"Arya Pratama adalah mahasiswa miskin yang hidup pas-pasan. Satu-satunya kebanggaannya adalah Kirana, pacar tercantik di kampus.
Namun segalanya hancur saat Kirana datang dengan kabar: ""Aku hamil."" Keluarga Kirana yang kaya raya menghina dan mengusirnya.
Dunia Arya runtuh—hingga sebuah sistem misterius aktif di kepalanya: [Sistem Ayah Level Dewa]. Setiap langkah tanggung jawabnya sebagai ayah diganjar hadiah luar biasa: uang miliaran, saham, teknologi canggih.
Kini Arya berjuang melawan preman, fitnah, dan musuh politik, sambil membangun kerajaan bisnis. Bisakah ia membuktikan bahwa menjadi ayah muda bukanlah akhir—melainkan awal dari segalanya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Surya Mandala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19
Bab 019 - Sidang Skripsi
Di tengah polisi, pengacara, kampus, dan keluarga, Arya hampir lupa satu hal.
Ia masih mahasiswa tingkat akhir.
Pagi itu, Rizky mengirim pesan pukul enam.
Sidang skripsimu jam sembilan. Jangan telat karena sibuk jadi tokoh utama berita kampus.
Arya menatap kalender.
Ia benar-benar lupa.
Kirana yang sedang minum susu hangat melihat wajahnya.
"Apa?"
"Sidang skripsi."
"Hari ini?"
"Jam sembilan."
Sari dari dapur langsung tertawa. "Hebat. Orang lain lupa ulang tahun pacar. Kamu lupa sidang kelulusan."
Arya berdiri cepat.
Laptop. Flashdisk. Map skripsi. Kemeja putih. Jas hitam.
Semua bergerak dalam sepuluh menit.
Kirana membantu memasang dasi. Tangannya masih gemetar sedikit, tapi wajahnya lebih hidup dari beberapa hari lalu.
"Judulmu apa?"
"Perancangan Sistem Manajemen Lalu Lintas Kota Cerdas Berbasis IoT."
"Kedengarannya mahal."
"Semoga dosen juga merasa begitu."
Kirana tersenyum.
Sebelum berangkat, ia memegang lengan Arya.
"Lulus ya."
"Perintah istri?"
"Perintah calon ibu dua anak yang masih belum tahu isinya satu atau dua."
Arya tertawa.
Ia mencium punggung tangan Kirana, lalu pergi.
Ruang sidang skripsi Fakultas Teknik berada di lantai tiga. Di depan pintu, beberapa mahasiswa menunggu giliran. Saat Arya datang, percakapan mereka berhenti.
Bisik-bisik dimulai lagi.
"Itu Arya."
"Yang kasus Kirana?"
"Katanya lawan Hartono."
"Mobilnya gila."
Arya berjalan melewati mereka.
Ia sudah belajar sesuatu dari kelas Profesor Sudarso.
Diam yang tegak lebih kuat dari penjelasan panjang.
Di dalam ruang, tiga dosen penguji menunggu.
Profesor Sudarso duduk di tengah sebagai penguji tamu dari Fakultas Ekonomi karena tema smart city punya sisi kebijakan publik.
Di kiri ada Profesor Megawati, pakar sistem informasi.
Di kanan Profesor Rahman, dosen jaringan dan komputasi.
Ketiganya tampak lelah.
Sidang skripsi mahasiswa biasanya panjang karena salah format, diagram kabur, atau jawaban berputar.
Arya menyalakan laptop.
"Selamat pagi. Nama saya Arya Pratama. Hari ini saya akan mempresentasikan rancangan sistem manajemen lalu lintas kota cerdas berbasis IoT dengan optimasi prediksi kepadatan menggunakan model pembelajaran mesin ringan."
Profesor Rahman mengangkat kepala.
Profesor Megawati berhenti membalik halaman.
Arya mulai.
Lima menit pertama, ia menjelaskan masalah: kemacetan Surabaya, lampu lalu lintas statis, data jalan yang tersebar.
Lima menit berikutnya, ia masuk ke arsitektur: sensor, kamera, edge device, server pusat, dashboard pengambilan keputusan.
Saat slide kesepuluh muncul, Profesor Megawati maju sedikit.
"Tunggu. Diagram alur data ini kamu buat sendiri?"
"Iya, Prof."
"Kenapa kamu pisahkan data real-time dan data historis di dua pipeline?"
"Agar sistem tetap responsif saat koneksi turun. Data real-time untuk keputusan menit ini, data historis untuk prediksi pola. Jika jaringan padat, edge device tetap bisa memberi rekomendasi lokal."
Profesor Megawati menulis cepat.
Profesor Rahman bertanya, "Model prediksi ini terlalu bersih untuk skripsi S1. Kamu ambil dari mana?"
"Saya modifikasi dari pendekatan time-series ringan, Prof. Saya sederhanakan agar bisa jalan di perangkat murah."
"Buktikan."
Arya membuka lampiran kode.
Ruang itu berubah.
Sidang yang dijadwalkan tiga puluh menit melewati satu jam.
Profesor Rahman meminta simulasi.
Arya menjalankan data dummy persimpangan Jalan Ahmad Yani. Grafik kepadatan bergerak. Sistem memberi rekomendasi durasi lampu.
Profesor Sudarso, yang awalnya diam, akhirnya bicara.
"Kalau sistem ini diterapkan pemerintah kota, apa risikonya?"
Arya menjawab tanpa melihat catatan.
"Korupsi pengadaan, kualitas perangkat, privasi data kamera, dan ketergantungan vendor. Solusinya: tender terbuka, standar perangkat modular, masking data wajah, dan dokumentasi kode inti yang bisa diaudit."
Profesor Sudarso tersenyum tipis.
"Kamu belajar itu dari mana?"
"Belakangan ini saya belajar bahwa sistem bagus tetap bisa rusak kalau orang di belakangnya kotor."
Ruangan hening sesaat.
Profesor Megawati menutup naskah.
"Saya tidak punya pertanyaan lagi."
Profesor Rahman masih menatap layar. "Saya punya banyak pertanyaan, tapi arahnya sudah riset lanjutan. Urusan kelulusan selesai."
Profesor Sudarso menulis nilai.
Arya diminta menunggu di luar.
Di koridor, bisik-bisik masih ada.
"Katanya uangnya aneh."
"Pantesan dosen lama banget nanya."
"Jangan-jangan dibantu orang dalam."
Arya berdiri dekat jendela.
Ia membuka WhatsApp.
Kirana: Sudah selesai?
Arya: Dosen masih rapat. Aku belum pingsan.
Kirana: Bagus. Bayinya butuh ayah yang lulus.
Arya tersenyum.
Pintu terbuka.
"Saudara Arya Pratama."
Ia masuk kembali.
Profesor Sudarso membaca hasil.
"Dengan ini, sidang skripsi menyatakan Saudara Arya Pratama lulus dengan predikat Sangat Memuaskan."
Arya menghela napas.
Profesor Megawati menambahkan, "Kami juga merekomendasikan skripsi Saudara untuk kompetisi teknologi mahasiswa tingkat nasional."
Profesor Rahman menunjuk laptopnya.
"Jangan simpan proyek ini di laci. Kembangkan. Ini bisa jadi produk."
Produk.
Kata itu berhenti di kepala Arya lebih lama dari tepuk tangan kecil di ruang sidang.
Panel sistem muncul.
【Terdeteksi: host menyelesaikan tonggak akademik di tengah tekanan eksternal.】
【Hadiah: kemampuan akademik diperkuat permanen.】
【Hadiah: analisis bisnis Lv.1.】
【Fitur: hitung mundur kelulusan dibuka.】
【Catatan: identitas mahasiswa segera berakhir. Identitas kepala keluarga baru dimulai.】
Arya menutup panel.
Di luar ruang, Profesor Sudarso menyusul.
"Arya."
"Iya, Prof?"
"Kamu tertarik masuk tim riset saya? Smart city, kebijakan publik, pendanaan pemerintah. Kamu punya bahan yang kuat."
Arya diam sejenak.
Profesor Sudarso melihat wajahnya, lalu tertawa kecil.
"Lupakan. Dari matamu, kamu punya rencana yang lebih besar."
"Saya belum tahu bentuknya, Prof."
"Kalau begitu, cepat cari bentuknya. Orang seperti kamu jarang diberi hidup tenang."
Arya turun tangga sambil membawa map skripsi.
Di lantai bawah, Dimas, Rizky, dan Bayu sudah menunggu.
Dimas mengangkat dua tangan seperti komentator bola.
"Saudara-saudara, calon bapak dua anak ini resmi lulus!"
"Belum wisuda," kata Rizky.
"Diam. Ini momen emosional."
Bayu mengambil map dari tangan Arya dan melihat lembar nilai.
"Sangat Memuaskan."
Dimas bersiul.
"Bro, kamu bikin masalah satu kampus lalu tetap dapat nilai tertinggi. Ini definisi hidup penuh tekanan."
Rizky membuka laptop kecilnya.
"Aku mau lihat kode simulasimu. Kalau Profesor Rahman bilang bisa jadi produk, berarti benar."
"Nanti."
"Tidak. Sekarang aku sudah penasaran."
Arya tertawa.
Untuk beberapa menit, mereka kembali seperti anak kos biasa. Tidak ada Hartono. Tidak ada Polsek. Hanya empat teman yang ribut di bawah tangga fakultas.
Lalu Bayu menurunkan suara.
"Kirana sudah tahu?"
"Baru mau kukabari."
"Kabar baik harus cepat. Kabar buruk boleh ditunda kalau perlu strategi."
Arya menatap Bayu. "Sejak kapan kamu bijak?"
"Sejak kamu mulai dipukuli preman dan tetap lupa sidang."
Mereka tertawa kecil.
Di layar ponsel, pesan dari Pengacara Ahmad masuk.
Polres menerima laporan. Hartono sudah tahu.
Arya berhenti satu detik.
Lalu ia membalas Kirana.
Aku lulus.
Balasan Kirana datang cepat.
Pulang. Kita rayakan dengan makan bubur sehat.
Arya tertawa sendiri di tengah koridor.
Hari ini, di antara badai, ia menang satu hal yang bersih.