Arga mati di tangan zombie Tier 7 setelah 10 tahun bertahan di kiamat. Namun, dia terbangun kembali ke 30 hari sebelum wabah Necrovirus Sapiens melanda dunia. Di tubuhnya yang masih muda dan lemah, dia membawa pengetahuan 10 tahun: lokasi kejadian penting, resep ramuan awakener, cara membuat senjata tier tinggi, dan nama-nama pengkhianat yang akan menghancurkan umat manusia.
Akankah Arga mampu mewujudkan impiannya? Ataukah Arga akan gagal kembali? Ikuti terus perkembangan ceritanya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon novelisnewbie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2: Pengumpulan Logistik
Pintu kamar kos menutup pelan dengan bunyi klik, tetapi bagi Arga, suara itu terasa seperti lembar terakhir dari kehidupan lamanya yang akhirnya tertutup rapat. Di dalam ransel yang tergantung di bahunya tersimpan barang-barang yang selama ini menjadi hasil jerih payah bertahun-tahun bekerja, sementara di kepalanya hanya ada satu pikiran: semua benda itu lebih berguna jika berubah menjadi kesempatan hidup.
Udara Jakarta menyambutnya dengan panas yang mulai menyengat. Kendaraan berseliweran memenuhi jalan, suara klakson bersahut-sahutan, tin... tin... brummm..., dan para pejalan kaki berlalu-lalang tanpa menyadari bahwa kota yang mereka cintai sedang menghitung mundur menuju kehancuran. Arga melangkah tenang di tengah keramaian, seolah dirinya hanyalah pekerja kantoran biasa yang sedang menyelesaikan urusan akhir pekan.
Toko elektronik pertama yang ia datangi masih ramai oleh calon pembeli. Seorang pegawai menyambutnya dengan senyum ramah, tetapi ekspresi pria itu berubah menjadi bingung ketika melihat Arga mengeluarkan laptop, kamera digital, dan beberapa aksesori yang masih tampak terawat.
"Mas mau jual semua?" tanya pegawai itu sambil memeriksa kondisi laptop. Jemarinya mengetuk keyboard, terdengar bunyi tak... tak... tak..., lalu ia mengangguk puas karena perangkat itu masih berfungsi sempurna.
"Iya, semuanya."
Pegawai itu mengangkat alis. "Sayang juga. Laptop begini masih bagus buat kerja. Kameranya juga lumayan mahal. Lagi butuh uang cepat?"
Arga hanya tersenyum tipis. "Bisa dibilang begitu."
Pegawai itu menawarkan harga yang menurut orang kebanyakan sudah cukup pantas. Tanpa menawar sedikit pun, Arga langsung menyetujuinya. Sikap itu justru membuat si pegawai semakin heran karena hampir semua pelanggan selalu berdebat soal selisih puluhan ribu rupiah.
"Mas yakin? Biasanya orang mikir dulu."
"Ada hal yang jauh lebih penting daripada selisih harga."
Pegawai itu tertawa kecil sambil menyerahkan uang hasil transaksi. Baginya, kalimat itu terdengar seperti ucapan seseorang yang sedang putus asa. Ia tidak tahu bahwa di mata Arga, laptop secanggih apa pun tidak akan berguna ketika listrik padam selamanya.
Perhentian berikutnya adalah pegadaian. Jam tangan yang selama ini selalu melingkari pergelangan tangannya dilepas perlahan, lalu diletakkan di atas meja kaca. Kilau logamnya masih memantulkan cahaya lampu ruangan, mengingatkan Arga pada hari ketika ia membeli benda itu sebagai hadiah untuk dirinya sendiri setelah memperoleh promosi jabatan.
Petugas pegadaian memeriksa jam tersebut cukup lama sebelum menyebutkan harga. "Kalau dijual sekarang agak rugi, Mas. Sebaiknya disimpan saja. Nilainya bisa naik."
Arga menggeleng pelan. "Sebulan lagi nilainya justru turun."
Petugas itu mengerutkan dahi. "Maksudnya?"
"Tidak ada apa-apa."
Arga menerima uang itu tanpa penjelasan tambahan. Ia tidak sedang berbohong, hanya saja kebenaran yang ia ketahui belum waktunya dipercaya siapa pun.
Sore menjelang ketika ia berdiri di depan dealer motor bekas. Motor sport hitam yang selama ini menemaninya bekerja diparkir perlahan. Jemarinya sempat mengusap tangki bensin yang mengilap, lalu ia terkekeh pelan karena teringat betapa bangganya dirinya saat pertama kali membawa pulang kendaraan itu.
Pemilik dealer mengelilingi motor tersebut sambil bersiul pelan. "Kondisinya masih bagus. Kenapa dijual?"
"Butuh uang."
"Lagi banyak cicilan?"
"Bisa dibilang... sedang mempersiapkan masa depan."
Pemilik dealer tertawa keras. "Kalau begitu justru jangan dijual. Motor ini aset."
Arga menatap jalanan di luar toko. Dalam ingatannya, jalan yang sama akan dipenuhi bangkai kendaraan yang saling bertumpuk hanya tiga puluh hari lagi. Mobil mewah, motor sport, bahkan truk militer, semuanya akan menjadi besi tua yang tak bisa bergerak karena dipenuhi mayat hidup.
"Sebulan lagi," gumamnya dalam hati, "sebotol air akan lebih mahal daripada kendaraan apa pun."
Ia menandatangani dokumen penjualan tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Ketika uang tunai berpindah ke tangannya, ia justru merasa lebih ringan dibanding kehilangan motor kesayangannya.
Menjelang siang, seluruh aset yang bisa dijual telah berubah menjadi tumpukan uang di dalam tas. Jumlahnya memang belum cukup untuk membeli segalanya, tetapi lebih dari cukup untuk memulai perlombaan yang bahkan belum diketahui orang lain.
Supermarket besar menjadi tujuan berikutnya. Begitu troli didorong masuk, roda kecilnya berbunyi kriiit... kriiit... mengikuti setiap langkah Arga yang berjalan cepat menyusuri lorong demi lorong. Matanya tidak tertarik pada makanan siap saji atau camilan mahal, melainkan langsung menuju rak berisi makanan kaleng, mi instan, biskuit tinggi kalori, dan beras kemasan.
Kaleng demi kaleng berpindah ke troli. Kardus air mineral menyusul setelahnya. Susu bubuk, gula, garam, minyak goreng, kopi, hingga berbagai makanan yang mampu bertahan bertahun-tahun memenuhi troli pertama. Saat pegawai sedang sibuk membantu pelanggan lain, Arga mendorong troli menuju area parkir belakang yang sepi.
Ia memastikan tidak ada seorang pun memperhatikannya.
Dalam satu tarikan napas, seluruh barang di depannya lenyap tanpa suara.
Wusss...
Troli yang semula penuh mendadak kosong.
Arga dapat merasakan semua logistik itu tersimpan rapi di dalam Ruang Dimensi. Tidak ada yang rusak. Tidak ada yang berubah. Seolah waktu berhenti tepat ketika benda-benda itu masuk ke sana.
Ia kembali ke dalam supermarket sambil mendorong troli kosong.
Seorang pegawai kebetulan melihatnya dan bertanya, "Mobilnya dekat ya, Mas? Cepat banget balik lagi."
"Iya."
Pegawai itu hanya mengangguk tanpa curiga sedikit pun.
Hal yang sama terus berulang sepanjang hari. Arga berpindah dari satu supermarket ke supermarket lain, dari toko grosir menuju apotek, lalu ke toko perlengkapan outdoor. Senter, baterai, power bank, kompor portable, tabung gas kecil, pisau lipat, tali nilon, pakaian lapangan, jas hujan, hingga kotak P3K memenuhi Ruang Dimensi sedikit demi sedikit.
Di apotek, seorang kasir bahkan memandangnya dengan heran ketika melihat jumlah obat yang dibelinya.
"Mas mau buka klinik?"
Arga tersenyum kecil. "Semoga tidak perlu."
Obat penurun panas, antibiotik, vitamin, cairan antiseptik, perban, obat diare, salep luka bakar, semuanya berpindah ke dalam tas belanja sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak di sudut parkiran.
Meski telah menghabiskan hampir seluruh uangnya, dada Arga justru terasa semakin berat. Ketika ia menghitung isi Ruang Dimensi, persediaan itu tampak sangat banyak untuk ukuran satu orang. Namun ia tahu, jika harus bertahan bertahun-tahun sambil melindungi orang-orang yang akan ia selamatkan, semua itu masih belum ada artinya.
Saat sedang memikirkan langkah berikutnya, ponselnya bergetar.
Bzzzt... bzzzt...
Nama yang muncul di layar membuat wajah Arga langsung melunak.
"Sari."
Begitu panggilan diterima, suara ceria adiknya langsung terdengar. "Bang, jangan bilang lupa sama janjimu."
Arga tersenyum tanpa sadar. "Janji apa?"
"Es krim. Masa baru beberapa jam udah pikun?"
Ia terkekeh pelan, suara yang hampir tidak pernah keluar selama bertahun-tahun di kehidupan sebelumnya. "Kamu di mana sekarang?"
"Minimarket dekat kampus. Lima belas menit lagi aku pulang."
"Aku ke sana."
Sari bersenandung kecil sebelum menutup telepon. Bagi gadis itu, percakapan tadi sama sekali tidak istimewa. Ia tidak tahu bahwa kakaknya rela menukar seluruh harta di dunia demi bisa mendengar suara itu sekali lagi.
Lima belas menit kemudian Arga tiba di depan minimarket. Dari kejauhan ia melihat Sari melambaikan tangan sambil membawa tas kuliah yang menggantung di bahunya. Gadis itu tampak sama seperti dalam ingatannya, penuh semangat dan selalu tersenyum seolah dunia tidak pernah memiliki sisi gelap.
"Kamu lama," protes Sari sambil menyilangkan tangan.
"Macet."
"Halah, alasan."
Mereka akhirnya duduk di kursi depan minimarket sambil menikmati es krim. Lelehan vanila menetes perlahan ke ujung cone, dan Sari buru-buru menjilatnya sambil tertawa kecil ketika sebagian mengenai hidungnya.
"Apa?" tanyanya saat melihat Arga terus memperhatikannya.
"Nggak."
"Kok senyum-senyum sendiri?"
"Aku cuma lagi mikir..."
"Mikir apa?"
Bahwa aku pernah kehilanganmu.
Kalimat itu berhenti di tenggorokan. Arga hanya menggeleng pelan sebelum menggigit es krimnya.
Sari mendengus. "Aneh."
Angin sore berembus lembut, menggoyangkan rambut gadis itu. Orang-orang keluar masuk minimarket seperti biasa, anak kecil menangis karena minta dibelikan permen, sementara suara mesin kopi otomatis berbunyi ssshhh... dari dalam toko.
Arga memandangi semua itu dengan dada yang sesak.
Di kehidupan sebelumnya, hari-hari sederhana seperti ini menghilang terlalu cepat. Yang tersisa hanyalah suara geraman zombie dan tangisan manusia.
"Aku bakal sibuk beberapa minggu ke depan," ujar Arga pelan.
Sari mengangguk santai. "Kerjaan?"
"Iya."
"Jangan lupa istirahat. Jangan kayak dulu lagi."
Arga tersenyum tipis. "Aku janji."
Namun di dalam hatinya, ia mengucapkan sumpah yang sama sekali berbeda.
Apa pun yang terjadi...
Kali ini aku akan menyelamatkanmu.
Malam turun ketika Arga kembali ke kamar kos. Setelah memastikan pintu terkunci, ia mengeluarkan sebuah peta Jakarta yang dulu hanya dipakainya untuk keperluan pekerjaan. Peta itu dibentangkan di atas meja, lalu ia mengambil spidol merah dan mulai menelusuri jalan demi jalan dengan ujung jarinya.
Akhirnya, spidol itu berhenti di sebuah kawasan yang tampak biasa saja. Dengan bunyi cekrek, tutup spidol terbuka, lalu sebuah lingkaran merah perlahan terbentuk di atas lokasi tersebut.
Tatapan Arga berubah tajam.
Di sanalah, dalam kehidupan sebelumnya, kristal zombie pertama muncul sebelum siapa pun memahami nilainya.
Ia menatap kalender sekali lagi.
Masih ada dua puluh sembilan hari.
Besok... aku mulai mengumpulkan semua yang kubutuhkan sebelum dunia menyadarinya.