Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.
Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.
Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.
Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.
Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#10
Melihat air mata yang luruh membasahi pipi pucat Lara, amarah yang membakar dada Darion seketika padam. Yang tersisa hanyalah rasa iba dan penyesalan yang teramat dalam karena telah menekan wanita itu begitu jauh.
Darion menarik napas panjang, meredam gelora emosi yang sempat menguasai akal sehatnya.
Dengan gerakan perlahan dan penuh kehati-hatian, seolah-olah Lara adalah porselen retak yang bisa hancur kapan saja, Darion merengkuh tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Ia menarik Lara mendekat, menyandarkan kepala wanita itu di dadanya yang bidang. Tangan luarnya merayap naik, membelai lembut rambut panjang Lara, memberikan kehangatan yang sudah sangat lama tidak dirasakan oleh gadis itu.
"Maaf... Maafkan aku, Lara," bisik Darion dengan suara baritonnya yang kini melunak, terdengar begitu hangat dan menenangkan. Ia mengecup pucuk kepala Lara dengan tulus, tanpa ada unsur paksaan atau hasrat tersembunyi. "Aku hanya tidak sanggup melihatmu terluka. Aku tidak bermaksud menakut-nakutimu."
Lara membeku sejenak di dalam pelukan itu. Aroma maskulin khas kayu cendana dan angin pagi yang menguar dari tubuh Darion membawa ingatan lama yang menentramkan. Selama beberapa detik, Lara membiarkan dirinya bersandar pada dada Darion, mendengarkan detak jantung pria itu yang teratur dan menenangkan.
Namun, daya tahan emosional Lara ternyata jauh lebih kuat dari yang dikira. Alih-alih tenggelam dalam tangisan histeris seperti wanita lemah, Lara mengusap air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangannya. Ia mendorong dada Darion perlahan, menarik diri dari pelukan hangat itu.
Detik berikutnya, raut wajahnya berubah total. Ketakutan yang tadi melingkupinya lenyap, digantikan oleh cemberut kesal yang sangat familier bagi Darion.
Hanya di hadapan Darion Vale Knight, Lara tidak perlu memakai topeng istri penurut yang sempurna. Hanya di depan pria ini, sifat aslinya yang penuh ketegasan, sedikit sinis, dan cukup cerewet kembali bangkit dari kubur penderitaannya.
"Kau ini memang tidak pernah berubah dari dulu, tahu tidak?!" omel Lara tiba-tiba dengan suara yang meninggi, menunjuk dada Darion dengan jari telunjuknya. Matanya yang masih agak basah kini memancarkan kilatan kejengkelan yang nyata. "Datang menerobos masuk ke rumah orang, mengancam hal yang bukan-bukan, lalu sekarang berpura-pura menjadi pahlawan yang paling penyayang? Kau pikir gampang menghadapi situasi seperti ini, Darion?!"
Darion agak tersentak, namun seulas senyuman tipis tak tertahankan justru mulai terukir di sudut bibirnya. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, menatap wanita di hadapannya dengan binar mata yang merindukan momen-momen seperti ini.
"Aku serius bicara padamu, Darion! Kenapa kau malah tersenyum seperti orang bodoh begitu?!" celetuk Lara semakin cerewet, melangkah mundur satu langkah lalu bersedekap. "Akal sehatmu di mana, sih? Menemui Billy dan bilang kalau kau pria pertama yang menyentuhku? Kau ingin kita berdua mati konyol diseret ke dalam jurang masalah hukum dan kekerasan? Kau itu pengacara, profesor hukum, tapi otakmu kalau sedang emosi benar-benar seperti anak High school yang kekurangan asupan nutrisi!"
Darion tertawa kecil, sebuah tawa renyah yang sudah sangat lama tidak terdengar di dalam ruangan dingin bernuansa minimalis itu. "Nah, ini baru Lara yang kukenal. Kemana saja mulut cerewetmu ini selama dua tahun terakhir, hm?"
"Mulutku ada di tempatnya! Kau saja yang tiba-tiba muncul seperti hantu dan membuat darah tinggiku kumat!" balas Lara cepat, matanya mendelik kesal.
Gadis itu berjalan menuju meja dapur, menyambar gelas air minumnya yang sempat tertunda tadi lalu meneguknya hingga separuh.
Setelah membasahi tenggorokannya yang kering akibat mengomel, Lara membalikkan badan dan menatap Darion dari atas sampai bawah secara mendetail. Pandangannya terhenti cukup lama pada bagian atas kepala pria itu.
Kening Lara berkerut dalam. Ia menyipitkan matanya, mengamati gaya tatanan rambut Darion yang kini dipotong lebih pendek di bagian samping dengan gaya undercut yang terkesan sangat tegas dan formal—sangat berbeda dari tatanan rambut ikal agak panjang yang dulu selalu membelai dahi Darion saat mereka masih bersama.
"Lagipula..." Lara bergumam, suaranya sedikit mengecil namun tetap terdengar penuh kritik. "Potongan rambutmu itu jelek sekali akhir-akhir ini."
Darion menaikkan sebelah alisnya, refleks tangannya terangkat mengusap rambutnya sendiri. "Jelek? Ini potongan rambut standar pengacara di Los Angeles, Lara. Terlihat profesional dan rapi."
"Tidak cocok untukmu," potong Lara tanpa ragu, menggelengkan kepalanya dengan raut wajah menghakimi. "Kau terlihat makin tua lima tahun dengan gaya rambut klimis kaku seperti itu. Dulu waktu rambutmu sedikit lebih panjang dan ikal di bagian depan, kau kelihatan seperti manusia. Sekarang kau kelihatan seperti patung manekin yang dijual di pertokoan Beverly Hills."
Darion tak mampu menahan senyumnya yang semakin lebar.
Di tengah situasi hidup mati dan ancaman bahaya yang mengintai mereka, wanita ini masih sempat-sempatnya mengritik penampilan dan gaya rambutnya.
Tapi justru dinamika inilah yang membuat Darion begitu memuja Lara. Di balik trauma dan tekanan hebat dari Billy, jiwa asli Lara tidak pernah benar-benar mati. Sifat aslinya hanya bersembunyi, menunggu orang yang tepat untuk memancingnya keluar.
"Begitu?" tanya Darion santai, melangkah mendekati meja bar dapur tempat Lara berdiri. "Kalau begitu, aku harus bagaimana? Kau mau aku memotong rambutku lagi?"
"Tentu saja! Cari tukang potong rambut yang benar, bukan salon langganan para pejabat tua itu," sahut Lara asal.
Darion menopang kedua tangannya di atas meja bar, menatap Lara dari jarak dekat dengan sorot mata yang penuh kelembutan yang dalam. "Kalau begitu, antar aku."
Lara menghentikan gerakannya yang sedang memutar-mutar gelas. "Apa?"
"Antar aku potong rambut hari ini," ulang Darion dengan nada suara yang hangat dan mantap. "Aku hanya mau mengubah gaya rambutku kalau kau yang mendampingiku dan memberi tahu bagaimana potongan yang kau sukai. Dan kau... kau harus ikut denganku keluar dari rumah ini sebentar. Kau butuh menghirup udara segar, Lara. Bukan udara terkontaminasi dari tempat kurungan ini."
Lara mematung sejenak. Permintaan itu terdengar begitu sederhana, namun di bawah cengkeraman ketat Billy Davidson, keluar rumah bersama pria lain adalah sebuah pelanggaran berat.
Bayang-bayang larangan Billy pagi tadi "jangan kemana-mana, tetaplah di dalam rumah"—seketika melintas di benaknya.
Namun, saat ia menatap mata Darion yang jernih dan jujur, ada desakan kebebasan yang mendadak meledak di dalam dadanya. Lara muak terus-menerus menjadi tahanan yang patuh. Ia merindukan rasanya menjadi manusia biasa yang bisa berjalan di bawah sinar matahari Los Angeles tanpa rasa takut yang mencekik.
Lara menarik napas panjang, lalu perlahan sebuah anggukan kecil lolos dari kepalanya. "Baiklah. Aku mau ikut."
Senyuman di wajah Darion merekah sempurna mendengar jawaban itu. Kehangatan yang terpancar dari wajah pria itu membuat ruangan yang semula terasa gundah mendadak dipenuhi oleh energi baru yang romantis, namun tetap berada dalam batas-batas yang wajar.
Lara sadar betul akan statusnya saat ini sebagai seorang istri sah secara hukum, dan Darion pun sangat menghormati garis batas itu. Tidak ada sentuhan fisik yang berlebihan, tidak ada rayuan picisan yang melanggar norma.
Kehadiran mereka di ruangan itu terasa begitu manis, murni didasari oleh rasa saling peduli dan kerinduan akan masa-masa di mana mereka belum dihancurkan oleh takdir.
"Beri aku waktu sepuluh menit untuk berganti pakaian yang lebih tertutup," ucap Lara, suaranya kembali tenang dan teratur.
"Tentu. Aku akan menunggu di sini," jawab Darion dengan sopan, memundurkan langkahnya untuk memberikan ruang bagi Lara.
Lara berbalik melangkah menuju kamar tidur utama untuk mengganti pakaian rumahnya. Saat ia memilih pakaian di dalam lemari, jemarinya bergetar kecil—bukan karena takut, melainkan karena getaran keberanian yang baru saja bangkit dari dalam jiwanya.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, Lara memutuskan untuk melanggar perintah Billy Davidson bukan karena terpaksa, melainkan karena keinginannya sendiri untuk mengambil kembali secercah kendali atas hidupnya.
jadi gemes nih baca nya thor
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄