Jauh sebelum sejarah manusia dimulai, Dewi Angin Utara telah menjaga bumi dari balik bayang-bayang.
Namun ketika perang besar mengancam Agharta, Utara harus berpisah dari Zhuin, sosok yang telah dicintainya sejak ribuan tahun lalu.
Zhuin akan terus Ada, dengan berbagai wujudnya.
Dan setiap kehidupan, dia akan melupakan Utara.
Sementara Utara tetap mengingatnya.
Satu Dewi. Satu jiwa. Ribuan kehidupan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: PENJAGA AGHARTA
BAB 1
Saat bumi masih sangat muda, tanah yang masih ungu, langit masih jingga, laut masih berwarna gelap. Benua masih menyatu, belum terpisah. Di mana kerajaan bangsa-bangsa kuat berkuasa, Agharta.
Beifeng Yao, putri penjaga kerajaan Agharta, tinggal di sana. Dia cantik, lembut, rambut panjangnya dihias mutiara, sangat sesuai dengan gaun biru mudanya.
Dia sedang duduk di tepi danau, melihat langit jingga, sambil menunggu seseorang.
“Hmm... kenapa lama sekali, dia bilang sebentar lagi, ini mau malam,” Feng Yao mendengus kesal.
Tidak lama kemudian, trap trap trap terdengar suara langkah, mengoyak rerumputan.
“Feng Yao...”
Feng Yao menoleh. Ia tersenyum, berlari mendekati sosok itu.
“Zhuin... kenapa lama sekali,” umpat Feng Yao.
Zhuin hanya tertawa, sambil merapikan rambut Feng Yao yang berantakan ditiup angin.
“Ada rapat para penjaga. Master Yao meminta para penjaga meningkatkan kewaspadaan dan tingkat keamanan wilayah Agharta.”
“Apa rumor itu benar, mereka berniat menyerang kita?”
Zhuin mengangguk.
“Mungkin kita harus bersiap untuk yang lebih buruk lagi,” sedikit terdengar cemas.
Zhuin menggandeng tangan Feng Yao. Kembali ke istana putih, tempat kediaman para penjaga Agharta.
Para penjaga berlalu-lalang dengan pakaian putih keemasan, wajah datar tapi hangat, penuh kehormatan. Menyimpan banyak kebijaksanaan.
“Sudah sampai dulu, Utara. Aku harus berada di tengah para penjaga.”
Zhuin mengecup kening Feng Yao.
Feng Yao/Utara tersenyum mengangguk.
“Iya, Zhuin.”
“Nona... Nona Utara,” panggil Ya Kumi, pelayan Beifeng Yao. “Master memanggil Tuan Putri.”
Feng Yao mengernyit.
“Ayah malam-malam seperti ini,” keluh Feng Yao. “Pasti ada yang tidak beres.”
Beifeng Yao segera menemui ayahnya, Master Yao, di pusat ruang meditasi.
Ruangan itu memutar seperti cincin, dikelilingi cahaya kebiruan.
“Ayah... aku datang.”
Pria tua itu, Master Yao, rambut setengah abu-abu, memutar badannya.
“Utara.”
“Ya, Ayah.”
Suara Feng Yao tegas. “Ada hal buruk.”
“Aku tahu, mereka akan menyerang kita, setelah berhasil mengalahkan Mu,” ucap Feng Yao semangat.
“Bukan itu saja, Nak.”
Feng Yao terkesiap. “Bukan itu saja?”
“Ada kabar pasukan langit akan turun, bersama Azazil.”
“Itu bagus, Ayah. Azazil membawa bala bantuan,” ucap Feng Yao kembali antusias.
Master Yao menghela napas berat.
“Kenapa, Ayah? Ayah ragu?”
“Ini bisa jadi lebih buruk, Nak. Kalau pasukan langit turun, mungkin separuh dari kita akan musnah.”
Utara termenung sejenak, mendengar penjelasan ayahnya. Dia melihat beban berat yang harus ditanggung oleh para penjaga Agharta, di tengah konflik dengan Banul Jan, bangsa mereka, dan Atlantis.
Utara/Beifeng Yao merasa cukup mendengar informasi itu dari ayahnya. Tanpa banyak bicara lagi, ia pergi meninggalkan ruangan.
Ia berjalan di sepanjang lorong dengan pilar-pilar besar berwarna kebiruan. Di luar, angin berembus sejuk. Malam terlihat lembut dengan nuansa biru, tapi terasa mencekam untuk Feng Yao.
“Zhuin...” bisiknya.
Udara di dalam Istana Putih terlalu dingin.
Bukan karena salju di luar. Tapi karena dua belas Penjaga duduk melingkar di atas lantai marmer, dan tidak satu pun dari mereka bersuara.
Cahaya biru dari pusat ruangan berdenyut pelan. Seperti jantung Agharta yang mulai lelah.
Aku berdiri di tengah.
Sebagai wakil Master Yao, aku yang harus memimpin rapat ini.
Padahal tanganku masih dingin karena baru saja mencium kening Utara sejam lalu.
“Berbicara,” kataku. Suaraku menggema di ruangan berbentuk cincin itu. “Rumornya sudah sampai ke desa paling selatan. Sisa Banul Jan terlihat di perbatasan Mu.”
Tidak ada jawaban.
Penjaga Timur akhirnya angkat bicara. Wajahnya datar, tapi matanya gelisah.
“Dan Pasukan Langit?”
Aku mengepalkan tangan di balik jubah putihku.
“Bergerak. Turun ke lapisan awan ketiga. Bersama Azazil.”
Kali ini seluruh ruangan menarik napas.
“Jika mereka turun,” lanjutku, memaksa suaraku tetap tenang, “hukum Langit akan berlaku. Tidak ada negosiasi. Tidak ada pengecualian. Mereka akan membersihkan Banul Jan... dan apa pun yang ada di sekitarnya.”
“Termasuk kita.” Potong Penjaga Barat.
Aku mengangguk pelan.
“Termasuk Agharta.”
Tidak ada suara dari penjaga.Hanya suara cahaya biru yang berdenyut.
Master Yao menatapku dari kursi paling tinggi Ia tidak ikut bicara. Sejak awal ia menyerahkan ini padaku. Ujian.
Ia ingin tahu apakah aku layak berdiri di samping Utara... atau hanya akan jadi beban.
“Kita punya dua pilihan,” kataku.
“Pertama. Membuka gerbang dan menyambut Pasukan Langit. Berharap mereka hanya mengejar Banul Jan.”
Aku jeda. Menatap satu-satu wajah para Penjaga.
“Kedua. Menutup gerbang. Menghadapi Banul Jan sendiri. Dan menanggung risiko jika kita kalah.”
Penjaga Selatan tertawa kecil, getir.
“Dua-duanya sama saja dengan kematian, Zhuin.”
“Iya,” jawabku. “Tapi yang satu kematian dengan kehormatan. Yang satu lagi... kematian karena kita menyerahkan segalanya pada orang lain.”
Aku berjalan ke tengah cahaya biru. Di dalamnya muncul bayangan: sayap-sayap perak, tombak cahaya, dan satu sosok dengan mata sedingin es. Azazil.
“Master Yao pernah berkata,” bisikku, lebih ke diriku sendiri.
“Penjaga tidak memilih perang. Penjaga memilih apa yang layak dijaga.”
Aku menoleh ke pintu. Di luar sana, Utara pasti sedang menunggu.
“Keputusan kita?” tanyaku.
Dua belas pasang mata menatapku.
Dan di luar istana, angin utara mulai berhembus lebih kencang.