Dalam satu pagi Minggu, dunia Maya Adiwangsa runtuh.
Ayahnya—konglomerat properti tersohor—diseret keluar dari rumah dengan borgol di tangan, dikhianati oleh darahnya sendiri. Dalam hitungan hari, kekayaan tiga generasi lenyap: rekening dibekukan, mansion disita, teman-teman berpaling. Sang putri manja yang tak pernah menyentuh harga apa pun kini terdampar di apartemen kumuh, dengan ibu yang hancur dan seorang ayah yang membusuk di balik jeruji.
Lalu, di sebuah jalan gelap, muncul satu-satunya orang yang berani menawarinya jalan keluar: Bara Prakoso. Raja gelap kota ini. Laki-laki yang namanya dibisikkan dengan gentar, yang tangannya konon berlumur darah. Tawarannya sederhana dan gila sekaligus—sebuah pernikahan. Nama baik keluarga Maya sebagai ganti kekuasaan, perlindungan, dan kebebasan ayahnya.
Itu bukan cinta. Itu transaksi.
Namun di balik tatapan sedingin baja dan reputasi seorang monster, tersembunyi luka yang tak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan di balik kelembutan seorang gadis yang kehilangan segalanya, tumbuh keberanian yang bahkan tak ia sangka ia miliki. Semakin dalam mereka terjebak dalam permainan pengkhianatan, balas dendam, dan musuh-musuh yang mengintai dari masa lalu, semakin sulit membedakan mana perjanjian dan mana perasaan yang sesungguhnya.
Ketika kehilangan segalanya justru mempertemukannya dengan segalanya—beranikah Maya mempertaruhkan hati pada laki-laki yang seharusnya ia takuti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adriánex Avila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 IBLIS YANG SEKALIGUS MALAIKAT
Di luar, seseorang berteriak. Bukan teriakan peringatan, melainkan jeritan kesakitan. Lalu terdengar teriakan lain. Kemudian sebuah bunyi tumpul, suara khas tubuh yang ambruk ke lantai.
Keheningan menggantung selama beberapa detik.
Setelah itu, tiga ketukan di pintu. Pelan. Terkendali.
"Maya." Suara Bara terdengar dari balik pintu. "Buka."
Tangannya yang gemetar memutar kunci. Pintu terbuka, dan Bara berdiri di ambangnya, setelan jasnya berlumur darah yang bukan miliknya.
Di wajahnya tak ada rasa takut, tak ada amarah, bahkan tak ada kelegaan. Hanya ketenangan sedingin es, seolah ia baru saja melakukan sesuatu yang biasa seperti menandatangani selembar cek.
"Anda tidak apa-apa?" tanyanya.
Maya mengangguk, tak sanggup berkata-kata.
Bara menatapnya dari atas ke bawah, memastikan ia tak terluka. Lalu, tanpa sepatah kata, ia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia bersandar pada daun pintu, kedua lengan bersedekap di dada, dan memejamkan mata sejenak.
"Mereka bertiga," katanya, seolah sedang menghitung. "Satu tewas. Dua lainnya kabur."
"Tewas?" Maya merasa kakinya lemas. "Anda membunuh orang? Di sini? Di depan pintu kamar saya?"
Bara membuka mata. Ia menatap Maya. Dan dalam tatapan itu, Maya melihat sesuatu yang tak ia duga. Bukan kebanggaan. Bukan kesombongan. Hanya sebuah kebenaran telanjang, mentah, yang tak butuh hiasan apa pun.
"Ya. Aku membunuhnya. Dia hendak masuk ke kamar Anda. Dia hendak melukai Anda. Aku tidak membiarkannya. Apa itu mengganggu Anda?"
Maya ingin menjawab ya. Bahwa kekerasan membuatnya ngeri. Bahwa ia tak percaya ada darah tercecer di lorong, hanya beberapa meter dari tempatnya tidur. Ia ingin menjadi Maya Adiwangsa yang dulu, yang tak pernah melihat senjata, yang percaya bahwa segala masalah bisa diselesaikan dengan pengacara dan surat perjanjian.
Tetapi Maya yang itu sudah tak ada lagi.
"Tidak," jawabnya, dan ia sendiri terkejut mendengarnya. "Tidak mengganggu. Saya takut. Tetapi tidak terganggu."
Bara menatapnya lama. Kemudian, perlahan, ia mengangguk.
"Anda lebih kuat dari yang Anda kira," katanya. "Lebih kuat dari yang mereka semua kira. Dan itulah yang akan membuat Anda tetap hidup."
* * *
Mereka turun bersama. Mansion itu bagai medan perang. Di ruang depan, dua anak buah Bara—Bagas dan seorang lagi yang namanya tak Maya ingat—sedang memborgol seorang penyusup yang hidungnya berdarah.
Bu Marta duduk di sebuah kursi, sekantong es menempel di pipinya, mengumpat dalam bahasa yang tak Maya kenali. Dan di lantai, di dekat tangga, sesosok tubuh terbungkus seprai putih yang dengan cepat berubah merah.
"Jangan lihat," kata Bara sambil meletakkan tangannya di bahu Maya.
Maya melihatnya.
Tubuh itu milik seorang lelaki muda, sekitar tiga puluh tahun, dengan tato di leher dan lengannya. Matanya terbuka, kosong, menatap langit-langit seolah masih belum mengerti apa yang menimpanya.
"Siapa dia?" tanya Maya, dengan suara yang anehnya tenang.
"Pembunuh bayaran," jawab Bara. "Kelas murahan. Paman Anda tidak mengeluarkan banyak uang untuk ini. Ini cuma percobaan. Dia ingin melihat bagaimana reaksi kita."
"Lalu sekarang bagaimana? Setelah dia tahu Anda membunuh salah satu orangnya?"
Bara menatapnya. Untuk pertama kalinya sejak serangan itu, ada sesuatu yang bergerak di matanya. Bukan rasa takut. Melainkan tekad.
"Sekarang dia tahu aku bukan sasaran empuk. Dan itu akan menyakitkan baginya."
* * *
Bramantyo muncul di tangga, berbalut jubah mandi, wajahnya pucat dan matanya membelalak.
"Apa yang terjadi?" tanyanya sambil menatap tubuh itu, darah itu, para lelaki yang terborgol. "Maya? Kamu tidak apa-apa?"
"Maya baik-baik saja, Papa," jawabnya sambil melepaskan diri dari Bara. "Bara... Bara melindungi kita."
Bramantyo menatap menantunya. Sesaat, kebencian yang ia rasakan sejak awal goyah. Kebencian itu tak lenyap, tetapi bergeser, seperti lempeng bumi yang menata ulang dirinya.
"Dia membunuh orang?" tanyanya sambil menunjuk gundukan berlumur darah itu.
"Ya," jawab Maya.
Bramantyo memejamkan mata. Ketika ia membukanya kembali, ada sesuatu yang baru di dalamnya. Bukan rasa syukur, belum. Tetapi sesuatu yang mendekatinya.
"Papa akan menelepon pengacara," katanya dengan suara serak. "Ini harus ditangani dengan hati-hati. Mahendra tidak boleh tahu bahwa kita punya saksi."
"Dia sudah tahu," sela Bara. "Anak buahnya kabur. Dalam sejam, dia akan mengetahui semuanya."
"Kalau begitu kita harus bergerak cepat," sahut Bramantyo, dan untuk pertama kalinya, ia berbicara pada Bara seperti pada seseorang yang setara. "Anda punya rencana?"
Bara mengangguk.
"Aku selalu punya rencana."
* * *
Malam membentang hingga fajar. Anak buah Bara membersihkan lokasi dengan efisiensi yang membuat darah membeku. Tubuh itu lenyap. Darah itu digosok bersih.
Para penyusup yang tertangkap dibawa ke suatu tempat yang enggan Maya bayangkan. Ketika matahari mengintip di atas deretan pohon cemara, mansion itu kembali tampak tanpa cela, seolah tak pernah terjadi apa pun.
Tetapi Maya tahu sesuatu telah terjadi. Sesuatu telah berubah dalam dirinya.
Ia tak bisa tidur.
Ia bangkit dari ranjang lewat pukul empat dini hari, mengenakan jubah di atas gaun tidurnya, dan menuruni tangga tanpa suara. Ia tak tahu hendak ke mana. Ia hanya perlu bergerak, perlu keluar dari kamar yang dinding-dindingnya seakan merangsek menghimpitnya.
Perpustakaan itu gelap, tetapi pintunya terbuka sedikit. Cahaya jingga yang temaram menyelinap keluar dari celahnya. Maya mendorong pintu itu perlahan.
Bara duduk di kursi kulit di samping perapian. Api hampir padam, tersisa bara yang menyala dengan cahaya sekarat.
Segelas wiski di tangannya, tatapannya terpaku pada nyala api. Setelan jasnya masih berlumur darah di bagian lengan dan kerah kemejanya. Ia belum berganti pakaian. Belum mandi. Ia masih mengenakan busana pertempuran itu.
"Anda seharusnya tidak di sini," katanya tanpa menoleh. "Anda seharusnya tidur."
"Saya tidak bisa," jawab Maya sambil masuk dan menutup pintu di belakangnya. "Setiap kali saya memejamkan mata, saya melihat tubuh itu. Saya melihat darah. Saya melihat wajah Anda saat Anda membukakan pintu untuk saya."
Bara mengangkat gelasnya, meneguk seteguk, lalu meletakkannya kembali di meja kecil.
"Itulah hidup yang kupilih," katanya. "Darah. Kematian. Kekerasan. Aku tidak pernah meminta Anda ikut menanggungnya. Anda sendiri yang datang padaku, kalau Anda masih ingat."
"Saya tidak punya pilihan lain."
"Selalu ada pilihan lain. Selalu. Tetapi Anda memilih yang ini. Dan sekarang Anda di sini, menyaksikan akibatnya."