Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Terpanjang
Kabar penyerbuan menyebar lebih cepat daripada yang bisa kami kendalikan. Dalam waktu kurang dari satu jam, gang-gang Karang Wetan yang biasanya sepi di malam hari dipenuhi warga yang keluar dari rumah masing-masing, sebagian membawa lentera kecil seperti yang mereka pakai waktu aksi di depan pengadilan dulu, sebagian lainnya hanya berdiri dengan tangan kosong, tapi wajah yang menunjukkan tekad yang sama.
Aku berdiri di depan warung Bu Inah, yang sudah berkali-kali jadi saksi perjalanan panjang kami, menyaksikan Yanto mengoordinasikan warga membentuk barisan di sepanjang gang utama, sementara Ujang sibuk memastikan setiap sudut terekam oleh siapa pun yang punya ponsel dengan baterai cukup.
"Mira udah siaga," kata Ujang, menunjukkan ponselnya. "Dia bilang, begitu ada tindakan apa pun malam ini, dia bakal siarkan langsung lewat akun medianya."
---
Barisan kendaraan satuan tugas mulai terlihat di ujung jalan besar menuju Karang Wetan, lampu-lampu mereka menerangi kabut tipis malam itu dengan cara yang terasa mengancam. Aku bisa menghitung setidaknya sepuluh kendaraan, jauh lebih banyak dari operasi penggusuran sebelumnya.
Di tengah warga yang mulai gelisah, aku naik ke atas bangku kayu di depan warung Bu Inah, mencoba menenangkan suasana sekaligus memastikan semua orang memahami rencana kami malam itu.
"Kita nggak akan lawan mereka pakai kekerasan," kataku, suaraku bergema di sepanjang gang yang mendadak hening. "Sama kayak waktu kita hadapi alat berat dulu. Kita berdiri, kita nggak mundur, tapi kita nggak akan jadi yang mulai kekerasan. Biarkan mereka yang harus jelasin ke seluruh negeri, kenapa mereka datang malam-malam bawa pasukan segini banyak, cuma buat tangkep orang-orang yang berdiri diam di depan rumah mereka sendiri."
---
Satuan tugas berhenti di mulut gang utama, dan dari salah satu kendaraan, aku melihat sosok yang sudah kukenali—Komisaris Baskoro sendiri, kali ini turun langsung, tidak lagi hanya mengawasi dari kejauhan seperti operasi sebelumnya. Di sampingnya, seorang pria berjas rapi yang belum pernah kulihat langsung, tapi cukup untuk kutebak sebagai perwakilan langsung dari kantor Bupati Hardian.
Baskoro melangkah maju beberapa meter, menatap barisan warga yang menghadangnya dengan tenang, sebelum matanya berhenti padaku, berdiri di antara Yanto dan Ujang di barisan paling depan.
"Rangga," katanya, suaranya keras agar terdengar oleh semua yang hadir, "saya harap kamu cukup pintar buat sadar, malam ini situasinya beda. Saya punya surat resmi buat nangkep kamu dan beberapa orang lain yang dianggap bertanggung jawab atas kekacauan ini. Jangan bikin ini jadi lebih rumit dari yang seharusnya."
---
Aku melangkah maju, mencoba menjaga suaraku tetap tenang meski jantungku berdebar keras. "Komisaris, sebelum bapak lanjut, saya cuma mau ingetin satu hal—semua yang terjadi malam ini lagi direkam, dan disiarkan langsung. Bukan cuma sama orang-orang di sini, tapi sama seluruh negeri yang belakangan ini udah denger rekaman suara bapak sendiri lewat pemberitaan kemarin."
Wajah Baskoro sedikit berubah mendengar itu, meski ia berusaha menjaga ekspresi tenangnya. "Itu nggak akan mengubah apa pun soal surat penangkapan ini."
"Mungkin nggak," jawabku, "tapi itu bakal ngubah gimana seluruh negeri lihat, apakah bapak nangkep orang yang beneran bersalah, atau bapak lagi coba bungkam orang-orang yang berani ngungkap kebenaran, tepat di malam yang sama waktu bukti soal bapak sendiri baru aja tersebar ke publik."
---
Ketegangan di udara terasa begitu pekat hingga bisa disentuh, warga di belakangku berdiri diam tanpa suara, sementara di kejauhan, aku bisa melihat lampu kamera dari beberapa titik yang jelas sedang menyiarkan kejadian ini secara langsung.
Pria berjas di samping Baskoro terlihat gelisah, berbisik sesuatu ke telinganya, sebuah percakapan singkat yang tidak bisa kudengar tapi jelas terlihat penuh ketegangan.
Beberapa menit yang terasa seperti selamanya berlalu, sebelum akhirnya Baskoro menghela napas panjang, menatapku dengan campuran amarah dan sesuatu yang mirip kekalahan yang tertahan.
"Operasi malam ini ditunda," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari sebelumnya, lebih ke arah anak buahnya daripada padaku. "Kita mundur."
---
Sorak kelegaan dan tangis haru pecah di sepanjang gang begitu barisan kendaraan satuan tugas mulai berbalik arah, meninggalkan Karang Wetan yang malam itu selamat, setidaknya untuk sementara waktu.
Aku berdiri di tengah kerumunan yang saling berpelukan, merasakan lututku hampir lemas oleh kelegaan yang begitu besar, sebelum Yanto menepuk pundakku, wajahnya penuh emosi yang jarang ia tunjukkan secara terbuka.
"Kita berhasil, Rangga."
Aku menatap ke arah gang yang kini dipenuhi cahaya lentera kecil yang dibawa warga, wajah-wajah lelah tapi bahagia dari orang-orang yang sudah kukenal seumur hidupku, dan aku menyadari sesuatu yang membuat dadaku terasa penuh—malam ini bukan cuma soal aku yang selamat dari penangkapan.
Malam ini adalah bukti bahwa kekuatan yang selama bertahun-tahun terasa begitu tak tersentuh, akhirnya bisa dipaksa mundur, bukan oleh kekerasan, melainkan oleh keberanian kolektif ratusan orang yang memilih berdiri bersama, di bawah cahaya lentera yang sama.
Tapi aku juga tahu, jauh di dalam hati, ini belum berakhir. Baskoro mundur malam ini bukan karena menyerah, melainkan karena terpojok. Dan orang yang terpojok, cepat atau lambat, akan mencari cara lain untuk membalas.
---
*(Bersambung ke Bab 35)*