NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI AURORA: JERAT GAIRAH LIAR SANG TIRAN KAELEN AZRAEL

TRANSMIGRASI AURORA: JERAT GAIRAH LIAR SANG TIRAN KAELEN AZRAEL

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Mengubah Takdir
Popularitas:12.6k
Nilai: 5
Nama Author: namice

Aurora—seorang montir bar-bar dan hacker genius dunia bawah—tewas mengenaskan lalu bertransmigrasi ke raga Aletheia Elixir. Aletheia adalah istri figuran yang diabaikan dan ditakdirkan mati di tangan suaminya sendiri, Kaelen Azrael—Raja Mafia bermata merah, penguasa dunia, sekaligus pria tertampan yang dirumorkan impoten.

​Enggan mati konyol, Aurora langsung menghapus riasan menor buruk rupanya, mengungkap kecantikan aslinya yang secantik Dewita malam, lalu menyodorkan surat gugatan cerai tepat di depan wajah sang tiran!

​Namun, Aurora salah perhitungan. Sifat bar-barnya yang menolak tunduk justru menyulut ego sang tiran. Dan yang paling mengerikan... tepat saat mata merah Kaelen menatap pesona Aurora yang mencoba menolaknya, penyakit impoten sang tiran sembuh.​

Gairah Kaelen yang telah mati bertahun-tahun meledak dengan begitu liar dan haus darah.
​Bukannya bebas, Aurora justru ditarik paksa ke atas sofa. Surat cerai terhempas berantakan, digantikan kukungan penuh kuasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

POSESIF KAELAN DAN RENCANA AURORA YANG BERANTAKAN

​Kaelen menundukkan wajah tampannya yang kaku dengan gerakan sensual yang sangat agresif. Dia mengunci pergerakan wajah Rae menggunakan rahangnya, menatap lurus ke dalam sepasang mata bulat cokelat milik Rae yang kini berair karena emosi. Lalu, tanpa memberikan celah satu detik pun bagi Rae untuk memaki, Kaelen langsung membungkam bibir mungil yang ceplas-ceplos itu dengan satu lumatan ciuman maut yang sangat kental, kasar, panas, dan menuntut kepatuhan mutlak tanpa ampun.

​Mata Rae membelalak sempurna penuh dengan rasa syok yang luar biasa dahsyat. Ciuman itu datang bagaikan badai topan yang menghancurkan seluruh sistem pertahanannya. Kaelen tidak sekadar mencium; pria itu melumat, menghisap, dan menggigit bibir manis Rae dengan gairah liar yang menggila dan posesif ekstrem.

​Lidah panas sang mafia merangsek masuk dengan kasar secara paksa, membuka paksa barisan gigi Rae untuk mencicipi dan menguasai setiap inci dari kemanisan murni yang tersimpan di dalam rongga mulut sang dewi jalanan.

​"Mphhh... ugh... le-pas..." Rae mencoba meronta gila-gilaan, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk memutuskan tautan ciuman brutal tersebut. Namun, cengkeraman tangan besar Kaelen di atas kepalanya justru semakin menekan pergelangan tangannya.

​Ciuman brutal yang melumat bibir manis di atas sofa itu seakan menjadi genderang pembuka bagi sebuah pertempuran fisik yang tidak seimbang. Kaelen benar-benar telah kehilangan kendali atas akal sehatnya.

​"Lepas... mpphh..." Aletheia meronta lemah, namun paru-parunya seakan terbakar kehabisan oksigen di bawah tekanan lumatan maut itu.

​Melihat wanitanya mulai lemas kekurangan pasokan udara, Kaelen melepaskan tautan bibir mereka dengan paksa. Sebelum Rae sempat menghirup napas baru, sebuah kejutan dingin menusuk kulit lengannya. Dengan kecepatan gerak predator, Kaelen telah menyuntikkan sebuah cairan pelumas khusus medis dari saku kemejanya ke pembuluh darah Aletheia—zat penawar otot militer yang seketika membuat seluruh sendi dan otot tubuh Aurora menjadi lumpuh lemas, kehilangan kekuatan bela diri bar-barnya, namun meningkatkan sensitivitas indra perabanya menjadi berkali-kali lipat lebih pekat demi kepuasan mutlak sang Tirani.

​"Keparat... kau menyuntikku..." bisik Aletheia serak, matanya menatap tajam namun sayu karena efek obat.

​Kaelen tidak menjawab. Di atas sofa kulit panjang di ruang kerjanya, dia menuntut kepuasan mutlak melalui maraton sepuluh ronde yang akan mengunci mati kebebasan sang dewi montir.

​Ronde pertama dimulai dengan intensitas yang mengerikan. Kaelen memenjarakan tubuh Rae di bawah kungkungan tubuh besarnya. Tanpa ampun, dia menghantamkan inti kejantanannya yang telah mengeras sempurna, masuk menembus pertahanan Rae dalam beberapa kali hentakan dalam yang menghunjam kuat.

​Rae memekik tertahan di balik tenggorokannya yang kering. "Sakit..." desisnya, mahkotanya direnggut paksa oleh sang suami iblis bermata merah.

​Di setiap hentakan liar yang menghujam dalam dan menuntut itu, Kaelen membungkam mulut Rae, mencium bibir mungilnya tanpa henti, melumat sisa napas Rae dengan ciuman yang panas dan basah, memaksa Rae mengikuti ritme kegilaannya.

​Masuk ke ronde kedua, Kaelen mengubah posisi secara kejam. Dia menarik tubuh Rae untuk duduk di atas pangkuannya menghadapi dirinya sendiri. Dengan tangan besarnya yang gemetar karena candu, dia meremas gundukan kembar dada indah Rae yang kenyal.

​Di sela-sela gerakan pinggulnya yang menghantam kasar dari bawah, Kaelen menundukkan kepalanya, mengisap dan menyesap dada kenyal Rae dengan rakus seolah sedang meneguk ramuan penawar nyawa, memburu pelampiasan hingga mencapai puncak kepuasan pertama yang mengguncang menara kantornya.

​Namun, sebelum Rae sempat menghela napas, Kaelen menolak melepaskan belenggunya. Dia memutar tubuh lemas Rae membelakangi dirinya untuk ronde ketiga. Kaelen mencengkeram pinggang ramping Aletheia dari belakang, kembali menghentakkan miliknya dengan liar. Di sela gerakan dari belakang yang sangat kasar itu, kedua tangan besarnya meremas dan memilin kelembutan tubuh Rae tanpa ampun, membiarkan desahan Rae memenuhi ruangan hingga mereka berdua kembali mencapai puncak keintiman yang pekat.

​Pada ronde keempat, Kaelen mengangkat tubuh Rae secara bar-bar, membawanya ke atas meja kaca kantornya yang besar. Lembaran kertas dokumen berhamburan ke lantai marmer. Kaelen kembali menghentakkan intinya masuk dengan paksa dari depan, menekan tubuh Rae di atas kaca dingin yang kontras dengan kehangatan tubuh mereka. Sambil menggerakkan pinggulnya dengan ritme cepat yang menyiksa, Kaelen kembali mengisap puncak dada Rae dengan hisapan yang meninggalkan bekas merah baru.

​Aurora, dengan air mata yang mulai menggenang di sudut mata bulatnya karena sensasi lemas dan desakan hormon obat, memohon dengan suara seksinya yang serak. "Kaelen... hentikan... ugh, kumohon selesai..."

​Kaelen menatap wajah cantik Rae yang berantakan penuh gairah di atas meja kaca, namun kata menyerah tidak ada di dalam kamus tiraninya. Hasratnya seolah tanpa dasar; setiap kali dia menyelesaikan satu ronde, rasa lapar di dalam dadanya justru semakin terbakar hebat seakan tiada henti.

​Maraton gila itu terus berlanjut tanpa jeda.

​Di ronde kelima, Kaelen membawa tubuh Aurora ke dinding kaca besar, memaksanya menatap pemandangan kota di bawah sana dalam posisi berdiri bertumpu satu kaki, sementara miliknya menghantam dari belakang tanpa jeda. Rasa dingin kaca dan panas tubuh Kaelen membuat Rae mendesah pasrah dalam kekacauan sensasi yang kental.

​Masuk ke ronde keenam, Kaelen mendudukkan Rae di tepi meja kerja. Dia menghentakkan kejantannya dalam-dalam sambil mencium bibir Rae kembali, melumatnya secara liar hingga lidah besarnya menembus jauh ke dalam rongga mulut Rae, membungkam habis sisa suara protes sang montir cantik.

​Pada ronde ketujuh, posisi kembali berpindah ke atas sofa kulit. Kaelen duduk bersandar, membiarkan Rae berada di atas pangkuannya bergerak turun naik mengikuti kendali cengkeraman tangan Kaelen. Di sela-sela gerakan yang menguras tenaga itu, wajah Kaelen terbenam di dada Rae, meremas dan mengisap puncak kembaran Rae hingga puncaknya kembali meledak panas.

​Di ronde kedelapan, dalam kondisi ruangan yang semakin pekat oleh aroma manis dan keringat gairah, Kaelen menidurkan Aletheia menyamping di atas karpet beludru mewah, mengangkat satu kaki jenjang Rae ke bahunya dan melakukan penyerangan dalam yang membuat Rae mencengkeram erat lengan berotot sang Tirani.

​Hingga menginjak ronde kesembilan dan sepuluh, Kaelen mengangkat tubuh Rae keluar dari ruang kerja, membawanya masuk ke dalam kamar tidur rahasia di balik dinding pembatas kantornya.

​Di atas ranjang king-size yang luas, Kaelen menguasai tubuh Rae seutuhnya tanpa menyisakan setitik pun ruang kebebasan. Di sela-sela gerakan hentakannya yang paling dalam dan mematikan di ronde terakhir, dia terus menciumi bibir Rae dengan lumatan posesif. Desahan seksi dan pasrah yang keluar dari bibir mungil Rae justru terus membangkitkan hasrat Kaelen berkali-kali, membuat pertempuran dewasa itu baru benar-benar mereda ketika fajar mulai menyingsing di jendela kamar.

​Suasana kamar mendadak hening, hanya menyisakan deru napas Kaelen yang memburu pelan. Tubuh bidadari Rae terbaring lemas, rapuh, namun terlihat luar biasa seksi dengan kulit porselennya yang kini dipenuhi tanda merah pekat dari leher hingga paha.

​Kaelen menundukkan wajah tampannya, mengekecup bibir bengkak Rae sekali lagi dengan lumatan lembut, lalu mendekatkan bibir tipisnya tepat di depan daun telinga Rae yang sedang memejamkan mata kelelahan.

​"Mine... Kau milikku, Aletheia Elixir," bisik Kaelen. "Tidak ada kata cerai, Sayang, di kamusku," bisiknya kembali dengan suara baritonnya yang teramat berat, serak, dan dipenuhi penekanan absolut yang mematikan. "Di dunia ini, atau di dunia mana pun, takdirmu sudah terkunci di tanganku sejak kau melangkah masuk ke mansion ini dan menjadi istriku."

​Mata merahnya yang menyala bagaikan iblis telah menemukan jiwanya yang hilang.

​"Ingat ini baik-baik di dalam otak jeniusmu, Istriku... aku tidak akan pernah melepaskanmu. Sampai mati pun, kau tetap milikku. Aku mengizinkanmu keluar dari mansion ini dan beraktivitas seperti biasa di luar sana... Tapi ingat kata-kataku, Sayang. Jika aku menginginkan tubuhmu kembali, kau harus siap melayaniku di mana pun dan kapan pun aku mau! Dan jangan pernah sesekali kau berani berdekatan atau tersenyum pada pria lain... Hukumannya, aku bersumpah kau tidak akan pernah bisa turun dari ranjang ini lagi seumur hidupmu!"

​Walaupun sepasang mata merah mautnya masih berkilat memancarkan sisa gairah liar yang ingin kembali menerkam, Kaelen akhirnya memilih melepaskan kuncian tubuhnya. Dia menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh lemas Rae. Kaelen menyunggingkan senyum miring tiraninya yang penuh kemenangan mutlak karena telah berhasil menjinakkan sang istri di bawah otoritas tiraninya.

​Malam itu menjadi malam yang paling panjang dan penuh ketegangan bagi Rae. Semua pertahanan siber, kemampuan meretas, dan ketangguhan bar-barnya runtuh di hadapan kekuatan fisik dan dominasi absolut sang Raja Mafia. Kaelen benar-benar menuntaskan hasrat liarnya yang baru bangkit tanpa ampun, menyentuh Rae dengan intensitas yang menggila—menyampaikan satu kebenaran mutlak yang membuat alur cerita novel ini berubah arah selamanya: bahwa malam ini, raga dan jiwa sang dewi montir telah sepenuhnya terjerat dalam sangkar emas sang Raja Mafia yang tidak akan pernah melepasnya lagi seumur hidup.

1
Nur Janah
suka ceritanya.....👍👍Rea tangguh n bar bar,,
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku dan suka 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
namice
🤣🤣🤣🤣 terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
Sulati Cus
sekalinya hidup🤔
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
hukuman ranjang yg extrem🤣
namice: 🤣🤣🤣... terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
astaga kebayang nggak sih 10ronde🤔 pertama melakukan alamat ...
namice: 🤣🤣🤣 terimakasih banyak ya kak baca novel ku 🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
Sulati Cus
lanjut langsung tak favorit
namice: 😘😘😘, terimakasih banyak ya kak sudah baca novel ku, aku sudah update satu bab lagi kak... 😘😘😘🌹🌹🌹🌹
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!