Di dunia yang dikepung miliaran Monster ciptaan entitas purba Vitallion, kedudukan manusia ditentukan oleh seberapa agung Anima yang mereka panggil di Aula Kebangkitan.
Kael Ardyn, putra tunggal mendiang pahlawan militer, mendapati takdirnya hancur dalam semalam. Bukan makhluk Mitologi agung yang ia bangkitkan, melainkan Morthas (Sang Penuai Nyawa)—entitas Kelas Misterius berwujud Malaikat Maut yang terhapus dari sejarah ribuan tahun.
Dicap sebagai ancaman haram oleh Kerajaan Barat yang korup, Kael dijatuhi hukuman eksekusi mati. Diselamatkan di detik-detik terakhir oleh pendiri Guild Scar Horizon, Kael dilarikan ke alam liar di luar Dinding Peradaban.
Bersama persekutuan empat jiwa abnormal penguasa Anomali—Phoenix Api, Mammoth Purba, dan Kraken Kinetik—Kael menempa jiwanya untuk menguasai energi Kematian murni.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: MATAHARI TERBIT DI ATAS VOLCANIA (EPILOG)
BAB 31: MATAHARI TERBIT DI ATAS VOLCANIA (EPILOG)
Aroma pekat ramuan herbal dan bau amis darah yang mengering menjadi hal pertama yang menyapa indra penciuman Kael.
Kelopak matanya terasa seberat timah, butuh usaha keras hanya untuk sekadar membiarkan cahaya fajar masuk ke dalam retinanya.
Saat pandangannya mulai menjernih, Kael menyadari bahwa ia tidak lagi berada di medan pertempuran yang berdebu. Ia terbaring di atas ranjang kayu berlapis kain bersih di dalam sebuah tenda medis darurat berskala besar.
Di sekujur tubuhnya, perban putih membebat erat luka-luka sobekan dimensi. Rasa nyeri di dalam wadah jiwanya masih berdenyut tumpul, namun fondasi Ranah Perunggunya terasa jauh lebih luas dan padat dari sebelumnya.
Kael perlahan menoleh ke sisi kanan.
Di ranjang sebelah, Ren tertidur pulas dengan dengkuran halus. Hampir seluruh tubuh pemuda berambut merah itu dibungkus perban hingga menyerupai mumi hidup, menyisakan hidung dan mulutnya saja.
Di ujung tenda, Hugo terbaring telungkup di atas ranjang ekstra besar. Pemuda tambun itu mengigau pelan tentang roti gandum panggang, sama sekali tidak memedulikan bisingnya langkah para petugas medis di luar tenda.
“Kalau kau sudah sadar, jangan memaksakan diri untuk bangun, Bodoh.”
Sebuah suara ketus namun terdengar sangat lega memecah keheningan di sisi kiri Kael.
Elena duduk di atas kursi kayu dengan jubah abu-abunya yang masih dipenuhi noda jelaga. Wajah cantiknya terlihat pucat pasi, namun sepasang mata merah menyalanya menatap Kael dengan ketajaman yang mulai melembut.
Suna berdiri tak jauh dari Elena, menyandarkan tubuhnya pada tiang tenda seraya mengupas sebuah apel dengan belati kecilnya.
Kael memaksakan seulas senyum tipis di wajah pucatnya. Ia mengabaikan rasa sakit di punggungnya dan memaksakan diri untuk bersandar di kepala ranjang.
“Sepertinya... kita semua berhasil bertahan hidup,” ucap Kael dengan suara serak.
Elena mendengus pelan, membuang muka ke arah lain untuk menyembunyikan senyum lega yang sempat terukir di sudut bibirnya.
“Tentu saja kita bertahan hidup,” ketus Elena. “Kau pikir aku akan membiarkan anak baru sepertimu mati begitu saja dan merusak reputasiku sebagai seniormu?”
Suna terkekeh pelan, menyodorkan sepotong apel ke arah Kael. “Makanlah. Kau butuh banyak gula untuk memulihkan aliran energi yang dihisap oleh Morthas semalam.”
Sebelum Kael sempat mengambil potongan apel itu, tirai tenda medis disingkap dari luar.
Kapten Gareth melangkah masuk dengan sisa-sisa zirah Emasnya yang telah retak di banyak sisi. Di belakangnya, Jenderal Veron mengikuti dengan langkah pincang, lengannya disangga oleh kain tebal.
Melihat dua perwira tinggi itu masuk, Kael, Elena, dan Suna bersiap untuk memberikan salam hormat.
Namun, Jenderal Veron justru mengangkat tangannya yang sehat, menahan pergerakan mereka bertiga.
“Jangan bergerak. Tetaplah beristirahat,” titah Jenderal Veron, suaranya bergetar menahan haru yang mendalam.
Tanpa disangka, sang jenderal yang membawahi seluruh militer Volcania itu justru menundukkan kepalanya dalam-dalam di hadapan para remaja guild Scar Horizon tersebut.
“Atas nama seluruh rakyat dan Kerajaan Volcania... aku berutang nyawa pada kalian,” ucap Jenderal Veron parau. “Tanpa intervensi kalian dan kekuatan Anima Mitologi yang kalian pertaruhkan, Volcania hari ini pasti sudah rata menjadi abu.”
Kapten Gareth tersenyum bangga, menepuk pundak Jenderal Veron dengan pelan.
“Anak-anak ini memang nekat, Jenderal. Tapi keteguhan jiwa merekalah yang menjadi pilar masa depan umat manusia,” ujar Kapten Gareth.
Di dalam keheningan batin Kael, suara dingin nan berat kembali bergaung dari dimensi Void.
“Jangan biarkan sanjungan fana ini membuatmu lengah, Bocah...” bisik Morthas dari dalam kegelapan. “Sang Arsitek Lorong masih hidup. Zona Terdalam telah mencium bau darah dunia ini.”
Kael menundukkan pandangannya, menatap telapak tangannya sendiri yang kini tak lagi gemetar.
Aku tahu, Morthas, balas Kael dalam batinnya yang tenang. Ini barulah permulaan. Dan kali berikutnya Avernus muncul, kita pastikan sabitmu akan benar-benar memutus eksistensinya.
Tiga hari kemudian, setelah kondisi fisik tim Scar Horizon dinyatakan cukup stabil untuk melakukan perjalanan, mereka akhirnya bersiap untuk pulang.
Matahari pagi bersinar cerah, memecah kabut tebal yang biasanya menyelimuti Kerajaan Ash-Volcania.
Kael, Elena, Ren, Hugo, dan Suna berdiri berdampingan di atas reruntuhan tebing ngarai barat. Angin pagi yang dingin menerpa wajah mereka, membawa sensasi kebebasan yang telah lama tidak mereka rasakan.
Hugo merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menghirup udara dalam-dalam. “Akhirnya! Kasur empuk markas dan roti gandum hangat, aku datang!”
Ren yang masih berjalan dengan bantuan tongkat menyeringai lebar. “Tunggu saja sampai wadah jiwaku pulih! Aku pasti akan langsung menantangmu berduel, Kael!”
Kael hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia menoleh menatap teman-temannya satu per satu.
Dari seorang putra pahlawan yang dicap cacat, divonis mati, dan kehilangan segalanya di Kerajaan Barat, Kael kini telah menemukan sesuatu yang jauh lebih berharga di luar dinding peradaban.
Ia telah menemukan rumah. Ia telah menemukan kawan yang siap meneteskan darah bersama di medan perang.
Dan di dalam relung jiwanya, Sang Penuai Nyawa kini tertidur dalam keheningan—bukan lagi sebagai kutukan, melainkan sebagai kekuatan mutlak yang siap membalikkan tatanan dunia.
Kael melangkah maju, memimpin barisan menembus kabut fajar menuju cakrawala baru yang menanti mereka di markas Scar Horizon.
Perang besar melawan ancaman Zona Terdalam memang baru saja terpicu. Namun untuk saat ini, mereka telah memenangkan hak untuk terus hidup.
Dan bagi Kael Ardyn, itu sudah lebih dari cukup untuk memulai segalanya.
[TAMAT - SEASON 1]
Pesan dari Penulis:
Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pembaca yang telah menemani perjalanan Kael, Morthas, dan teman-teman Scar Horizon dari bab pertama hingga klimaks di Ash-Volcania ini. Dukungan, like, dan kesabaran kalian adalah energi yang luar biasa bagi saya.
Arc Volcania ini resmi menjadi penutup untuk Musim Pertama (Season 1). Kisah Kael untuk meruntuhkan kebohongan Kerajaan Barat dan menghadapi ancaman nyata dari Zona Terdalam belum berakhir. Namun, penulis akan mengambil jeda sejenak untuk mematangkan konsep dan menyusun lore yang lebih epik untuk kelanjutannya.
Sampai jumpa di Season 2! Teruslah membaca dan tetap dukung karya ini!