Pernikahan Aurora dengan Jonathan Carser—menjadi neraka saat ia menjadi korban pengkhianatan dan manipulasi.
Puncaknya, ia dipaksa menghadapi keraguan sang suami atas bayi laki-laki nya yang terlahir dengan paras begitu mirip dengan mantan kekasih masa lalunya, Braxley Valerio-Desmon.
Ketika kebenaran mulai terkuak dan Jonathan semakin brutal meluapkan amarahnya, Siapkah Aurora menghadapi kenyataan pahit, menerima kebenaran?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
017
Pagi berganti dengan ritme yang jauh lebih tenang di sayap kanan Mansion Valerio-Desmon.
Cahaya keemasan menembus tirai tipis, membiaskan kehangatan di atas sprei sutra yang masih kusut. Di atas tempat tidur raksasa itu, dua raga saling bertautan dalam keheningan yang sarat akan kedamaian baru.
Braxley terbangun lebih dulu. Manik mata cokelat gelapnya terbuka perlahan, langsung disambut oleh paras lembut Aurora yang masih tertidur pulas di dalam dekapannya.
Napas wanita itu terdengar halus, teratur, tanpa ada lagi sisa kepanikan atau guncangan histeris seperti kemarin sore.
Dahi mulusnya tidak lagi berkerut oleh ketakutan, dan helai rambut hitamnya terurai mengitari dada bidang Braxley.
Pria itu mengusap lembut pipi Aurora dengan buku jarinya. Sensasi mual yang biasa merayap secara tak kasat mata saat ia menatap keintiman mereka kini sirna, tergantikan oleh rasa lega yang teramat sangat.
Perjuangan yang ia lakukan kemarin—melawan dorongan psikosomatis di kepala demi menyatukan cinta mereka secara utuh—telah membuahkan hasil. Benteng trauma itu mulai retak dan runtuh.
Aurora bergerak kecil, mengerjap perlahan hingga manik matanya yang jernih bertatapan langsung dengan Braxley.
"Selamat pagi, calon istriku," bisik Braxley dengan suara serak khas bangun tidur, menyunggingkan senyuman paling hangat yang jarang ia perlihatkan pada dunia luar.
Aurora tersenyum tipis, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Braxley sejenak untuk menghirup aroma khas pria itu. "Selamat pagi, Axley..."
Tidak ada lagi kecanggungan. Tidak ada lagi rasa mual atau tuduhan jijik. Hanya ada dua jiwa yang akhirnya menerima kehancuran masa lalu masing-masing untuk dibangun kembali menjadi satu fondasi yang tak terkalahkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul sepuluh pagi, ruang perpustakaan pribadi di lantai dua mansion disulap menjadi area konsultasi yang sangat steril dan tertutup.
Seorang pria paruh baya berkacamata tebal dengan setelan jas rapi—Dr. Harrison, psikiater senior dan spesialis trauma terapi terbaik di pantai barat Amerika Serikat—duduk di hadapan Braxley dan Aurora.
Di atas meja kayu mahoni di antara mereka, tersaji tiga cangkir teh hangat yang masih mengusapkan uap tipis.
Austin Jaxon dan Zephyr Desmon sengaja menjaga area luar perpustakaan bersama puluhan pengawal pribadi, memastikan tidak ada satu pun gangguan atau kebocoran informasi mengenai sesi konsultasi ini.
"Gejala psikosomatis yang Anda alami, Tuan Desmon," ujar Dr. Harrison lembut setelah mendengarkan penjelasan jujur dari Braxley, "Adalah manifestasi dari Menyesal dan Trauma. Rasa bersalah yang teramat dalam karena merasa gagal melindungi Nona Aurora di masa lalu memicu mekanisme pertahanan diri yang keliru. Otak Anda memproyeksikan rasa jijik pada diri sendiri, bukan pada Nona Aurora."
Braxley menggenggam erat jemari Aurora di atas pangkuannya, mendengarkan penjelasan dokter itu dengan rahang yang terkatut rapat.
"Dan bagi Anda, Nona Aurora," Dr. Harrison beralih menatap Aurora dengan senyuman empati, "konferensi pers Jonathan Carser kemarin hanyalah pemantik bagi trauma abuse dan rasa tidak berharga yang dipupuk selama pernikahan itu. Jonathan sengaja menggunakan mekanisme manipulasi tingkat tinggi untuk membuat Anda merasa kotor dan tidak pantas."
Aurora menarik napas panjang, mengangguk perlahan. "Lalu... apa yang harus kami lakukan, Dok?"
"Kalian berdua sudah mengambil langkah terbesar kemarin," jawab Dr. Harrison mantap. "Tuan Desmon berhasil menembus blokade psikosomatisnya demi membuktikan cintanya, dan Anda, Nona Aurora, memilih untuk memahami ketimbang menghakimi. Komunikasi dan keberanian kalian untuk menghadapi kenyataan adalah obat terbaik."
Dr. Harrison memberikan beberapa catatan strategi terapi kognitif dan perilaku untuk mengurai sisa-sisa trauma mereka secara bertahap dalam beberapa minggu ke depan.
Konsultasi itu ditutup dengan secercah harapan besar: luka mental mereka sangat bisa disembuhkan secara total.
Sementara itu, di luar sana, badai kejam yang diciptakan oleh Jonathan Carser di media massa justru berbalik menghantam dirinya sendiri dengan dampak sepuluh kali lebih mematikan.
Di ruang kerja utama, Austin Jaxon berdiri menghadap jendela kaca raksasa dengan cerutu di jarinya. Di sampingnya, Baxeena dan Clark sedang memantau perkembangan serangan balik dinasti Desmon yang sedang berlangsung di seluruh penjuru negeri.
"Bagaimana dampaknya, Clark?" tanya Austin dengan suara dingin yang memancarkan kekuasaan tanpa batas.
"Luar biasa, Tuan Austin," Clark melaporkan dengan binar kepuasan. "Atas perintah Anda dan Tuan Braxley semalam, jaringan media raksasa di bawah Desmon Media Group telah merilis bukti rekaman CCTV eksklusif dari Mansion Carser beberapa bulan lalu. Rekaman itu memperlihatkan secara jelas bagaimana Jonathan melakukan penganiayaan verbal, ancaman fisik, serta manipulasi terhadap Nona Aurora."
Baxeena menimpali dengan senyuman sinis. "Bukan hanya itu, Dad. Hasil tes DNA resmi Draco dari laboratorium independen internasional yang membuktikan $99,99%$ kalau Draco adalah anak kandung Braxley sudah dipublikasikan secara serentak di halaman utama seluruh koran nasional. Narasi Jonathan yang menyebut Draco sebagai 'benih haram' kini justru membongkar kepalsuan dan niat jahatnya sendiri."
"Bagaimana dengan tanggapan publik?" tanya Zephyr yang baru saja melangkah masuk ke ruangan kerja tersebut.
"Publik berbalik total membela Nona Aurora, Nyonya," jawab Clark tegas.
"Jonathan Carser kini tidak hanya dihujat oleh seluruh masyarakat sebagai pria abusif dan Manipulatif, tetapi jaksa penuntut umum juga baru saja mencabut jaminan penahanannya atas dugaan pelanggaran hukum pencemaran nama baik berat dan kesaksian palsu."
Austin menyunggingkan senyuman dinginnya. "Pastikan pria bajingan itu menghabiskan sisa hidupnya di balik jeruji besi tanpa ada akses remisi sedikit pun."
"Siap, Tuan."
...****************...
Sore harinya, kedamaian benar-benar kembali menyelimuti Mansion Valerio-Desmon.
Di taman belakang yang luas, berhadapan langsung dengan pemandangan cakrawala kota yang mulai memerah oleh senja, Aurora duduk di atas ayunan kayu berukir.
Draco berada di dalam kereta bayi eksklusif di sampingnya, tertawa geli saat Zephyr dan Baxeena sibuk memainkan boneka beruang di hadapannya.
Braxley melangkah menghampiri Aurora, membawa dua cangkir cokelat hangat. Pria itu menyerahkan satu cangkir pada Aurora, lalu mengambil tempat duduk di samping wanita itu di atas ayunan.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Sayang?" tanya Braxley lembut, merangkulkan lengannya di bahu Aurora.
Aurora menyandarkan kepalanya di dada tegap Braxley, menghirup dalam-dalam aroma sandalwood yang kini terasa begitu menenangkan tanpa ada lagi bayang-bayang trauma.
"Aku merasa... sangat ringan, Axley," bisik Aurora tulus. "Seolah-olah seluruh beban tebal yang menekan dadaku selama ini akhirnya diangkat sepenuhnya."
Braxley mengepalkan tangannya pelan, menatap lurus ke arah matahari terbenam yang memancarkan warna jingga keemasan yang memukau.
"Jonathan sudah kembali ditangkap satu jam yang lalu," ujar Braxley dengan nada tenang namun sarat kemenangan. "Dia tidak akan pernah bisa menyentuh, melihat, atau menyebut namamu lagi seumur hidupnya."
Aurora menoleh, menatap garis rahang tegas calon suaminya itu. Tidak ada lagi ketakutan di dalam matanya. Kehancuran yang dirancang oleh musuh mereka justru makin memperkokoh ikatan cinta di antara mereka.
"Pernikahan kita tinggal satu minggu lagi," bisik Braxley, menatap mata Aurora dengan binar pemujaan yang pekat. "Apakah kau sudah siap menjadi Nyonya Valerio-Desmon yang seutuhnya?"
Aurora tersenyum sangat manis, sebuah senyuman murni yang akhirnya kembali menghiasi wajah cantiknya secara utuh. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Braxley dan mengecup bibir pria itu dengan kelembutan yang mendalam.
"Aku harusnya siap sejak bertahun-tahun lalu, Tuan Desmon," jawab Aurora mantap.
😔
makin prokdutif banget thor bulan ini udh baru lgi muncul🥳