Kehidupan kampus Sheyra selalu berjalan lancar dan tenang sebelum ia bertemu pria menyebalkan bernama Alvaro. Alvaro adalah seorang duda anak 1 yang tinggal berdua dengan anaknya. Di mata Sheyra, Alvaro merupakan pria berhati dingin, egois, dan jahat. Namun pandangan itu seketika runtuh ketika Sheyra melihat sisi lain Alvaro ketika bersama anaknya.
Takdir seolah membawa mereka untuk terus bertemu dan bertemu. Hingga akhirnya membuat cinta tumbuh di antara keduanya. Namun jatuh cinta tidaklah mudah. Masalah demi masalah selalu datang untuk menguji kekuatan cinta mereka.
Mulai dari Alvaro yang minder dengan statusnya, Sheyra sang pencemburu buta, seseorang dari masa lalu, restu keluarga hingga trauma berat Alvaro atas kematian istrinya.
Akankah keduanya bisa mengatasi permasalahan tersebut demi mempertahankan cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzZura02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 - Fakta
Suasana menjadi hening. Tidak ada obrolan apapun. Sheyra dan Alvaro sama-sama bergelut dengan pemikirannya masing-masing. Kedua orang dewasa itu merasa canggung. Bingung apa yang seharusnya mereka katakan. Sheyra masih mencerna perkataan Lyra yang ia dengar tadi. Sedangkan Alvaro berpikir bagaimana caranya menjelaskan ucapan Lyra kepada orang lain.
Lyra menatap gambarnya dengan tersenyum. Ia bangga dengan hasil jerih payahnya. Gadis kecil itu merasa puas dengan hasil karyanya. Dalam hati ia merasa senang tanpa mengetahui bahwa kedua orang dewasa di sekitarnya canggung karenanya. Lyra melihat ke arah Sheyra lalu berganti ke arah Papanya. Lyra tidak mengerti kenapa Sheyra dan Papanya hanya diam. Ia tidak memahaminya.
“Papah, yo pulang.” (Papa, ayo pulang)
Suara Lyra memecah keheningan yang tengah berlangsung beberapa menit. Sheyra dan Alvaro langsung menyadari keberadaan Lyra di antara mereka. Sheyra mengatur suaranya, “Eh iya, Papa Lyra sudah datang ya. Kakak bantu beres-beres ya abis itu pulang.” ujar Sheyra lalu ia membereskan gambar Lyra. Menggulung kertas itu kembali dan menyerahkannya kepada Lyra.
“Yuk pulang.” ajak Alvaro sembari ikut membantu membereskan barang-barang anaknya. Setelah semuanya beres, Alvaro menenteng tas ransel milik Lyra di sebelah pundaknya. Kemudian ia menggendong Lyra.
“Papah, Ira sudah tunjuk gambar ke Kak Ei.” seru Lyra bangga.
Raut wajah Alvaro terlihat kikuk. Namun ia segera menunjukkan senyumannya kepada Lyra agar anaknya tidak khawatir. “Wah gambar anak Papa emang keren!”
“Makacih Papa!” Lyra memeluk Alvaro erat. Gadis kecil itu terlihat bahagia setelah mendapatkan pujian dari Sheyra dan Alvaro.
Sheyra memperhatikan kedekatan orang tua dan anak yang ada di depannya. Semuanya terlihat baik-baik saja. Sehingga Sheyra mencoba melupakan sesuatu yang ia dengar tadi. Bisa saja ia salah dengar ataupun Lyra hanya sekedar mengarang. Anak kecil seperti Lyra bisanya masih sudah berimajinasi. Sheyra mencoba mewajarkannya.
Alvaro melihat ke arah Sheyra, “Makasih udah jagain Ira.”
Sheyra mengangguk, “Sama-sama.”
“Kalo gak keberatan, mau pulang bareng lagi?” tanya Alvaro basa-basi. Alvaro hanya sedang mencoba berbuat baik kepada seseorang yang selama ini menjaga anaknya. Tidak ada tujuan apapun.
“Makasih sebelumnya. Tapi gak usah. Gak mau ngerepotin lagi.” tolak Sheyra secara halus.
“Kenapa Kak Ei gak mau?” sahut Lyra sambil menatap Sheyra dengan tatapan penuh harap.
Melihat respon anaknya, Alvaro mencoba membujuk Sheyra. “Sama sekali gak repot kok. Lagipula rumah kita se arah. Jadi gak masalah. Ira pasti seneng kalo lo mau ikut.”
“Kak Ei ikut ya?” Lyra ikut membujuk Sheyra untuk pulang bersamanya.
Sheyra tampak berpikir sejenak lalu kemudian ia mengiyakan ajakan tersebut. Sheyra tidak tahu lagi bagaimana caranya menolak. Apalagi melihat ekspresi Lyra yang lantas membuatnya luluh. Sheyra bertekad bahwa ini adalah terakhir kalinya ia menumpang kepada Alvaro. Selanjutnya ia harus bisa menolak ataupun mencoba menghindar. Ini yang terakhir, Sheyra telah membulatkan tekadnya.
Setelah mengambil barangnya dan mengunci pintu kelas. Sheyra berjalan keluar mengikuti Alvaro dan Lyra dari belakang. Di luar mobil berwarna hitam milik Alvaro sudah terparkir di sana. Alvaro membuka pintu mobilnya.
“Ira mau duduk ama Kak Ei!” pinta Lyra ketika Alvaro akan mendudukkannya di child car seat miliknya yang berada di kursi belakang.
“Ira duduk di sini aja ya. Nanti Kakak Shey capek kalau harus memangku Ira selama perjalanan.” Alvaro mencoba memberi pengertian kepada anaknya.
Lyra menggeleng cepat. Anak itu terlihat akan segera menangis. Ia mencoba memaksa Papanya, “Ira mau di depan ama Kak Ei.” desaknya sekali lagi berharap keinginannya dituruti.
Sheyra yang melihat hal itu langsung membuka suara, “Udah Al, gapapa kok. Lagipula Lyra gak berat. Duduk bareng aku aja.” Sheyra tidak ingin melihat Lyra menangis. Selain itu ia berpikir jika duduk bersama Lyra akan membantunya untuk tidak terlalu canggung nantinya.
“Tapi.. Shey..” kata Alvaro merasa tidak enak hati.
Sheyra segera memotong, “Gapapa Al. Serius.” katanya meyakinkan.
“Horeee!!! Duduk bareng Kak Ei!” seru Lyra Riang.
Sheyra tersenyum manis melihat respon senang Lyra. Benar-benar lucu. Setelah itu Sheyra mengambil Lyra dari gendongan Alvaro. Gadis kecil itu memeluk Lyra dengan riang.
Sheyra membuka pintu mobil Alvaro. Ia duduk tepat di sebelah Alvaro sambil memangku Lyra di depannya. Sepanjang perjalanan, Lyra terlihat sangat riang. Lyra banyak berbicara seperti bercerita ataupun mengajukan pertanyaan. Lalu Sheyra akan menanggapi semua perkataan yang keluar dari mulut Lyra. Sedangkan Alvaro fokus dengan jalanan yang ada di depannya sembari mendengarkan percakapan kedua gadis di dalam mobilnya.
Pemikiran Sheyra ternyata benar, dengan adanya Lyra di sisinya sangat membantu mengatasi rasa canggung saat bersama Alvaro. Ia jadi merasa lebih enjoy daripada minggu kemarin saat ia duduk bersebelahan dengan Alvaro tanpa Lyra. Apalagi Lyra adalah anak yang menyenangkan sehingga Sheyra tidak merasa bosan di dalam perjalanan.
Setelah banyak berbicara, tiba-tiba Lyra terdiam untuk beberapa menit. Sheyra mengecek keadaan Lyra untuk memastikan mengapa Lyra tidak bersuara lagi. Sheyra tersenyum saat mendapati Lyra sudah tertidur pulas. Sepertinya gadis kecil itu kelelahan karena terlalu banyak berbicara.
Sheyra mengelus rambut Lyra dengan lembut dan mendekap Lyra dalam pelukannya. Sheyra memandangi wajah Lyra yang tertidur dengan polosnya. Benar-benar sangat imut.
Saat Lyra sudah tertidur, suasana di dalam mobil menjadi hening. Sheyra memperhatikan jalanan di depannya sambil sesekali melihat ke arah Lyra. Sheyra tidak berniat untuk membuka obrolan antara dirinya dan Alvaro. Ia hanya berharap untuk segera sampai di rumah.
“Shey.” panggil Alvaro tanpa menoleh. Fokusnya tetap ke depan sembari menyetir mobil dengan hati-hati.
“Iya?” jawab Sheyra.
“Tadi soal omongan Lyra…” kata Alvaro kemudian ia diam beberapa detik. Seperti sedang berpikir.
“Oh soal yang tadi? Gak perlu khawatir. Tenang aja. Anak kecil wajar kok kalo ngomong aneh-aneh.” potong Sheyra. Ia mengatakan hal tersebut dengan tujuan agar Alvaro tidak terlalu khawatir tentangnya setelah tadi mendengar ucapan Lyra.
“Ah, bukan.”
Sheyra menoleh ke arah Alvaro dengan tatapan bingung. Ia tidak paham dengan arah pembicaraan Alvaro, “Maksudnya?”
“Perkataan Lyra bener kok.. Mama Lyra alias istri gue udah meninggal.” jelas Alvaro.
Mendengar perkataan Alvaro membuat Sheyra terdiam seketika. Gadis itu terlihat sedang mencerna ucapan Alvaro. Jadi Lyra sudah tidak memiliki Ibu? Kemudian Sheyra menatap Lyra di depannya yang sedang tertidur nyenyak. Tatapan Sheyra terlihat sendu. Lyra masih terlalu kecil untuk kehilangan salah satu orang tuanya. Sheyra merasa sangat kasihan dengannya.
Walaupun Sheyra sempat menyukai Alvaro, tapi ia merasa tidak senang dengan fakta yang barusan dia dengar. Ia tidak mengharapkan hal seperti ini. Ia bahkan hampir sudah melupakan Alvaro dan berharap keluarga kecil Alvaro hidup bahagia. Tapi apa ini? Ternyata Lyra kehilangan sosok Ibu. Begitu pun dengan Alvaro yang kehilangan Istrinya. Sheyra sedih mengetahui hal ini. Ia memikirkan Lyra dan berharap Lyra akan tumbuh menjadi gadis yang kuat. Di samping itu ia juga salut dengan Alvaro karena bisa menjaga Lyra dengan baik hingga tangki cinta gadis kecil itu terlihat penuh.
Setelah pembicaraan itu, mereka kembali terdiam. Alvaro merasa lega setelah berkata jujur kepada Sheyra. Ia mengatakan hal ini dikarenakan semuanya sudah terlanjur. Anaknya sudah mengatakannya terlebih dahulu, oleh karena itu ia hanya sedang memvalidasi ucapan Lyra. Tapi di sisi lain Alvaro juga merasa aneh terhadap dirinya. Biasanya dia adalah pribadi yang tertutup dan tidak suka membagikan kisah hidupnya kepada orang lain. Tapi kenapa kali ini ia bisa se-terus terang ini kepada orang lain?
Sheyra memeluk Lyra dengan lebih erat. Dalam hati ia terus berdoa agar Lyra selalu bahagia dan selalu kuat dalam menjalani hidup. Ia tidak tega dengan Lyra setelah mengetahui fakta ini. Yang Sheyra sadari adalah bahwa ia sangat menyayangi Lyra.
^^^Bersambung….^^^