"Ahh!"
"Kamu harus melahirkan pewarisku, Amoera ... untuk menebus dosa ayahmu!"
Perang berdarah antar-organisasi memaksa Amoera, putri tunggal mafia Blood Dominion, jatuh ke tangan Leon D'Alterio. Pemimpin kejam Cosa Nero itu menuntut balas dendam atas kematian orang tuanya, dan Amoera harus melahirkan pewarisnya.
Namun takdir berjalan brutal. Amoera melahirkan bayi kembar laki-laki, tetapi Leon merebut bayi yang hidup dan mengusir Amoera bersama bayinya yang dianggap telah mati.
Empat setengah tahun berlalu. Amoera kembali sebagai pembunuh bayaran dingin dengan misi mutlak. menghabisi pewaris Cosa Nero, yang tak lain adalah putranya sendiri.
Saat laras pistol telah membidik target, kebenaran fatal terkuak. Leon tertegun melihat bocah di samping Amoera yang sangat mirip dengan putranya.
"Kamu mau membunuh putramu sendiri, Amoera?"
Ketika rahasia masa lalu terbongkar, siapakah yang akan hancur dalam lingkaran balas dendam ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kenz....567, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memulai Misi Besar
Mendengar lengkingan suara lembut yang sangat ia kenali dari arah belakang, Eren segera menolehkan kepalanya ke arah sumber suara dengan senyuman yang kembali mengembang di bibirnya.
"Mommy," panggil anak itu lirih.
Amoera melangkah lebar mendekati putranya dengan napas yang sedikit memburu. "Kamu dari mana saja sih, Sayang?! Mommy kan sudah menyuruhmu untuk tetap duduk diam menunggu di dekat menara taman, kenapa malah pergi berjalan sampai ke tepi jalan raya seperti ini?! Kalau kamu sampai kenapa-napa di jalanan bagaimana, hah?!" omel Amoera panjang lebar sembari berlutut di hadapan Eren. Tangannya bergerak dengan cepat dan cekatan memeriksa seluruh kondisi tubuh putranya dari atas sampai bawah untuk memastikan tidak ada luka sedikit pun.
Tanpa disadari oleh Amoera, tepat pada saat yang bersamaan, Black beserta beberapa orang anak buah Leon tampak sedang berjalan melintas cepat di trotoar tepat di belakang posisi tubuh Eren berada. Namun, pandangan mata Amoera sama sekali tidak bisa menjangkau keberadaan para mafia tersebut karena posisinya yang sedang berlutut terhalang sepenuhnya oleh tubuh mungil putranya. Fokus pikirannya saat ini benar-benar tersita penuh oleh rasa panik dan khawatir yang mendalam pada keselamatan Eren.
"Maap Mommy, Elen kila Mommy pelgi lama kali. Elen mau campel Mommy tapi malah nyacal cini," ucap bocah kecil itu dengan nada suara pelan yang sarat akan rasa bersalah, menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan sang bunda.
Melihat kepasrahan putranya, amarah di dalam dada Amoera seketika menguap tanpa sisa. Ia langsung menarik tubuh mungil Eren ke dalam dekapan pelukannya, memeluknya dengan teramat erat seolah takut kehilangan harta paling berharganya tersebut.
"Astaga, Sayang ... Mommy benar-benar takut sekali tadi. Jangan pernah mengulangi hal seperti itu lagi ya. Kalau Eren sampai hilang dari pengawasan Mommy bagaimana? Eren sudah tidak mau ketemu dengan Mommy lagi, hm?" ucap Amoera dengan nada suara yang bergetar menahan luapan rasa sedih yang mendalam di dadanya.
Eren mengangkat kedua tangan mungilnya, meraba letak wajah Amoera, lalu mengusap pipi ibunya dengan teramat pelan guna menenangkannya. "Elen minta maap yah Mommy, tapi becok nda janji Elen nulut. Kalau Mommy hilang, Elen pacti cali. Daddy cudah hilang cepelti lojali, jangan campe Mommy jadi lojali juga," ucap Eren dengan kepolosan yang menggemaskan.
Perumpamaan unik dari bibir putranya seketika membuat Amoera tidak bisa menahan diri untuk tidak terkekeh pelan di tengah rasa harunya. "Memang ya ... kamu itu paling bisa saja membuat hati Mommy luluh kembali dalam sekejap. Pintar sekali bicaranya!" ucap Amoera gemas sembari mengecup gemas kedua pipi Eren sebelum akhirnya mengangkat tubuh mungil putranya itu ke dalam gendongan hangatnya.
"Kita pulang ke rumah sekarang yuk. Udah mulai panas matahari siang ini, nanti kalau kelamaan di luar Eren bisa sakit lagi," ucap Amoera sembari mulai melangkah lebar membawa Eren berjalan menuju ke arah sepeda motor besarnya yang terparkir di area parkir luar taman.
Di dalam gendongan sang bunda, Eren mulai kembali berceloteh riang sembari menyandarkan kepalanya di bahu Amoera. "Mommy, tadi liat ada olang yang bicala cama Elen nda? Katanya Elen milip dia. Eh calah, dia yang milip cama Elen. Eh, pokoknya katanya kami berdua itu milip kaliiii," ucap Eren menceritakan kejadian unik yang baru saja dialaminya beberapa menit yang lalu.
"Mirip?" tanya Amoera dengan dahi sedikit mengkerut bingung, menghentikan langkah kakinya sejenak di samping motor.
"Iyaaaa, dia bilang kami beldua milip kaliii mukanya. Elen nda tahu tapi, kan Elen nda bica lihat mukanya," ucap Eren memperjelas ceritanya, yang seketika membuat seulas senyuman tipis terukir di wajah cantik Amoera.
"Mungkin jenis atau warna pakaian kalian saja yang kebetulan sedang mirip, Sayang. Sudah yuk, sekarang pakai helmnya dulu ya," sahut Amoera lembut sembari meraih helm khusus anak kecil dan memasangkannya ke kepala Eren dengan hati-hati.
Wanita itu memilih untuk tidak berpikir panjang ataupun terlalu mengindahkan cerita unik putranya, mengira itu hanyalah sekadar imajinasi atau candaan anak kecil yang kebetulan berpapasan dengan Eren di jalanan.
.
.
.
.
Malam hari yang dingin dan sunyi pun akhirnya tiba dengan cepat. Di dalam kamar tidur rumahnya yang temaram, Amoera tampak kembali mengusap lembut puncak kepala Eren, memastikan bahwa putra tercintanya itu telah benar-benar tertidur dengan nyenyak sebelum dirinya bersiap-siap untuk pergi kembali menjalankan tugas gelapnya di luar rumah.
Setelah memastikan napas Eren berembus teratur, Amoera beranjak berdiri dari tepi ranjang dengan gerakan yang teramat pelan tanpa suara. Ia melangkah menuju sudut ruangan, membuka lemari pakaian khususnya untuk mengenakan setelan pakaian serba hitam yang biasa ia gunakan untuk beraksi. Dengan gerakan yang teramat lihai dan terbiasa, ia mengenakan rompi antipeluru tebal di balik jaketnya, mengikat sabuk tempat penyimpanan pisau lipat di paha kanan, serta menyiapkan berbagai macam perlengkapan lainnya di dalam tas khusus. Demi kelancaran misi berisiko tinggi malam ini, Amoera bahkan telah menyusun tiga rencana cadangan sekaligus di dalam kepalanya, sebagai langkah antisipasi seandainya rencana utama miliknya mengalami kegagalan di lapangan nanti.
"Misi yang akan kamu jalani kali ini ... apakah tingkat bahayanya teramat sangat tinggi, Ra?"
Sebuah suara bisikan cemas dari arah belakang seketika memecah keheningan kamar. Agnes yang rupanya sejak tadi sudah merebahkan tubuhnya di sisi kosong ranjang tepat di samping Eren tampak menatap ke arah Amoera dengan pandangan mata yang dipenuhi rasa khawatir.
"Lumayan. Target yang harus kuhabisi malam ini adalah seorang anak kecil yang merupakan pewaris tunggal dari sebuah jaringan organisasi mafia kelas atas," jawab Amoera dengan nada suara yang teramat datar dan dingin tanpa emosi sembari fokus memeriksa magasin peluru senapannya.
"Apa?!"
Jawaban itu seketika membuat Agnes terkejut setengah mati. Wanita itu mendadak langsung beranjak duduk tegak di atas ranjang dengan sepasang mata yang membulat sempurna karena syok yang luar biasa.
"Kamu tahu betul apa resiko terbesar di balik semua ini bukan, Amoera?! Kamu menghabisi darah daging dari penguasa dunia bawah! Setelah misi ini selesai, kamu pasti akan diburu dan dicari oleh seluruh jaringan mafia di dunia ini sampai mati!" ucap Agnes dengan nada suara berbisik namun penuh penekanan menahan ngeri.
"Ya, aku sangat tahu dan menyadari resiko mengerikan itu, Agnes," sahut Amoera tenang sembari mengokang senjatanya hingga menimbulkan bunyi klik logam yang dingin. "Tapi setelah uang imbalan sebesar 50 juta dollar itu cair sepenuhnya ke dalam rekeningku besok pagi ... aku akan langsung membawa Eren pergi menjauh dari kota ini secepat mungkin. Kami akan pergi bersembunyi ke suatu tempat yang terpencil di luar negeri, menetap di sana sampai seluruh situasi di dunia bawah kembali mereda sepenuhnya," lanjut Amoera, sebuah rencana besar yang seketika membuat mulut Agnes menganga lebar karena tidak percaya.
"A-apa? 50 juta dollar?!" pekik Agnes tertahan dengan tangan yang refleks menutup mulutnya agar tidak membangunkan Eren.
Amoera hanya memberikan anggukan kepala pendek sebagai jawaban pembenaran. Ia segera memasukkan senapan laras panjangnya ke dalam tas khusus hitam besarnya, lalu menyampirkannya di bahu kanan.
"Ya. Jadi, tolong jaga dan awasi Eren dengan baik selama aku pergi malam ini, Agnes. Aku berjanji akan segera kembali secepatnya setelah semuanya selesai," ucap Amoera sembari melangkah lebar mendekati pintu keluar kamar tidur.
Jemarinya terangkat, bersiap untuk memutar knop pintu kayu di hadapannya. Namun, tepat pada detik ketika kulit telapak tangannya menyentuh permukaan dingin knop pintu tersebut, detak jantung di dalam dada Amoera mendadak berdenyut dengan teramat sangat kencang dan bertalu-talu tanpa alasan yang jelas.
Sebuah rasa sesak yang aneh mendadak menghimpit rongga dadanya, dan sepasang kakinya seketika terasa begitu berat untuk sekadar dilangkahkan maju ke depan, seolah-olah ada kekuatan tak kasat mata yang sedang menahan tubuhnya agar tidak pergi keluar dari dalam rumah tersebut.
Perasaan tidak nyaman ini terasa sangat asing bagi Amoera. Ini bukanlah kali pertama dirinya pergi keluar malam untuk menghabisi nyawa seseorang di dunia bawah, lalu mengapa malam ini instingnya memberikan penolakan yang begitu hebat?
"Tenang ... semuanya pasti akan baik-baik saja," bisik Amoera lirih pada dirinya sendiri sembari memejamkan mata sejenak dan menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dalam dadanya.
Setelah berhasil menguasai diri kembali, ia memutar knop pintu dengan mantap, lalu melangkah keluar menembus kegelapan malam kota, memulai pergerakannya menuju lokasi misi maut yang tanpa ia ketahui akan mengubah seluruh garis takdir hidupnya selamanya.
____________
Aku bisa apa memangnya utk melarangmu
Cuma ada 1 syarat hrs kau penuhi
Bikin nenekmu itu sadar diri & bersikap baik
Tp klw dia keukeuh sureukeh keras kepala...jauhkan dia sejauh²nya dari aku & anak² kita