BL/BxB. Don't Copy!!!!
Rayyan Steven Mahendra meninggal tepat. dihari Pertama masuk SMA Setelah Pulang dari MPLS akibat tertabrak truk. Seluruh keluarganya hancur.
Seluruh Sekolah berkabung. Bahkan musuh bebuyutannya, Revan Devano Sanjaya, yang terkenal sebagai Preman Sekolah dan anak konglomerat, tidak Pernah lagi tersenyum Sejak hari itu. Setelah dikremasi, Orang-orang menangis dan Revan langsung tak bisa berdiri dia Merasa Pusing. Namun tujuh hari Kemudian Rayyan melintasi waktu, bagaimana bisa dia sudah di depan Pintu rumahnya, dia masuk rumah dan Semua keluarga Ketakutan dan ada yang tak menyangka Kejadian itu. Kemudian Rayyan beraktivitas Seperti biasa, Nenek dan Ibu Paling Senang dan Revan mendengar Kabar Rayyan Sangat Senang dan tersenyum entah mengapa hal itu terjadi Padanya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketukan di Pintu
Menjelang Magrib, langit di atas kompleks perumahan Maheswara Residence berubah warna menjadi merah keunguan yang pekat, seolah menumpahkan seluruh sisa kesedihan hari itu ke atas bumi. Embun tipis mulai turun bersamaan dengan embusan angin malam yang membawa hawa dingin menusuk kulit. Di kejauhan, suara kumandang azan Magrib mulai bersahut-sahutan dari satu masjid ke masjid lainnya, memecah kesunyian senja yang perlahan merayap naik.
Di dalam kediaman megah keluarga Mahendra, suasana masih diselimuti oleh kabut duka yang tebal. Hari ini adalah hari ketujuh sejak peristiwa tragis yang merenggut nyawa putra bungsu mereka. Ruang tengah rumah itu masih dipenuhi oleh para pelayat yang datang untuk mendoakan Rayyan. Aroma dupa herbal yang menenangkan berbaur samar dengan wangi air mawar yang tersisa dari vas bunga di sudut ruangan. Beberapa kerabat dekat masih duduk bersila di atas karpet tebal, memegang buku yasin bersampul hijau dengan foto Rayyan yang tersenyum manis di bagian depannya.
Anindya duduk bersandar di bahu suaminya, Steven. Matanya yang sembab menatap kosong ke arah deretan buku doa yang bertumpuk di atas meja kayu. Selama tujuh hari ini, air matanya seolah telah mengering, menyisakan kekosongan yang teramat sangat di dalam dadanya. Steven menggenggam erat tangan istrinya, mencoba menyalurkan sisa kekuatan yang ia miliki, meskipun ia sendiri merasa jiwanya telah runtuh berkeping-keping.
Di sudut dekat jendela, Nenek Ratna duduk di atas kursi kayu jati dengan tasbih yang terus berputar di sela-sela jarinya yang keriput. Mulutnya bergerak perlahan, merapalkan doa-doa keselamatan untuk cucu kesayangannya. Namun, ada sesuatu yang berbeda sore ini. Sejak matahari mulai condong ke barat, dada Ratna terus-menerus berdegup kencang dengan ritme yang tidak beraturan. Ada firasat aneh yang terus membisikkan bahwa hari ini tepat di hari ketujuh ini akan ada sesuatu yang terjadi.
Beberapa kali Ratna mengalihkan pandangannya ke arah pintu depan yang tertutup rapat, seolah-olah menanti seseorang yang akan mengetuknya.
...****************...
Tepat saat azan Magrib selesai berkumandang, sebuah suara memecah keheningan yang tenang di koridor depan rumah.
Ting-tong.
Suara bel rumah berbunyi dua kali. Suara yang sangat biasa, namun entah mengapa di tengah atmosfer duka hari ketujuh ini, suara itu terdengar begitu nyaring dan mengagetkan beberapa orang yang ada di ruang tamu.
Mbok Sari, asisten rumah tangga paruh baya yang sedang merapikan cangkir-cangkir teh di dapur, segera meletakkan nampannya. Ia mengusap kedua tangannya yang basah ke apron abu-abu yang dikenakannya. Wajahnya tampak lelah, dengan lingkaran hitam tebal di bawah matanya karena kurang tidur selama seminggu terakhir akibat ikut mengurus persiapan tahlilan.
"Biar Mbok saja yang buka, Bu, Pak," ujar Mbok Sari dengan suara serak saat melihat Steven hendak berdiri dari kursinya.
Mbok Sari melangkah perlahan menyusuri koridor marmer yang panjang menuju foyer depan. Setiap langkah kakinya terasa berat, seolah-olah duka di rumah itu ikut membebani pundaknya. Ia mengira tamu yang datang adalah kerabat jauh yang terlambat datang untuk acara doa bersama malam ini.
Saat tiba di depan pintu jati besar bercat gelap itu, Mbok Sari mengembuskan napas panjang. Tangannya terangkat, membuka gerendel besi yang mengunci pintu dengan bunyi klik yang pelan namun terdengar jelas di tengah kesunyian.
Mbok Sari menarik daun pintu kayu tebal itu ke arah dalam.
Seketika itu juga, angin senja yang dingin berembus masuk, menerpa wajah Mbok Sari dan memainkan ujung rambutnya yang mulai memutih. Cahaya temaram dari lampu teras yang menyala otomatis menerangi area di depan pintu.
Begitu pintu terbuka penuh... tubuh Mbok Sari langsung lemas seketika.
Persendian di kedua lututnya seolah melosot dari tempurungnya. Napasnya tercekat di tenggorokan, menyisakan rasa sesak yang luar biasa. Matanya membelalak sangat lebar hingga urat-urat merah di sekitar matanya terlihat jelas. Mulutnya menganga, namun tidak ada satu pun suara yang mampu keluar dari tenggorokannya yang mendadak kering seperti gurun pasir.
Di depan rumah, berdiri seorang remaja laki-laki.
Remaja itu mengenakan seragam putih abu-abu khas SMA Mahardika. Namun, seragam itu tampak sedikit kusut di beberapa bagian, seolah-olah telah dipakai beraktivitas seharian penuh tanpa sempat disetrika kembali. Tas ransel abu-abu miliknya menggantung longgar di salah satu pundaknya. Rambut hitamnya sedikit berantakan tertiup angin sore, dan wajahnya tampak agak pucat, persis seperti seseorang yang baru saja bangun dari tidur yang sangat panjang dan melelahkan.
Remaja itu adalah Rayyan.
Ia berdiri tegak di atas kedua kakinya sendiri di ambang pintu, menatap Mbok Sari dengan ekspresi wajah yang sangat bingung. Melihat asisten rumah tangga keluarganya itu mendadak lemas dan hampir jatuh terduduk di lantai marmer, Rayyan mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan.
Dengan wajah bingung, ia mengangkat tangan kanannya dan menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal sebuah gestur khas yang selalu ia lakukan setiap kali merasa canggung atau heran.
"Mbok... kenapa?" tanya Rayyan.
Suara itu terdengar sangat jernih. Ringan, sedikit serak, dan memiliki intonasi yang sangat familier. Suara yang sama yang biasa merengek meminta dibuatkan mi instan di tengah malam, suara yang sama yang biasa meledek Reina saat sarapan pagi. Suara yang seharusnya tidak akan pernah terdengar lagi di dunia ini setelah api kremasi melahap jasadnya seminggu lalu.
Mendengar suara itu langsung di depan wajahnya, pertahanan mental Mbok Sari runtuh sepenuhnya. Ketakutan yang luar biasa bercampur dengan keterkejutan yang teramat dahsyat membuat wanita paruh baya itu kehilangan akal sehatnya seketika.
"AAAAAAAHHH!!! YA ALLAH!!! SETAAAN!!! TOLOOONG!!!"
Mbok Sari menjerit histeris. Suara lengkingannya yang sarat akan ketakutan murni merobek keheningan sore itu dengan sangat brutal, menggema ke seluruh sudut rumah Mahendra yang luas. Tubuhnya akhirnya jatuh terduduk di atas lantai marmer dingin, tangannya gemetar hebat menunjuk ke arah Rayyan yang berdiri di depannya.
...****************...
Jeritan histeris Mbok Sari bagaikan petir di tengah ruangan yang tenang.
Di dalam ruang tengah, semua pelayat yang sedang duduk bersila seketika tersentak kaget. Beberapa buku yasin terlepas dari genggaman dan jatuh ke lantai. Kepanikan mendadak melanda ruangan tersebut dalam hitungan detik.
"Mbok Sari?! Ada apa?!"
Steven Mahendra adalah yang pertama kali bereaksi. Sebagai seorang ayah dan kepala keluarga, insting pelindungnya langsung bangkit. Ia berdiri dengan cepat, mengabaikan rasa pening di kepalanya, dan berlari kencang menyusuri koridor menuju foyer depan.
"Mbok! Ada apa?!" Reyhan menyusul di belakang ayahnya dengan langkah tergesa-gesa, sementara tangan kirinya memegang erat pundak Reina yang tampak ketakutan mendengar teriakan histeris tersebut.
Anindya dan Nenek Ratna ikut berlari di belakang mereka dengan langkah yang gemetar. Beberapa kerabat dekat dan tamu pria yang masih berada di dalam rumah juga ikut berhamburan menuju pintu depan, menduga ada perampok atau bahaya fisik yang sedang mengancam asisten rumah tangga mereka.
Namun, begitu mereka tiba di area foyer depan... langkah kaki Steven mendadak terkunci di atas lantai marmer.
Langkah kaki Reyhan terhenti dengan sentakan kasar.
Anindya yang baru saja tiba di belakang suaminya langsung membeku.
Seluruh penghuni rumah berlarian menuju pintu, namun kini, dalam jarak beberapa meter dari ambang pintu, mereka semua mendadak berubah menjadi patung hidup. Suasana panik yang tadinya dipenuhi suara langkah kaki tergesa-gesa seketika menguap, digantikan oleh keheningan yang luar biasa mencekam. Begitu sunyi, hingga suara desau angin malam yang masuk lewat pintu yang terbuka terdengar sangat jelas di telinga mereka.
Semua orang membeku.
Mata Steven membelalak lebar, menatap sosok remaja yang berdiri di depannya dengan tatapan yang dipenuhi oleh ketidakpercayaan yang teramat sangat. Mulutnya terbuka sedikit, namun tidak ada satu pun kata yang sanggup melompati tenggorokannya. Tangannya yang biasa tegas kini tergantung kaku di sisi tubuhnya, bergetar samar.
Anindya membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Air mata yang sempat mengering selama beberapa hari ini kini kembali merebak deras, membasahi pipinya yang pucat. Tubuhnya berguncang hebat, dadanya naik turun dengan sangat liar seolah paru-parunya mendadak kehabisan pasokan oksigen. Wanita itu ingin berlari memeluk sosok di depannya, namun otaknya yang didera syok berat menolak untuk menggerakkan kakinya seolah-olah ia sedang bermimpi di tengah siang bolong.
Reyhan berdiri mematung di sebelah ibunya. Pegangannya pada pundak Reina mengendur sepenuhnya hingga tangannya terkulai lemas. Matanya menatap lurus ke arah seragam putih abu-abu yang dikenakan remaja di depan pintu itu seragam baru yang sama dengan yang tergantung rapi di kamar kosong di lantai dua.
Di belakang mereka, Nenek Ratna menjatuhkan tongkat kayu penyangganya hingga berdentang keras di atas lantai marmer. Namun, ia tidak memedulikannya. Matanya yang mulai rabun menatap lurus ke arah senyum bingung di wajah cucu kesayangannya. Firasat aneh yang ia rasakan sejak pagi tadi... kini berdiri nyata di depan matanya sendiri.
Tidak ada satu pun orang di dalam foyer itu yang sanggup mengucapkan sepatah kata pun. Keheningan yang begitu berat dan membingungkan mengunci mereka semua dalam lingkaran ketidakpercayaan. Di antara tumpukan buku yasin yang berada di ruang tengah, foto-foto duka yang masih terpajang, dan kenyataan bahwa remaja yang mereka doakan selama tujuh hari ini kini berdiri hidup-hidup di depan mata mereka garis batas antara hidup, mati, dan takdir seolah-olah telah melebur menjadi satu di ambang pintu tersebut.