NovelToon NovelToon
Babu Yang Dicintai

Babu Yang Dicintai

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Bad Boy
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara

Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.

“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”

Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.

Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

"Jangan sangkut pautin Rian... gue mohon sama lo," ucap Celin.

"Oh, makin lo mohon, makin gue pengen hancurin dia," Reja tersenyum miring yang mematikan.

"Besok, kalau gue liat dia pegang bahu lo lagi... gue nggak akan ragu buat kasih tahu dia siapa lo sebenarnya di rumah gue. Dan kita liat, apa dia masih mau nganggap lo temen setelah tahu lo itu 'barang' yang dibeli Papa gue."

Reja melepaskan Celin dengan kasar dan melangkah pergi, meninggalkan Celin yang merosot ke lantai perpustakaan. Celin menyadari bahwa peringatan Rian benar, Reja memang sangat bahaya.

suasana di SMA Pradipta Adhiwarma terasa jauh lebih panas dari biasanya. Kabar tentang Celin yang turun dari mobil Reja kemarin telah menyebar seperti api yang menyambar bensin. Bagi siswi-siswi populer, itu adalah sebuah penistaan.

Saat jam istirahat kedua, Celin sedang berjalan di lorong belakang menuju laboratorium kimia. Tiba-tiba, langkahnya terhenti karena akses jalannya dihadang oleh Tania dan gengnya, tiga orang gadis yang selalu merasa memiliki sekolah tersebut.

"Mau kemana, sampah?" tanya Tania dengan nada yang begitu manis namun berbisa.

"Minggir. Gue ada kelas," jawab Celin dingin, mencoba melewati mereka.

"Kelas? Atau mau kegatelan lagi deket-deket Reja?" Salah satu teman Tania, Sisca, mendorong bahu Celin hingga ia terbentur dinding loker.

Celin mencoba tetap tegak, namun tiba-tiba dari arah belakang, dua orang siswi lain membawa sebuah ember besar berisi air keruh berwarna kehitaman yang berbau busuk.

BYUURRR!

Cairan dingin dan berbau menyengat itu menyiram seluruh tubuh Celin. Itu adalah air selokan belakang kantin yang penuh sisa makanan dan kotoran.

Celin terbatuk, matanya perih, dan seragam putihnya seketika berubah menjadi cokelat menjijikkan.

"Aduh, maaf! Gue kira itu tempat pembuangan sampah, ternyata cuma anak beasiswa," ejek Tania sambil menutup hidungnya pura-pura mual.

Belum sempat Celin menyeka wajahnya, Sisca menarik tong sampah besar di sudut koridor dan membalikkannya tepat di atas kepala Celin.

Plastik makanan, sisa kuah bakso, dan kertas-kertas kotor tumpah menyelimuti tubuhnya. Seluruh siswa yang ada di lorong itu tertawa terbahak-bahak.

Mereka mengeluarkan ponsel, merekam pemandangan menjijikkan itu untuk diunggah ke grup sekolah.

Di tengah kerumunan itu, Reja muncul. Celin mendongak dengan gemetar, matanya yang memerah mencari perlindungan pada sosok pria yang secara hukum adalah suaminya. Ia berharap ada secercah rasa kemanusiaan di mata Reja.

Namun, Reja justru berdiri tenang sambil bersandar di tembok, menyilangkan tangan di dada. Alih-alih menolong, ia justru menunjukkan smirk miringnya yang paling mematikan.

Ia menatap Celin dari ujung kepala sampai ujung kaki yang penuh sampah dengan tatapan puas.

'Ini akibatnya kalau lo berani ngelawan gue di depan Papa kemarin,' batin Reja. Ia menikmati melihat Celin yang biasanya angkuh kini harus merangkak di lantai seperti sampah yang sesungguhnya.

"Reja! Liat nih, pembantu baru kamu jadi bau banget!" seru Tania sambil menggelayut di lengan Reja.

Reja melirik Tania sebentar, lalu kembali menatap Celin. "Pantesan. Bau sampah emang lebih cocok buat dia daripada parfum mahal keluarga gue."

Gelak tawa semakin pecah. Celin mengepalkan tangannya di lantai yang basah. Rasa perih di pergelangan tangannya akibat air selokan itu terasa luar biasa, namun rasa hancur di hatinya jauh lebih hebat.

Ia melihat Reja membalikkan badan dan berjalan pergi bersama Tania, meninggalkan dirinya yang sedang dipermalukan di depan seluruh sekolah.

Saat kerumunan mulai bubar karena bel masuk berbunyi, hanya satu orang yang berlari menembus lorong itu.

"CELIN!"

Kirei berteriak histeris. Ia segera melepas jaketnya dan menutupi tubuh Celin yang berbau busuk. "Ya Tuhan, Celin... siapa yang lakuin ini?! Kita ke ruang guru sekarang!"

"Jangan, Rei..." suara Celin parau, hampir hilang. "Bawa gue pergi dari sini. Tolong..."

Kirei membawa Celin ke kamar mandi paling ujung yang jarang dilewati siswa. Dengan tangan gemetar, Kirei membantu Celin membersihkan sisa-sisa sampah dari rambut dan seragamnya.

Bau selokan itu begitu menyengat, membuat Kirei tak henti-hentinya terisak karena marah dan sedih.

"Gila mereka semua, Celin! Reja juga... dia cuma diem aja di sana! Dia bener-bener nggak punya hati!" maki Kirei sambil menyiramkan air ke bahu Celin.

Celin hanya diam membatu. Matanya kosong menatap pantulan dirinya di cermin yang retak. Air selokan yang masuk ke balik perban di pergelangan tangannya mulai menimbulkan rasa panas yang membakar, tapi ia tidak mengeluh. Rasa sakit fisiknya kalah jauh dengan rasa terhina yang baru saja Reja berikan padanya.

"Gue mau pulang, Rei," bisik Celin lirih.

"Iya, kita pulang. Gue anter pake motor gue. Masa bodoh sama pelajaran terakhir," tegas Kirei.

Saat mereka berjalan keluar menuju parkiran, sebuah mobil mewah berwarna hitam sudah menunggu di depan gerbang. Kaca jendela terbuka perlahan, menampilkan wajah Reja yang terlihat bosan sambil memainkan ponselnya.

"Naik," perintah Reja dingin tanpa melihat kondisi Celin yang masih basah dan berbau.

Kirei berdiri di depan Celin, melindunginya. "Enggak! Dia pulang sama gue! Lo puas kan liat dia diginiin tadi?!"

Reja akhirnya menoleh, matanya menatap tajam ke arah Kirei. "Gue nggak ngomong sama lo. Masuk ke mobil sekarang kalau lo nggak mau gue telepon sopir buat jemput bokap lo ke kantor polisi detik ini juga."

Celin memegang bahu Kirei yang gemetar. "Rei, nggak apa-apa. Gue balik sama dia. Tolong titip tas gue, ya."

"Tapi Celin—"

"Gue nggak apa-apa, Rei. Makasih buat semuanya." Celin masuk ke dalam mobil dengan sisa-sisa air kotor yang menetes ke jok kulit mahal milik keluarga Bagaskara.

Di dalam mobil, keheningan terasa begitu pekat. Reja menutup hidungnya dengan punggung tangan, menunjukkan rasa jijik yang sangat jelas.

"Bau banget. Lo mau ngerusak mobil gue?" ketus Reja. Ia membuka seluruh jendela mobil agar udara masuk.

"Itu pelajaran buat lo. Jangan pernah ngerasa besar kepala karena Papa belain lo. Di sekolah, lo tetep sampah yang nggak punya siapa-siapa kalau bukan karena belas kasihan keluarga gue."

Celin tetap diam, menatap lurus ke depan. Air matanya sudah kering, digantikan oleh kedinginan yang membekukan hatinya.

Sesampainya di mansion, Reja menyeret Celin masuk lewat pintu belakang agar tidak terlihat oleh para pelayan atau ibunya. Ia mendorong Celin masuk ke kamar mandi di dalam kamar mereka.

"Bersihin badan lo. Gue nggak mau bau ini nempel di kamar gue," bentak Reja.

Sore itu, suasana di cafe milik Ibu Kirei terasa lebih sepi dari biasanya. Celin sedang mengelap meja di pojok ruangan dengan gerakan yang sudah lihai, sementara pikirannya melayang pada kejadian-kejadian brutal beberapa hari terakhir.

Kirei, yang sedari tadi memperhatikannya dari balik meja kasir, akhirnya tidak bisa menahan diri lagi. Ia melepas apronnya, berjalan mendekat, dan langsung merebut kain lap dari tangan Celin.

"Celin, berhenti," ucap Kirei dengan nada yang sangat serius.

Celin tersentak, mencoba tersenyum tipis. "Kenapa, Rei? Tanggung, tinggal dikit lagi."

"Nggak usah acting lagi di depan gue," Kirei menarik kursi dan duduk tepat di hadapan Celin.

"Gue bukan orang asing, Celin. Gue sahabat lo dari kecil. Kemarin Reja nganter jemput lo dengan cara yang aneh. Terus tadi pagi, gue liat lo turun dari mobil yang sama lagi di sekolah."

"Gue udah bilang kan, Rei... itu perintah Papa Reja. Dia cuma dititipin buat jagain gue," jawab Celin, suaranya terdengar goyah.

"Bohong!" Kirei memukul meja pelan. "Jagain nggak kayak gitu, Celin! Gue liat gimana tatapan Reja ke lo. Itu bukan tatapan orang yang lagi menjaga, itu tatapan orang yang merasa memiliki. Terus luka di tangan lo... memar di leher lo yang lo tutupin pake sweater terus... Celin, jujur sama gue. Apa lo ada hubungan sama Reja? Apa dia nyakitin lo?"

Celin membuang muka, matanya mulai berkaca-kaca. "Rei, tolong jangan tanya lagi. Ini demi kebaikan lo juga."

"Demi kebaikan gue atau karena lo takut sama dia?!" Kirei menyambar tangan Celin, tidak sengaja menekan perban di pergelangan tangannya. Celin merintih kecil dan refleks menarik tangannya.

Kirei tertegun melihat reaksi sakit itu. "Celin... tolong. Kalau lo nggak cerita, gue bakal nekat nanya langsung ke Reja atau ke sekolah. Gue nggak tahan liat lo hancur kayak gini pelan-pelan."

Mendengar ancaman Kirei yang ingin menemui Reja, pertahanan Celin runtuh. Ia tahu Kirei bisa dalam bahaya besar jika berurusan dengan Reja.

Bahu Celin merosot, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dan tangisnya pecah—tangis yang selama ini ia pendam sendirian di mansion mewah itu.

"Rei..." bisik Celin di sela isakannya. "Gue... gue udah nikah sama dia."

Bersambung...

1
Nelson Sihombing
semangat celin
araaself
lanjutttt
Alia Chans: siap kak🔥🔥
total 1 replies
Nelson Sihombing
cerita yang seru lagi nih....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!