Kirana cuma pengen kuliah tenang. Tapi dosen paling galak sekampus malah jadi orang yang bikin jantungnya berdebar tanpa alasan.
Status dosen dan mahasiswi jadi tembok pemisah. Masa lalu kelam Alden jadi ancaman yang siap menghancurkan semuanya.
Satu pertanyaan tersisa: berani nggak, Kirana, jatuh cinta pada orang yang paling dilarang buat dicintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon W_ Wulandari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: KIRANA NGADU KE SAHABAT
Kirana duduk bersila di atas kasurnya, laptop terbuka di depan, tapi matanya tidak benar benar fokus pada layar. Sudah hampir sepuluh menit dia hanya menatap kursor yang berkedip di dokumen kosong, pikirannya melayang ke kejadian sore tadi di ruang dosen, ketika Alden membantunya menyelesaikan rumus proyeksi sambil sesekali melempar senyum tipis yang jarang sekali dia tunjukkan.
Ponselnya bergetar di samping bantal. Pesan dari Tesa muncul di layar.
"Kir, udah makan malam belum? Video call yuk, aku bosen sendirian."
Kirana tersenyum kecil, langsung menekan tombol panggilan video tanpa berpikir dua kali. Wajah Tesa muncul di layar, rambutnya sudah digelung asal, sedang duduk di kasurnya sendiri dengan semangkuk mi instan di pangkuan.
"Kir, mukamu kenapa? Dari tadi bengong doang keliatannya," tanya Tesa begitu panggilan tersambung, langsung memicingkan mata curiga.
"Nggak kenapa napa," jawab Kirana, meski nada suaranya sendiri terdengar tidak meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.
"Bohong. Kamu tuh kalau lagi mikirin sesuatu, alismu suka nyatu gitu," Tesa menunjuk layar dengan sendoknya. "Cerita dong, ada apa?"
Kirana menghela napas panjang, akhirnya menyerah untuk menyembunyikan apa yang sedang berkecamuk di kepalanya. "Tes, boleh nggak aku cerita sesuatu, tapi kamu janji nggak bakal heboh?"
"Tergantung ceritanya sih," Tesa menyeringai jahil, "tapi oke, aku janji nggak bakal terlalu heboh. Cerita aja."
"Jadi tadi sore, aku ke ruang dosen buat nanya soal tugas kelompok," Kirana mulai bercerita, memainkan ujung selimutnya sendiri. "Terus Pak Alden bantuin aku ngerjain, sabar banget jelasinnya. Terus pas aku berhasil, dia senyum, Tes. Beneran senyum, bukan cuma ngangkat alis doang kayak biasanya."
"Terus?" Tesa mengunyah mi-nya, menunggu kelanjutan cerita dengan antusias.
"Terus dia bilang, dia suka mahasiswa yang mau berusaha sendiri dulu sebelum minta bantuan," lanjut Kirana, suaranya mengecil di akhir kalimat. "Dan pas dia bilang itu, entah kenapa jantungku langsung berdebar kayak abis lari. Padahal itu kan cuma kalimat biasa, Tes, kalimat yang mungkin bakal dia bilang ke mahasiswa manapun."
Tesa meletakkan mangkuk mi-nya, mendekatkan wajah ke kamera, matanya berbinar penuh minat. "Kir, dengerin aku baik baik. Itu bukan reaksi biasa buat kalimat biasa."
"Tapi kan dia dosen, Tes. Aku mahasiswa," Kirana menggeleng cepat, mencoba menyangkal sebelum Tesa sempat melanjutkan. "Nggak mungkin ada apa apa. Lagian kita baru kenal juga belum sebulan."
"Perasaan nggak butuh waktu sebulan buat tumbuh, Kir," Tesa menjawab, kali ini nadanya lebih serius dari biasanya. "Kadang cuma butuh satu momen yang pas. Dan dari cerita cerita kamu selama ini, keliatannya udah ada beberapa momen yang bikin kamu mikirin dia terus terusan."
Kirana terdiam, tidak bisa langsung membantah. Dia menarik napas dalam dalam, mencoba menata pikirannya sendiri.
"Tapi ini salah, kan? Maksudku, kalau beneran ada perasaan kayak gitu, ini kan nggak boleh."
"Kenapa nggak boleh?" Tesa bertanya balik, tidak dengan nada menghakimi, hanya penasaran.
"Ya karena dia dosen aku, Tes. Ada batasan yang harusnya nggak dilewatin," jawab
Kirana, suaranya mulai bergetar sedikit, campuran antara bingung dan takut. "Kalau ketahuan ada perasaan kayak gini, bisa bisa aku dikira cari muka buat nilai. Atau lebih parah lagi, bisa ngerusak nama baik dia sebagai dosen."
Tesa terdiam sejenak, mempertimbangkan kata katanya sebelum menjawab. "Kir, aku nggak bilang kamu harus langsung ngejar dia atau semacamnya. Tapi kamu juga nggak bisa maksa diri kamu buat berhenti ngerasain sesuatu, kalau emang perasaan itu udah ada."
"Terus aku harus gimana?" tanya Kirana, suaranya terdengar frustrasi.
"Ya jalanin dulu aja apa adanya," Tesa mengangkat bahu, "nggak usah dipaksa buat suka, tapi juga nggak usah dipaksa buat berhenti suka. Liat aja gimana perkembangannya. Yang penting kamu tetep fokus kuliah, dan jangan sampe hal ini bikin kamu ngelakuin sesuatu yang aneh aneh."
Kirana mengangguk pelan, meski hatinya masih dipenuhi kebingungan. "Makasih ya, Tes, udah mau denger curhatanku yang aneh ini."
"Ya iyalah, kan aku sahabat kamu," Tesa tersenyum lebar, "tapi inget, kalau ada perkembangan apa apa, kamu harus cerita ke aku duluan. Jangan sampe aku denger dari orang lain."
"Siap, Bos," Kirana tertawa kecil, suasana hatinya sedikit membaik setelah bercerita.
"Oh iya, Kir," Tesa tiba tiba teringat sesuatu,
"kamu udah denger belum soal rumor yang beredar soal masa lalu Pak Alden?"
"Rumor apaan?" Kirana mengernyit, penasaran.
"Katanya sih, dulu dia pernah punya calon istri, tapi entah kenapa hubungannya berakhir dengan cara yang nggak baik. Makanya dia jadi sekaku dan sedingin itu sekarang," jelas
Tesa, nadanya lebih pelan seperti sedang membicarakan sesuatu yang sensitif.
Kirana terdiam, sesuatu di dadanya terasa berat mendengar cerita itu. "Serius? Dari mana kamu denger?"
"Dari senior yang kebetulan kenal sama salah satu dosen senior di jurusan kita. Tapi ya, namanya juga gosip, Kir, belum tentu bener semua," Tesa buru buru menambahkan, tidak ingin membuat Kirana terlalu berasumsi.
"Tapi kalau bener," gumam Kirana pelan, lebih kepada dirinya sendiri, "pantes aja dia jadi kayak gitu sekarang."
"Kir, jangan terlalu dipikirin dulu. Itu kan cuma gosip, belum tentu akurat," Tesa mengingatkan, melihat raut wajah sahabatnya yang mulai terlihat murung.
"Iya, iya," Kirana mengangguk, meski pikirannya sudah terlanjur dipenuhi berbagai pertanyaan baru. Siapa wanita yang dimaksud? Apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa dia merasa sesak mendengar cerita tentang masa lalu Alden yang bahkan belum tentu benar adanya?
Mereka melanjutkan obrolan sampai malam semakin larut, membahas hal hal lain yang lebih ringan, tapi di dalam hati Kirana, rasa penasaran tentang masa lalu Alden terus mengendap, bercampur dengan perasaan yang belum sepenuhnya dia mengerti sendiri.
Sebelum menutup panggilan, Tesa sempat berpesan, "Kir, apapun yang terjadi nanti, aku selalu di sini buat dengerin kamu. Tapi tolong, jaga diri kamu juga. Jangan sampe kebawa perasaan yang bisa nyakitin kamu sendiri."
"Makasih, Tes," Kirana tersenyum tulus, meski ada sedikit kekhawatiran yang masih mengendap di dadanya. "Aku bakal hati hati kok."
Setelah panggilan berakhir, Kirana berbaring menatap langit langit kamar, pikirannya dipenuhi bayangan wajah Alden, senyum tipisnya, dan kini ditambah dengan pertanyaan pertanyaan baru tentang masa lalu yang mungkin menjadi alasan di balik semua sikap dingin yang selama ini dia tunjukkan.
"Sarah," gumamnya pelan, entah dari mana nama itu tiba tiba muncul di kepalanya, meski dia sendiri tidak yakin apakah itu memang nama yang benar atau hanya sekadar tebakan acak yang muncul dari rasa penasarannya sendiri.
Dia menggeleng cepat, mencoba mengusir pikiran itu, tapi rasa penasaran yang sudah terlanjur tumbuh tidak semudah itu untuk dihilangkan begitu saja.