NovelToon NovelToon
Sang Pemain

Sang Pemain

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Romansa Fantasi
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: SelToon

Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 Panggilan Dari Jakarta dan Perahu Yang Tidak Melaut Lagi

Saat umur 15 tahun. Bima bukan lagi anak Tuminting yang pakai sepatu kebesaran nomor 39.

Sekarang sepatunya nomor 42. Pas. Pemberian dari Manado United. Kaosnya tidak kebesaran lagi. Namanya bukan di cadangan lagi.

Bima Arka Pradipta - No 10 - Gelandang Serang - Kapten Manado United U-15.

Kevin ? Sudah keluar. Pindah ke akademi yang ada di Makassar karena bapaknya marah anaknya diganti oleh anak Tuminting. Joshua masih ada , sekarang jadi wakil kapten. Yudi ? Sekarang jadi bek tengah , bukan gelandang bertahan lagi.

Tiga tahun tendangan pisangnya sudah bukan rahasia di Sulawesi Utara. Video golnya lawan Persma Manado U-15 sudah ditonton 12 ribu orang di Facebook. Di situ dia cetak 2 gol pisang dari jarak 25 meter.

Dan pada sore hari itu , setelah latihan di lapangan Tikala yang becek , Coach Bagus memanggil dia. Wajah Coach terlihat tegang.

"Bima , ikut saya ke kantor."

Di kantor SSB yang cuma ada satu ruangan dengan AC yang rusak , ada surat di atas meja. Kop surat PSSI. Garuda.

Coach Bagus mendorong surat itu kearah Bima.

"Kamu dipanggil untuk seleksi timnas U-16 di Jakarta pada minggu depan. 50 anak dari seluruh Indonesia. Kalau lolos , ikut Piala AFF U-16 di Thailand."

Bima membaca surat itu. Tangannya gemetar. Bukan karena takut. Karena di surat itu ada namanya diketik : Bima Arka Pradipta - Manado United - Sulut.

Anak Tuminting masuk ke daftar Jakarta.

Dia mau berteriak. Tapi dia tahan.

"Coach , Bapak saya harus tanda tangan ?"

"Harus. Dan harus ada biaya. Tiket pesawat Manado - Jakarta tidak ditanggung. 2,5 juta. Menginap ditanggung oleh PSSI kalau sudah di Jakarta. Tapi berangkatnya kita usaha sendiri."

2,5 juta.

Bima pulang berlari , tidak naik angkot , berlari dari Tikala sampai Tuminting , 7 Km

Sampai di rumah panggung , dia lihat perahu Sinar Mira tidak ada di pantai. Biasanya jam 4 sore Bapak sudah pulang , perahu sudah diikat.

Ibu di dapur. Mukanya terlihat sembab.

"Bima , Bapak ada di dalam."

Bima masuk ke dalam kamar Bapaknya. Bapak Yosua terbaring , kakinya bengkak besar , merah keunguan , nafasnya terdengar berat.

Tiga hari yang lalu Bapak injak paku berkarat di atas perahu , dibiarkan saja , dan tetap melaut. Sekarang infeksi. Dokter puskesmas bilang tidak boleh terkena air laut selama sebulan. Kalau tetap dipaksa , bisa dipotong.

Bima tidak jadi kasih surat itu pada hari itu.

Malamnya , Paman Stenly datang. Dia lihat surat seleksi itu yang Bima sembunyikan di bawah tikar.

Paman Stenly keluar , dia duduk di bale - bale , rokoknya tidak dinyalakan.

"Berapa tiketnya ?" tanya Paman.

"2,5 juta Paman."

Paman diam cukup lama. Tabungannya cuma 900 ribu dari jual es di stadion.

Besoknya , Bapak memanggil Bima. Bapak sudah tahu dari Ibu , yang sudah melihat surat itu.

Bapak duduk dengan perlahan , kaki bengkaknya diganjal bantal.

"Bima , sini."

Bima duduk di lantai.

"Surat Jakarta itu... kamu pergi."

"Tapi , kaki Bapak..."

"Kakinya urusan Tuhan. Bolanya urusan kamu. Kalau kamu tidak pergi , Bapak yang rugi dua kali. Rugi kaki , dan rugi masa depan anak."

Bapak buka kaleng biskuit Roma yang penyok di kolong tempat tidur. Di dalamnya ada uang yang dilipat - lipat. Uang hasil jual jaring lama , uang dari arisan yang belum sempat dipakai.

Rp 1.430.000.

"Ini semua yang kita punya. Tambah dengan kamu jual bola kamu itu."

Bima kaget. "Bola ?"

"Ya. Bola pertama yang Paman Stenly kasih , dan bola kulit asli yang sudah kamu pakai selama 3 tahun. Pasti ada yang mau beli di toko olahraga Megamas. Itu bola bersejarah."

Bola itu adalah nyawa Bima. Bola yang dipakai latihan nyeker , yang dibawa ke Klabat waktu gol pertama.

Bima peluk kaleng itu. Tidak jadi menangis. Umur 15 tahun , dia sudah tidak menangis di dalam kamar mandi.

Pada hari Sabtu , mereka jual bola itu. Laku Rp 600.000 ke pemilik toko. Pemilik toko bilang "Ini bola jelek , tapi ceritanya bagus , saya pajang."

Total jadi Rp 2.030.000. Kurang Rp 470.000.

Paman Stenly datang membawa amplop plastik. Isinya Rp 500.000. "Pinjam dari bos es. Nanti Paman yang cicil."

Pada kam 6 pagi di hari Senin , di Bandara Sam Ratulangi , Bima pakai jaket Manado United yang kebesaran. Baru pertama kali naik pesawat.

Bapak tidak bisa ikut ngantar. Kakinya tidak bisa berjalan jauh. Bapak hanya berdiri di depan rumah panggung Tuminting , pakai tongkat dari bambu , dengan tangan yang melambai kepada Bima.

Paman Stenly yang mengantar sampai ke bandara.

Sebelum masuk gate , Paman Stenly bilang satu kalimat yang Bima ingat sampai umur 30 tahun nanti

"Bima , ingat. Di Jakarta nanti banyak anak yang sepatunya baru , bola baru , lapangan bagus. Kamu tidak punya itu. Kamu cuma punya satu hal , yaitu tendangan yang berbelok. Jangan pernah lurus. Orang Tuminting kalau lurus , bisa tenggelam. Harus belok."

Bima naik pesawat Lion Air JT 748.

Di atas awan , untuk pertama kalinya , dia tidak lihat laut Manado yang berwarna coklat. Dia melihat awan.

Dia pegang surat PSSI itu erat.

Di bawah , di Tuminting , perahu Sinar Mira terikat , tidak melaut. Untuk pertama kalinya dalam 20 tahun.

#####################################

Cukup sampai di sini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like , dan hadiahnya

Happy reading

1
fabdul
thor kenapa ga update lagi?
fabdul
lanjut thor
fabdul
Sinta melihat kearah Nadia dengan tatapan bingung. "Om Bima, Tante ini siapa? itu enak dibaca nya thor 🥰
Jesselyn Runtuwene: Ok , nanti direvisi
total 1 replies
fabdul
cerita mu seru thor cuman penulisan kurang menarik dan bikin pusing bacanya. tolong perbaiki ya thor ini cuman saran kalo pun tidak diperbaiki tidak apa-apa 🤗
Jesselyn Runtuwene: Oke , nanti dibaca ulang dan direvisi
total 3 replies
fabdul
Thor penulisannya lebih enak jika. Nadia, kamu masih ingat saya? jadi enak bacanya nggak ada spasi pas tanda koma di belakang nama Nadia dan kata Saya
Jesselyn Runtuwene: Ok siap nanti direvisi
total 1 replies
fabdul
thor masukan sedikit ya. aku ga enak bacanya karena kebanyakan koma 🙏
Jesselyn Runtuwene: Bab 3 dan 4 sudah direvisi juga
total 3 replies
fabdul
lanjut
fabdul
😭😭
fabdul
bab masih sudah banyak ya thor, ketinggalan jauh
fabdul
semangat nulis nya
Jesselyn Runtuwene: Siap , makasih kak
total 1 replies
fabdul
thor novel mu ini sudah di kontrak?
fabdul: iya thor
total 2 replies
fabdul
wah semangat Bima
fabdul
lanjut thor
fabdul
lanjut
fabdul
lanjut thor
fabdul
lanjut
fabdul
lanjut thor
fabdul
oh iya kah thor? berarti aku yang naik kapal laut ga diterima sama laut karena sering muntah dalam perjalanan 😭
fabdul: hahahaha 😭
total 2 replies
fabdul
maklum anak Kota baru turun gunung 😭
fabdul
😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!