Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AMNESIA
Tika, bertahanlah, sayang! Tolong jangan tinggalkan Ayah. Maafkan Ayah, sayang."
Perjalanan menuju rumah sakit terasa begitu lama. Aldri tak mampu menutupi rasa cemasnya. Ia sama sekali tak peduli dengan keberadaan orang di sekitar nya. Tangisotak henti beriringan dengan bunyi sirine.
Ambulans tiba langsung di sambut oleh beberapa paramedis. Mereka dengan sigap menangani Antika. Aldri tak lagi di izinkan mengikuti mereka ke ruang penanganan.
Aldri masih shock, bahkan sisa air mata masih terlihat jelas di kedua pipinya. Namun, dia berusaha menguatkan diri dan tetap tenang. Tangan nya mencoba menekan angka di ponselnya.
"Assalamualaikum, Ibu."
"Aldri, Masha Allah, Nak. Bagaimana Antika? Ibu cemas sekali. Tubuh tua ibu ini tidak mampu mengejar kalian."
"Begini Ibu...." Aldri pun menjelaskan semua kejadian yang menimpa Antika.
Ibu Aldri yang shock terduduk lemas di sofa ruang tamu nya. Bulir air mata mengalir di kedua pipinya yang mulai muncul garis keriput. Ia tak menyangka semua akan menjadi seperti itu kejadian nya. Setelah berusaha menenangkan diri, ibu Aldri meraih tasnya dan beranjak pergi menyusul Aldri ke rumah sakit.
Aldri mencoba duduk di deretan kursi tunggu. Tangan nya meraih rambut dan meremas nya frustasi. Dokter yang menangani kondisi Antika belum juga keluar. Beribu doa dan istighfar ia ucapkan dalam hati berharap berita baik yang datang menjelang.
Dokter yang menangani Antika akhirnya keluar. "Apakah Anda keluarga dari pasien?"
"Betul, Dok. saya Ayahnya. Bagaimana putri saya, Dok?"
"Kamu masih melakukan observasi lebih lanjut. Melihat kondisi nya saat ini lukanya sangat parah. Sementara kami menyatakan pasien dalam kondisi koma. Dan mohon maaf janin dalam kandungannya tidak dapat kami selamatkan."
Dokter berpamitan setelah menyampaikan kemungkinan terburuk yang akan dialami Antika. Aldri tak mampu menopang bobot tubuhnya. Kakinya lunglai seketika mendapatkan kabar tersebut. Perlahan ia mencoba duduk kembali dengan berpegangan di pinggiran kursi.
Ibu Aldri yang tiba sejak tadi mendengar semua percakapan tersebut. Ia duduk di samping Aldri dan membelai bahu putranya.
Aldri menoleh dengan wajah lesu. Ketika mengetahui keberadaan sang ibu tanpa pikir panjang, tubuhnya langsung memeluk sang ibu.
Keesokan harinya kondisi Antika masih sama belum ada perubahan. Keadaan ini berlangsung selama sebulan. Aldri memutuskan untuk meminta pihak rumah sakit memindahkan Antika ke ruangan lain yang lebih nyaman ketika luka-luka nya sudah mulai sembuh. Meskipun kesadaran Antika belum juga tiba.
"Kasihan banget katanya dia coba bunuh diri. Mungkin karena hamil di luar nikah."
"Hush jangan kenceng - kenceng dong, nanti ketahuan kita. Emang bener, seperti itu?" perawat satunya menjawab dengan kedikkan bahu.
Aldri Vigoro yang mendengar percaya dua perawat urung keluar dari toilet.
"Maaf. Aku cuma prihatin aja. kalau benar dia coba bunuh diri karena hamil di luar nikah.... Masih eksis aja cowok brengsek di dunia ini. Aku jadi ingat almarhumah kakak sepupu ku. Dia juga bunuh diri karena cowok nya gak mau tanggung jawab." perawat itu menghela nafas.
"Kakakku..gak akan menghadapi kejamnya dunia lagi karena dia sudah pergi dari dunia ini. Sedangkan gadis ini, dia bakalan menghadapi kenyataan buruk. Prespektif adat masyarakat ketimuran yang kolot. Dia sudah nggak perawan lagi dan lebih menyedihkan kemungkinan untuk memberikan keturunan sangat tipis karena kondisi rahimnya yang....hahh. Gak akan mudah menemukan cowok yang bisa menerima apa adanya terutama keluarganya."
"Ya, apapun alasannya tetap nggak bisa dibenarkan untuk mengakhiri hidup."
" Iya, kamu benar. Sebenarnya yang kejam bukan dunia, tapi pandangan masyarakatnya. Apapun kondisinya, mereka tetap memandang negatif korban."
Kedua perawat itu pun pergi setelah selesai melakukan tugas rutinnya.
Aldri menghela nafas. Ia menyandarkan diri ke dinding toilet. Kepalanya menengadah. Kedua tangannya menyisir kasar rambutnya. Saat ini dirinya semakin merasa jatuh ke dalam penyesalan.
Aldri menyentuh tangan Antika dan duduk di sampingnya. Putri cantiknya itu kini sangat kurus dan pucat.
"Sayang, kapan kamu bangun? Ayah sangat rindu canda tawamu. Apapun pendapat orang, kamu tetap putri cantik Ayah yang sama seperti dulu. Karena itu bangunlah, sayang."
Aldri mengecup lembut tangan Antika. Air mata yang datang tanpa diundang menetes ke punggung tangan Antika.
Jemari Antika bergerak lemah, Aldri terkejut merasakan gerakan itu. Ia menghapus air matanya dan refleks menekan tombol panggil dokter.
"Alhamdulillah, sepertinya Putri anda sudah sadar, Pak. Kami sudah melakukan pemeriksaan awal. Meskipun masih sangat lemah, saya dapat memastikan ia sudah sepenuhnya sadar. Kami akan tetap melakukan observasi dan memantau kondisinya."
" Alhamdulillah, ya Allah. Terima kasih banyak, Dok."
Kedua mata Antika perlahan terbuka. Pupil nya menyesuaikan intensitas cahaya yang masuk karena lama tak sadarkan diri.
"Tika, kamu sudah sadar, Sayang. Alhamdulillah." Aldri mendekat dan memeluk tubuh Antika.
"Ka-mu sia-pa?" tanya Antika lirih.
Aldri menatap wajah Antika dan dokter secara bergantian. Ia tak memahami apa yang terjadi. Mengapa putrinya tak mengingatnya.
"Dokter?"
"Tenang, Pak. Coba saya periksa dulu. Tika, apa yang kamu rasakan?"
"I-ni di-ma-na? Ke- pa- la- ku sa- kit." Antika memegang kepalanya dan kembali tak sadarkan diri.
"Tika! Ada apa ini, Dok?"
"Sabar, Pak jangan panik. Praduga sementara saat ini Putri anda dalam kondisi amnesia."
"Apa??"
" Kemungkinan karena benturan di kepala putri anda. Kita lihat lagi esok hari, ya, Pak!"
Antika dalam kondisi, selama sebulan. Ketika sadar gadis itu telah kehilangan ingatannya. Keesokan harinya pun Antika belum juga sadar. Akan tetapi dokter menyatakan hal yang melegakan karena semua hasil pemeriksaan normal. Hanya kondisi ingatan Antika saja yang bermasalah.
"Salah satu kemungkinan terbesar penyebab amnesianya karena trauma yang dia alami, Pak. Menurut Saya justru ini hal terbaik bagi Antika. Setidaknya hal ini akan mempercepat proses penyembuhannya. Dengan melupakan kejadian buruk yang menimpanya, ia akan lebih fokus sembuh. Di ambil hikmahnya saja, pak."
"Dok, apakah benar putri saya tidak akan bisa memiliki keturunan?"
" Sebagai petugas medis saya hanyalah manusia biasa. Apapun yang saya katakan tidak bisa menentukan masa depan seseorang. Semua akan kembali kepada takdir dari sang maha kuasa. Tapi, kami akui bahwa kemungkinan memiliki keturunan sangat kecil mengingat kondisi rahim nya yang mengalami benturan keras. Hampir 80% rahimnya terluka. Proses pemulihan luka dalam itu tidak sama setiap orang, Pak."
Aldri memikirkan semua perkataan dokter. Meskipun dokter mengatakan bahwa kemungkinan kecil berbeda dengan tidak mungkin. Masih ada kesempatan memiliki keturunan meski hanya 10% setidaknya lebih baik daripada tidak sama sekali.
Aldri mengingat semua perkataan perawat tempo hari. Ia menghubungkan dengan kejadian yang menimpa Antika. Akan kah ada pria yang bisa menerima Antika apa adanya? Dokter mengatakan kemungkinan ingatannya bisa kembali suatu saat, seandainya waktu itu tiba apakah yang akan dirasakan dan dialami Antika?