Di bawah nama besar Marga Vareksa—keluarga yang dikenal memiliki kekuasaan tak terbatas, koneksi ke segala penjuru, dan hati yang sekeras batu—Areksa Vareksa kini berdiri di puncak kekuasaan sebagai CEO termuda dalam sejarah perusahaan. Dingin, tajam, tak segan menyingkirkan siapa saja yang berani mengganggu jalannya. Bagi dunia luar, ia adalah sosok yang menakutkan; kejamnya mewarisi setiap tetes darah keluarganya, tak ada ruang untuk belas kasih—apalagi cinta.
Namun takdir punya cara paling kejam untuk membalas masa lalu.
Ia dijodohkan dengan putri dari keluarga konglomerat sekelas Vareksa. Dan saat wajah gadis itu terlihat jelas, dunia Areksa seakan berhenti berputar: Zevanna. Mantan kekasihnya—yang pernah ia sakiti, yang pernah ia tinggalkan tanpa kata, yang masih menyimpan luka mendalam akibat sifatnya yang liar dan tak terkendali.
Zevanna juga sama terkejutnya atas perjodohan itu dengan Areksa, si mantan mesum. Salah satu yang Zevanna benci. Akankah mereka bersatu kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ladies_kocak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Menguntungkan kedua belah pihak
Napas Zevanna tercekat. Rasanya pasokan udara di sekitarnya mendadak hilang. Belum sempat otak Zevanna mencerna tawaran gila itu, Areksa tiba-tiba menarik pinggang Zevanna secara kasar hingga tubuh wanita itu menabrak dada bidangnya.
Sebelum Zevanna sempat memprotes, Areksa membungkuk dan mendaratkan ciuman tajam serta panas di bibir istrinya. Tak cukup di situ, satu tangannya merengkuh tengkuk Zevanna agar wanita itu tidak bisa melarikan diri, sementara tangan satunya lagi menyusup turun ke pinggul dan meremasnya tanpa rasa bersalah. Tangan Areksa bergerak berani dan terkesan nakal di area sensitif pinggang hingga paha Zevanna, melakukan aksi mesum penuh dominasi secara terang-terangan!
"Emmph--!" Zevanna membelalakkan mata, mencoba memberontak dengan memukul dada Areksa, namun cengkeraman pria itu terlalu kuat.
Aksi impulsif dan berani itu tidak terjadi di ruangan tersembunyi, melainkan tepat di lorong utama sebelum pintu kamar mereka. Beberapa pelayan yang sedang membawa nampan serta kepala pelayan yang berdiri tak jauh dari sana seketika membeku kaku.
Para pelayan hanya bisa menahan napas rapat-rapat, memalingkan wajah dengan canggung dan pipi yang mendadak memerah. Kepala pelayan bahkan harus menelan ludah dengan susah payah, mengelus dadanya sendiri melihat pemandangan vulgar di depan mata.
Apakah tuan muda mereka ini sudah gila? Bagaimana bisa dia melakukan aksi cumbu seberani itu tepat di depan jajaran staf dan pelayan yang semuanya masih jomblo ini?
Tuan muda... tolong kendalikan dirimu di depan para jomblo ini!!!
Sungguh sebuah siksaan batin yang tak berprikemanusiaan bagi kaum lajang di rumah itu!
Setelah puas menikmati kepanikan Zevanna dan keterkejutan para pelayan, Areksa melepaskan pagutannya secara tiba-tiba. Ia menyapu sudut bibir istrinya yang agak basah dengan ibu jarinya, lalu mendorong pintu kamar dan menarik Zevanna masuk ke dalam, membanting pintunya rapat-rapat di hadapan para pelayan yang masih ternganga.
Di dalam kamar yang kini hening, Zevanna terengah-engah dengan dada naik-turun dan wajah merona antara malu dan murka.
"Kau... gila, Areksa," bisik Zevanna dengan suara bergetar dan napas memburu. "Kau bukan hanya gila, tapi tidak punya malu! Dan soal syaratmu tadi... kau menjadikan anak darah dagingmu sendiri hanya sebagai alat politik keluargamu?"
Areksa tak tersinggung sedikit pun. Pria itu menyunggingkan senyum tipis yang semakin membuat dada Zevanna sesak. Ia melangkah mendekati Zevanna hingga punggung wanita itu menabrak pinggiran meja kayu.
"Sebut itu gila, atau sebut itu keberuntungan kedua belah pihak," sahut Areksa pelan, tepat di depan wajah Zevanna. Suaranya begitu tenang, namun menyiratkan dominasi mutlak. "Di keluarga ini, Zevanna, tidak ada yang cuma-cuma. Kakekmu memanfaatkanku untuk mengikatmu, kakekku memanfaatkanku untuk kekuasaan, dan kau memanfaatkan mereka untuk dendam ibumu. Kenapa aku tidak boleh memanfaatkan situasi ini untuk keuntunganku sendiri?"
Zevanna memalingkan wajah, menolak menatap mata tajam Areksa. Tangan Zevanna mencengkeram erat pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih.
Hatinya berkecamuk hebat. Di satu sisi, tawaran Areksa sangat menggiurkan untuk membongkar rahasia kematian ibunya. Namun di sisi lain, taruhannya terlalu besar: tubuhnya, kebebasannya, dan masa depan anak yang belum lahir.
"Kau punya waktu untuk berpikir, my dear," ucap Areksa seraya mengulurkan tangan, merapikan sehelai rambut Zevanna yang berantakan akibat ciuman panasnya tadi. Sentuhan jarinya yang dingin membuat Zevanna merinding kaku.
"Tapi ingat," bisik Areksa tepat di telinganya sebelum melangkah mundur, "pembunuh ibumu masih bernapas lega di rumah itu, makan di meja yang sama denganmu setiap hari... sementara kau cuma bisa bermain pura-pura jadi cucu yang baik."
Areksa berbalik, berjalan santai menuju sofa kamar tanpa membalikkan badan lagi.
"Kabari aku kalau kau sudah siap bertransaksi," pungkasnya dingin.
###
Zevanna tak bisa tidur sekejap pun. Kata-kata Areksa tentang kematian ibunya dan tawaran gila itu terus bergema, bertarung hebat dengan gengsi serta dendam yang membakar dadanya.
Pria itu mengira telah memegang kendali penuh. Areksa berpikir ia adalah satu-satunya pemain yang memegang kartu as dalam permainan ini.
Tapi Areksa salah besar... aku tidak akan menyerahkan diriku sebagai mangsa pasrah, batin Zevanna, matanya berkilat menembus kegelapan kamar.
Jika Areksa menginginkan transaksi, maka Zevanna akan mengubahnya menjadi kesepakatan dua arah yang berimbang dan menuntut syarat balik yang tak kalah mahal.
Zevanna bangkit dari tidurnya berjalan keluar kamar. Ia akan menyelesaikan sekarang tawaran suaminya itu. Ia menuju ke ruang kerja Areksa di sayap timur rumah. Tanpa mengetuk pintu, Zevanna langsung masuk melihat sang suami di balik meja yang sedang sibuk dengan berkas di malam sudah larut. Kapan pria ini istirahat?
Areksa tersenyum tipis melihat istrinya menemuinya dalam keadaan baju tidur tipis dan rambutnya agak berantakan. Dan jangan lupa kantong mata terlihat hitam. Istrinya pasti tidak bisa tidur memikirkan tawarannya.
"Jadi, bagaimana, my dear? Sudah memikirkan tawaran penukar rahasia kematian mama?" tanya Areksa santai, seolah sedang menanyakan cuaca. "Kakekku sudah tidak sabar menagih pewaris dariku. Dan kau tahu sendiri, pria tua itu bukan orang yang sabar."
"Kakekmu?" Zevanna menaikkan sebelah alisnya, meremehkan. "Kakek misterius yang bahkan tak pernah menunjukkan batang hidungnya di depan publik atau di hadapanku? Bagaimana aku bisa percaya kau melakukan ini demi dia, bukan demi ambisi pribadimu?"
Areksa terkekeh pelan, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Dia tidak butuh tampil di depan media untuk mengendalikan jalannya bisnis keluarga ini, Zevanna. Kehadirannya cukup berupa bayangan yang menekan leherku setiap hari."
"Kalau begitu, mari buat kesepakatan yang adil," potong Zevanna tegas. Ia memajukan tubuhnya, menatap lurus ke dalam manik mata tajam suaminya. "Aku menerima tawaranmu untuk memberikan seorang anak. Tapi syaratku bukan cuma pembongkaran rahasia kematian mama."
Areksa mengerutkan dahi, tertarik. "Oh? Kau mau menawar?"
"Pertama, kau bantu aku membongkar dan menghancurkan pembunuh mama di kediaman Valerius sampai tuntas," ujar Zevanna dengan nada dingin tanpa ragu. "Kedua... aku ingin 50% saham dan hak kendali penuh atas anak perusahaan utama keluargamu yang bergerak di bidang logistik aset yang selama ini diincar kakekmu."
Mata Areksa berkilat membahayakan. Senyum santainya perlahan pudar, digantikan oleh tatapan tajam bak elang yang menilai lawannya.
"Kau menuntut bagian dari kerajaan keluargaku?" suara Areksa turun beberapa oktaf, sarat akan ancaman.
"Bukan menuntut, tapi jaminan," sahut Zevanna tenang, menyilangkan dada. "Jika anak dalam kandunganku nanti menjadi alatmu untuk membungkam kakekmu dan mengamankan posisimu, maka aku harus memastikan anak itu dan diriku memiliki fondasi kekuasaan yang sah. Aku tidak sudi hanya dijadikan 'pabrik pembuat pewaris' lalu dibuang setelah dendamku selesai."
Atmosfer di ruang kerja mendadak begitu berat dan tegang.
Areksa berdiri perlahan dari kursinya. Langkah kakinya yang berat mengikis jarak di antara mereka hingga kini ia berdiri tepat di depan Zevanna. Pria itu membungkuk, mencengkeram kedua sisi tembok Zevanna, mengurung wanita itu dalam jarak yang sangat dekat.
"Kau jauh lebih liar dan serakah dari yang kubayangkan, Zevanna," gumam Areksa. "Tapi aku menyukainya, Baby"
Tangannya terulur, mencengkeram dagu Zevanna cukup kuat hingga wanita itu terpaksa menengadah. "Kau memanfaatkan tubuhmu sendiri untuk memeras kekuasaan dariku?"
"Aku belajar dari yang terbaik... suamiku" balas Zevanna tanpa mengedipkan mata, menantang cengkeraman Areksa. "Satu anak, pembunuh mama tamat, dan separuh aset logistik atas namaku. Itu harganya. Ambil atau cari wanita lain untuk melahirkan pewaris ghaib kakekmu."
Bukannya marah, bibir Areksa perlahan tertarik membentuk seringai lebar yang berbahaya. Sorot matanya memancarkan gairah intrik yang aneh. Ia sangat menyukai fakta bahwa istrinya bukan sekadar boneka penurut, melainkan lawan bertransaksi yang licik dan seimbang. Ia hamil melupakan satu fakta, istrinya bukan lagi gadis polos dan lugu, tapi seorang gadis yang sudah bisa berdiri dengan kakinya sendiri.
" DEAL," bisik Areksa tepat di depan bibir Zevanna. Cengkeramannya di dagu beralih menjadi usapan lembut yang membuat bulu kuduk Zevanna berdiri. "Aset itu milikmu begitu tes kehamilan menunjukkan hasil positif."
Areksa menunduk lebih dalam, mendaratkan ciuman singkat namun dalam di bibir Zevanna, menyegel transaksi gila mereka sebelum melangkah mundur.
"Persiapkan dirimu, Zevanna... malam ini, kita mulai pengerjaan kesepakatan kita."