"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."
Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.
Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.
kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.
Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Beban yang Menyusahkan.
***
Rontaan Freya sama sekali tidak menggoyahkan langkah tegap Galen. Pria berusia dua puluh tiga tahun itu terus berjalan menyusuri lorong rumah sakit yang dingin, mengabaikan tatapan iba dari orang-orang yang mereka lewati.
Baginya, tangisan anak kecil adalah suara paling bising dan mengganggu yang pernah ia dengar.
Namun, amanat terakhir dari mendiang rekan bisnis ayahnya memaksa Galen untuk menahan diri.
Galen mendorong pintu kaca lobi rumah sakit dengan bahunya, membawa Freya keluar menuju area parkir VIP di bawah guyuran sisa-sisa hujan malam itu.
Sebuah mobil sedan hitam mewah bermerek Mercedes-Benz keluaran terbaru sudah terparkir rapi.
Dengan satu tangan yang menahan tubuh Freya agar tidak merosot, Galen merogoh saku jasnya, menekan tombol remote kunci, lalu membuka pintu kursi penumpang bagian belakang.
BRUK!
Galen mendudukkan Freya di atas jok kulit yang empuk dengan sedikit kasar, tidak berniat untuk bersikap lembut sama sekali.
"Duduk disini dan diam". Perintah Galen. Suara baritonnya terdengar rendah—tajam, dan penuh penekanan yang mutlak.
Namun, Freya yang dunianya baru saja hancur tidak sudi mendengarkan perintah pria asing tersebut.
Begitu pantatnya menyentuh jok, gadis kecil itu langsung bergerak merangkak, mencoba membuka pintu mobil dari dalam untuk kembali ke ruang rawat papanya yang sudah terbaring kaku tak bernyawa.
"Tidak mau! Aku mau Papa! Kakak jahat, lepaskan aku! Aku mau kembali ke dalam!". Jerit Freya. Air matanya bercampur dengan peluh, membuat anak rambut di keningnya menempel berantakan.
Luka goresan kecil di pipinya akibat kecelakaan tadi kembali perih terkena tetesan air mata, namun Freya sama sekali tidak peduli.
KLIK.
Sebelum jemari mungil Freya berhasil menyentuh tuas pintu, Galen lebih cepat menekan tombol child lock dari panel kemudi di bagian depan.
Pintu mobil itu terkunci otomatis dari luar, mengurung Freya di dalam kabin yang kedap suara.
Galen mengitari mobil, lalu masuk dan duduk di kursi pengemudi. Ia melonggarkan dasinya yang terasa mencekik, lalu melirik ke kaca spion tengah.
Di sana, pantulan wajah Freya yang memerah dan sembap terlihat jelas. Gadis kecil berumur sebelas tahun itu kini memukul-mukul kaca jendela mobil dengan kepalan tangan kecilnya, terus meraung memanggil nama sang papa.
"PAPA! PAPA JANGAN TINGGALKAN FREYA! KAK, BUKA PINTUNYA!"
Suara lengkingan Freya yang serak memenuhi kabin mobil yang sempit itu. Menangis histeris selama berjam-jam sejak di lokasi kejadian hingga di rumah sakit membuat pita suaranya nyaris rusak.
Galen memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Ia menyalakan mesin mobil, membiarkan AC dingin mulai berembus, berharap suhu udara yang sejuk bisa membungkam mulut anak kecil itu.
Namun, usahanya sia-sia. Freya justru beralih memukul bagian belakang jok tempat Galen duduk.
"Kakak egois! Kakak tidak punya hati! Papa dan mamaku masih di dalam, kenapa kakak bawa aku ke sini?!". Raung Freya, menatap punggung tegap Galen dengan pandangan benci yang amat mendalam. "Aku benci kakak! Buka pintunya!".
Galen membalikkan tubuh nya perlahan. Sepasang mata elangnya yang sedingin es menatap lurus ke dalam manik mata Freya yang basah.
Tatapan itu begitu mengintimidasi, membuat tangis Freya sempat tertahan sedetik karena rasa takut yang tiba-tiba menyergap.
"Dengar, Anak Kecil," Ucap Galen, setiap katanya terdengar lambat namun menusuk. "Menangis sampai matamu keluar pun tidak akan membuat orang tuamu hidup kembali. Mereka sudah menjadi mayat. Dan di dunia ini, mayat tidak bisa berjalan pulang."
"Bohong! Papa cuma tidur! Papa janji tidak akan tinggalkan Freya!". Freya menggelengkan kepalanya dengan kuat, menolak mentah-mentah ucapan kejam Galen.
Gadis kecil itu menutup kedua telinganya dengan tangan, meringkuk di sudut jok mobil sambil terus terisak. "Papa tidak mungkin mati... Mama tidak mungkin mati..."
"Aku tidak suka membuang waktu untuk berbohong pada anak kecil sepertimu". Balas Galen dingin, kembali menghadap ke depan. "Mulai hari ini, hidupmu adalah urusan keluarga Danendra. Jadi, simpan suaramu sebelum aku kehilangan kesabaran dan menonaktifkan AC di mobil ini."
Freya tidak menjawab lagi. Ia hanya bisa menangis sesenggukan. Tubuhnya yang mungil bergetar hebat, memeluk kedua lututnya sendiri di atas jok mobil.
Rasa kehilangan yang amat besar—rasa takut akan masa depan yang tidak pasti—serta rasa sakit di kepalanya akibat benturan kecelakaan tadi berbaur menjadi satu, menyiksa batin dan fisiknya yang masih sangat belia.
"Mama... Papa... jemput Freya... Freya takut di sini bersama kakak menyeramkan ini..." Bisik Freya lirih di sela-sela tangisnya yang mulai melemah. Napasnya mulai memburu, tersengal-sengal karena pasokan oksigen ke paru-parunya terganggu akibat terlalu lama meraung.
Galen memejamkan mata nya sejenak di balik kemudi. Suara isakan Freya yang kini berubah menjadi rintihan kecil tetap saja mengusik ketenangannya.
Ia melirik jam tangan Rolex-nya. Sudah lewat tengah malam, dan ayahnya, Baskoro, masih belum juga kembali dari ruang administrasi rumah sakit.
Keheningan yang mencekam tiba-tiba menyelimuti bagian belakang mobil. Suara rintihan Freya yang tadinya konstan perlahan-lahan menghilang.
Kabin mobil itu kini hanya menyisakan suara deru mesin yang halus.
Merasa ada yang aneh, Galen kembali melirik ke arah kaca spion tengah. Keningnya langsung berkerut dalam saat melihat tubuh Freya yang tadinya meringkuk, kini sudah terkulai lemas di atas jok kulit.
Kepala gadis kecil itu terkulai ke samping, dengan mata yang terpejam rapat dan wajah yang pucat pasi seputih kertas.
Galen tersentak kaget. Jantungnya sempat melewatkan satu detakan. "Hei," panggilnya dari kursi depan.
Namun tidak ada jawaban dari gadis kecil itu.
"Anak Kecil, jangan main-main. Bangun," suara Galen naik satu oktaf, namun tubuh di kursi belakang tetap bergeming.
Dengan perasaan gusar yang bercampur panik—meski ia tidak mau mengakuinya—Galen langsung melepas sabuk pengamannya dan berpindah ke kursi belakang dengan cepat.
Ia meraih bahu mungil Freya dan mengguncangnya pelan. Tubuh gadis itu terasa sangat lemas, persis seperti boneka kain yang kehilangan penyangganya.
Saat tangan Galen tidak sengaja menyentuh kening Freya, hawa panas yang menyengat langsung terasa.
Anak ini demam tinggi, ditambah dehidrasi dan kelelahan ekstrem karena menangis tanpa henti.
Freya benar-benar pingsan.
Galen mengembuskan napas kasar dari mulutnya, menyugar rambut hitamnya ke belakang dengan perasaan sangat jengkel.
Alisnya menukik tajam menatap wajah polos Freya yang masih menyisakan jejak air mata di pipinya.
"Sialan". Umpat Galen berbisik, rahangnya mengeras karena menahan kekesalan. "Baru beberapa jam aku memegang tanggung jawab ini, dan dia sudah membuat masalah."
Pria itu menatap tangan kanan Freya yang terkulai. Di jari-jari mungil itu, masih ada noda darah kering yang berasal dari luka papanya di ruang rawat tadi.
Galen mendengus, merasa bahwa kehadiran anak perempuan berumur sebelas tahun ini hanya akan menjadi kerikil tajam dalam kehidupan dewasanya yang tenang dan penuh perhitungan bisnis.
"Benar-benar menyusahkan". Gumam Galen dengan nada yang sarat akan rasa kesal dan dingin. "Kenapa Papa harus menerima beban seperti ini dari orang mati?"
Meskipun mulut nya terus mengeluarkan kata-kata kejam dan penuh keluhan, tangan besar Galen tetap bergerak. Ia merapikan posisi tidur Freya di atas jok agar kepalanya tidak tertekuk, lalu melepaskan jas hitam mahalnya.
Dengan gerakan yang kaku dan tidak terbiasa, Galen menyelimuti tubuh mungil Freya yang menggigil kedinginan menggunakan jasnya yang hangat.
Galen kembali ke kursi kemudi, menatap lurus ke arah pintu keluar rumah sakit dengan pandangan yang semakin menggelap.
Di malam yang terkutuk ini, ia tahu bahwa takdir telah mengikatnya pada seorang anak yatim piatu yang rapuh—sebuah ikatan yang ia yakini akan berjalan dengan sangat kejam dan penuh paksaan di masa depan.
Malam yang panjang itu akhirnya berlalu dengan ketegangan yang merayap di dalam kabin mobil sedan hitam milik Galen.
Baskoro Danendra baru kembali ke mobil hampir dua jam kemudian, setelah seluruh urusan administrasi dan persiapan jenazah selesai.
Pria paruh baya itu terkejut melihat Freya yang sudah terbaring pingsan dengan berselimutkan jas milik putranya.
Tanpa banyak bicara, malam itu mereka membawa Freya langsung ke kediaman utama keluarga Danendra.
Sepanjang sisa malam, Freya dirawat oleh dokter pribadi keluarga untuk menurunkan demam tingginya akibat syok berat.
Sementara Galen?
Pria itu memilih langsung mengunci diri di ruang kerjanya, menenggelamkan diri dalam tumpukan berkas perusahaan, berusaha mengusir rasa jengkel akibat tangisan anak kecil yang seolah masih terngiang di telinganya.
***