin ke Ganendra oke," Damar menoleh ke wanita di sampingnya.
"Apa hubungannya sama Ganendra Pak, antar Saya ke kantor Saya saja Pak, masih ada urusan Saya di kantor,"
"Baiklah kalau Kamu bersikeras mau ke kantor, besok malam saja makan malamnya, tidak ada bantahan oke," Damar akhirnya mengalah, dirinya tidak akan memaksa wanita cantik di sampingnya ini. Masih ada esok hari dan hari lainnya untuk dirinya mendekati wanita yang sudah membuatnya penasaran ini. Wanita keras kepala, galak dan susah di dekati.
Damar melajukan mobilnya dengan pelan dirinya tidak ingin cepat-cepat berpisah dengan wanita cantik yang duduk di sampingnya ini.
Sore senja yang indah, membuat hati Damar membuncah berada duduk di samping wanita yang sudah di ciumnya ini. Damar tidak tau apakah wanita di sampingnya ini sudah punya kekasih atau belum. Dirinya tidak memikirkan itu.
Damar hanya ingin lebih dekat dengan wanita cantik ini. Wanita yang sudah membuat pikirannya selalu mengembara. Wanita yang sudah di ciumnya. Mengingat itu Damar tersenyum tipis.