Seorang ayah angkat yang secara terpaksa menikahi putri angkat nya. Dia melakukan hal itu karena memenuhi janjinya kepada almarhumah sahabat nya untuk melindungi nya.
Sebenarnya dia telah gagal memenuhi janjinya karena nasib malang yang menimpa Artika. Ternyata masih memiliki hubungan darah dengan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virgo kelabu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MCT 30
Pada awalnya Aldri tak memperdulikannya. Akan tetapi, suaranya makin terdengar mengganggu. Antika pun mencoba menghentikan Aldri.
"Dar- Darling. Bi Minah ketuk pintu."
Aldri tetap menciumi leher Antika. Enggan menghentikan perbuatannya yang masih berjalan setengah tujuan.
"Darling, tunggu." Antika menolak dengan berbisik pelan karena khawatir Bi Minah mendengarnya. Aduh betapa malu dirinya. "Darling kita bisa lanjutkan nanti malam." fisiknya.
Akhirnya Aldri mengalah. Jujur saja hatinya merasa sangat dongkol saat ini. Bukan kepada Antika atau Bi Minah, tetapi kepada seseorang yang menyuruh Bi Minah. Aldri mendengkus. Ia memposisikan tubuhnya duduk di tepi ranjang mencoba mengendalikan hasratnya yang harus dirinya tekan.
Antika pun duduk dan menutup kembali semua kancing bajunya. Jujur gadis itu malu kini. Wajah nya memerah bak tomat yang mulai matang di pohonnya.
"Ada apa sebenarnya?" Aldri melangkah dengan menahan amarahnya.
Aldri membuka pintu perlahan. Sesuai dugaan ada Bi Minah yang menunggu di depan pintu.
"Ma- maaf, Tuan. Maafkan saya mengganggu, tapi katanya ini darurat."
"Ada apa, Bi?"
"Saya juga tidak tahu, Tuan. Ada Bu Egi di ruang tamu. Saya permisi dulu, Tuan."
"Oh, iya terima kasih, Bi."
"Sama-sama, Tuan." Bi Minah melangkah pergi.
Ada apa? Tidak biasanya Egi sampai datang ke rumah.
"Ada apa darling?"
Antika mengusap lengan Aldri membuat pria itu menoleh kepadanya. Aldri dengan segera mengecup sekilas bibir gadis itu.
"Entahlah, ada Egi di ruang tamu."
"Benarkah? Ayo kita ke sana." Aldri mengangguk.
Mereka berdua menemui Egi di ruang tamu.
"Al, maaf kalau aku mengganggu kalian. Ada masalah kebocoran data. Aku......"
Egi menghentikan perkataannya saat melihat Antika. Ia malah memeluk gadis itu karena senang melihat wajahnya yang merona dan bibirnya yang sedikit bengkak. Egi menyadari Tengah mengganggu sesuatu yang privasi, tapi mau gimana lagi.
"Kita bicarakan di ruang kerjaku. Sayang kami rapat dulu, ya. Atau kamu juga mau ikut?"
"Nggak, ah. Kalian lanjut aja aku tungguin di ruang tengah sambil baca buku."
"Terima kasih, Sayang." Aldri mengecup bibir Antika tanpa sadar.
"Darling!" Antika memukul bunda Aldri karena malu dilihat Egi.
"Hah, dasar tidak ada akhlak. Coba pahami dan kasihanilah jomblo ini. Kalian ini memang budak cinta." Egi hanya menggeleng pasrah menyaksikan kebucinan sepasang pengantin baru.
Antika yang mendengarnya hanya tersenyum dan tertunduk malu. Aldri melangkah pergi diikuti Egi di belakangnya.
"Hah, Untung ada tante. Kalau nggak, duh, aku sudah dieksekusi. Padahal aku masih belum siap." Antika memegang bibirnya yang masih terasa hangat oleh sentuhan sang suami.
"Al, maaf kalau aku mengganggu."
Aldri mengangguk. "Aku tau. Kamu tidak akan datang ke sini kalau hanya masalah sepele." Aldri duduk di kursi kerjanya dan mempersilakan Egi untuk duduk di sofa memberi kode dengan tangannya.
"Rival mu sudah kembali ke Jakarta."
Aldri menoleh ke arah Eki. Tatapan matanya berubah menjadi tajam dan dingin. Rasa benci dan amarahnya kembali mendatangi relung hatinya persis seperti 19 tahun yang lalu. Namun, ada yang aneh kali ini. Setelah bertahun-tahun dirinya memulai bisnis di Surabaya tak pernah sekalipun sang rival turun tangan sendiri. Ada apa sebenarnya?
"Tapi, bukan itu yang kuhawatirkan. Aku akui meskipun dia rivalmu sejak zaman baheula, tapi dia sekarang yang tidak pernah merugikan pihak manapun. Masalah yang kita hadapi saat ini ada kebocoran data yang mengarah pada perusahaan rivalmu itu."
"Aku yakin ini hanya akal-akalan seseorang yang memanfaatkan kebencianmu untuk saling mengadu domba."
"Kamu benar." Akhirnya Aldri angkat bicara. "Aku akui itu. Dia sosok pengusaha yang gigih dan mandiri. Selama ini aku tidak pernah mendengar tentang keburukan kiprahnya, kecuali masalah percintaannya." Aldri terdiam sejenak dan menghela nafas.
"Al, ini masalah serius. Aku tidak mau perusahaan kita diadu domba apalagi dirugikan. Aku yakin ada penghianat di dalam perusahaan kita. Tapi, aku belum berani berspekulasi siapa dalangnya."
"Baiklah. Siang ini kita coba cari solusi dan semua yang berkaitan masalah ini. Aku berharap pelakunya bukan orang kepercayaan kita."
Egi mengangguk setuju. kali ini muka keduanya sangat serius memikirkan tentang motif dan dalang semuanya.
Di ruang tengah Antika masih sibuk membaca buku. Gadis itu berulang kali menengok ke arah ruang kerja suaminya. Baik Aldri maupun Egi belum nampak batang hidungnya.
"Seserius apa, sih, masalahnya? Kenapa mereka lama nggak keluar-keluar. Aku jadi ikut kepikiran."
Antika menutup buku yang dibacanya. Gadis mungil itu beranjak dari duduknya lalu mencari Bi Minah.
"Bi Minah."
"Iya, Neng. Aduh salah maaf. Iya, Nyonya. Ada apa?"
Atika tersenyum geli mendengar panggilan barunya. Entahlah, terasa menggelitik di telinganya.
"Nggak apa-apa kok, Bi. Panggil Neng gitu aja daripada belibet."
"Eh, tidak. Jangan, Nyonya. Nanti saya kena marah Tuan."
"Lah, memangnya dia suka marah-marah, ya, Bi?"
"Ya, tidak juga. Tuan orangnya sabar sekali. Tidak pernah marah. Kalau pun marah hanya diam. Kami pasti sudah paham. Tapi sudah kewajiban kami memanggil sebutan Nyonya kepada anda karena anda adalah istri Tuan kami."
Antika merasa bangga dengan kenyataan itu. Ia pun memilih mengalah. "Ya, baiklah. Kalau itu mau Bibi."
"Inggih, Nyonya. Oh, iya ada apa Nyonya mencari saya?"
"Eh, iya, sampai lupa, Bi. Minta tolong siapkan cemilan, ya, Bi di ruang tamu. Bikin yang anget-anget gitu. Apa, ya, Bi? Biar nanti bisa ngobrol enak sama Tante dan Mas Aldri."
"Oh, inggih, siap Nyonya. Saya buatkan tahu gejrot kesukaan Tuan bagaimana?"
"Wah, kayaknya enak banget tuh, Bi. Mau-mau. Aduh, kok, udah ngiler aja ngebayanginnya."
"Apa Nyonya sedang ngidam?"
"Hah? Ng-Nggaklah, Bi. Nggak mungkin."
"Loh kenapa nggak mungkin, toh, Nyonya? kan wajar kalau seorang yang sudah menikah istrinya hamil. Apalagi pasangan subur seperti Nyonya dan Tuan. Kecuali saya yang sudah tua, Nyonya." Bi Minah terkekeh.
"Maksud ku itu nggak mungkin karena aku baru saja selesai haid, Bi."
"Oh, inggih Nyonya saya lupa. Ya sudah Nyonya tunggu saja di ruang tamu nanti saya antarkan kesana."
"Aku mau buat minuman aja, Bi."
"Tidak usah, Nyonya. Biar saya sekalian saja."
"Tapi, Bi. Aku itu lagi bosan. Biar aja aku bikin sendiri, Bi."
"Baiklah kalau itu mau Nyonya."
"Makasih, Bi." Antika mengulas senyum bahagia.
Setelah berkutat beberapa lama di dapur, Bi Minah dan Antika membawa cemilan dan minuman ke ruang tamu. Ternyata Aldri dan Egi masih belum keluar juga.
"Lama banget, sih. Apa aku ke sana aja, ya? Nggak. Aku nggak boleh ganggu urusan pekerjaan. Nanti kalau ditanya malah nggak paham apa-apa akunya malu sendiri." Antika memilih duduk sambil menikmati tahu gejrot ala Bi Minah. Karena terlalu asyik dengan cemilannya, atika tidak menyadari kehadiran Egi dan Aldri.