Hidup tidak pernah mudah bagi Alya, dan menjadi jauh lebih berat sejak *ibunya meninggal saat Alya baru berumur 12 tahun.*
Sejak hari itu, Alya yang masih kelas 6 SD harus langsung menjadi ibu untuk adik-adiknya. Ia yang menyuapi Dinda yang masih balita, ia yang menemani Bima yang masih di dalam kandungan saat ibunya meninggal.
Karena itulah, ia tidak pernah merasakan masa remaja. Tidak ada waktu untuk manja.
Tinggal di rumah sederhana bersama ayah dan kedua adiknya, Alya adalah anak pertama yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya yang sejak ditinggal istrinya semakin sering sakit-sakitan membuat keadaan ekonomi mereka semakin sulit.
Jadi pernikahan kontrak itu bukan hanya untuk pengobatan ayahnya, tapi juga rasa bersalahnya karena merasa gagal menggantikan posisi ibunya untuk Dinda dan Bima.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ocha Via, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Mertuaku dari Singapura
Pukul 05.30 WIB, Penthouse Lantai 56, SCBD.
Alya terbangun bukan karena alarm, tapi karena suara besi beradu. _Clank. Clank._
Rafael Virel sudah selesai sesi gym pribadinya di sudut penthouse. Kaos hitamnya basah oleh keringat, menempel di punggung bidangnya. Pembuluh darah di lengannya terlihat jelas saat ia mengangkat botol air. Ia menatap pantulan Alya di kaca, yang masih meringkuk di sisi ranjang dengan dress hitam tipis semalam yang belum sempat ia ganti, memeluk guling erat-erat seperti takut jatuh.
"Bangun," suaranya datar, tidak keras tapi membuat Alya langsung terduduk. "Jam 9 ibu saya landing di Halim. Bu Ratna sudah siapkan baju di walk-in closet. Pakai yang sopan. Jangan pakai itu lagi."
Alya buru-buru menutupi pahanya yang terekspos karena dress itu naik. Wajahnya panas.
Di dalam walk-in closet yang ukurannya sebesar kontrakan petaknya di Tebet, semua baju masih ada label harganya. Alya bahkan tidak berani menyentuh yang ada payet-payetnya. Ia memilih yang paling aman: blouse krem lengan panjang dan rok satin panjang warna coklat susu. Sederhana. Seperti Alya yang dulu, bukan Alya yang sekarang dipaksa jadi Nyonya Virel.
Jam 08.30 WIB, Private Terminal Bandara Halim Perdanakusuma.
Alya merasa seperti patung pajangan. Rafael menggandeng tangannya. Genggamannya kuat, panas, dan posesif. Tidak ada celah untuk lepas. Di sekitar mereka, beberapa wartawan ekonomi yang sudah dipanggil tim PR Virel Corp pura-pura tidak memotret, tapi Alya tahu lensa kamera mengarah ke cincin berlian 5 karat di jarinya yang terasa begitu berat dan dingin.
"Ingat skenario," bisik Rafael tanpa menggerakkan bibirnya, matanya tetap lurus ke depan. "Senyum. Jangan kaku."
Dari pintu kedatangan, seorang wanita anggun berusia awal 50-an keluar. Wajahnya sangat mirip Rafael, tapi versi lembut. Ia memakai kebaya modern berwarna sage, rambutnya disanggul rapi, dan membawa koper Hermes kecil. Walaupun cantik, terlihat jelas wajahnya pucat, seperti orang yang baru selesai pengobatan panjang.
Itu Olivia Virel. Ibu Rafael. Wanita yang menjadi alasan kontrak ini ada.
"Rafael!" Suara Mama Olivia bergetar.
Rafael melepas tangan Alya sepersekian detik untuk memeluk ibunya. Pelukan yang kaku, khas Rafael. Tapi setelah itu, mata Mama Olivia langsung beralih pada Alya. Matanya langsung berkaca-kaca.
"Ya Tuhan... jadi ini Alya?" Mama Olivia langsung meraih kedua tangan Alya dan memeluknya. Pelukan yang hangat. Pelukan yang tulus. Pelukan yang sudah 12 tahun tidak Alya rasakan sejak ibunya meninggal di kelas 6 SD.
"Selamat datang di keluarga kami, Nak," bisik Mama Olivia di telinga Alya.
Saat itu juga, pertahanan Alya yang ia bangun sejak semalam hampir runtuh. Ia ingin menangis. Bukan tangis takut seperti semalam, tapi tangis rindu.
Di dalam mobil Maybach yang melaju kembali ke SCBD, Mama Olivia tidak berhenti menggenggam tangan Alya di jok belakang. Rafael duduk di depan bersama supir, diam.
"Mama itu senang sekali, lho, Alya. Selama kemoterapi di Singapura, Mama cuma berdoa satu hal, semoga Rafael menemukan perempuan yang bisa melunakkan hati besinya itu," cerita Mama Olivia. "Papa-nya Rafael sudah tidak ada, jadi Mama takut kalau Mama kenapa-kenapa, Rafael hidup sendirian dengan semua bisnis keras itu."
Alya hanya bisa tersenyum kaku, mengangguk. Ia melirik punggung Rafael dari kaca spion. Rahang Rafael mengeras.
Sesampainya di penthouse, Bu Ratna sudah menyiapkan makan siang. Meja makan panjang yang semalam terasa dingin dan mencekam, kini terasa sedikit hidup karena Mama Olivia terus bercerita.
"Alya, kamu kuliah di mana, Sayang? Rafael bilang kamu baru lulus?"
Jantung Alya berhenti. Ini tidak ada di skenario. Rafael tidak pernah memberi tahu latar belakang palsu untuknya.
Alya panik, menatap Rafael meminta bantuan.
Rafael dengan santai memotong, meletakkan gelasnya. "Dia lulusan Fakultas Hukum UI, Ma. Cumlaude. Makanya saya bawa dia ke kantor besok, biar dia bantu saya urus legal. Dia pintar."
Kebohongan yang begitu mulus.
"UI? Pantes cantik dan pintar," puji Mama Olivia. "Ambil S2 kapan, Nak?"
"Be-belum kepikiran, Ma," jawab Alya lirih.
Makan siang selesai. Mama Olivia berdiri dan berkata dengan senyum yang membuat darah Alya membeku.
"Mama boleh lihat kamar pengantin baru kalian? Mama penasaran Rafael menata kamarnya seperti apa. Dari dulu kamarnya seperti kantor."
Dunia Alya runtuh.
Kamar mereka. Ranjang king size dengan bantal pemisah di tengah, dua selimut terpisah, dan jarak sejauh mungkin. Itu bukan kamar pengantin baru. Itu adalah bukti kontrak 2 Miliar hutang bapaknya.
Rafael berdiri lebih cepat dari Alya. Wajahnya tetap datar, tapi Alya bisa melihat urat di pelipisnya bergerak.
"Tentu, Ma. Tapi kamarnya berantakan. Alya tadi pagi buru-buru," kata Rafael, lalu ia menarik pergelangan tangan Alya dengan kasar, membawanya sedikit ke belakang. Di depan pintu kamar, dengan suara yang hanya bisa didengar Alya, ia berbisik mengancam, "Acting. Sekarang. Atau saya batalkan semua pembayaran rumah sakit bapakmu hari ini juga."
Pintu kamar dibuka.
Mama Olivia melangkah masuk. Matanya langsung tertuju pada ranjang. Pada bantal guling yang menjadi tembok Berlin di tengah ranjang itu.
Hening selama tiga detik yang terasa seperti tiga jam.
Mama Olivia menatap bantal itu, lalu menatap Alya, lalu menatap Rafael dengan tatapan curiga seorang ibu.
Alya tahu, jika ia diam, semuanya selesai.
Dengan sisa keberanian yang ia punya dari 11 tahun menjadi ibu untuk Dinda dan Bima, Alya melakukan hal paling nekat seumur hidupnya.
Ia berjalan dengan langkah kesal, mengambil bantal pemisah itu, dan melemparkannya dengan keras ke lantai.
"Rafael ini nyebelin banget sih, Ma!" Alya merajuk, suaranya dibuat manja dan cemberut, padahal lututnya gemetar hebat. "Tadi malam kita berantem! Gara-gara aku ngorok katanya! Makanya aku kasih batas biar dia tidak ngomel lagi! Dia itu nggak romantis sama sekali!"
Rafael terpaku. Matanya membelalak sepersekian detik. Ia tidak menyangka Alya akan melakukan itu.
Mama Olivia yang tadi curiga, langsung tertawa terbahak-bahak. Tawanya lepas dan bahagia.
"Ya ampun! Ya ampun! Kalian ini persis seperti Mama sama Papa dulu!" Mama Olivia memeluk Alya dari belakang. "Sudah, sudah jangan ngambek, Sayang. Rafael memang begitu, kaku seperti robot. Kamu harus sabar."
Saat Mama Olivia memeluknya, dari balik bahu Mama Olivia, mata Alya bertemu dengan mata Rafael.
Tatapan dingin Rafael yang biasa membunuh itu hilang. Berganti tatapan bingung, kaget, dan ada sesuatu yang lain. Kekaguman? Rafael menatap Alya seolah baru pertama kali melihatnya. Gadis 24 tahun yang tadi malam gemetar ketakutan, kini berani berbohong di depannya demi menyelamatkan kontraknya.
Malamnya, setelah Mama Olivia terlelap di kamar tamu karena lelah perjalanan, penthouse kembali sunyi.
Pintu kamar utama dikunci oleh Rafael.
Alya masih berdiri di ujung ranjang, tidak berani bergerak.
"Kamu lumayan pintar berbohong," kata Rafael pelan, melepas jam tangannya. Ia berjalan mendekat, jarak mereka tinggal satu jengkal. Aroma sabun mahal setelah mandi tercium.
"Itu... itu karena disuruh acting," jawab Alya menunduk.
"Tadi kamu bilang saya nyebelin."
"Itu kan... skenario biar Mama percaya..."
Rafael tiba-tiba tersenyum miring. Senyum ketiga yang Alya lihat, dan yang paling berbahaya.
"Acting yang bagus, Nyonya Virel."
Ia mematikan lampu utama, hanya menyisakan lampu tidur temaram.
"Batas bantal tetap di tengah. Aturan tetap sama. Jangan lewat batas. Kalau kamu lewat, saya tidak janji Pasal 3 tentang tidak ada sentuhan fisik itu masih berlaku."
Alya langsung berbaring di sisi paling ujung, menarik selimut sampai ke leher, memeluk guling erat-erat. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga sakit.
Di kegelapan lantai 56 itu, dengan gemerlap lampu Jakarta yang tidak pernah tidur di luar jendela, Alya sadar. Ia baru saja melewati hari pertama sebagai istri kontrak. Dan ia baru saja membohongi satu-satunya orang yang memberinya pelukan ibu setelah 12 tahun.
Di sisi lain ranjang, Rafael masih terjaga, menatap langit-langit. Di benaknya bukan laporan saham, tapi lemparan bantal dan rajuk manja Alya tadi. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa 365 hari mungkin tidak akan cukup.
Bersambung...