Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 4: Hari Bebas
Matahari siang terasa asing di wajah Kirana.
Selama tiga tahun, langit selalu ia lihat dari balik jadwal, pagar, dan aturan. Hari ini, pintu Lembaga Pemasyarakatan sudah tertutup di belakangnya, tetapi tubuhnya masih berdiri kaku seperti menunggu seseorang memanggil namanya dan menyuruhnya kembali masuk.
Tidak ada yang menjemput.
Kirana memegang tas kain kecil berisi pakaian lama, beberapa dokumen pelepasan, dan uang yang tidak seberapa. Di dalam amplop cokelat, ada catatan yang lebih berat daripada semua barangnya: status hukum yang akan mengikuti ke mana pun ia pergi.
Bekas terpidana.
Ia berjalan ke halte terdekat tanpa menoleh. Sandalnya tipis, jalanan panas, dan suara kendaraan membuat kepalanya berdenyut. Namun ia tetap berjalan. Orang bebas boleh memilih arah, bahkan jika arah itu belum jelas.
Tujuan pertamanya bukan rumah.
Ia belum siap melihat rumah yang mungkin sudah tidak lagi terasa seperti miliknya.
Kirana masuk ke sebuah toko pakaian murah di pinggir jalan. Kipas angin di langit-langit berputar pelan, membawa bau kain baru, plastik, dan debu. Seorang pegawai muda menyambutnya dengan senyum setengah malas.
"Cari apa, Kak?"
Kirana menatap gantungan baju. Warna-warna cerah terasa terlalu ramai. Ia memilih kemeja putih sederhana, celana hitam, dan jaket tipis warna abu. Tidak mahal. Tidak mencolok. Cukup untuk membuatnya terlihat seperti perempuan biasa yang sedang memulai hari, bukan seseorang yang baru keluar dari penjara.
Di ruang ganti sempit, ia memandang dirinya di cermin.
Wajahnya lebih tirus. Mata lebih tajam. Ada garis kecil di dekat bibir yang dulu tidak ada. Gaun pengantin basah itu sudah lama hilang, tetapi bayangannya kadang masih menempel di kulit seperti noda yang tidak bisa dicuci.
Kirana mengganti pakaian pelan.
Ketika keluar, dua pelanggan di dekat rak kemeja sedang berbisik sambil melihat ponsel. Salah satu dari mereka menatap Kirana lebih lama, lalu menyikut temannya.
"Itu bukan yang kasus keluarga Sim dulu?"
"Yang bunuh orang pas malam nikah?"
Suara mereka tidak terlalu keras.
Tetapi cukup.
Tangan Kirana yang memegang jaket berhenti sebentar. Pegawai toko ikut melirik. Senyum pelayanannya menipis, lalu ia menggeser tubuh sedikit menjauh dari meja kasir.
Kirana meletakkan pakaian di meja.
"Berapa?"
Pegawai itu menyebut harga tanpa menatap mata Kirana.
Kirana membayar tunai. Koin-koin kecil bergesekan di telapak tangannya. Ia bisa merasakan tatapan di punggungnya ketika berjalan keluar. Dulu, tatapan seperti itu bisa membuatnya ingin menjelaskan. Sekarang, ia tahu penjelasan tanpa bukti hanya memberi orang bahan baru untuk menertawakan.
Di salon kecil sebelah toko, ia meminta rambutnya dipotong sebahu.
"Sayang, Kak. Rambutnya bagus," kata pemilik salon.
"Potong saja."
Gunting mulai bekerja. Helai rambut jatuh ke lantai seperti sisa tiga tahun yang akhirnya bisa dilepaskan. Kirana memejamkan mata. Setiap potongan terasa ringan, tetapi bukan berarti masa lalu ikut terpotong. Masa lalu hanya berganti bentuk, dari luka terbuka menjadi sesuatu yang lebih dingin.
Setelah selesai, ia berdiri di depan cermin.
Perempuan di depannya tidak terlihat seperti pengantin yang berlari di tengah hujan. Tidak terlihat seperti terdakwa yang menggigil di ruang sidang. Ia terlihat kurus, sederhana, dan terlalu tenang untuk seseorang yang baru mendapatkan kembali kebebasan.
"Mau cari kerja, Kak?" tanya pemilik salon sambil menyapu rambut.
Kirana mengangguk kecil.
"Sekarang banyak tempat minta SKCK," perempuan itu berkata tanpa niat buruk. "Apalagi kantor bagus. Kalau ada catatan, susah."
Kirana memandang amplop cokelat di tasnya.
Susah.
Kata itu terdengar terlalu ringan untuk sesuatu yang bisa mengunci semua pintu.
Di ponsel murah yang baru ia aktifkan kembali, ada dua lowongan kerja yang tadi pagi sempat ia simpan dari papan pengumuman dekat halte. Keduanya meminta SKCK aktif dan surat keterangan berkelakuan baik. Kirana menghapus tangkapan layar itu satu per satu. Bukan karena ia menyerah, tetapi karena ia tidak ingin memulai kebebasan dengan mengetuk pintu yang sejak awal sudah menuliskan namanya sebagai alasan penolakan.
Ia keluar dari salon menjelang sore. Di warung kecil dekat jalan, televisi menyiarkan acara infotainment dengan volume tinggi. Dua pria berbaju rapi muncul di layar, membahas acara amal konglomerat di The Segara Club malam itu. Nama Boyantara Group disebut, disusul bisik-bisik tentang seorang pengendali keluarga Sim yang jarang muncul di publik.
"Katanya orangnya sakit-sakitan," ujar pelanggan warung.
"Tapi kalau dia mau bantu, satu kata saja bisa bikin orang naik lagi."
Kirana berhenti di depan warung.
Satu kata.
Tiga tahun lalu, satu kata dari Reuben bisa menyelamatkannya. Kata itu tidak pernah datang.
Mungkin malam ini ia tidak butuh diselamatkan.
Mungkin ia hanya butuh satu pintu yang bisa ia paksa terbuka.
Kirana membeli air mineral, duduk di bangku plastik, dan membuka amplop dokumennya. Jari-jarinya menyentuh kertas pelepasan, lalu berhenti pada catatan yang akan membuat SKCK-nya ternoda. Ia menatap kertas itu lama.
Kalau ia mengikuti jalan biasa, dunia akan menolaknya pelan-pelan sampai ia kehabisan napas.
Maka ia harus mencari jalan yang tidak biasa.
Di layar televisi, pembawa acara menyebut The Segara Club lagi. Acara dimulai pukul sembilan malam. Undangan terbatas. Tamu elite. Nama-nama yang dulu hanya ia dengar dari jauh.
Kirana memasukkan kembali dokumennya ke tas.
Sore itu, dengan rambut yang baru dipotong dan pakaian murah yang masih kaku di badan, ia membuat keputusan pertama sebagai perempuan bebas.
Malam ini, ia akan pergi ke The Segara Club dan mempertaruhkan satu-satunya hal yang masih ia punya: keberanian untuk tidak lagi memohon.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔