Rendra, mantan polisi jujur yang dijebak dan dicap pengkhianat oleh atasannya sendiri, Inspektur Bagas, yang ternyata pemimpin sindikat kriminal. Rendra kehilangan adik perempuannya yang tewas dalam kebakaran pabrik yang disengaja untuk menutup kejahatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kamal Fajar001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Suara peringatan berulang kali bergema di sepanjang lorong beton: “Sembilan menit lagi sampai pembersihan total. Semua pintu keluar akan terkunci otomatis.” Cahaya merah berkedip cepat di setiap sudut, membuat bayangan mereka terlihat seperti raksasa yang berlari panik di dinding.
“Pembersihan ini bukan sekadar menghapus data,” teriak Pak Haris di tengah kebisingan. “Mereka akan membanjiri seluruh ruangan ini dengan air dan lumpur dari danau! Tidak ada yang bisa selamat jika kita belum keluar sebelum waktu habis!”
Rendra menunjuk jalan ke kanan. “Surya, Pak Haris—kalian ambil berkas fisik di ruang arsip! Bapak Harun dan saya akan ke ruang server! Dika, dengar kau? Beri tahu kami jalur evakuasi terdekat lewat alat komunikasi!”
“Dimengerti!” suara Dika terdengar sedikit terputus. “Ada terowongan darurat di ujung ruang server, tapi pintunya terkunci ganda. Aku akan cari cara membukanya dari luar—segera ke sana!”
Mereka bergerak berpisah. Rendra berlari menuju ruang server diiringi Bapak Harun. Pintu kaca ruangan itu sudah terbuka sebagian—sistem keamanan yang lumpuh karena perintah pembersihan. Di dalamnya, deretan mesin berkedip-kedip, dan layar besar di tengah menunjukkan persentase penghapusan data yang sudah mencapai 15%.
“Kita tidak bisa menyalin semuanya!” seru Bapak Harun sambil mencoba menghubungkan perangkat penyimpanan. “Kecepatan unduh terlalu lambat!”
“Ambil yang terpenting saja!” Rendra membantu menyambungkan kabel cadangan. “Prioritas: daftar nama jaringan nasional, lokasi gudang tersembunyi lain, dan rencana operasi ke depannya!”
Di lorong lain, Surya dan Pak Haris bergegas menuju lemari arsip besi yang menjulang tinggi. Banyak laci sudah terkunci otomatis, tapi Pak Haris ingat pola penomoran lama. Ia menarik laci nomor 7 sampai 12—berkas-berkas tebal berwarna merah tua tersimpan rapi di sana. Mereka memasukkan secepat mungkin ke dalam tas anti air, sementara di lantai bawah terdengar suara gemuruh pelan—tanda pintu air di permukaan sudah mulai dibuka.
“Tinggal lima menit!” peringatan itu terdengar lebih mendesak.
Tiba-tiba suara langkah kaki berat terdengar dari ujung lorong. Pasukan berseragam hitam yang tadi melihat mereka mulai masuk! Mereka tidak menyerbu langsung, melainkan menutup jalan keluar satu per satu.
“Rendra! Jalan belakangku sudah tertutup!” lapor Surya lewat komunikasi. “Mereka sengaja mendesak kita ke tengah!”
“Ke terowongan darurat sekarang!” balas Rendra. Ia mencabut perangkat yang sudah berisi sebagian data, lalu berlari menuju lorong sempit di belakang ruang server. Di sana pintu besi tebal masih tertutup rapat. Ia menendang gagang berkali-kali, tapi tidak bergerak sedikit pun.
“Dika! Kita di depan pintu—cepat buka!”
“Aku sedang meretas kunci utama!” suara Dika terdengar cemas. “Sistemnya diputus paksa, butuh waktu lagi dua menit!”
Air mulai merembes dari celah lantai, perlahan naik sampai ke pergelangan kaki. Di belakang mereka, suara tembakan senapan serbu semakin dekat. Rendra memunggungi pintu, mengangkat senjatanya, dan bersiap menahan serangan sendirian sementara Bapak Harun membantu memeriksa kunci.
Saat pasukan itu muncul di ujung lorong, Rendra menembak pelindung di dinding sebelah mereka—menghamburkan serpihan batu yang membuat mereka mundur sejenak. Tapi mereka kembali maju, menembak terus ke arah tempat persembunyiannya. Satu peluru meleset menabrak tas berisi berkas di pundak Pak Harun, tapi untungnya tidak menembus isinya.
“Tiga puluh detik!” teriak Dika.
Air sudah naik sampai betis, dingin dan keruh. Rendra merasakan kakinya kram, tapi ia tidak berani mundur selangkah pun. Ia tahu jika pintu terbuka nanti, mereka harus lari secepat kilat tanpa melihat ke belakang.
KLIK!
Bunyi kunci terbuka terdengar tepat waktu. Pintu besi itu bergerak pelan ke dalam.
“Masuk!” seru Rendra. Ia melepaskan tembakan terakhir untuk menutup jalan, lalu berbalik dan melompat masuk ke dalam terowongan bersama teman-temannya yang baru saja menyusul. Surya segera mendorong pintu kembali menutup tepat saat air pasang besar menghantam sisi lain lorong.
Di dalam terowongan yang gelap itu, mereka terengah-engah. Cahaya senter kecil menunjukkan jalur menanjak yang berlumut. Di kejauhan terdengar suara gemuruh besar—seluruh ruang markas bawah tanah itu kini tenggelam dalam air.
Mereka berjalan pelan menanjak, menahan rasa sakit dan lelah. Rendra memegang erat perangkat data di saku, sementara Pak Haris memeluk tas berkas fisik seolah itu nyawanya sendiri.
“Kita selamat,” bisik Bapak Harun pelan. “Tapi kita tahu sekarang: musuh kita tidak hanya ingin menangkap kita—mereka rela menghancurkan jejak sendiri demi menutup mulut kebenaran.”
Rendra mengangguk. Ia baru saja melihat wajah baru dari kejahatan ini: ketakutan yang begitu besar sehingga mereka berani menghapus sejarah, menghancurkan bukti, dan mengorbankan tempat sendiri—hanya untuk melindungi kekuasaan gelap mereka.
Dan di ujung terowongan gelap itu, ia tahu perjuangan mereka baru saja berubah. Bukan lagi sekadar mencari bukti, tapi berani berdiri di depan arus yang ingin menghanyutkan segalanya.