"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."
***
"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."
Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.
***
"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tulisan Andara
"Semesta, jika memang ia bukan untukku. Mengapa kau biarkan ia tumbuh sejauh itu pada relung dadaku?
Mengapa kau izinkan suaranya menetap di tempat-tempat paling sulit kulupakan?
Lihatlah ini. Ia pergi seperti tak terjadi apa-apa, sedang aku harus memunguti diriku sendiri dari lantai malam setiap hari. Bukankah kehilangan seharusnya dibagi rata?
Atau memang beginikah hukum cinta-yang paling sungguh dalam mencintai akan paling lama terkubur luka?
- Andara Fairouza Aileen Malik -
***
Azzam terus menyetir menyusuri jalanan kota dengan wajah yang semakin tegang. Sudah hampir setengah jam mereka mencari. Namun... tak ada satu pun tanda keberadaan Andara.
"Azra, coba telepon lagi."
"Iya, Bi."
Azra kembali menekan nama Andara di layar ponselnya. Nada sambung terdengar.
Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Tetap tidak diangkat.
Azra mengusap wajahnya frustrasi. "Nggak diangkat lagi, Bi."
Aira yang duduk di kursi belakang menggenggam tasnya erat. Air matanya kembali mengalir.
"Ya Allah... Dara... Semoga anak Bunda baik-baik saja."
Azzam tetap berusaha tenang meski dadanya dipenuhi kecemasan. "Dia pasti lagi nenangin diri. Insya Allah nggak kenapa-kenapa."
Namun, ucapan itu lebih terdengar seperti usaha menenangkan dirinya sendiri.
Tak lama kemudian, ponsel Azzam berdering. Nama Doni muncul di layar.
"Assalamu'alaikum, Pak."
"Wa'alaikumussalam. Doni, kamu sama Sam cari ke arah taman kota sama stasiun. Siapa tau Andara ke sana."
"Baik, Pak."
"Kabari saya kalau ada informasi sekecil apa pun."
"Siap."
Panggilan terputus.
Azzam kembali memutar setir. Azra menoleh ke arah ayahnya.
"Bi..."
"Iya?"
"Menurut Abi... Dara pergi ke mana?"
Azzam terdiam beberapa saat.n"Kalau Abi mengenal adikmu, dia pasti memilih tempat yang sepi. Kalau dia sedih, dia nggak suka ada orang yang lihat dia menangis."
Kalimat itu membuat Aira semakin sesenggukan. "Semua ini salah Bunda. Bunda yang ngajak dia datang. Bunda juga yang nggak sadar kalau hati Dara pasti hancur."
Azzam langsung meraih tangan istrinya. "Jangan nyalahin diri sendiri. Kita juga nggak pernah menyangka semuanya akan seperti ini."
Azra menggigit bibirnya. Biasanya Andara adalah orang yang paling berisik di rumah. Selalu tertawa. Selalu mengganggunya. Selalu mengejar Kafa ke mana pun laki-laki itu pergi.
Dan sekarang adiknya menghilang tanpa kabar. Rasanya rumah akan sangat sepi kalau Andara terus seperti ini.
"Bi..."
"Hm?"
"Kalau Dara benar-benar menyerah sama Kak Kafa, kenapa aku malah sedih ya?"
Azzam tersenyum pahit. "Karena itu berarti, Andara sedang memendam luka yang sangat besar."
Mobil kembali melaju menembus jalanan malam. Mereka berhenti di beberapa taman, masjid, hingga halte bus yang biasa dilewati Andara.
Namun hasilnya tetap sama. Tidak ada. Tidak ada seorang pun yang melihat gadis berhijab krem itu.
Sementara itu, di sebuah halte yang cukup jauh dari restoran, Andara masih duduk sendirian di bangku besi.
Scrapbook yang tadi hendak ia berikan kepada Kafa kini sudah tidak berada di tangannya.
Ia memeluk kedua lututnya. Tatapannya kosong menembus jalan raya yang mulai lengang. Air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan akhirnya jatuh satu per satu.
"Aku kalah, Kak. Selama ini ternyata aku benar-benar sendirian."
Ia menundukkan kepalanya. Menangis tanpa suara.
Tanpa ia sadari dari seberang jalan, sebuah mobil hitam berhenti perlahan. Seseorang di dalam mobil itu memperhatikan Andara sejak beberapa menit yang lalu.
Senyum tipis terukir di sudut bibirnya. "Jadi... akhirnya aku menemukanmu sendirian juga, Andara."
Selama hampir satu jam Andara hanya duduk di halte itu.
Tangis yang sejak tadi membuncah akhirnya mulai mereda.
Ia mengusap pipinya yang basah, lalu mengembuskan napas panjang.
Matanya kemudian beralih pada layar ponselnya.!Puluhan panggilan tak terjawab memenuhi notifikasi.
Abi. Bunda. Azra.
Bahkan ada beberapa pesan dari Doni dan Sam, bodyguard yang ditugaskan menjaganya.
Andara memejamkan mata. "Maafin Dara, Abi, Bunda... Aku cuma butuh waktu sendiri untuk saat ini."
Ia mengunci kembali layar ponselnya tanpa membalas satu pun. Perlahan ia berdiri dari bangku halte.
Baru beberapa langkah dua orang pria menghampirinya dari arah berlawanan. Salah satunya berkepala plontos dengan tato memenuhi lengan. Yang satunya lagi bertubuh kurus dengan anting di telinga dan senyum yang membuat Andara muak.
"Widih... Sendirian malam-malam. Gadis manis lagi." Pria plontos itu menyeringai. "Kita bisa kenyang nih malam ini."
"Rezeki emang nggak ke mana." Temannya tertawa keras. "Cantik begini kok sendirian. Andai dari tadi ketemu udah kita ajak jalan."
Tatapan Andara langsung berubah dingin. Ia berdiri tegak. Sorot matanya tajam.
"Minggir."
Kalimatnya pendek. Datar. Namun penuh ancaman.
Kedua pria itu justru tertawa terbahak-bahak. "Hahaha! Berani juga. Emang kamu mau ngapain?"
Andara mengepalkan kedua tangannya. "Gue bilang minggir.... kalau nggak mau babak belur."
Pria bertato itu maju satu langkah. "Awas aja mulutnya."
Tangannya terulur hendak menyentuh lengan Andara.
Namun... Buk!
"AAAAAH!"
Dalam satu gerakan cepat, Andara memelintir pergelangan tangan pria itu hingga tubuhnya membungkuk kesakitan.
"Kampret! Cewek apaan ini?!"
Andara langsung mendorong tubuhnya hingga pria itu terjatuh. Temannya yang melihat langsung maju menyerang.
Andara menghindar. Lalu melayangkan tendangan ke arah lutut pria itu.
Brak!
Pria itu ikut tersungkur.
"Aw! Jago juga nih cewek!"
Andara tetap memasang kuda-kuda. "Ayo! Maju lagi."
Namun, ia sadar. Latihan bela dirinya hanya dasar. Sementara lawannya ada dua orang dengan tenaga yang jauh lebih besar.
Pria plontos itu bangkit sambil mengumpat. "Uda, nggak usah main-main. Pegang aja!"
Keduanya maju bersamaan. Andara berhasil menghindari satu pukulan. Namun saat hendak melepaskan diri pergelangan tangannya berhasil ditangkap.
"Lepasin!" Ia meronta. Tenaganya kalah.
Pria satunya lagi mulai mendekat dengan senyum menjijikkan. "Nah... Gini dong."
Tepat saat itu... Bugh!
Sebuah pukulan keras menghantam wajah pria yang memegang Andara. Tubuhnya langsung terpental hingga jatuh berguling di aspal. Belum sempat pria satunya bereaksi...
Duk!
Pukulan berikutnya menghantam rahangnya. Disusul tendangan keras ke perut.
"Aaargh!" Pria itu terlempar beberapa langkah.
Sosok laki-laki berbadan tinggi kini berdiri di depan Andara. Tatapannya dingin. Tanpa banyak bicara, ia kembali melayangkan pukulan demi pukulan. Gerakannya cepat. Terlatih.
Kedua preman itu bahkan tak sempat membalas. Melihat lawannya jauh lebih kuat, mereka saling berpandangan.
"Sial! Ayo kabur!"
Keduanya langsung lari tunggang-langgang meninggalkan halte. Suasana kembali hening. Andara masih menatap sosok laki-laki di depannya. Matanya membulat.
"Tristan...?"
Laki-laki itu perlahan berbalik. Setelan kemeja hitam yang dikenakannya masih tampak rapi. Ia hanya tersenyum tipis.
Tatapan matanya langsung tertuju pada wajah Andara yang masih sembab karena menangis.
"Kamu nggak apa-apa?"
Andara mengangguk pelan. "Aku... nggak apa-apa."
Tristan memperhatikan pergelangan tangan Andara yang memerah bekas dicengkeram. Alisnya berkerut.
"Terluka."
"Cuma sedikit."
Tristan menghela napas pelan. "Indonesia ternyata masih cukup berbahaya untuk perempuan yang berjalan sendirian malam-malam."
Andara tersenyum tipis. "Terima kasih... udah nolong."
"Sama-sama."
Tristan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. "Lain kali jangan sendirian."
Tatapannya sejenak berubah lembut. "Orang yang sedang sedih sering kali tidak sadar bahwa dirinya juga sedang dalam bahaya."
"Eh, kenapa ngomong gitu? Aku nggak sedih."
"Jangan bohong." Tristan menatap mata Andara lekat. "Mata kamu itu menjelaskan semuanya."
Andara tersenyum getir. Ia baru sadar kalau setelah menangis cukup lama, matanya pasti masih sembap.
"Kamu lagi ada masalah?"
"Iya... tapi biasa aja kok."
Tristan mengangguk pelan. "Nggak apa-apa kalau kamu belum mau cerita."
Andara menatap laki-laki di depannya beberapa saat. "Kamu udah dua kali nolong aku. Gimana ya cara aku balesnya?"
Tristan tersenyum tipis. "Hmm... mungkin, kenalan lebih jauh. We can be friends?"
Andara terkekeh pelan. "Baiklah."
"Wah, berarti aku beruntung." Tristan mengeluarkan ponselnya. "Kalau begitu... boleh minta nomor kamu?"
"Boleh." Andara mengambil ponsel itu lalu mengetikkan nomor teleponnya.
Saat mengembalikan ponsel, tanpa sengaja pandangannya menangkap sedikit tato di lengan Tristan yang tersingkap karena ujung kemejanya bergeser.
Andara hanya mengernyit sesaat, tetapi memilih tidak bertanya. "Makasih."
Tristan memasukkan ponselnya ke saku. "Kamu mau pulang? Aku bisa anter."
Andara mengangkat sebelah alisnya.
"Tenang... Aku cuma nggak mau nanti kamu ketemu dua preman tadi lagi. Bahaya itu nggak ada yang tau kapan datang."
Andara tersenyum tipis. "Baik juga ya kamu."
Belum sempat ia menjawab lebih jauh, terdengar suara yang sangat dikenalnya.
"Andara!" Aira berlari menghampiri sambil menangis.
"Ya Allah, Nak... kamu ke mana aja?" Aira langsung memeluk putrinya erat.
Andara membalas pelukan itu. "Maafin Dara ya, Bunda."
"Bunda khawatir banget."
Tak lama kemudian Azzam dan Azra ikut berlari menghampiri. Begitu melihat Andara baik-baik saja, Azzam langsung menarik putrinya ke dalam pelukannya.
"Nak... Ya Allah... Jangan begini lagi. Abi benar-benar khawatir." Suara Azzam terdengar bergetar. Matanya bahkan mulai berkaca-kaca.
"Maaf, Bi."
"Udah... yang penting kamu selamat."
Pelukan itu perlahan terlepas. Barulah tatapan Azzam beralih kepada laki-laki yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Oh iya, Bi, Bun..." Andara mengusap pelan sisa air matanya. "Ini Tristan."
"Tristan, ini Abi dan Bunda aku dan itu Kakak aku." Andara memperkenalkan satu-satu.
Tristan menundukkan kepala dengan sopan. Sementara itu, di balik wajah tenangnya, pikirannya bekerja.
"Jadi... ini Azzam Malik."
Tatapannya bergeser kepada Aira. "Dan perempuan ini... Aira. Wanita yang dulu menjadi obsesi Dewa."
Namun semua itu hanya bergema di dalam pikirannya. Tak sedikit pun ia memperlihatkannya.
Andara kembali berkata, "Abi, Bunda, Kak... Tristan ini udah dua kali nolong Dara. Tadi waktu Dara hampir diganggu dua preman, dia datang tepat waktu."
Azzam mengembuskan napas lega. "Alhamdulillah. Masya Allah."
Azzam melangkah maju sambil mengulurkan tangannya. "Saya benar-benar mengucapkan terima kasih, Nak. Kalau bukan karena kamu, mungkin keadaan bisa jauh lebih buruk."
Tristan segera menyambut uluran tangan itu. "Sama-sama, Pak. Saya hanya kebetulan berada di tempat yang tepat."
Azzam tersenyum hangat "Perkenalkan, saya Azzam. Ini istri saya, Aira. Dan ini putra saya, Azra."
Azra ikut menganggukkan kepala. "Terima kasih ya, Mas Tristan."
Tristan membalas dengan senyum sopan. "Senang bisa membantu."
Di balik senyumnya, matanya sempat melirik sekilas ke arah Andara.
"Tak kusangka..." batinnya. "Jalan untuk mendekati keluarga Malik justru terbuka karena gadis ini."
***
Andara sudah pulang. Mobil keluarga Malik perlahan menghilang di balik tikungan jalan.
Tristan masih berdiri beberapa saat di tempatnya sebelum akhirnya berjalan santai menuju sedan hitam miliknya yang terparkir tak jauh dari sana.
Pintu mobil terbuka.nIa masuk, lalu menutup pintu dengan pelan.
Suasana langsung hening. Tatapannya masih tertuju ke arah jalan yang tadi dilalui Andara.
Beberapa detik kemudian, ia mengambil ponselnya dan menghubungi sebuah nomor. Tak lama, panggilannya tersambung.
"Bos."
"Dua orang itu sudah pergi?"
"Sudah."
"Suruh mereka datang."
"Baik."
Beberapa menit kemudian, dua pria bertubuh kekar yang tadi berpura-pura menjadi preman datang menghampiri mobil Tristan.
Kaca mobil turun perlahan. Tristan mengeluarkan sebuah amplop tebal.
"Ini upah kalian."
Kedua pria itu saling berpandangan sebelum menerima amplop tersebut. "Terima kasih, Bos."
"Lain kali kalau saya butuh bantuan lagi, saya hubungi."
"Siap." Kedua pria itu pun pergi.
Kaca mobil kembali tertutup. Tristan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. Ia mengembuskan napas pelan.
Malam ini sebenarnya ia hanya berniat berkeliling menikmati suasana kota. Namun secara tidak sengaja ia melihat Andara keluar dari restoran dengan mata sembab.
Gadis itu berlari tanpa tujuan. Entah mengapa kakinya justru menginjak pedal gas dan mengikuti dari kejauhan.
Ia tidak berniat menghampiri. Ia hanya ingin tau. Kenapa gadis seberani itu bisa menangis seperti tadi.
Kemudian... dua preman yang memang sudah ia kenal lewat salah satu anak buahnya datang sesuai rencana kecil yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
Ia ingin melihat bagaimana reaksi Andara saat berada dalam bahaya.
Dan hasilnya di luar dugaan. Alih-alih menangis atau berteriak meminta tolong, Andara justru lebih dulu memelintir tangan salah satu pria itu. Bahkan sempat memberi perlawanan.
Senyum tipis terukir di bibir Tristan saat mengingat kejadian beberapa menit lalu. "Gadis itu benar-benar berbeda."
Ia teringat saat Andara menggagalkan seluruh rencana pengiriman sembilan anak yang telah ia siapkan. Ia juga teringat laporan Max.
Mahasiswi. Pintar. Berani. Nekat. Dan sekarang ternyata juga memiliki hati yang begitu besar hingga rela mempertaruhkan nyawanya demi anak-anak yang bahkan bukan keluarganya.
Tristan memejamkan mata sesaat. "Apa ini cinta...?" Ia bergumam lirih.
Lalu perlahan membuka matanya kembali. "Cinta... Aku bahkan tidak tau bagaimana rasanya."
Sedetik kemudian ia tersenyum tipis. "Atau ini hanya obsesi?"
Ia sendiri tak memiliki jawabannya. Yang ia tau setiap kali memikirkan Andara, ia selalu ingin melihat gadis itu lagi.
Ingin mengetahui lebih banyak tentangnya. Ingin membuat gadis itu menatapnya, bukan orang lain.
Namun di balik rasa penasaran itu ada satu hal yang tidak bisa ia lupakan. Tatapan Andara ketika membela anak-anak itu. Tatapan yang telah menghancurkan rencana besarnya.
Senyum Tristan perlahan memudar. Tatapannya berubah dingin.
"Kamu memang luar biasa, Andara. Tapi kamu juga sudah menghancurkan pekerjaan yang kubangun."
Ia menggenggam setir mobil erat. "Dan aku tidak pernah suka ada orang yang menghalangi jalanku."
Meski begitu, anehnya, ia sama sekali tidak memiliki keinginan untuk menyakiti Andara.
Justru sebaliknya, ia ingin melindungi gadis itu. Membuatnya tetap berada di sisinya.
Keinginan yang bertolak belakang dengan dunia gelap yang selama ini ia jalani.
Tristan menatap langit malam melalui kaca depan mobilnya. "Menarik sekali....Semakin aku mengenalmu, semakin aku tidak ingin melepaskanmu, Andara."
Sementara itu...
Kafa masih duduk sendiri di ruang tamunya. Rumah yang biasanya terasa hangat malam itu justru dipenuhi kesunyian. Sejak pulang dari restoran, pikirannya tak pernah benar-benar tenang.
Ia beberapa kali melirik layar ponselnya, berharap ada pesan dari Abi Azzam atau Bunda Aira.
"Andara sudah ketemu."
Namun tidak ada satu pun notifikasi yang muncul. Jari-jarinya bahkan beberapa kali sudah menyentuh nama Azzam di layar.
Ingin menelepon. Ingin memastikan keadaan Andara. Tetapi setiap kali itu pula ia mengurungkan niatnya. Ia tidak punya alasan. Tidak lagi.
Hari ini ia sendiri yang memutuskan untuk melangkah bersama perempuan lain.
Kafa mengembuskan napas panjang. Siang tadi ia sengaja menemui Giska. Dengan sadar. Dengan pikirannya yang sudah ia paksa bulatkan.
Ia meminta perempuan itu menjalani hubungan yang serius menuju pernikahan. Padahal jauh di dalam hatinya, ia tau keputusan itu lahir bukan karena cinta.
Kafa menyandarkan kepalanya ke sofa. Matanya terpejam. Namun yang muncul justru wajah Andara. Wajah yang tersenyum sambil berkata,
"Kalau tiap aku luka kakak bakal segini perhatiannya... kayaknya besok-besok aku luka lagi aja, deh."
Lalu... ingatannya kembali ke dalam mobil sore kemarin. Tangannya yang tanpa sadar mengusap pipi Andara. Tatapan mereka yang saling bertemu. Dan kecupan singkat yang sampai sekarang masih ia sesali.
Kafa langsung membuka matanya.."Astaghfirullah..."
Ia mengepalkan kedua tangannya. "Aku nggak boleh ngulangin kesalahan itu." Suaranya terdengar serak.
"Itu salah. Sangat salah."
Andara memang bukan adik kandungnya. Tidak ada hubungan darah di antara mereka.
Namun... selama bertahun-tahun ia selalu menganggap gadis itu sebagai adiknya sendiri. Dan sekarang ia justru membiarkan hatinya goyah.
"Tidak. Aku harus menghentikan semuanya."
Itulah alasan mengapa tadi siang ia menemui Giska..Bukan karena cinta. Melainkan karena ia ingin memutus semua kemungkinan yang bisa membuat perasaannya terhadap Andara tumbuh semakin jauh.
Ia sadar keputusannya mungkin terdengar egois..Bahkan tidak adil bagi Giska. Menjadikan seseorang sebagai awal dari usaha melupakan orang lain bukanlah hal yang benar..Karena itu ia sudah berkata jujur sejak awal..Bahwa ia akan berusaha. Belajar mencintai Giska dengan cara yang baik setelah mereka berkomitmen.
Ia tidak ingin mempermainkan hati perempuan itu. Ia benar-benar berniat menjalani rumah tangga dengan sungguh-sungguh. Meski saat ini hatinya sendiri masih kacau.
Kafa kembali menatap layar ponselnya. Tidak ada notifikasi baru. Ia menarik napas panjang.
"Dara... Tolong cepat kamu kembali. Kalau kamu belum pulangx Abi dan Bunda pasti sangat khawatir."
Ia menggenggam ponselnya semakin erat.
"Lalu kenapa aku juga ikut sekhawatir ini...?"
Kafa tersenyum pahit..Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
"Ini hanya rasa khawatir seorang kakak. Hanya itu."
Namun semakin ia mengucapkannya berulang kali, semakin hatinya sendiri sulit mempercayai kalimat tersebut.
Pandangannya kemudian jatuh pada sebuah paper bag yang tadi ia letakkan begitu saja di atas meja ruang tamu. Paper bag itu diberikan pelayan restoran sebelum ia pulang.
Katanya... barang Andara yang tertinggal.
Perlahan Kafa meraihnya. Ia membuka isi paper bag itu. Sebuah scrapbook.
Sudut bibirnya tanpa sadar terangkat. "Andara..." gumamnya lirih. "Selalu saja..."
Ia membuka halaman pertama. Tulisan tangan Andara langsung menyambutnya.
Happy Birthday, My Future Husband.
Di bawahnya terdapat kalimat kecil. "I wish next year become Happy Birthday, My Hubby."
Kafa terdiam cukup lama. Jari-jarinya perlahan mengusap tulisan itu. Dadanya terasa sesak.
Ia membalik halaman berikutnya. Foto-foto mereka sejak bertahun-tahun lalu memenuhi setiap lembar.
Ada foto saat Andara masih memakai seragam SMP. Saat pertama kali belajar memasak dan membuat dapur berantakan. Saat liburan keluarga. Saat Kafa mengajari Andara menggambar. Bahkan ada foto candid ketika dirinya tertidur di sofa dan Andara diam-diam memotretnya. Di bawah setiap foto terdapat tulisan-tulisan kecil.
"Hari ini Kak Kafa ngajarin aku gambar. Walaupun hasilku jelek, Kakak tetap bilang bagus."
"Hari ini aku dimarahin Abi. Kak Kafa yang diam-diam beliin aku es krim."
"Kalau nanti aku gede, semoga tetap bisa bikin Kak Kafa tersenyum."
Semakin banyak halaman yang ia buka semakin berat dadanya. Setiap lembar dibuat dengan sangat rapi. Potongan kertas. Stiker. Gambar bunga. Kaligrafi kecil. Tidak ada satu pun yang dibuat asal. Andara benar-benar mencurahkan seluruh hatinya di dalam scrapbook itu.
Kafa sampai menghela napas pelan. "Segila ini kamu sama aku, Dara..." gumamnya lirih.
Ia kembali membuka halaman terakhir. Di sana hanya ada satu foto. Foto mereka berdua. Di bawahnya tertulis sebuah kalimat.
"Matamu... betapa kejamnya keindahan itu. Jenis yang membuat musim gugur pun iri. Mengingatkanku pada daun emas yang tertiup angin, pada buku-buku lama dan cerita yang ingin dituturkan. Kulihat api yang tak pernah padam di dalamnya. Dan setiap kali kau menatapku... aku yakin aku akan jatuh cinta lagi dan lagi."
Kafa membaca kalimat itu berulang kali. Lalu perlahan menutup kedua matanya. Scrapbook itu ia dekap di pangkuannya.
Setiap tahun Andara memang selalu memberinya hadiah yang tidak pernah terpikirkan oleh siapa pun. Namun, hadiah tahun ini terasa berbeda. Bukan karena harganya. Melainkan karena seluruh isi scrapbook itu adalah hati seorang gadis yang mencintainya tanpa syarat.
Kafa tersenyum tipis. Senyum yang justru dipenuhi rasa sesak.
"Mungkin..." gumamnya pelan. "...ini hadiah terakhir yang akan aku terima darinya."
Tahun depan mungkin ia sudah menjadi suami Giska. Mungkin sudah membangun keluarga. Mungkin Andara juga perlahan akan berhenti mengejarnya.
Bukankah itu yang ia inginkan?
Bukankah itu alasan ia memilih jalan ini?
Namun kenapa saat membayangkan Andara berhenti memanggilnya "future husband"... dadanya justru terasa begitu kosong?
Kafa memejamkan mata lebih erat. Tidak. Aku sudah memilih. Aku tidak boleh mundur."
Ia kembali menatap tulisan di halaman pertama.
Happy Birthday, My Future Husband.
Untuk pertama kalinya, Kafa berharap ia tidak pernah membuka scrapbook itu malam ini.
Karena sejak membaca setiap halamannya hatinya justru semakin sulit meyakinkan diri bahwa semua yang ia rasakan hanyalah kasih sayang seorang kakak.
mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰