Namaku Aliqa Mardika, setelah lulus SMA orangtuaku menjodohkan ku dengan putra dari sahabatnya, yang bernama Davin Aryasatya dia berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis di Rumah Sakit Swasta.
Dengan berat hati aku menerima perjodohan ini, dengan harapan seiring kita bersama cinta akan hadir dengan sendirinya.
Ternyata aku memasuki hubungan yang salah, pria yang di jodohkan dengan ku telah memiliki hubungan dengan wanita lain.
Akan kah pernikahan ini berjalan dengan semestinya?
Ini adalah novel pertama ku, mohon maaf jika mengalami kesalahan dalam penulisan, mohon koreksinya.
Ditunggu like, komen & vote nya ya reader.. terimakasih 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Divty Hardyfani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Galau
Ku kerjapkan mataku perlahan ketika sinar mentari telah menyelinap masuk melalui sela-sela tirai ku lirik ranjang di sebelah ku tak ku dapati Aliqa di sana, sepertinya wanita itu sedang berkutat di dapur untuk membuat sarapan.
Hari ini aku libur bekerja, sepertinya aku akan menghabiskan waktu ku bersama Papa dan Aliqa untuk berada di rumah.
Drrt...drrtt...drtt
Suara ponsel bergetar dari dalam laci meja yang berada di samping tempat tidur, sepertinya sejak kemarin aku tak membuka ponsel, ku ambil ponsel ku yang berada di dalam laci. Terpampang di dalam layar ponsel Mila memanggil, segera ku usap icon hijau untuk mengangkat panggilan darinya.
"Assalamualaikum," ucap ku mengawali pembicaraan.
"Waalaikumsalam, Vin apa kau melupakan sesuatu?" ucap Mila di sebrang sana.
"Sepertinya aku tidak melupakan apapun."
"Kau tidak membelikan susu hamil untuk ku!" ucap Mila ketus.
"Maaf sayang aku lupa, kemarin aku langsung pergi bekerja. Maaf semalam aku tak menghubungi mu, sepulang kerja aku sangat merasa lelah sehingga langsung tertidur dengan pulasnya," ucap ku berbohong.
"Baiklah tak apa, nanti aku akan menyuruh Bi Atik untuk membelinya."
"Apakah Bi Atik menjaga mu dengan baik?"
"Ya sayang Bi Atik menjaga ku dengan baik, kau masih berada di rumah Papa?"
"Ya sayang aku masih berada di rumah Papa, besok aku akan pulang. Sepertinya hari ini aku tak bisa datang ke rumah mu sayang, aku masih sedikit lelah ingin beristirahat."
"Iya tak apa sayang, lagian aku dan anak ku tidak suka berdekatan dengan mu kau bau." Mila terkekeh di sebrang sana.
"Baiklah jaga dirimu baik-baik."
"I Love U," ucap Mila di sebrang sana dengan nada bicara yang sangat lembut.
"Assalamualaikum." Aku berencana mengakhiri panggilan, namun suara melengking di sebrang sana membuat ku mengurungkannya.
"Davin!!" Teriak Mila.
"Ya."
"Apa kau tak akan menjawab ungkapan cinta ku?"
"Love u too." Tak seperti biasanya lidah ku terasa kelu untuk menjawab ucapan cinta dari Mila.
"Gitu dong, Waalaikumsalam," ucapnya dan mematikan sambungan telepon.
Mungkin jika Mila sedang tidak hamil, dia akan memarahi ku secara habis-habisan karena aku tak menghubunginya. Untung saja Mila memiliki ngidam yang aneh sehingga tak mau bertemu dengan ku karena menurutnya aku bau.
"CKLEK"
Aku melihat kearah sumber suara, wanita yang kini mulai memenuhi pikiran ku telah berdiri di ambang pintu, "Mas, kau baru bangun?"
"Iya, baru saja aku akan ke kamar mandi."
"Sarapannya sudah siap, Papa menunggu mu di bawah."
"Baiklah, sebentar lagi aku akan segera menyusul."
"Aku akan kembali menemani Papa, tak enak rasanya meninggalkan Papa sendiri di meja makan."
Aku memandangi punggung Aliqa yang menjauh sampai akhirnya sosok itu menghilang, sudah bersusah payah aku menjauhinya dan membencinya namun hanya dengan sekejap wanita itu dapat menggoyahkan hatiku.
***
"Mau kemana kamu Vin? pagi-pagi sudah ganteng begini."
Aliqa menatap ku dengan sorot mata yang tajam, seakan wanita itu mengetahui kemana aku akan pergi, "Aku akan mengajak Aliqa jalan-jalan Pah," ucap ku dan melihat raut wajah Aliqa yang seketika berubah.
Matanya menelisik, seakan mencari jejak kebohongan di dalam mata ku. Selama dua bulan pernikahan ku dengannya baru kali ini aku mengajak nya untuk berjalan-jalan.
"Hai..apa kau tidak mau pergi dengan ku?" Ada rasa tak percaya telihat di wajahnya. "Jika kau tidak ingin pergi aku tetap akan memaksa!"
"Aku mau, tapi aku belum mandi," ucapnya dengan wajah yang bersemu merah, menggemaskan.
"Mandi dulu biar aku tunggu disini, sembari menunggu Papa menyelesaikan sarapannya."
Aliqa menjawab ku dengan sebuah anggukan dan pergi meninggalkan ruang makan. Aku menemani Papa yang sedang melangsungkan sarapan.
"Vin, Papa senang melihat kedekatan mu dengan Aliqa, apa kau menyanyanginya?" ucap Papa memulai obrolan di antara kami.
"Aku hanya sedikit bingung dengan perasaan yang davin miliki untuk Aliqa."
"Papa tau kau masih menjalin hubungan dengan wanita yang selalu menghabiskan uang mu itu. Hentikan Vin tidak perlu membuktikan apapun, kau terus saja menutup mata dan berusaha membuktikan kepada Papa bahwa wanita pilihan mu baik demi menuntaskan keegoisan mu apa kau akan mengorbankan dirimu? Sebelum semuanya terlambat hentikanlah."
Perkataan Papa seakan menampar diriku, bagaimana Papa mengetahui aku masih menjalin hubungan dengan Mila namun Papa dengan begitu santai menanggapinya.
Apa mungkin aku terobsesi kepada Mila dan hanya ingin menunjukan kepada orang tua ku bahwa Mila seseorang yang baik, bagaimana bisa seperti itu. Mana mungkin aku hanya terobsesi pada Mila sedangkan aku sangat takut kehilangan ketika aku tak dapat memenuhi keinginnya wanita itu akan mengancam ku dengan sebuah kata putus.
Bagaimana bisa pemikiran ku masih seperti anak kecil yang egois untuk mempertahankan mainan miliknya ketika di rebut oleh seseorang. Apakah aku merasa Mila itu milik ku sehingga siapa pun tidak boleh memisahkan atau pun mengambilnya.
Sepertinya tinggal menunggu kehancuran ku, ketika Papa dan Aliqa mengetahui hubungan antara aku dan Mila yang sebenarnya, mereka akan teramat sangat membenci ku.
"Pah aku aku jadi semakin bingung mengenai perasaan ku untuk kedua wanita tersebut!"
"Apa kau memikirkan Aliqa ketika jauh darinya? Apa kau merasa nyaman ketika berdekatan dengan Aliqa?Apa kau pernah merasakan cemburu?"
"Memikirkan, nyaman, cemburu sepertinya aku pernah mengalaminya. Aku beberapa kali memkirkan Aliqa, terkadang menyesali perbuatan ku karena menyakitinya, aku nyaman berada di dekatnya sehingga seharian aku tak mengingat Mila sama sekali, apakah aku cemburu melihat kedekatan Aliqa dan laki-laki yang bernama Bima?" batinku.
"Jika aku mengalami semua itu?"
"Kau mulai mencintainya Vin."
Aku tak mendengar kata yang keluar dari mulut papa, indera pendengaran ku teralihkan oleh suara seseorang yang menuruni anak tangga.
"Klotak klotak klotak"
Mataku tertuju ke arah anak tangga, mataku tak berkedip dan mulut menganga. Aliqa terlihat sangat cantik dengan mini dress berwarna putih, rambut di gerai yang bagian bawah nya telah curly, tas jinjing kecil berwarna putih dan sepatu heels berwarana mustard dengan tinggi 3cm.
Aliqa masih terlihat seperti anak SMA, sedangkan aku seperti om-om. Bagaimana pandangan orang ketika kami jalan bersama.
"tik tik tik" Papa menjetikan jarinya pas di depan wajahku sehingga setengah kesadaran ku pun kembali. "Air liur mu hampir jatuh," ucap Papa terkekeh dan bodohnya aku mengusap bibir ku yang tak keluar air liur sama sekali.
Aliqa hanya terkekeh memandang kelakuan ku dan Papa, senyum indah yang kini jarang terukir di wajahnya kini kembali. Senyum indah itu kembali menghiasi wajahnya setelah sekian lama pergi.
"Cantik, teruslah tersenyum, aku mulai menyukai senyuman itu." batinku.