NovelToon NovelToon
Can I Stay? | By Shea

Can I Stay? | By Shea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cintapertama / Ketos
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Shea Alicia

Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.

Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.

Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 30

"Lo mau buka warung?"

"Astaga!" Michelle terlonjak mundur dan reflek menoleh, sementara si pelaku terkehek.

"Lo!" Michelle menunjuk cowboy itu. "Ngapain lo di sini? Ngikutin gue?!"

Devis berdecak, ia sampai hafal dengan respon Michelle setiap kali mereka bertemu secara tidak sengaja. Tidak mau berdebat lebih panjang apalagi di tempat ini banyak orang, Devis langsung mengambil beberapa mie instan dan memasukannya ke dalam keranjang belanjaan, lalu berjalan menuju kasir tanpa peduli Michelle yang menatapnya aneh.

"Devis kesambet apa belanja sebanyak itu?" Michelle celingukan. "Mana sendiri lagi."

Setelah membayar semua belanjaannya, Michelle keluar dari minimarket ini. Minimarket yang ini berbeda dengan minimarket tempatnya belanja biasa, sekarang lebih jauh dari komplek perumahan tempatnya tinggal. Sekalian jalan-jalan, pikir Michelle.

"Lama banget sih."

Sebuah suara membuat Michelle menoleh, seorang cowok dengan hoodie putih duduk di kursi yang disediakan di depan minimarket. Cowok itu beranjak setelah melempar botol minuman kosong ke tempat sampah.

"Lo belanja apa nyalon sih, lama bener." Cowok itu menghampiri Michelle, mengambil alih kantung keresek putih besar yang ewek itu bawa. "Udah kayak mau buka warung belanja segini banyak, mau lo makan sendiri?" tanyanya.

Michelle mengerjap setelah sekian detik terdiam karena terkejut cowok itu belum juga pergi, padahal lumayan lama sejak pertemuan mereka tadi.

"Lo ngapain masih di sini?" tanya Michelle heran.

"Nongkrong aja, males di rumah nggak ngapa-ngapain."

Michelle menatap tidak yakin. "Pasti ada ide nggak bener nih, mau apa lo? Siniin belanjaan gue!"

"Astaghfirullah, lo kalau ngomong disaring dulu kek. Emang ada tampang-tampang kriminal gitu di wajah cakep gue? Enggak kan?"

Michelle mencibir. "Otak sama muka lo kan emang nggak sinkron, pasti nih lagi ngebuide tengilnya. Sini belanjaan gue, gue mau pulang!"

Michelle mencoba meraih kantung belanjaannya dari Devis, namun cowok itu sigap menghindar. Walau Michelle tergolong cewek dengan postur tinggi, tapi tetap saja kalah dengan postur tinggi Devis.

Michelle mendengus. "Lo kenapa sih suka banget gangguin gue? Nggak ada kerjaan lain apa?!"

Devis tersenyum miring. "Gangguin lo udah masuk list salah satu kerjaan gue, gimana dong?"

"Sinting!" umpat Michelle, kembali berjinjit untuk meraih belanjaannya. "Devis, siniin!"

Devis menggeleng. "Masih aja nggak sopan lo sama gue, udah tau gue lebih tua!"

"Nggak pantes disopanin emang, orang kelakuan lo kayak gini!" sahut Michelle. "Ngaku lebih tua tapi suka gangguin adek kelas! Siniin cepet!"

"Nggak akan." Devis menyembunyikan belanjaan Michelle di belakang tubuhnya, cowboy itu tersenyum sambil memainkan alis, seolah menantang Michelle.

"Vis, gue lagi males berantem ya. Mumpung masih baik, siniin belanjaan gue," pinta Michelle, kini dengan nada sedikit memelas.

Devis menggeleng. "Ikut gue dulu, entar gue kasih ini barang-barang lo."

Michelle mendelik. "Lo kenapa sih suka banget nyulik gue? Nggak dapet apa-apa juga!"

"Emang kapan gue pernah nyulik lo?" Devis menaikkan sebelah alisnya. "Tapi kayaknya seru juga ya kalau gue culik lo, terus si Alvin nyariin."

Michelle melotot saat melihat senyum jual Devis berubah menjadi seringaian mengerikan, seolah cowboy itu sedang tidak main-main dengan perkataannya.

"Mau apa lo?" Michelle mundur karena Devis berjalan mendekat.

"Gue culik beneran mau?"

"Devis GILA!"

"Michelle ke mana Vin? Kok belum pulang?"

Alvin melihat jam dinding, sekarang sudah waktunya makan siang tapi cewek itu belum juga pulang. Kata Sean tadi Michelle pamit ke minimarket, Alvin tidak peduli karena ia yakin Michelle hanya akan membeli di minimarket dekat komplek. Cewek itu belum hafal betul daerah ini walau sudah hampir dua bulan tinggal di sini, jadi tidak mungkin Michelle pergi jauh-jauh.

"Tadi Mama beliin snack kesukaan Michelle yang kemarin kehabisan, sekalian Mama belanja di minimarket."

Perkataan Rita membuat pergerakan tangan Alvin yang sedang memotong daging ayam itu terhenti, cowok itu menatap Rita.

"Mama dari minimarket?"

Rita menoleh. "Iya, kenapa?"

"Nggak ketemu Michelle?"

"Michelle?" Kening Rita berkerut, mengingat-ingat. "Enggak, emang Michelle belanja di minimarket mana? Mama belanja di depan komplek situ."

Sean yang baru turun dari kamar Alvin setelah numpang mandi langsung bergabung dengan Rita dan Alvin di meja makan.

"Selamat siang, Tante," sapa Sean ramah, lalu duduk di sebelah Alvin.

"Siang, Sean. Kamu sejak kapan di sini?"

"Sejak pagi, Tante. Tadi Tante ada di kantor Om Jordan, jadi nggak ketemu waktu Sean datang," ujar Sean.

Rita tersenyum. "Ya udah ayo makan bersama, lama banget kan Antasean nggak ikut makan bareng di sini. Kebetulan nih Tante buatin ayam goreng kesukaan kamu."

"Wahhh! Tante Rita tau aja kalau Sean suka ayam, makasih ya Tante."

"Iya, Tante akhir-akhir ini sering masak ayam loh, soalnya Michelle suka ayam."

Seperti Alvin sebelumnya, pergerakan tangan Sean yang hendak mengambil ayam goreng juga terhenti.

"Michelle di mana, Tan? Belum pulang?"

"Belum, kata Alvin Michelle lagi belanja di market, tapi tadi Tante nggak ketemu waktu belanja di market depan komplek situ," ujar Rita, wajahnya berubah khawatir. "Harusnya Michelle udah pulang ya? Dia belum hafal daerah sini soalnya, bentar Tante mau telpon dia dulu." Rita beranjak, lalu pergi meninggalkan dapur untuk mengambil ponselnya di kamar.

Sementara Sean mengerutkan kening. "Masa itu bocah nyasar sih?" tanyanya pada Alvin.

Yang ditanya hanya mengedikkan bahu acuh, padahal sama seperti Rita, ada rasa khawatir yang mengganjal dalam hati Alvin.

Michelle tak henti berdecak kagum sejak motor hitam yang dikendarai Devis berhenti di halaman sebuah rumah mewah di salah komplek perumahan elite. Kedua bola mata birunya menjelajah ruangan yang sekarang ia pijak, ruang tamu dengan interior mewah dan tampak mahal.

Rumah ini sangat besar, perabotannya semua sangat bagus, pasti harganya mahal. Desain yang sangat indah di setiap sisi ruangan, rumah ini adalah hunian impian banyak orang. Tapi ada satu yang aneh, tempat ini tampak sepi.

"Lo di rumah sendirian, Vis?" tanya Michelle begitu mendengar langkah kaki mendekat.

Michelle berbalik karena tidak mendapat jawaban, dan saat itu ia langsung membeku. Devis berdiri di ujung tangga sambil menatapnya, cowok itu memakai kaos hitam polos dan celana jeans hitam yang dipakainya tadi. Tampak wajah dan ujung rambut cowok itu sedikit basah, tanpa sadar Michelle dibuat melongo melihatnya.

"Mulutnya ditutup, entar kemasukan laler."

Michelle mengerjap, ia langsung mengibaskan tangannya di depan wajah lalu menggeleng. Bisa-bisanya ia terdiam hampir terpesona hanya karena penampilan Devis yang tampak beda dari biasanya.

Biasanya yang Michelle lihat adalah si cowok urakan dengan seragam tidak rapi, atau cowok motor hitam dan jaket hitam. Kali ini Devis terlihat normal, tidak seperti cowok urakan, juga tidak seperti agen rahasia yang pakai serba hitam dari helm, pakaian, sampai motor.

"Gue ngajak lo ke sini bukan buat ngelihatin isi rumah gue doang," kata Devis, cowok itu duduk di single sofa ruang tamu.

Michelle langsung memasang wajah kesalnya, cewek itu duduk di sofa panjang lumayan jauh dari Devis.

"Lo ngapain sih ngajak gue ke sini?" tanya Michelle, kesal.

Devis malah terkekeh. "Kan gue udah bilang, gue mau culik lo—"

"Devis!" Michelle melotot. "Mending anterin gue pulang, entar Tante—orang tua gue nyariin!"

"Lo kan di Indonesia sendiri, siapa yang nyariin, doi aja nggak punya," ujar Devis santai tanpa menatap Michelle.

Michelle mengepalkan kedua tangannya, ingin sekali melepaskan bogeman pada wajah sok ganteng cowok itu.

"Mau lo apa? Ha? Uang? Biar gue telpon bokap gue suruh kirim uang berapa pun yang lo mau!" ucap Michelle keras bahkan sampai beranjak, seolah emosinya akan siap meledak kapan saja.

Devis yang melihat Michelle mulai tampak kesal malah tersenyum senang, seolah menikmatinya.

"Gue nggak perlu uang lo, Chel," ucap Devis. "Yang gue mau itu lo."

Michelle langsung terdiam, kepalan pada kedua tangannya perlahan mengendur. Jantungnya berdetak lebih cepat saat Devis beranjak, lalu berjalan mendekatinya.

Ini bukan yang pertama, tapi kali ini Michelle benar-benar takut. Pasalnya mereka hanya berdua dan ini di rumah Devis, Michelle tidak tahu apa yang ada di pikiran cowok itu.

"Vis, l-lo mau apa?" tanya Michelle gugup.

Devis tetap melangkah mendekat sampai jarak keduanya menyempit, dan sialnya Michelle membentur sofa hingga cewek itu terduduk di single sofa. Bukannya berhenti, Devis malah semakin mendekat. Cowok itu membungkuk, menumpu kedua tangannya di kedua sisi sofa, membuat posisi Michelle terkunci.

Michelle menahan napas karena Devis mendekatkan wajahnya, dan saat Michelle bisa merasakan hembusan napas cowok itu menerpa wajahnya, kedua kelopak mata Michelle tertutup.

"Masakin gue dong, laper nih."

1
ᥫ᭡Baby
gue tim devis!
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: gue tim pacarku
total 1 replies
ᥫ᭡Baby
astaghfirullah, pikiranku
ᥫ᭡Baby
meyra cegil
ᥫ᭡Baby
njirr, bawa-bawa manusia ini /Sweat/
ᥫ᭡Baby
padahal Michelle duluan
ᥫ᭡Baby
kasihan di cuekin
Alzen
typo lagi yang
Alzen: ini aja po dulu 2 tahun 😓
total 3 replies
Alzen
cepat updateee
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: iyaaaaa
total 1 replies
Alzen
ceroboh banget/Shame/
Alzen
padahal yang kemarin juga bagus novelnya
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: eh iyaa 😓
total 3 replies
🥑⃟Hati Yang Kau Sakiti●⑅⃝ᷟ◌ͩ
selamat berkarya 🙏
ᥫ᭡Baby
Devis aja /Grin//Grin/
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: 2in /Bye-Bye/
total 1 replies
ᥫ᭡Baby
jadi Michelle kasian, jadi Alvin kasian, jadi Nara kasian, jadi pembaca sekarat /Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!