NovelToon NovelToon
Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Penyesalan Ceo: Mantan Istriku Ternyata Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Anak Genius / CEO
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Finus Ina

"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis

Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan

Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 21

happy reading guys

------------------------------

Bab 21: Pacuan Detak Jantung

Langkah kaki Anastasia Wijaya yang semula tegas membelah kerumunan wartawan di selasar gedung pengadilan seketika terhenti sempurna.

Udara pagi di sekitarnya mendadak terasa mendingin, seolah pasokan oksigen di paru-parunya lenyap dalam satu ketukan detik yang kejam.

Bisikan Sekretaris Hendra mengenai kondisi Devan yang kembali kritis laksana petir yang menyambar tepat di atas kepalanya.

Kemenangan mutlak atas Samuel Amalia dan paku mati hukum untuk Paman Kornelius yang baru saja ia raih di ruang sidang, mendadak terasa begitu hambar dan tidak berarti.

"Buka jalan! Sekarang!"

raung Anastasia dengan nada suara yang meninggi penuh kepanikan, mengabaikan seluruh citra dirinya sebagai pimpinan tertinggi Wijaya Corps yang biasanya selalu tenang.

Belasan pengawal unit taktis langsung merangsek maju, membuat barikade kokoh untuk memecah barisan wartawan yang terus mencecar pertanyaan.

Anastasia berlari tertatih-tatih di atas sepatu hak tingginya, menerobos pintu keluar menuju pelataran parkir khusus.

Pintu limosin putih dibuka dengan sentakan kasar dari luar.

Anastasia melompat masuk, disusul oleh Hendra yang langsung mengomandoi seluruh iring-iringan mobil untuk bergerak membelah jalanan dengan kecepatan penuh.

Di dalam kabin belakang limosin yang melaju kencang, Anastasia menatap ke luar jendela dengan pandangan mata yang berkaca-kaca.

Air mata yang selama lima tahun ini jarang ia keluarkan, kini mengalir deras tanpa bisa ia bendung lagi.

Di hadapannya, Alta dan Arka duduk terdiam sembari menatap wajah pias maminya.

Melihat sepasang putra kembarnya berada di sana, benak Anastasia mendadak berputar balik (flashback) mengingat rentang waktu fajar tadi, sebelum ia melangkah kaki menuju gedung pengadilan...

------------------------------

[Kilas Balik - Pukul 07.30 WIB]

Pagi itu, sebelum fajar menyingsing seutuhnya, Anastasia sebenarnya tidak berniat membawa Alta dan Arka keluar dari area aman kediaman utama Keluarga Wijaya.

Setelah menyusun strategi aliansi siber darurat bersama Devan melalui sambungan telepon rumah sakit pada pukul empat subuh, Anastasia meminta Bibi pengasuh untuk menjaga ketat si kembar di ruang bermain lantai atas.

Namun, Alta yang memiliki kecerdasan gifted tingkat tinggi dan pendengaran yang sangat pekat, mendadak menangkap gelagat yang tidak wajar dari raut wajah sang pengasuh yang tampak cemas.

Menggunakan jam tangan pintar merahnya yang diam-diam telah terhubung kembali ke jaringan peladen rumah, Alta meretas jalur interkom internal kediaman untuk menguping pembicaraan Anastasia dan Sekretaris Hendra di ruang kerja bawah.

Di sana, Alta dan Arka mendengar dengan jelas bagaimana Ayah mereka, Devan Mahendra, sedang bertaruh nyawa di ruang ICU akibat pendarahan baru demi menyelamatkan data perwalian mereka.

Saat Anastasia bersiap melangkah keluar menuju mobil limosinnya pada pukul delapan kurang lima belas menit, langkah kakinya mendadak terkunci rapat di area lobi depan.

Alta dan Arka sudah berdiri di sana, mengenakan pakaian formal kasual mereka dengan rapi, didampingi oleh Bibi pengasuh yang tertunduk ketakutan karena tidak mampu menahan keras kepalanya si kembar.

"Mami, kami harus ikut,"

ucap Alta pagi itu, sepasang netra elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Anastasia tanpa sepeser pun rasa gentar.

"Pria di rumah sakit itu terluka karena memelukku dari pisau orang jahat. Kakek selalu bilang kita tidak boleh bersembunyi saat pelindung kita sedang sekarat. Alta ingin melihat keadilan ditegakkan di pengadilan, dan Alta ingin berada di sana saat Ayah membuka matanya."

Arka ikut menangis sembari memeluk erat pinggang Anastasia.

"Arka mau ikut Mami... Arka takut kalau Paman mirip Ayah itu pergi ke langit sebelum Arka bilang terima kasih..."

Melihat ketetapan hati yang luar biasa matang dari kedua putranya, Anastasia akhirnya luluh.

Ia menyadari bahwa mengurung si kembar di rumah hanya akan menyiksa batin mereka yang telanjur pekat.

Akhirnya, Anastasia memutuskan membawa mereka masuk ke dalam limosin utama di bawah pengawalan ketat Sekretaris Hendra, dengan syarat mereka harus tetap menunggu di dalam mobil VIP yang dijaga ketat di area parkir pengadilan selama sidang berlangsung.

Itulah alasan mengapa begitu sidang selesai diketukkan dan berita kritis Devan datang, Alta dan Arka sudah berada di dalam rangkaian mobil yang sama, siap berpacu dengan waktu menuju rumah sakit.

------------------------------

[Kembali ke Masa Sekarang - Koridor ICU]

Anastasia mengakhiri kilas balik batinnya tepat saat ban limosin berdecit keras menyentuh pelataran khusus VIP Rumah Sakit Pusat Jakarta.

Pintu mobil terbuka, dan Anastasia langsung menggandeng erat tangan Alta dan Arka, berlari cepat menyusuri selasar rumah sakit menuju lobi utama lantai ICU.

Begitu mereka tiba di depan pintu kaca tebal, suasananya sudah sangat kacau.

Bunyi alarm dari mesin patient monitor terdengar berdengung pendek dan cepat dari dalam ruangan, memekakkan telinga siapa pun yang mendengarnya.

Pip-pip-pip-pip-pip!

Grafik yang menampilkan detak jantung Devan di layar monitor terus merosot tajam.

Tubuh tegap sang CEO tampak bergetar hebat akibat guncangan aktivitas saraf yang tidak stabil pasca-memaksakan otaknya memimpin pertempuran siber fajar tadi.

"Siapkan alat kejut jantung sekarang! Naikkan dosis epinefrin menjadi dua miligram!"

raung dokter kepala spesialis saraf dengan peluh yang membanjiri dahinya.

Rian, asisten pribadi Devan, berdiri mematung di balik kaca besar ruangan dengan kedua telapak tangan yang menempel erat pada permukaan kaca dengan wajah pias tanpa darah.

Anastasia tidak mampu menahan dirinya lagi.

Dengan seluruh sisa kekuatan dan keputusasaan yang membakar jiwanya, ia mendobrak pintu elektronik ruang ICU secara paksa, merangsek masuk ke dalam ruangan steril tersebut tanpa memedulikan larangan para perawat.

Hendra yang tidak bisa menahan langkah si kembar terpaksa ikut menuntun Alta dan Arka masuk di belakang Anastasia.

Anastasia menjatuhkan tubuhnya di sisi kiri ranjang Devan, mencengkeram kuat tangan kanan pria itu yang terasa begitu dingin dan kaku laksana es.

"Devan Mahendra! Bangun, bajingan! Saya memerintahkanmu untuk bangun!"

raung Anastasia histeris, suaranya parau dan melengking membelah ketegangan medis.

"Kamu belum membayar seluruh air mata yang kukeluarkan selama lima tahun ini! Kamu tidak boleh pergi sesuka hatimu setelah mengacaukan seluruh duniaku! Bangun, Devan... Aku memaafkanmu... Aku bersumpah sudah memaafkanmu..."

Namun, tepat di tengah jeritan histeris Anastasia yang menyayat hati, bunyi alarm mesin monitor dari dalam ruangan mendadak berubah menjadi satu nada berdengung panjang yang teramat mengerikan.

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnn...

Garis grafik detak jantung Devan di layar monitor mendadak lurus sempurna.

Flatline.

Jantung Devan Mahendra resmi berhenti berdetak di pagi hari itu.

"Isi daya ke dua ratus joule! Menjauh dari ranjang! Clear!"

dokter kepala berteriak lantang sembari menempelkan alat kejut jantung ke atas dada tegap Devan.

Jedug!

Tubuh Devan terangkat ke atas akibat hantaman arus listrik darurat, namun garis di layar monitor tetap lurus tanpa ada riak gerakan sedikit pun.

"Isi daya ke tiga ratus joule! Cepat! Clear!"

Jedug!

Satu hantaman kedua kembali diberikan, membuat dada Devan bergetar hebat, namun mesin terkutuk itu tetap mengeluarkan bunyi berdengung panjang yang menandakan kematian.

Dokter kepala mulai melakukan tindakan kompresi dada manual secara berulang dengan ekspresi wajah yang kian putus asa, bersiap untuk mengumumkan waktu kematian resmi sang CEO.

Di detik yang paling kritis di ambang maut tersebut, Alta perlahan melepaskan pegangan tangan Hendra.

Bocah berusia empat tahun itu melangkah maju dengan sangat tenang namun sarat akan ketegasan, berdiri tepat di sisi kanan ranjang, tepat di samping tubuh Devan yang sudah tidak bergerak.

Sepasang netra elang Alta berkilat tajam, menembus barikade tubuh para perawat yang sedang panik.

Alta perlahan mengulurkan tangan kanan kecilnya, mencengkeram kuat ujung kain seprai perawatan Devan, lalu berbicara dengan nada suara yang begitu lantang, jelas, dan berwibawa melampaui usianya.

"Tuan Devan Mahendra! Bangun!"

seru Alta, suaranya menggema tegas di dalam ruangan yang bising oleh kepanikan medis.

"Anda sudah berjanji kepada saya subuh tadi untuk menjadi pelindung kami! Jangan menyerah dan pergi seperti pria yang kehilangan ksatria! Jika Anda benar-benar menyesali kesalahan Anda di masa lalu, buktikan janji itu sekarang! Bangun!"

Kalimat ketegasan yang sarat akan tuntutan keadilan dari putra sulungnya itu seketika memotong seluruh kegaduhan di dalam ruangan.

Tepat setelah kata terakhir keluar dari bibir mungil Alta, sebuah keajaiban medis yang luar biasa mendadak terjadi.

Suara dengungan panjang dari mesin patient monitor yang semula meluruskan harapan, mendadak terputus.

Satu garis lurus di layar digital tiba-tiba melompat, membentuk satu gelombang grafik baru yang kecil namun tajam, disusul oleh bunyi ritmis yang kembali bergerak naik.

Pip... Pip... Pip...

"Dokter! Detak jantung pasien kembali! Sinyal sinusnya bergerak aktif!"

perawat senior berteriak histeris dengan sepasang mata yang melebar sempurna karena terkejut.

Bersamaan dengan kembalinya detak jantung tersebut, jemari tangan kanan Devan yang berada di dalam dekapan erat Anastasia mendadak memberikan sebuah gerakan refleks yang sangat nyata.

Pria itu meremas balik telapak tangan Anastasia dengan sisa kekuatan ringkihnya, disusul oleh setitik air mata bening yang perlahan mengalir keluar dari sudut netra elangnya yang masih terpejam rapat.

Jiwa Devan Mahendra yang semula sudah melangkah menuju kegelapan maut, seolah dipaksa ditarik kembali ke dunia nyata oleh kalimat lantang dari putra kandungnya yang menolak melihat ayahnya mati sebagai seorang pecundang.

Di tengah isak tangis kelegaan Anastasia yang kembali pecah dan kepanikan dokter yang berganti menjadi takjub, bab ini berakhir dengan kondisi yang teramat menggantung tentang bagaimana detik-detik Devan akan membuka matanya kembali esok pagi setelah berhasil menembus gerbang kematian.

------------------------------

Bersambung.....

jangan lupa tinggalin jejak yaaa

1
Ifana
padahal kk nya dipenjara, siapa orang dibalik menghilang nya Siska 🤔
Anonim
AWOKAWOK CERITA BALIKAN LAGI AWOKAWOK LAWAK
Finus Ina
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!