NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:602
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21 - Falling Slowly

Langit yang sejak pagi cerah kini telah berubah gelap.

Rumah terasa jauh lebih sunyi dibanding saat siang hari.

Apalagi sekarang aku sendirian.

Aku baru saja selesai salat Magrib dan sedang melipat mukena ketika ponselku tiba-tiba berdering.

Dengan cepat aku menyelesaikan lipatanku lalu meraih ponsel yang tergeletak di atas meja.

Javier.

Aku langsung mengangkat telepon itu.

"Halo."

—Kamu nggak usah masak buat makan malam. Aku bawain aja dari sini. Kamu mau aku bawain apa?

"Terserah."

—Bener terserah?

"Iya."

—Awas ya kalau nanti aku bawa sesuatu malah kamu nggak mau.

Aku langsung menghela napas panjang.

Kenapa sih dia susah percaya?

"Begini ya, Bapak Javier Aditya Permana." ucapku dengan nada setenang mungkin. "Jika saya mengatakan terserah, maka itu berarti saya menyerahkan keputusan tersebut sepenuhnya kepada Anda. Apa pun yang Anda bawa nanti akan saya makan."

Beberapa detik kemudian terdengar tawa kecil dari seberang sana.

—Kenapa tiba-tiba bahasamu kayak gitu? Kamu kayak lagi ngomong sama nasabah aja.

"Ya habisnya kamu nggak percaya. Nanya mulu."

—Ya udah deh, maaf. Tapi beneran nih aku bawain apa aja?

Aku memejamkan mata.

Astaga.

Dia bertanya lagi.

"Allahu akbar... sekali lagi kamu nanya, aku kasih piring cantik lho."

Terdengar tawa Javier yang kali ini lebih jelas.

—Udah kayak hadiah detergen aja.

Aku mendengus kesal.

"Udah ah. Aku mau nonton drama lagi."

Tanpa menunggu jawaban Javier, aku langsung memutuskan sambungan telepon.

Dengan perasaan masih sedikit kesal, aku keluar dari kamar lalu kembali duduk di depan televisi.

Kali ini drama yang kutonton bukan thriller, melainkan drama romance.

Saat episode itu kembali berjalan, pikiranku malah melayang kepada Javier.

Kenapa akhir-akhir ini dia terlihat semakin perhatian?

Padahal kami bukan pasangan yang benar-benar menikah karena cinta.

Aku langsung menggelengkan kepala.

Tidak.

Aku tidak boleh memikirkan hal-hal aneh lagi.

Aku pun memaksa diriku kembali fokus pada drama yang sedang kutonton.

Satu setengah jam kemudian terdengar suara mobil memasuki halaman rumah.

Aku tetap menatap televisi dan tidak berniat menyambutnya.

Untuk apa?

Toh aku bukan benar-benar istrinya.

"Assalamu'alaikum."

Suara Javier terdengar tak lama kemudian.

"Wa'alaikumsalam," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari televisi.

"Drama terus kamu ya."

Aku mendengar langkahnya melewatiku, tetapi tidak menanggapinya.

"Nay, ini makanannya."

"Iya."

Aku akhirnya berdiri dan berjalan menuju meja makan.

Di atas meja sudah ada ayam bakar, nasi, dan beberapa lauk lain yang dibawa Javier dari Ruang Rindu.

Aku mengambil piring, menaruh nasi dan ayam bakar secukupnya, lalu kembali ke ruang tamu.

Aku duduk di lantai dengan piring di atas meja kecil di depanku.

"Seseru itu ya dramanya sampai kamu harus makan di situ?" tanya Javier.

"Hmm."

Aku hanya mengangguk pelan.

Beberapa saat kami makan dalam diam.

Yang terdengar hanya suara televisi dan bunyi sendok yang sesekali beradu dengan piring.

"Seharian ini kamu ngapain aja?" tanya Javier.

"Nggak ngapa-ngapain."

Aku masih fokus pada layar televisi.

Tiba-tiba sebuah adegan muncul.

Tokoh utama wanita memutuskan meninggalkan pria yang dicintainya.

Aku langsung menghela napas panjang.

"Ah, kok gitu sih? Kebiasaan deh."

Javier menoleh.

"Kenapa?"

"Itu." Aku menunjuk televisi dengan sendokku. "Kenapa sih harus ninggalin dia? Kasihan banget cowoknya. Padahal dia udah nerima si cewek apa adanya."

Aku kembali mendengus kesal.

"Dan ibunya nyebelin banget. Maunya anaknya cuma sama orang yang setara."

Beberapa detik kemudian Javier tiba-tiba berjalan mendekat lalu duduk di sampingku.

Aku langsung menoleh.

"Ngapain kamu di sini?"

"Pengen nonton." Javier menatap layar televisi. "Kayaknya seru banget sampai kamu kesel begitu."

"Ya gimana nggak kesel?" protesku. "Itu cowoknya udah nerima dia apa adanya. Nggak mandang fisik, nggak mandang harta. Tapi malah ditinggal cuma karena ibunya nggak setuju. Orang kaya memang suka seenaknya sendiri."

Javier tersenyum tipis.

"Kalau kamu jadi cewek itu, kamu bakal tetap jalanin hubungan sama cowoknya?"

"Iya lah." Aku menjawab tanpa berpikir. "Kalau ada cowok yang mau sama aku dan nerima aku apa adanya, masa aku tinggalin cuma karena ancaman ibunya?"

Javier terdiam sesaat.

Lalu ia bertanya pelan.

"Kalau ancaman itu membahayakan keluarga kamu?"

Aku langsung terdiam.

"Kenapa kamu diam?" tanya Javier.

"Kalau udah menyangkut keluarga..." Aku menatap layar televisi. "Aku nggak tahu. Di satu sisi ada cowok yang nerima aku apa adanya. Di sisi lain keluargaku juga berharga."

"Mungkin cewek itu juga mikir kayak kamu." Javier ikut menatap televisi. "Tapi cintanya ke keluarganya lebih besar, jadi dia terpaksa ninggalin cowok itu."

Aku terdiam.

"Lagian," lanjut Javier, "orang yang menerima apa adanya kita masih bisa dicari. Tapi keluarga yang mendukung dan percaya sama kita susah dicari."

Eh?

Entah kenapa saat mengatakan itu, Javier terdengar seperti sedang membicarakan dirinya sendiri.

"Mas..." ucapku hati-hati. "Kamu lagi bahas Papa ya?"

Javier langsung menoleh ke arahku.

"Nggak."

Aku menatapnya beberapa detik.

Dia bohong.

Tapi aku tidak bertanya lagi.

Setelah itu kami kembali fokus pada makanan dan drama yang masih berjalan di televisi.

"Sini piringnya. Biar aku yang cuci."

"Kenapa kamu mau cuci piringku?" tanya Javier. "Katanya kita cuma bakal kayak anak kos yang tinggal di rumah yang sama."

"Ya kan aku numpang di sini. Masa aku nggak ngapa-ngapain."

"Aku nggak nyuruh kamu ya..."

"Iya, iya."

"Tapi ingat ya. Jangan suatu hari nanti kamu ungkit-ungkit dan bilang itu aku yang nyuruh."

Aku langsung memutar bola mata.

"Iya."

Setelah itu aku membawa piring-piring kami ke dapur lalu mulai mencucinya.

"Jadi seharian ini kamu cuma nonton drama?" tanya Javier.

"Iya. Tapi tadi Tara sempat ke sini."

"Ngapain dia ke sini?"

"Katanya mau jadi temanku."

Javier mengernyit.

"Teman?"

"Iya. Dia juga minta kami ngomong santai aja dan nggak usah pakai mbak-mbakan."

"Hmm..."

Aku langsung menoleh.

"Hmm apanya?"

"Nggak apa-apa."

Aku mendengus pelan.

"Terus kalian ngobrolin apa lagi?"

"Kamu."

"Aku?"

"Iya."

Setelah selesai mencuci tangan, aku berjalan kembali ke ruang tamu lalu duduk di samping Javier.

"Awalnya sih dia kepo gimana kita bisa ketemu."

"Terus kamu jawab apa?"

"Aku jawab sesuai cerita Ayah ke Pak RT. Kalau kamu itu nasabahku."

Javier langsung tertawa kecil.

"Astaga... ayah dan anak sama aja."

"Ya mau gimana lagi? Masa aku bilang kita dijodohin?"

"Terus?"

"Terus dia mulai muji-muji kamu."

Aku langsung menirukan nada suara Tara.

"'Mas Javier ganteng. Mas Javier baik. Mas Javier perhatian.'"

Aku mendesah panjang.

"Ya ampun. Padahal dia punya suami. Kenapa malah sibuk muji-muji suami orang?"

Javier menatapku beberapa detik.

"Kenapa kamu kayak kesel banget?"

"Hah?"

"Katanya kamu bukan istri beneranku."

Aku langsung punya firasat buruk.

"Tapi kok kamu kedengarannya kayak istri yang lagi cemburu?"

Aku langsung membelalak.

"Siapa yang cemburu?"

"Kamu."

"Aku nggak cemburu."

"Kamu cemburu."

"Aku nggak cemburu."

"Kamu cemburu."

"Aku nggak cemburu!"

"Hei..." Javier tertawa. "Nggak usah teriak. Nanti tetangga ngira aku ngapain-ngapain kamu."

"Eh? Jangan macem-macem ya!"

"Bukan itu maksudku."

"Terus?"

"KDRT."

"Oh."

Aku mengangguk.

"Ya tapi kamu kan nggak bakal gitu."

"Kenapa yakin?"

"Karena kamu pernah bilang nggak akan mukul perempuan."

"Iya sih."

Javier lalu menatapku dari atas sampai bawah.

"Apalagi perempuan kurus kayak kamu."

Aku mengernyit.

"Kenapa memang?"

"Kamu bukan lawanku. Belum apa-apa pasti kamu udah tumbang.”

“뭐?! 미치겠네 진짜... (Apa?! Ini benar-benar gila...)” ucapku marah sambil mengepalkan kedua tanganku.

“Nay... aku cuma bercanda.” ucap Javier sambil berdiri.

“Sini kamu!” seruku.

Javier malah tertawa kecil lalu berjalan menjauh.

“Sini kamu...” ucapku sambil berdiri dari sofa.

Aku baru melangkah satu langkah ketika Javier ikut mempercepat langkahnya.

“야! (Hei!)”

Aku langsung mengejarnya.

"Sini kamu!"

Rumah itu memang tidak terlalu besar.

Tapi cukup untuk membuatku mengejar Javier mengelilingi ruang tamu.

Aku mempercepat langkahku.

Dan tepat saat hampir menangkapnya, kakiku tersandung kaki meja.

Bruk.

"Aw!"

Aku langsung terduduk di lantai.

Seketika wajah Javier berubah panik.

Ia segera menghampiriku.

"Kamu nggak apa-apa?"

Aku menatapnya beberapa detik.

Lalu sebuah ide muncul di kepalaku.

Tanpa aba-aba aku melingkarkan kedua tanganku ke lehernya lalu menarik tubuhnya mendekat.

"Nah."

Aku tersenyum puas.

"Ketangkep."

Namun senyumku perlahan menghilang.

Karena saat itu juga aku menyadari sesuatu.

Terlalu dekat.

Wajah kami terlalu dekat.

Aku bisa melihat jelas kedua matanya.

Bisa merasakan napasnya.

Dan untuk beberapa detik, tidak ada satu pun dari kami yang bergerak.

Kami hanya saling menatap.

Deg.

Jantungku berdetak terlalu cepat.

Deg.

Deg.

Aku langsung melepaskan tanganku.

Aku buru-buru berdiri lalu berlari menuju kamar.

Begitu pintu tertutup, aku langsung bersandar di baliknya sambil memegang dada.

Jantungku masih berdetak cepat.

Aku memejamkan mata rapat-rapat.

Kenapa tadi aku menarik Javier?

Kenapa aku melakukan itu?

Kalau kami benar-benar pasangan yang saling mencintai, mungkin itu akan menjadi momen yang romantis.

Aku langsung menggelengkan kepala.

Tidak.

Jangan memikirkan hal-hal aneh.

Aku dan Javier tidak seperti itu.

Dan mungkin...

sampai kapan pun tidak akan seperti itu.

1
Mamah Dini11
nah situ ngerti , makanya jgn suka ngehalu. ketinggian bisa jatuh kmu, coba jadi permpuan itu sdikit bisa memahami situasi, di otak kmu kn cuma nikah terus cerai cerai karna gk cinta. pemikiran kmu beda sm javer , kmu mh oncom naya
Mamah Dini11
makanya otak jgn ke mana2 dulu , umur udh 30 pemikiran gk dewasa banget. lihat tuh javer santai tenang kalem,, kmu absrud banget kayak umur 17 thn , banyak nonton tuh perbaiki mulutmu naya
Mamah Dini11
ini pemeran si nay kenapa di oon kan thor. gk di saring lgi tuh mulutnya, kan dia. itu perpendidikan kerja di bang , masa gk tau tatak rama sedikit pun , jadi sebel dehhh , sering nonton drakor juga gk segitunya kali .
Mamah Dini11
sebenarny kmu itu nay oon atau loding sih bkn nya mulai menerima yg du otakmu cerai dan cerai aja gk punya frinsip banget. ,kan kmu itu pegawi bang ko sebodoh itu pemikiranmu. liat javer gk. kayak kmu Dia santai tenang gk mikirin hal2 aneh ,mungkin di pikirannya jalani aja dulu, nah kmu nay blm apa2 udh ribet pikiranmu .lanjut
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!