"Raka Pradana, pengangguran dengan uang pas-pasan, tiba-tiba mendapatkan Sistem Arsitek Talenta—kemampuan melihat potensi tersembunyi yang dibuang perusahaan besar.
Syaratnya: dirikan perusahaan legal, bayar karyawan layak, ubah bakat menjadi keuntungan. Dari pabrik kasur kecil di Cikarang, ia membangun PT Arunika Karya Nusantara menjadi jaringan bisnis raksasa.
Konglomerat lama panik dan melancarkan fitnah, perang harga, hingga sabotase ekspor. Namun setiap serangan justru membuka kekuatan baru. Ketika Arunika ekspansi ke Kuala Lumpur, musuh menawarkan harga yang bisa membuatnya kaya seumur hidup.
Dua pilihan: menjual semua orang yang percaya padanya, atau gunakan bakat yang dulu diremehkan untuk menumbangkan imperium. Kali ini, sistem tak akan memilihkan jawabannya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7
"Dua puluh kasur, tiga hari."
Bima membaca angka di lembar permintaan harga itu dua kali. Tidak ada sihir yang muncul di antara barisnya. Hanya ukuran, bahan dasar, alamat penginapan di Bekasi, dan catatan kecil dari pengelola: semua kasur harus seragam.
Hendra berdiri di sisi meja dengan tangan masih berdebu. "Saya bisa buat satu contoh. Untuk dua puluh, saya tidak berani janji sebelum lihat bahan."
"Bagus," kata Bima. "Berarti kita tidak mulai dengan janji. Kita mulai dengan peta kerja."
Ia mengambil spidol dan membagi papan putih kosong menjadi lima kotak.
Material.
Sampel.
Tes beban.
Produksi.
Muat barang.
"Kalau material gagal malam ini, Arif harus beri tahu calon pelanggan besok pagi. Kalau sampel gagal, kita minta perubahan jadwal tertulis. Kalau tes beban gagal, kita tidak kirim apa pun." Bima menoleh kepada Raka. "Satu pesanan pertama tidak boleh menjadi kebohongan pertama."
Raka mengangguk. Ia ingin berkata bahwa mereka harus menang apa pun risikonya, tetapi kalimat itu tertahan. Di ruangan ini ada sepuluh orang yang baru percaya kepada kontrak pertamanya. Kalau ia memulai dengan bohong, perusahaan ini sudah kalah sebelum menerima pembayaran.
"Pak Hendra," kata Raka. "Struktur terbaik yang bisa kita buat dengan mesin ini apa?"
Hendra membuka buku catatan tua. Di sana ada gambar tangan tentang rangka, busa, pegas, dan garis jahitan.
"Kalau mau kasur murah yang tahan, jangan pakai dukungan rata. Badan manusia tidak menekan sama di semua titik. Bagian pinggul butuh lebih kuat, bahu harus sedikit lebih lentur. Kita buat penyangga zona."
Dimas langsung mengangkat ponsel. "Itu bisa jadi cerita produk."
"Cerita nanti," potong Naya. "Kalau belum lulus tes, itu baru cerita kegagalan."
Panel SAT menyala tipis di sisi pandangan Raka.
[Mode Riset Terarah tersedia.]
[Durasi: 8 jam.]
[Efek: meningkatkan efisiensi pengujian dan pemilahan variabel.]
[Batasan: tidak menghasilkan desain final, tidak menggantikan tes fisik, tidak menjamin hasil.]
Raka menatap keterangan itu. Delapan jam bukan keajaiban. Tapi untuk pabrik yang baru hidup kembali, delapan jam bisa berarti satu malam yang tidak habis hanya untuk menebak.
"Kita pakai malam ini," gumamnya.
"Pakai apa?" tanya Bima.
"Daftar uji yang lebih ketat." Raka mengambil spidol kedua dan menulis tiga variabel yang muncul di kepalanya: ketebalan busa, susunan pegas, dan penguat sisi. Ia tidak menulis dari mana ide itu datang. "Pak Hendra, kita tes perubahan satu per satu. Jangan ganti semuanya sekaligus."
Mata Hendra menyipit. "Itu cara kerja bengkel bagus."
"Malam ini kita pura-pura jadi bengkel bagus dulu."
Arif masuk satu jam kemudian dengan jaket masih basah oleh gerimis. "Ada kain. Stok cukup untuk dua puluh lima kasur. Tapi penjual minta bayar tunai. Harganya tujuh belas persen di atas rencana."
Bima langsung menghitung di kalkulator. "Kalau bayar segini, uang aman kita turun. Renovasi kantor harus dibatalkan."
"Kantor bisa menunggu," kata Raka. "Bahan tidak."
"Kalau kita gagal?"
"Kita rugi dengan faktur yang jelas, bukan utang gelap."
Arif meletakkan kuitansi sementara di meja. "Dia mau kirim malam ini kalau dibayar sekarang."
"Saya sudah cek tokonya," tambah Arif. "Bukan paling murah, tapi dia punya barang di gudang sendiri. Dua pemasok lain cuma berani janji besok siang. Kalau mereka telat, papan putih Pak Bima langsung jadi hiasan dinding."
Bima tidak tersinggung. Ia justru mencoret satu angka dan menulis ulang batas kas. "Berarti keputusan ini membeli waktu, bukan membeli kain saja."
"Waktu lebih mahal dari kain malam ini," kata Raka.
Raka memberi persetujuan pembayaran lewat rekening perusahaan. Beberapa detik kemudian, notifikasi keluar. Angka saldo turun seperti pintu lift yang jatuh terlalu cepat.
Tidak ada yang bersorak. Justru karena uang itu nyata, pesanan ini terasa makin berat.
Pukul sembilan malam, pabrik mulai berbunyi.
Mesin jahit tua mengeluarkan suara patah-patah, lalu stabil. Kompresor menghela napas panjang. Bau busa baru bercampur dengan debu yang terangkat dari lantai lama. Para pekerja yang beberapa hari lalu masih menunggu nasib kini berdiri di pos masing-masing.
Salah satu pekerja menyentuh badan mesin seolah memastikan getarannya nyata. Yang lain menyalakan lampu tambahan di atas meja potong. Cahaya putih jatuh ke lantai yang masih bernoda oli lama. Untuk pertama kalinya sejak mereka masuk, ruangan itu tidak tampak seperti gudang yang menunggu dibongkar, melainkan seperti tempat kerja.
"Dengar?" bisik Dimas dari belakang garis kuning.
"Apa?" tanya Naya.
"Suara uang yang belum masuk."
"Itu suara mesin tua. Jangan jadi penyair saat invoice belum ada."
Bima membagi dua sif. Tidak ada yang bekerja dua belas jam penuh. Jam istirahat ditempel di papan. Dimas dan Naya hanya boleh merekam dari garis kuning di lantai.
"Aku cuma mau ambil close-up jahitan," kata Dimas.
"Close-up dari luar garis," jawab Bima.
"Kalau lensanya kurang?"
"Berarti beli lensa saat perusahaan punya uang."
Naya menahan tawa dan menarik Dimas mundur.
Hendra bekerja di tengah garis produksi seperti orang yang kembali ke rumah lama dan menemukan lampunya masih bisa menyala. Ia tidak banyak bicara. Tangannya menekan busa, mengetuk rangka, menggeser pegas, lalu memberi tanda dengan kapur.
Raka berdiri di dekat papan uji. Mode Riset membuat pikirannya lebih teratur, bukan lebih pintar. Setiap kali Hendra mencoba susunan baru, Raka melihat kemungkinan yang lebih cepat disingkirkan. Terlalu lunak. Terlalu berat. Sisi kiri kehilangan bentuk. Jahitan menarik busa ke arah salah.
Delapan jam habis menjelang subuh.
Panel padam.
Yang tersisa hanya mata merah, tangan kotor, dan satu bentuk kasur pertama di atas meja panjang.
Kotak Sampel Lentera.
Nama itu ditulis Naya di karton kecil, bukan untuk publikasi, hanya agar semua orang tahu benda di depan mereka bukan sekadar busa yang dijahit. Itu bukti pertama bahwa pabrik mati ini masih bisa menghasilkan sesuatu.
Saat mesin terakhir berhenti, beberapa pekerja bertepuk tangan pelan. Dimas merekam tanpa komentar. Bahkan Bima membiarkan sudut bibirnya naik sedikit.
"Belum menang," kata Hendra.
"Tapi sudah bergerak," jawab Raka.
Tes beban dimulai pukul sepuluh pagi di hari ketujuh. Dua karung pasir besar diletakkan di atas area tengah. Hendra menambah beban bertahap, sesuai catatan. Bima mencatat menit. Raka melihat semua orang menahan napas.
Sepuluh menit pertama aman.
Lima belas menit.
Dua puluh.
Lalu terdengar suara kecil dari sisi kanan. Bukan ledakan, hanya bunyi patah yang malu-malu.
Permukaan kasur turun setelapak.
Karung pasir miring.
Sisi kanan Kotak Sampel Lentera amblas di depan semua orang.
Hendra memejamkan mata.
Tidak ada yang bicara.
Bima menutup buku catatan pelan. "Sisa waktu kita satu setengah hari."
Hendra melepas sarung tangannya. Suaranya serak. "Segel sampel ini. Jangan dibongkar sebelum semua orang lihat. Kalau struktur saya salah, saya yang bertanggung jawab."
Ia menatap Raka.
"Saya minta izin mengundurkan diri."
Raka melihat kasur yang amblas, para pekerja yang pucat, dan lembar pesanan pertama di papan putih.
Ia tidak menjawab.