"Rangga Aditya Wijaya hanyalah dokter muda miskin yang dihina ""sampah"" oleh mantan pacarnya dan anak pejabat.
Tapi saat pasien sekarat di UGD, sebuah sistem misterius aktif dalam dirinya — Sistem Check-in Dokter Dewa.
Setiap kali ia check-in di situasi darurat, ia mendapatkan keahlian bedah kelas dunia, uang ratusan juta, dan resep obat revolusioner.
Dari nol, Rangga akan mengguncang seluruh dunia kedokteran."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
Bab 7: Obat Ajaib
[Aktifkan check-in?]
Tidak ada waktu untuk ragu.
Di depan Rangga, Pak Karto mencengkeram jas putihnya seperti orang yang sedang tergantung di tepi jurang. Wajah lelaki tua itu membiru tipis. Monitor menjerit, ritmenya kacau, tekanan darah jatuh, dan Sri menangis tertahan di sisi ranjang.
Rangga menjawab di dalam pikirannya.
Ya.
[Check-in berhasil.]
[Anda telah memperoleh: Teknik Penanganan Kardiovaskular Kelas Dunia.]
Rasa panas meledak dari belakang matanya.
Dalam satu tarikan napas, alur pembuluh darah koroner, pola infark inferior, protokol obat, risiko aritmia, urutan RJP, indikasi defibrilasi, dan batas waktu otot jantung yang sedang sekarat tersusun jelas. Bukan sebagai teori. Sebagai jalan.
"Pindahkan ke ruang resusitasi!" kata Rangga.
dr. Yoga langsung mendorong ranjang bersama perawat. "Monitor portable ikut!"
Sri hendak mengikuti, tetapi Rangga menahan dengan satu kalimat.
"Ibu Sri, tunggu di luar. Kami akan bekerja lebih cepat kalau area bersih."
"Dok, Bapak saya..."
"Saya tangani."
Kata itu membuat Sri berhenti. Ketegasan suara Rangga menahan kepanikannya agar tidak pecah.
Di ruang resusitasi, Pak Karto kehilangan kesadaran beberapa detik setelah ranjang terkunci.
"Nadi melemah!" teriak perawat.
"EKG ulang."
Kertas EKG keluar dari mesin dengan bunyi pendek. Mata Rangga menyapu garisnya.
"Infark miokard akut inferior. Risiko blok dan aritmia tinggi. Siapkan aspirin kunyah, clopidogrel, heparin sesuai berat badan, nitrat hati-hati karena tekanan rendah. Oksigen. Dua jalur infus."
dr. Yoga bergerak cepat. "Siap."
Pak Bambang masuk hampir bersamaan. Ia melihat EKG, lalu melihat Rangga. Kali ini ia tidak bertanya kenapa dokter muda itu memimpin.
"Lanjut."
Monitor mendadak berubah liar.
"V-fib!"
"Defibrillator. Charge 200 joule."
Suara Rangga datar, tajam, memotong panik sebelum sempat tumbuh.
Pad ditempelkan.
"Clear!"
Kejutan pertama membuat tubuh Pak Karto terangkat. Monitor masih kacau.
"RJP."
Rangga mengambil posisi. Kedua tangannya menekan sternum dengan ritme stabil. dr. Yoga menghitung napas. Pak Bambang menyiapkan obat. Perawat membuka jalur baru.
Satu siklus.
Dua siklus.
"Charge lagi."
"Clear!"
Kejutan kedua.
Garis monitor bergetar, melawan, lalu perlahan menemukan bentuk.
Tit... Tit... Tit.
"Nadi kembali!" kata dr. Yoga, suaranya pecah antara lega dan tidak percaya. "Tekanan mulai naik."
Rangga tidak berhenti di rasa lega. "Stabilisasi. Observasi ketat. Siapkan rujukan cath lab kalau memburuk, tapi saat ini kita jaga perfusi dulu. Jangan ada keputusan berdasarkan lab tadi. Lab itu tidak bisa dipakai."
Pak Bambang menatapnya sekilas.
Kalimat terakhir itu bukan sekadar instruksi medis.
Itu tuduhan.
Dan Pak Bambang setuju.
Tiga puluh menit kemudian, Pak Karto dipindahkan ke ruang observasi intensif UGD. Napasnya masih dibantu oksigen, tetapi warna biru di bibirnya mulai menghilang.
Sri masuk bersama seorang pria berwajah tegang yang baru datang dengan helm motor masih di tangan.
"Saya Agus, anaknya, Dok." Pria itu hampir tidak bisa menyusun napas. "Bapak saya bagaimana?"
Rangga menjelaskan singkat, tanpa menakut-nakuti, tanpa menyembunyikan bahaya.
"Pak Karto mengalami serangan jantung akut. Kami berhasil mengembalikan irama jantungnya, tapi kondisinya belum aman. Dua puluh empat jam ke depan sangat penting."
Sri langsung menangis. Agus menunduk dalam.
"Terima kasih, Dokter. Kalau Dokter tidak cepat..."
Sri tiba-tiba berlutut.
Rangga cepat menahan bahunya.
"Ibu Sri, jangan. Bapak masih butuh Ibu kuat."
Agus ikut membungkuk, matanya merah. "Kami orang biasa, Dok. Bapak pakai BPJS. Kami takut kalau harus cari rumah sakit lain..."
"Sekarang fokus dulu ke kondisi Pak Karto," kata Rangga. "Soal administrasi, nanti dibantu. Yang penting jangan tunda pemeriksaan atau obat karena takut biaya."
Pak Bambang berdiri di belakang Rangga. Mendengar itu, matanya bergerak sedikit, seolah menemukan satu alasan lagi untuk mempertahankan dokter muda ini dari siapa pun yang ingin menjatuhkannya.
Di koridor, dr. Yoga membawa map hasil pemeriksaan tambahan.
"Dok, saya cek ulang EKG serial. Perubahannya jelas. Dan ini salinan permintaan lab awal, waktu penerimaan sampel, waktu hasil keluar."
Rangga mengambil map itu.
Ada celah.
Di lembar sistem rumah sakit, sampel Pak Karto tercatat diterima pukul 18.12. Hasil tercetak pukul 18.18. Terlalu cepat untuk rangkaian pemeriksaan yang seharusnya diproses penuh, apalagi saat antrean laboratorium sedang padat seperti alasan Joko.
Lebih janggal lagi, nomor alat pemeriksaan tidak tercantum di satu bagian.
"Ini bukan cuma hasil yang tidak cocok," kata Rangga pelan. "Jejak prosesnya juga tidak lengkap."
dr. Yoga menelan ludah. "Kalau ini benar..."
"Berarti seseorang membuat laporan terlihat normal tanpa proses valid."
Pak Bambang mengulurkan tangan. "Berikan ke saya."
Rangga menyerahkan map itu.
Pak Bambang membacanya di tempat. Wajahnya berubah dari marah menjadi sangat tenang. Bagi orang yang mengenalnya, itu tanda lebih buruk.
"Kita ke Pak Hendra besok pagi."
"Pak, kalau menunggu sampai besok..."
"Malam ini pasien lebih dulu." Pak Bambang menutup map. "Tapi saya akan simpan salinan ini sekarang. Satu di saya, satu di kamu. Jangan beri Joko kesempatan menghilangkan jejak."
Rangga mengangguk. "Saya juga akan minta rekam medis mencatat kronologi permintaan ulang lab yang ditunda."
"Bagus." Pak Bambang menatapnya. "Kamu belajar cepat."
"Mereka yang mengajari, Pak."
Pak Bambang memahami maksudnya.
dr. Herman dan Joko mungkin berpikir mereka sedang memberi pelajaran kepada dokter muda yang baru naik nama. Yang tidak mereka sadari, setiap langkah kotor yang mereka ambil justru sedang menjadi bukti.
Di dalam kepala Rangga, suara sistem muncul setelah kondisi Pak Karto stabil.
[Misi selesai.]
[Tingkat Penyelesaian: 82%.]
[Hadiah tunai sebesar Rp 100.000.000 telah ditransfer ke rekening pribadi Anda melalui Yayasan Dana Abadi Cakrawala.]
Rangga tidak membuka ponsel.
Rp 100 juta lagi.
Jika pagi beberapa hari lalu angka seperti itu bisa membuatnya kehilangan napas, sekarang ia hanya merasakannya sebagai alat. Uang penting. Sangat penting. Tapi di hadapan Pak Karto yang nyaris mati karena selembar laporan palsu, uang itu terasa belum cukup.
Ia membutuhkan sesuatu yang lebih besar.
Sesuatu yang bisa membuat pasien seperti Pak Karto tidak terus-menerus berdiri di tepi jurang yang sama.
Malam bergerak lambat.
Rangga tidak pulang. dr. Yoga duduk di kursi dekat pos perawat sambil memegang kopi yang sudah dingin. Pak Bambang keluar masuk ruang observasi, memastikan setiap order obat berjalan.
Sekitar pukul dua dini hari, monitor Pak Karto kembali berubah.
Awalnya hanya penurunan tekanan. Lalu keringat dingin muncul lagi. Pak Karto membuka mata, napasnya pendek, tangannya meraba dada.
"Dok..." suara Sri yang tertidur di kursi langsung pecah. "Dokter!"
Rangga sudah berdiri sebelum panggilan selesai.
Ia masuk ke ruang observasi, melihat monitor, dan merasakan rahangnya mengeras.
Serangan kedua.
Mereka bisa menyelamatkannya lagi. Mungkin.
Tapi ini bukan solusi.
Selama gumpalan itu masih mengancam aliran darahnya, Pak Karto hanya akan menunggu serangan berikutnya.
"RJP siap. Obat sesuai protokol. Monitor terus," kata Rangga.
Pak Bambang masuk di belakangnya. "Rangga?"
"Kita stabilkan dulu, Pak."
Di dalam dadanya, untuk pertama kalinya sejak sistem muncul, Rangga tidak hanya menunggu hadiah.
Ia menuntut jawaban.
Kalau sistem bisa memberinya tangan untuk menjahit arteri, ilmu untuk menangani infark, gerak untuk menghentikan kapak, maka kali ini ia membutuhkan lebih dari teknik.
Ia membutuhkan jalan keluar.
Suara dingin itu muncul.
[Check-in berhasil.]
[Kondisi berulang terdeteksi: trombus koroner persisten.]
[Hadiah spesial telah dibuka: Resep Obat Trombolitik Khusus — Trombosin Plus.]
Rangga menatap Pak Karto yang kembali mencengkeram seprai.
Di kepalanya kini terbuka formula lengkap yang membentuk peta jauh lebih luas.
Nama, struktur, rasio, metode ekstraksi, jalur stabilisasi, dan satu kalimat yang membuat seluruh ruang UGD terasa mendadak terlalu kecil.
Trombosin Plus.
Obat yang bisa melarutkan trombus tanpa merusak darah.
Jika formula itu benar, Pak Karto bukan hanya bisa diselamatkan malam ini.
Hidup ribuan pasien lain bisa berubah.