Alex hanyalah karyawan biasa—bekerja keras, sering diinjak, dan tidak pernah dianggap. Sampai suatu malam, hidupnya hancur dalam sekejap oleh orang-orang yang seharusnya dia percaya.
Di titik paling rendah dalam hidupnya, Alex menemukan sesuatu yang mengubah segalanya: sebuah sistem misterius yang bisa mengabulkan permintaan apa pun.
Tidak ada batas kekayaan. Tidak ada batas kekuatan. Hanya satu syarat—dia harus terus menyelesaikan misi untuk mendapatkannya.
Namun kekuatan tanpa batas punya harga yang tidak terlihat. Perlahan, pria yang dulu selalu menunduk itu mulai berubah menjadi seseorang yang bahkan tidak dia kenali sendiri.
Dan orang-orang yang pernah menghancurkan hidupnya akan segera tahu, bahwa yang mereka injak dulu... tidak akan pernah lagi bisa mereka injak sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Sirene polisi berhenti tepat di depan gerbang gedung, memecah keheningan yang sempat menggantung setelah pertarungan usai. Dua mobil patroli dan satu ambulans berjejer di halaman yang masih dipenuhi tubuh-tubuh yang mengerang, sementara petugas mulai turun satu per satu, tangan mereka refleks menyentuh pistol di pinggang begitu melihat pemandangan yang jarang mereka temui di kawasan bisnis seperti ini.
"Semua yang bisa jalan sendiri, berdiri! Sisanya, tunggu tandu!" salah satu petugas berteriak, mengatur anak buahnya untuk memisahkan korban yang masih sadar dari yang sudah tidak berdaya.
Bang Jarwo, nama dari ketua Macan Bawah. Dia berdiri di antara anak buahnya yang tersisa, tangannya masih gemetar menahan sakit di bahu kirinya sendiri, meski dia menolak diperiksa lebih dulu sebelum memastikan semua anak buahnya diangkut.
Alex berdiri agak jauh dari kerumunan, menjawab pertanyaan seorang petugas berpangkat lebih tinggi dengan tenang, menjelaskan kronologi singkat tanpa menyebut sedikit pun soal kekuatan barunya.
"Jadi Bapak menghadapi mereka sendirian?" petugas itu bertanya, alisnya terangkat tidak percaya, matanya melirik sekeliling halaman yang dipenuhi puluhan orang tergeletak.
"Karyawan saya semua di dalam, Pak. Saya cuma kebetulan yang paling dekat pintu," Alex menjawab, nada suaranya sengaja dibuat sesantai mungkin.
Petugas itu menatapnya lama, jelas tidak sepenuhnya puas dengan jawaban itu, tapi akhirnya mengangguk dan berjalan menjauh untuk mengurus laporan lainnya.
Alex baru saja hendak berbalik menuju gedung ketika Bang Jarwo memanggilnya pelan dari samping, suaranya tertahan agar tidak terdengar oleh petugas di sekitar mereka.
"Bos," Jarwo memanggil, kata yang terasa aneh keluar dari mulut orang yang beberapa menit lalu masih menatapnya penuh dendam. "Ada yang perlu Bos tahu."
Alex menoleh, menunggu.
"Uang buat serangan ini... lebih besar dari yang biasa kami terima," Jarwo berkata pelan, matanya melirik ke arah anak buahnya yang sedang diangkut ke ambulans. "Anak Hartono itu emang yang minta, tapi yang transfer dananya bukan dari rekening dia sendiri. Salah satu anak buah saya yang pegang urusan uang sempat lihat, itu dari perusahaan yang namanya asing—gak ada hubungannya sama nama keluarga Hartono."
Alex diam sejenak, mencerna informasi itu.
"Kenapa kau baru bilang sekarang?" Alex bertanya, matanya menyipit.
"Karena tadinya saya kira itu cuma cara Daniel nyembunyiin duitnya dari keluarga," Jarwo menjawab jujur. "Tapi setelah kejadian tadi, saya mikir ulang. Orang yang benar-benar mau nutupin jejaknya sendiri, biasanya bukan cuma buat main aman dari keluarga. Biasanya karena dia gak mau ketahuan orang lain yang lebih besar."
'Lebih besar dari Daniel?'
Alex menatap ke arah menara Hartono Group yang masih terlihat dari kejauhan, pikirannya berputar cepat. Daniel memang gegabah, tapi dia bukan tipe yang berpikir sejauh menyembunyikan aliran dana lewat perusahaan asing. Itu cara berpikir orang yang jauh lebih hati-hati.
"Kau masih simpan buktinya?" Alex bertanya.
"Anak buah saya masih ingat nama perusahaannya," Jarwo menjawab. "Tapi dia lagi diangkut ke rumah sakit sekarang. Begitu dia sadar, saya bisa tanya lagi."
Alex mengangguk pelan, menepuk bahu Jarwo yang tidak terluka. "Urus dulu anak buahmu. Soal ini, kita bicarakan lagi kalau kau sudah dapat nama pastinya."
Jarwo membungkuk singkat, gerakan yang terlihat kaku untuk tubuh sebesar itu, sebelum akhirnya berjalan mengikuti ambulans yang membawa salah satu anak buahnya yang paling parah lukanya.
Alex berdiri sendirian sejenak di halaman yang mulai sepi, menatap petugas yang masih sibuk mengangkut satu per satu penyerang yang tadi begitu percaya diri menyerbu gedungnya. Salah satu petugas forensik mengambil foto barang-barang yang tercecer di lantai—pentungan, sebilah golok yang patah, dan sebuah ponsel yang layarnya retak, semuanya dimasukkan ke dalam kantong bukti satu per satu.
Bima keluar dari gedung, wajahnya masih pucat, tapi sudah cukup tenang untuk berbicara. "Pak, wartawan sudah mulai berkumpul di depan gerbang. Mereka mau konfirmasi soal kejadian ini."
"Aku yang temui," Alex menjawab, merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut.
Sebelum melangkah menuju gerbang, dia sempat menatap sekali lagi ke arah ambulans yang perlahan menjauh membawa Jarwo dan anak buahnya.
'Kalau benar ada pihak lain di balik ini, Daniel cuma jadi alat. Dan kalau begitu... orang yang sebenarnya sedang aku hadapi belum pernah menampakkan wajahnya sama sekali.'
Di gerbang, belasan wartawan sudah berjejer dengan kamera dan mikrofon terangkat, saling berebut posisi begitu melihat Alex mendekat. Alex menghentikan langkahnya beberapa meter dari pagar, cukup jauh agar tidak perlu berdesakan, tapi cukup dekat agar suaranya masih bisa terdengar jelas.
"Pak Alex, benar Bapak melawan sendirian tanpa senjata?" salah satu wartawan berteriak, mikrofonnya diulurkan sejauh mungkin.
"Siapa yang menyerang perusahaan Bapak? Ada dugaan ini terkait persaingan bisnis?" wartawan lain menyusul, suaranya nyaris tenggelam di antara teriakan yang lain.
Alex mengangkat tangan sedikit, isyarat agar mereka tenang, dan seketika kerumunan itu mereda meski masih ada beberapa kamera yang terus merekam tanpa henti.
"Kejadian ini masih dalam penyelidikan pihak kepolisian," Alex berkata tenang, memilih setiap kata dengan hati-hati. "Saya percaya penuh pada proses hukum yang berjalan. Yang penting sekarang, seluruh karyawan saya aman, dan operasional perusahaan akan tetap berjalan seperti biasa mulai besok."
Beberapa wartawan mencatat cepat, sementara yang lain masih berusaha melempar pertanyaan susulan, tapi Alex sudah membungkuk sopan dan berbalik menuju gedungnya, tidak memberi ruang untuk pertanyaan yang lebih menjebak.