NovelToon NovelToon
Jejak Di Pinggir Hutan

Jejak Di Pinggir Hutan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:381
Nilai: 5
Nama Author: Thomaz3235

Rangga Hidayat, anak tunggal konglomerat properti, kehilangan kedua orang tuanya dalam pembunuhan berencana yang dikamuflase sebagai kecelakaan. Ia sendiri hampir tewas, lalu dibuang di tepi hutan dekat Desa Sumbermulyo. Seorang nenek miskin, Saroh, menemukannya dan merawatnya dengan penuh kasih. Di desa terpencil itu, Rangga belajar hidup sederhana: bertani, beternak, bermain, dan berteman. Ia mengalami ejekan, candaan, persahabatan, dan cinta pertama. Perlahan ia tumbuh menjadi pemuda tang gigih. Ketika dewasa, ia merantau ke kota untuk bekerja, menyelidiki kematian orang tuanya, dan menghadapi konflik batin antara balas dendam dan pengampunan. Novel ini mengikuti perjalanan emosionalnya dari anak manja menjadi lelaki dewasa yang bijaksana, dengan latar pedesaan yang hangat dan intrik kota yang kelam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Thomaz3235, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 : MALAM PEMBUNUHAN

Rangga terbangun dari tidurnya karena suara benturan keras yang mengguncang seluruh rumah. Bukan benturan biasa—bunyi itu seperti petir yang menyambar di dalam ruangan, disusul oleh pecahan kaca berhamburan dan teriakan-teriakan kasar yang memecah kesunyian malam. Jam dinding antik dari Jerman di dinding kamarnya menunjukkan pukul 01.30, tetapi di luar jendela, langit yang sedari tadi cerah berbulan kini tampak suram—awan hitam menggulung, menelan cahaya rembulan satu per satu.

Rangga duduk tegak di ranjang, jantungnya berdebar begitu keras hingga ia bisa mendengar detaknya sendiri di telinga. Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek. Ia menoleh ke jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Lampu-lampu taman yang biasanya menyala terang sepanjang malam kini padam total. Hanya kegelapan yang ia lihat, ditembus sesekali oleh kilatan cahaya dari lampu senter yang bergerak-gerak liar. Bayangan-bayangan tinggi melintas di balik tirai—bayangan yang tidak ia kenali.

“Ayah? Ibu?” panggilnya lirih, suaranya bergetar seperti daun kering tertiup angin.

Tidak ada jawaban. Yang ia dengar justru suara langkah kaki berat di koridor luar, diiringi oleh suara laki-laki yang bertubi-tubi. Ada yang berteriak dalam bahasa asing yang tidak ia pahami, ada yang menggerutu dalam bahasa Indonesia dengan logat kasar, “Cepat! Ambil dokumen di brankas! Jangan buang waktu!” Dan suara lain yang lebih serak, lebih dingin, seperti bilah pisau yang menggores kaca: “Pastikan tidak ada saksi. Semua harus bersih. Tidak boleh ada yang hidup.”

Rangga merasa darahnya membeku. Ia ingat ayahnya pernah berkata di suatu malam, saat mereka berdua duduk di ruang kerja, “Nak, kalau terjadi sesuatu yang berbahaya, kau harus sembunyi. Ada ruang bawah tanah di belakang dapur. Ingat, jangan pernah keluar sampai ada yang menjemput.” Kata-kata itu dulu terasa seperti cerita petualangan yang berlebihan. Kini, ia menyadari itu bukan cerita—itu peringatan.

Dengan tubuh gemetar, Rangga merangkak turun dari ranjang. Kakinya yang telanjang menyentuh lantai marmer yang dingin, membuatnya menggigil. Ia merangkak menuju pintu kamar, membukanya perlahan-lahan, dan menyelinap ke koridor gelap. Aroma aneh memenuhi hidungnya—campuran bubuk mesiu, asap, dan sesuatu yang lebih mengerikan: bau logam yang ia kenali dari film-film perang. Bau darah.

Di ujung koridor, ia melihat sesosok tubuh tergeletak. Itu adalah Pak Jono, satpam yang selalu tersenyum padanya setiap pagi. Sekarang, tubuhnya terbujur kaku di lantai, seragamnya berlumuran merah. Mata Pak Jono terbuka lebar, menatap langit-langit dengan ekspresi terkejut yang tak pernah padam. Rangga menutup mulutnya dengan kedua tangan untuk menahan jeritan. Air mata mengalir deras, tetapi ia tidak berani mengeluarkan suara.

Ia berbalik dan berusaha merangkak lebih cepat menuju tangga belakang yang jarang dipakai—tangga menuju ruang penyimpanan anggur dan dapur bawah tanah. Namun sebelum mencapai anak tangga pertama, sebuah tangan besar mencekik lehernya dari belakang. Tangan itu kasar, berbulu, dan begitu kuat sehingga Rangga terangkat dari lantai seperti boneka kain.

“Ada anak kecil di sini!” teriak suara berat di belakangnya.

Rangga berusaha menendang, berusaha berteriak, tetapi cengkeraman itu menghalangi napasnya. Wajahnya membiru, matanya berkunang-kunang. Ia dibawa dengan kasar ke ruang tengah—ruang besar dengan lampu kristal yang kini hanya menerangi setengah ruangan karena sebagian mati. Di sana, Rangga melihat pemandangan yang akan membekas dalam ingatannya selamanya, yang akan muncul dalam mimpi buruknya bertahun-tahun kemudian.

Ayah dan ibunya tergeletak di lantai marmer putih yang kini berlumuran darah merah pekat. Darah itu mengalir seperti sungai kecil di antara sela-sela ubin, menciptakan genangan yang memantulkan cahaya lampu yang berkedip-kedip. Ayahnya masih mengenakan jas navy, tetapi jas itu kini robek dan basah oleh darah. Matanya terbuka lebar, menatap ke arah Rangga dengan ekspresi yang sulit diartikan—mungkin peringatan, mungkin penyesalan, mungkin cinta yang tak sempat diucapkan. Ibunya, yang dulu begitu cantik dengan gaun sutra hitam, kini terbaring miring, tangannya masih terulur seolah hendak meraih sesuatu—atau seseorang.

“Ayah! Ibu!” jerit Rangga, suaranya pecah menjadi tangisan yang tidak terkendali. Ia meronta-ronta di tangan pria yang memegangnya, berusaha melepaskan diri, ingin berlari ke arah orang tuanya. Tetapi cengkeraman itu semakin erat.

“Diam kau!” pria yang memegangnya adalah seorang berperawakan besar dengan topeng ski hitam yang hanya memperlihatkan mata kejamnya. Ia mengguncang Rangga dengan kasar. “Kalau kau berisik lagi, kau akan menyusul mereka!”

Di sudut ruangan, sosok pria botak bertopi hitam—yang tadi malam duduk diam di ruang makan dengan kacamata hitam—berdiri dengan tenang. Ia sekarang melepas kacamatanya, memperlihatkan mata sipit yang dingin dan tanpa ekspresi. Di tangannya, ia memegang pistol yang masih mengepulkan asap tipis. Ia berjalan mendekati Rangga, menekuk lututnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah anak kecil itu.

“Kau anak Fajar Hidayat, ya?” tanyanya pelan, suaranya seperti bisikan ular. “Sayang sekali. Kau seharusnya tidak melihat ini. Tapi… tidak apa. Hidup di dunia ini kejam, Nak. Kau akan belajar hari ini.”

Pria itu mengangkat pistolnya, mengarahkan larasnya tepat ke dahi Rangga. Rangga memejamkan mata, tubuhnya lemas, pasrah. Ia merasakan ujung logam yang dingin menyentuh kulitnya. Di dalam hati, ia berdoa—doa yang sama seperti tadi malam, tetapi kali ini bukan untuk meminta perlindungan, melainkan agar kematiannya cepat dan tidak menyakitkan.

Namun, pria berbadan gemuk lain—yang berwajah seperti rubah dengan kumis tipis—menghampiri dan menepuk tangan pria botak itu. “Jangan di sini, Bos. Terlalu berisik. Rumah ini akan segera dipenuhi polisi. Kita harus pergi sekarang. Bawa anak itu ke hutan. Buang dia di sana. Biar dia mati kelaparan atau dimakan binatang. Kalau ditembak di sini, polisi akan mencium bau pembunuhan. Kita butuh waktu.”

Pria botak itu mengangguk, lalu menurunkan pistolnya. Ia menatap Rangga dengan senyum sinis. “Kau beruntung, Nak. Kau dapat waktu ekstra untuk hidup. Tapi ingat, kau tidak akan pernah kembali ke kehidupanmu. Selamat menikmati hutan.”

Rangga digulung dengan selimut tebal yang diambil dari kamar tidurnya—selimut sutra biru dengan bordiran nama inisialnya. Ia dibungkus seperti paket, lalu diangkat dan dibawa keluar rumah. Dalam kegelapan, ia mendengar suara langkah kaki di atas kerikil, suara pintu bagasi dibuka, dan kemudian tubuhnya dilempar ke dalam ruang gelap yang sempit. Bau karet dan oli menyengat hidungnya. Mesin mobil menyala dengan suara menderu, dan kendaraan itu mulai bergerak.

Di dalam bagasi yang gelap dan sesak, Rangga memeluk lututnya, tubuhnya terus berguncang karena tangisan dan ketakutan. Ia mendengar suara-suara dari kabin—pria-pria itu tertawa, bercerita tentang uang dan kekuasaan, seolah mereka baru saja menyelesaikan pekerjaan biasa. Salah satu dari mereka berkata, “Pak Hartono pasti senang. Sekarang lahan Tanjung Mas jadi milik kita. Keluarga Dharma tidak akan menyangka kita bergerak secepat ini.” Nama Pak Hartono menggema di telinga Rangga. Itu adalah nama yang tadi malam dipanggil ayahnya dengan ramah, nama yang disebut dalam jamuan makan. Pak Hartono, yang tertawa lebar dan menunjukkan gigi emas. Pak Hartono, yang ternyata merencanakan semua ini.

Perjalanan terasa sangat lama. Rangga kehilangan orientasi waktu—mungkin satu jam, mungkin dua jam. Ia merasakan mobil berbelok-belok di jalan yang tidak rata, berguncang naik turun, seolah melewati jalan berbatu. Suara mesin meredam tangisnya. Ia mencoba mengingat wajah ayah dan ibunya, tetapi yang muncul justru wajah mereka yang terbujur kaku, berlumuran darah. Hatinya hancur berkeping-keping. Di usianya yang kesembilan tahun, ia seharusnya memikirkan mainan atau PR sekolah, bukan memikirkan kematian dan pembunuhan.

Akhirnya, mobil berhenti. Pintu bagasi terbuka, dan cahaya rembulan yang redup menyinari wajahnya. Ia diseret keluar oleh tangan-tangan kasar. Udara malam yang dingin menyergap—jauh lebih dingin daripada udara di rumahnya yang ber-AC. Wangi tanah basah, daun busuk, dan bunga hutan memenuhi indra penciumannya. Ia melihat pepohonan tinggi menjulang, gelap dan menakutkan, dengan cabang-cabang yang bergoyang seperti tangan-tangan hantu. Suara jangkrik dan kodok riuh, tetapi di sela-sela itu, ada suara lolongan anjing hutan di kejauhan.

“Ini cukup,” kata suara rubah. “Lempar ke semak di bawah. Hutan ini lebat. Tidak ada yang akan menemukannya sampai mayatnya membusuk.”

Rangga digulung kembali—kini lebih erat, lebih menyakitkan—lalu didorong. Tubuhnya menggelinding menuruni lereng curam, terbentur akar-akar pohon yang menjulur, tergores batu tajam, dan terbanting ke semak berduri. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya—di lengan, di punggung, di kepala. Darah mengalir dari beberapa luka di dahinya, tetapi ia tidak berani berteriak.

Ia mendengar mobil menjauh, suara mesin menghilang perlahan, lalu keheningan total. Hanya angin malam yang berdesir di antara dedaunan, dan suara detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang.

Rangga terbaring di semak belukar, selimut sutranya kini berlumuran tanah dan darah. Langit di atas tertutup awan tebal, tetapi sesekali bulan muncul di antara celah, menyinari wajahnya yang pucat dan penuh luka. Air matanya mengalir deras, membasahi pipinya. Ia kedinginan, kesakitan, dan sangat ketakutan. Gigi-giginya bergemeletuk karena suhu udara yang begitu rendah. Ia merasakan kematian merayap mendekat—seperti selimut hitam yang ingin menyelubunginya untuk selamanya.

“Ayah… Ibu…” bisiknya dengan suara serak. “Aku tidak mau mati. Aku takut. Tolong… ada yang menolongku?”

Ia memejamkan mata, pasrah dengan nasibnya. Namun, di tengah keputusasaannya, ia mendengar sesuatu. Langkah kaki. Pelan, berderak di atas dedaunan kering. Tidak seperti langkah kaki manusia biasa—lebih ringan, lebih hati-hati. Dan di sela-sela itu, ia mendengar suara parau yang melantunkan doa dalam bahasa Jawa, lembut dan penuh ketenangan.

“Astaghfirullahal’adzim… Gusti, mugi kawula tansah diparingi kawilujengan… Ya Allah, sapa sing ninggal anak cilik neng kene?...”

Rangga membuka matanya. Di hadapannya, seorang nenek tua berkerudung putih lusuh berdiri, membawa obor plastik dari minyak tanah yang apinya berkedip-kedip diterpa angin. Wajahnya keriput, penuh garis-garis usia, tetapi matanya—matanya jernih dan teduh seperti air sungai di pagi hari. Nenek itu menunduk, menyentuh kening Rangga yang panas karena demam. Tangannya kasar, penuh kapalan, tetapi sentuhannya lembut seperti kapas.

“Nak, kau sakit parah,” kata nenek itu. “Mari Nenek bawa pulang.”

Rangga membuka mulut, tetapi yang keluar hanya isakan kecil. “Nenek… tolong aku…” bisiknya sebelum kesadarannya mulai kabur.

Nenek Saroh—itulah nama yang akan ia kenal kelak—menggendongnya dengan susah payah. Tubuh Rangga memang masih kecil, tetapi beban itu terasa berat bagi nenek yang ringkih. Namun ia tidak menyerah. Ia menggendong Rangga melintasi hutan yang gelap, menembus semak dan akar, dengan obor sebagai satu-satunya penerang. Sepanjang perjalanan, ia terus mengucapkan doa-doa pendek, memohon perlindungan bagi anak malang yang ia temukan di pinggir hutan.

Rangga mendengar doa-doanya seperti mimpi—kata-kata yang lembut, menenangkan, seolah merangkumnya dalam selimut kasih sayang yang tidak ia kenal. Dalam pelukan nenek itu, untuk pertama kalinya setelah malam yang mengerikan, ia merasa aman.

---

[Bersambung...]

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!