Ares Sudibyo, pewaris keluarga kaya, tidak pernah percaya pada perempuan. Sejak ibunya meninggalkan ayahnya demi pria yang lebih kaya, ditambah pengkhianatan yang dialami pamannya dan dirinya sendiri, Ares memilih menjauh dari pernikahan.
Namun, pertemuannya dengan Alisha Prameswari secara tidak sengaja mengubah sesuatu dalam dirinya. Aroma tubuh Alisha justru membuatnya penasaran karena tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan penolakan, sensasi yang tak pernah ia rasakan dari perempuan lain.
Ketika mengetahui Alisha membutuhkan biaya pengobatan untuk adiknya, Ares menawarkan sebuah kontrak: menanggung seluruh biaya pengobatan, dengan syarat Alisha bersedia memenuhi kebutuhan biologisnya. Setiap kali bersama Ares, Alisha harus menutup mata, sebuah aturan yang tak pernah dijelaskan.
Ares yakin hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan. Namun ketika ketergantungan mulai tumbuh, sanggupkah ia melepaskan Alisha yang memilih mengakhiri kontrak dan mencari pendamping baru dalam hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11. Sebelum Aku Melihat Wajahmu
Ponsel bawahan Reki bergetar. Ia yang masih berada di ruang kerjanya segera membuka pesan tersebut. Matanya bergerak membaca balasan dari Alisha.
> Baik. Saya bersedia.
Pria itu mengembuskan napas lega. Setidaknya, keputusan yang cukup rumit itu akhirnya mendapat jawaban.
Ia segera meneruskan pesan tersebut kepada Reki.
Beberapa saat kemudian, ponsel Reki berbunyi. Reki membuka pesan yang masuk, lalu membaca dua kata itu. Senyum tipis muncul di wajahnya.
Ia bangkit dari kursi dan berjalan menuju ruangan Ares. Setelah mengetuk, ia masuk.
“Tuan.”
Ares yang sedang memeriksa beberapa dokumen mengangkat pandangan. “Ada apa?”
“Nona Alisha sudah menjawab. Dia bersedia,” ujar Reki.
Ares meletakkan penanya. Tatapannya turun pada layar ponsel Reki ketika pria itu menunjukkan pesan tersebut.
Hanya tiga kata. Ares meletakkan ponsel Reki di meja, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Jari-jarinya yang sejak tadi mengetuk pelan di atas meja akhirnya berhenti.
"Siapkan pernikahannya."
“Baik, Tuan," ucap Reki.
Ia baru akan bertanya kapan akan diadakan pernikahannya saat Ares menambahkan,
“Besok.”
Reki sempat mengira dirinya salah dengar. “Besok?”
Ares mengangguk. “Besok kami nikah. Bilang sama dia agar dia bersiap."
Reki terdiam sesaat sebelum mengangguk. “Akan saya atur.”
Ia hendak berbalik, tetapi kemudian berhenti. “Ada satu hal, Tuan. Sebaiknya Anda sendiri yang menyampaikan jadwal ke Nona Alisha. Dari awal komunikasinya lewat saya terus. Sekarang dia sudah setuju, kesannya jadi kaku kalo masih lewat orang ketiga.”
Ares mengernyit. “Aku gak ada yang perlu dibicarakan sama dia.”
“Satu pesan aja, Tuan. Besok kita menikah.” Reki tersenyum tipis. “Lagipula ke depannya, kalo ada hal pribadi yang perlu dikomunikasikan, apa Anda yakin gak mau chat dia sendiri?”
Ares menyandarkan tubuhnya ke kursi. Ada sedikit keraguan di wajahnya...
Ia hanya tidak terbiasa membuka percakapan langsung dengan perempuan. Apalagi perempuan yang besok akan menjadi istrinya.
Reki membuka kunci layar ponselnya. “Saya kirim nomor Nona Alisha ke ponsel Tuan.” Reki segera mengirimkan kontak tersebut.
Beberapa detik kemudian, ponsel Ares berbunyi. Ia membuka kontak yang baru diterimanya, lalu menyimpannya dengan nama Alisha Prameswari.
“Persiapan tetap kamu yang urus,” kata Ares.
“Tentu," jawab Reki.
“Penghulu, wali, saksi, tempat, semuanya.”
“Baik, Tuan.” Lalu Reki memastikan. "Untuk Nona Alisha, Anda yang bicara.”
"Hm," jawab Ares singkat sambil memasukkan ponselnya ke saku.
Reki mengangguk. “Oke. Semua sudah clear.” Ia menunduk sopan, lalu ia berbalik dan meninggalkan ruangan.
Setelah pintu tertutup, Ares kembali mengeluarkan ponselnya. Ia membuka kontak Alisha, namun jarinya sempat berhenti sejenak sebelum mulai mengetik. Entah kenapa, menulis pesan untuk seorang perempuan terasa lebih canggung daripada yang ia kira.
Setelah selesai, ia membaca pesan itu sekali, lalu menekan tombol kirim.
Di tempat lain, Alisha masih berada di kantornya.
Jam kerja hampir berakhir. Ia mulai merapikan beberapa dokumen di atas meja, memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas, lalu mematikan komputer.
Sesekali, pandangannya jatuh pada ponsel yang tergeletak di samping laptop.
Sejak mengirim pesan bahwa dirinya bersedia, belum ada balasan apa pun.
Alisha mengirimkannya tepat di detik-detik terakhir sebelum batas waktu yang diberikan pihak Ares berakhir. Setelah itu, ia hanya bisa menunggu.
Mungkin pihak Ares menganggap jawabannya terlambat.
Atau mungkin mereka memang tidak lagi membutuhkan dirinya.
Alisha memasukkan beberapa dokumen terakhir ke dalam tas. Ada rasa lega karena akhirnya ia sudah menentukan pilihan, tetapi bersamaan dengan itu muncul kegelisahan yang sulit diabaikan.
Kalau tawaran itu benar-benar sudah dianggap tidak berlaku, apa yang akan ia lakukan? Bayangan tagihan rumah sakit kembali melintas di pikirannya.
Alisha menghela napas, lalu meraih ponselnya. Layar masih sama. Tidak ada pesan baru. Ia baru hendak memasukkannya ke dalam tas ketika tiba-tiba—
Ting! Satu notifikasi muncul.
Alisha mengerutkan kening. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak tersimpan. Ia membukanya.
> Besok kita menikah. Persiapannya saya yang urus. Waktu dan tempatnya akan saya kirim setelah semuanya siap.
Alisha membeku. Matanya bergerak membaca pesan itu sekali lagi.
“Besok... kami nikah?”
Jantungnya berdetak lebih cepat. "Nomor ini..."
Alisha menatap layar beberapa saat sebelum akhirnya mengetik.
> Anda Tuan Ares?
Balasan datang beberapa detik kemudian.
> Ya.
Hanya satu kata. Namun, cukup untuk membuat Alisha kembali menatap layar tanpa tahu harus menjawab apa.
Selama ini semua pembicaraan mengenai dirinya dan Ares selalu disampaikan melalui orang lain. Kini, untuk pertama kalinya, laki-laki yang namanya tak tertera di dalam kontrak itu berbicara langsung kepadanya.
Alisha menggigit bibir bawahnya, lalu mengetik perlahan.
> Baik. Saya tunggu info selanjutnya.
Pesan itu terkirim. Kali ini balasan Ares tidak langsung muncul. Alisha menunggu beberapa detik, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
Ting!
Ponselnya kembali berbunyi. Alisha segera meraihnya. Ada dua pesan baru dari nomor Ares. Pesan pertama hanya berisi sebuah alamat. Pesan berikutnya menyusul beberapa detik kemudian.
> Besok setelah pulang kantor, langsung ke alamat itu. Pukul tujuh kita nikah.
Alisha terdiam. Semuanya terasa begitu cepat. Ia baru saja menyatakan bersedia beberapa menit lalu, dan sekarang waktu serta tempat pernikahan sudah ditentukan. Jarinya bergerak mengetik.
> Baik.
Pesan terkirim. Alisha menatap layar beberapa saat sebelum mengembuskan napas panjang.
Besok sepulang kerja ia harus langsung pergi ke alamat yang diberikan Ares. Artinya, besok ia tidak bisa datang ke rumah sakit dan menemani Raka seperti biasanya.
Ia akan menikah dengan seorang pria yang namanya saja baru ia kenal.
Aneh. Seharusnya pikiran itu membuatnya takut. Namun yang terasa justru debaran yang sulit ia abaikan.
Alisha menggenggam tali tasnya sedikit lebih erat.
"Semoga aku gak salah ngambil keputusan."
Ia menatap alamat itu sekali lagi sebelum mematikan layar ponselnya. Namun satu pertanyaan terus berputar di kepalanya.
Seperti apa sebenarnya wajah pria yang akan menjadi suaminya?
...✨“Ketika hidup hanya menyisakan sedikit pilihan, keputusan yang paling berat bukanlah memilih apa yang kita inginkan, melainkan menentukan batas yang tetap ingin kita pertahankan.”✨...
.
To be continued
Ares melihat Yudhis menyerahkan kotak kecil berisi kue putu.
Alisha berbinar matanya, Yudhis masih ingat kue putu kesukaannya.
Ares yang melihat itu, rahangnya mengeras.
Cemburu nih Ares 😄
Ares masih tidak mengijinkan Alisha melepas penutup matanya.
Sebentar lagi katanya.
Ares mungkin masih menguji kesabaran Alisha.
Ares ingin Alisha datang bukan karena kontrak.
Mungkin yang dimaksud Ares, Alisha datang karena hatinya sudah tertaut kepadanya, walaupun belum lihat wajah Ares.
Toh Alisha juga merasa nyaman ketika tidur dalam pelukan Ares.
Ares memeluk Alisha, aromanya menenangkan.
Pakaian Ares bau parfum perempuan. Padahal tidak terjadi kontak fisik.
Seperti parfum mobil, kalau kita keluar parfumnya serasa menempel di baju 😄
Aroma parfum perempuan itu bikin kepala Ares mulai berat.
Jendela sudah di buka, namun rasa mual perlahan naik dari perut Ares, denyutan semakin terasa di kepalanya.
Perempuan itu sudah diusir keluar.
Kepala Ares masih berdenyut dan perutnya semakin terasa tidak nyaman.
Karena emang dia yg sebenarnya sampah 😔
kalo ada pria kaya gini didunia nyata ta porotin duitnya 🤣🤣🤣🤣🤣 dibius trus tinggalin di hutan angker biar gila sekalian 🤣🤣🤣🤣
ga takut alisha diambil orang tuan Ares 🤭...
jom diresmiin, biarkan dia dengan tenang mengandung penerus mu....
jd ga akan ada yg ganggu lagi👍
Eeeh ternyata diangkat Ares tubuh Alisha menuju kamar mandi karena habis jatuh terantuk kaki nakas.
Ares memang aneh nggak mau dilihat wajahnya. Nyaris ketahuan tadi.
Dua hari Ares menyesuaikan diri memeluk Alisha dulu. Alisha juga nyaman-nyaman saja.
Uang bulanan sudah ditransfer ke rekening Alisa. Ares baik sekali.
Baru dinikahi belum diapa-apain.
Baru menemani tidur, baru melingkarkan tangannya ke pinggang Alisha.
Semangat Kak Nana... Up Bab Barunya ya, Kak 🙏🙏🙏